
Bun Houw meletakkan peti kecil itu di atas meja, begitu mereka berenam datang.
Mereka berenam memberi hormat kearah Bun Houw sambil berkata,
"Ada pesan apa ketua?"
Bun Houw menatap mereka berenam sambil tersenyum berkata,
"Tidak ada pesan apa-apa, mungkin sampai 3 bulan kedepan.
Kita tidak ada misi hanya berlatih dan berlatih jangan pernah bosan."
"Berlatih adalah untuk kebaikan kalian semua, bukan untuk ku." ucap Bun Houw.
Bun Houw menunjuk peti diatas meja dan berkata,
"Ini ada sedikit oleh-oleh dari jendral kita, kalian berenam bagilah."
Ke 5 komandan terbelalak kaget dan berkata dengan sangat tidak puas.
"Kita bertarung nyawa, menanggung resiko gagal mati di Medan tempur, atau pulang di hukum militer."
"Mereka enak-enak menunggu hasil, kini setelah misi beres mereka cuma beri hadiah segini saja untuk ketua."
"Ini sungguh kelewatan, maaf ketua kami tidak bisa menerimanya." ucap komandan Zhang yang bertubuh tinggi besar brewokan dan selalu gampang emosi dan blak-blakan.
"Ini adalah ucapan terimakasih dari ku, bila kalian tidak ambil berarti kalian tidak memandang ku sebagai saudara dan teman kalian lagi.' ucap Bun Houw masih dengan senyum lembutnya.
Ke 6 orang itu langsung menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
"Mulai hari ini nyawa kami adalah milik ketua, kami akan ikut dengan ketua selamanya."
Bun Houw berdiri membangunkan mereka dan berkata,
"Aku tahu kalian setia dan selalu menganggap ku seperti saudara kalian, aku juga bagaimana tidak."
"Jadi sedikit oleh-oleh ini kalian bawa dan bagi, anggap ini hadiah dari saudara tua kalian jangan menolaknya lagi."
Ke 6 orang itu sangat terharu, mereka bersumpah dalam hati, mati atau hidup mereka selamanya hanya akan mengabdi pada Bun Houw.
Sambil mengucapkan terimakasih dan membawa peti kecil tersebut, mereka ber 6 meninggalkan kemah utama yang ditempati oleh Bun Houw.
Ke 5 komandan itu tidak mengambil sedikitpun uang hadiah dari Bun Houw, mereka membelikan arak dan membaginya secara merata kepada seluruh pasukan.
Juga menceritakan bagaimana perlakuan Jendral Bai yang brengsek kepada ketua mereka.
Seluruh pasukan sangat marah dan emosi, tapi itu membangkitkan semangat persatuan mereka untuk setia terhadap Bun Houw.
__ADS_1
Hari-hari kedepan meski tidak ada misi, seluruh pasukan Bun Houw selalu berlatih dengan penuh semangat dan mati-matian.
Bun Houw juga menurunkan ilmu tombak pembunuh naga , yang terdiri dari 20 jurus.
Tapi hanya Alung yang berhasil menguasai sampai selesai.
Sedangkan ke 5 komandan hanya berhasil menguasai sampai tingkat ke 18.
Tapi ada salah satu prajurit yang bernama Yue Fei secara mengejutkan dia berhasil menguasai sampai jurus ke 20.
Bun Houw yang mendengar hal tersebut segera memanggilnya menghadap dan mengujinya sendiri.
Meski tidak sehebat Alung penguasaan nya, tapi sudah termasuk luar biasa.
Bun Houw langsung mengangkatnya menjadi tangan kiri sejajar kedudukannya dengan Alung.
Kejadian ini membuat kalangan prajurit biasa menjadi lebih semangat berlatih.
Mereka semua sadar Bun Houw tidak sama dengan pejabat lainnya.
Bun Houw tidak pandang status dan jabatan, asalkan mereka punya kemampuan, mereka pasti punya kesempatan yang sama.
Yi Yi akhir-akhir ini semakin kesepian, karena Bun Houw sangat sibuk dengan urusan militernya dan jarang pulang.
Semua hal dari besar sampai kecil harus dia kerjakan sendiri.
Yi Yi baru menyadari ternyata kebahagiaan yang dia inginkan dan Bun Houw inginkan jauh berbeda.
Kebahagiaan yang diinginkan oleh Yi Yi sangatlah sederhana, asalkan bisa selalu berada di sisi Bun Houw.
Bergandengan tangan melihat gunung danau hutan dan bunga-bunga dia sudah merasa sangat senang dan bahagia.
Tapi bagaimana pun Yi Yi tetap mendukung dan tidak pernah menunjukkan apa yang dia inginkan kepada Bun Houw.
Yi Yi tidak pernah menyesal dan menuntut apapun dari Bun Houw, bila ini adalah pertaruhan, Yi Yi telah mempertaruhkan semuanya demi Bun Houw.
Yi Yi menjadi sering melamun dan murung, Pagi itu Yi Yi berjalan sambil melamun menuju pasar.
Selama beberapa waktu ini ada orang yang selalu diam-diam mengawasi Yi Yi dengan penuh nafsu.
Selesai berbelanja Yi Yi berjalan pulang sambil melamun, karena melamun Yi Yi tidak sempat menghindar, saat seorang anak kecil berlari kencang menabraknya.
Sehingga semua belanjaan nya jatuh berserakan di jalan, saat Yi Yi sibuk memungut belanjaan nya.
Ada seorang pemuda tampan berjongkok membantunya memungut barang belanjaan Yi Yi yang berserakan di jalan.
Yi Yi menerima barang belanjaan yang sudah di bantu pungut oleh pemuda tampan dan simpatik tersebut, sambil mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
Pemuda itu menggoyang kan tangannya dan berkata,
"Tidak perlu, itu hanya kebetulan saja."
"Nama ku Si Ma Jun, kalau boleh tahu siapa nama nona."
Yi Yi tersenyum lembut dan menjawab,
"Namaku Xie Yi Yi, panggil saja Yi Yi."
"Nona sepertinya bukan penduduk asli Chang An ya?" tanya pemuda itu sambil membantu Yi Yi membawa belanjaan nya.
Yi Yi sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tidak sampai hati menolak pemberian bantuan yang di lakukan dengan tulus itu.
Akhirnya Yi Yi membiarkan Pemuda itu menolongnya membawa barang belanjaan.
Yi Yi menjawab sambil berjalan, diikuti oleh pemuda itu, tanpa sadar mereka tiba di kediaman Yi Yi.
Melihat Pemuda itu sampai keringatan karena membantunya membawa barang belanjaan, yang cukup banyak.
Yi Yi merasa tidak enak hati, dia menawarkan pemuda tersebut ikut masuk kerumahnya sekedar istirahat dan minum sejenak.
Pemuda tersebut mengangguk senang dan segera mengikuti Yi Yi masuk.
Yi Yi sedikit menyesal dengan tawaran nya tadi, bagaimana bila Bun Houw pulang melihat dia mengundang pemuda lain masuk kerumah di saat dia tidak berada dirumah.
Tapi mau gimana lagi, mau menyesal juga sudah terlambat, anggap saja ini pelajaran buatnya agar lain kali bisa lebih tegas.
Di saat Yi Yi sedang sibuk menyusun barang belanjaan nya, pemuda tersebut memasukkan bubuk halus berwarna putih ke minuman Yi Yi.
Setelah selesai menyusun barang, Yi Yi duduk didepan pemuda tersebut mengucapkan terima kasih dan basa-basi.
Kemudian meraih cawannya dan minum karena haus.
Yi Yi tidak menyadari minuman nya telah di campurkan sesuatu.
beberapa saat kemudian Yi Yi baru merasa kepalanya pusing.
Yi Yi segera menyadari ketidak beresan, Yi Yi menatap dengan marah ke pemuda di depannya.
Yi Yi berusaha menggunakan tenaga dalam nya menahan obat bius yang mulai bekerja.
"Apa yang kamu lakukan pada minuman ku?" tanya Yi Yi marah.
Pemuda itu tersenyum lebar dan berkata,
"Tidak ada apa-apa, hanya sedikit obat yang akan membuat mu lebih bergairah menyalurkan kesepian mu."
__ADS_1