
Wu Song terkejut mendengar pertanyaan Lu Ping dengan cepat dia menggelengkan kepalanya dan menatap bodoh kearah Lu Ping.
Tapi melihat bibir Lu Ping yang tiba-tiba cemberut, Wu Song sadar penolakan nya barusan menyakiti perasaan Lu Ping.
Dia cepat-cepat menjelaskan agar tidak terjadi salah paham,
"Sayang kamu harus tahu aku menolaknya demi kamu, aku sudah mencuri melakukan hal yang merugikan mu satu kali aku sudah sangat menyesal."
Wu Song berhenti sejenak mengelus rambut Lu Ping dengan penuh kasih sayang, kemudian meneruskan penjelasan nya.
"Aku merasa bersalah padamu, pada guru dan ibu guru, aku merasa aku telah membalas Budi baik kalian dengan mencoreng nama baik kalian."
"Aku tahu kamu tidak menyalahkan ku, tapi semakin kamu banyak berkorban untuk ku, aku semakin merasa bersalah menyesal dan rendah diri dihadapan mu yang begitu baik dan berkorban banyak untuk ku."
Wu Song menarik dagu Lu Ping agar Lu Ping melihat kearahnya kemudian berkata,
"Karena itulah aku menolaknya saat ini, sebagai pria normal tentu aku sangat ingin tapi tidak saat ini. Aku ingin setelah kita resmi menikah baru kita lakukan sepuasnya."
Wajah Lu Ping kembali ceria dengan gemas dia menyentuh kan dahinya ke dahi Wu Song.
"Song ke ke bolehkah hari ini kita main ke danau sekali lagi sebelum kembali ke lembah?"
Wu Song mencium dahi Lu Ping kemudian menjawab,
"Terserah padamu sayang, yang penting kamu bahagia."
Lu Ping menyusupkan wajahnya ke dada Wu Song sambil berkata,
"Song ke ke kamu sangat baik, bisa selalu bersama mu aku merasa sangat beruntung dan bahagia."
"Aku mau mandi dan bersiap-siap dulu," ucap Lu Ping kemudian, lalu turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi sambil membawa pakaiannya yang berceceran dilantai.
Wu Song terpesona melihat bagian belakang tubuh Lu Ping yang terbuka dan polos.
Wu Song cepat-cepat memejamkan mata dan berusaha menenangkan nafsunya.
Baru kemudian berjalan menyusul ke kamar mandi.
Setelah mandi Wu Song dan Lu Ping keluar dari Penginapan berjalan santai sambil bergandengan tangan menuju pinggiran danau.
Wu Song memesan daging dan teh di rumah makan dipinggir danau dan meminta pelayan mengantar pesanan nya kedalam perahu.
Tiba-tiba Lu Ping menahan tangan Wu Song lalu berkata,
Song ke ke aku ingin arak seperti kemaren."
__ADS_1
Wu Song terkejut menatap Lu Ping tidak percaya, lalu dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak boleh , arak bisa membuat kita kehilangan akal sehat dan membuat sakit kepala."
Lu Ping mengeluarkan jurus wajah memelas dan menatap Wu Song dengan penuh permohonan.
Wu Song langsung lemas tidak berdaya, dia menjadi tidak tega untuk menolak dan mengecewakan calon istrinya ini.
Wu Song pun berkata kepada pelayan tambahkan 1 guci arak Hang Zhou ukuran sedang.
Wu Song pikir bila cuma satu guci mereka minum berdua tentu tidak akan jadi mabuk seperti kemaren.
Malah baik untuk menjaga tubuh Lu Ping tetap hangat ditengah danau yang dingin.
Wu Song lupa dia menganggap Lu Ping seperti Ceng Ceng.
Biar Lu Ping ada ditempat yang 10 kali lipat lebih dingin dari danau Si Hu dia juga tidak bakalan mengalami kedinginan.
Setelah memesan makanan dan minuman Wu Song mencari tukang perahu kemarin dipinggir danau.
Wu Song membayar hutang 2 tael perak karena mabuk semalam dia lupa bayar.
Wu Song juga langsung membayar 3 Tael perak melunasi langsung sewa perahu hari ini.
Setelah makanan pesanan Wu Song di masukkan ke dalam perahu oleh pelayan rumah makan.
Wu Song membiarkan perahunya berlindung dibawah pohon rindang.
Lu Ping dengan manja duduk bersandar dalam pelukan Wu Song.
Mereka berdua ngobrol santai, sambil saling menyuapi daging dengan sumpit.
Wu Song minum teh sedangkan Lu Ping memilih minum arak wangi dan manis.
Wu Song yang sedikit penasaran dengan kejadian semalam bertanya dengan hati-hati,
"Sayang semalam ketika aku mabuk dan mengganggu mu, apakah aku melakukannya dengan memaksa dan menyakitimu layaknya binatang liar."
Lu Ping tersenyum menatap Wu Song kemudian menjawab,
"Waktu itu aku juga sedang mabuk berat, jadi tidak begitu menyadari nya apa yang telah Song ke ke lakukan."
"Hanya saja ketika Song ke ke melakukan itu, ucap Lu Ping sedikit malu sambil menatap kearah kejantanan Wu Song, lalu melanjutkan.
Lu Ping Sambil tertunduk malu dengan wajah semakin merah dia menggigit bibir bawahnya kemudian melanjutkan berkata,
__ADS_1
"Aku sedikit terkejut karena sangat sakit, setelah rasa sakitnya hilang akupun lemas dan tertidur pulas."
Wu Song merasa khawatir dia pun kembali bertanya,
"Sampai sekarang masih terasa sakit kah.?"
Lu Ping mengangguk dan menjawabnya "Masih sedikit terasa kalau jalan dan duduk rasanya kurang nyaman dan sedikit perih."
Wu Song memeluk Lu Ping lebih erat kemudian berkata,
"maafkan aku sayang."
"Sudahlah aku tidak apa-apa kok, jangan terus merasa bersalah dan jangan terus membahasnya aku malu." ucap Lu Ping sambil mengelus dada bidang Wu Song.
Wu Song yang memiliki daya pandang dan pendengaran tajam tiba-tiba melihat kearah pinggir danau di mana ada suara ribut-ribut di sana.
Lu Ping juga ikut menoleh melihat ke pinggir danau tapi dia tidak dapat melihat jelas keributan apa yang terjadi disana.
Lu Ping menarik lengan baju Wu Song kemudian bertanya,
"Ada apa didepan sana Song ke ke..? aku tidak dapat melihat nya dengan jelas karena terlalu jauh."
Wu Song masih terus melihat kearah pinggir danau, kemudian menjawab.
"Ada seorang pemuda membawa seorang gadis berusaha melarikan diri dari kejaran serombongan pasukan kerajaan."
Wu Song tertarik dan ingin tahu karena kejadian pemuda itu saat ini, sangat mirip dengan kejadian dirinya bersama Ceng Ceng dulu.
Siapa pemuda dan gadis yang dikejar-kejar rombongan pasukan kerajaan itu.
Kenapa pasukan kerajaan mengejar-ngejar mereka dan mati-matian ingin menangkap pemuda itu.
Pemuda itu bernama Xie Bun Houw, dia adalah seorang pelayan yang bekerja di kediaman Jendral Besar Sie Jin Kui.
Dan gadis yang dibawa oleh pemuda itu adalah putri tunggal dari Jendral besar Sie Jin Kui, Yang bernama Sie Yi Yi.
Pemuda dan gadis itu saling jatuh cinta tapi hubungan mereka dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Sie Jin Kui.
Gadis itu sejak bayi sudah ditunangkan dengan anak saudara angkat Sie Jin Kui, yang merupakan Ketua aliran Thian San Pai,
Yang Su dan putranya bernama Yang Jian
Setelah hubungan pemuda dan pemudi itu ketahuan oleh Ibu susu gadis itu, yang kemudian menceritakan semua nya pada Sie Jin Kui.
Sie Jin Kui sangat marah Dia mengurung putrinya sendiri, di gudang jerami agar dapat menyadari kesalahannya.
__ADS_1
Sedangkan pemuda itu ditegur keras dan diberhentikan bekerja dari kediaman Jendral Sie.