
Akibat insiden itu, Wu Song harus bentrok dengan beberapa petinggi kuil Shaolin.
Sehingga timbul hubungan yang kurang enak di antara mereka.
3 petinggi bagian hukum yang bentrok dengan Wu Song harus akui kemampuan mereka bukan tandingan Wu Song
Meski akhirnya mereka mengundurkan diri, tapi mereka mengatakan masalah ini belum selesai kecuali Wu Song datang ke Siong San untuk meminta maaf.
Dan menebus kesalahannya di biara tersebut.
Bila tidak tindakan Wu Song akan dianggap pelecehan dan penistaan nama baik seluruh anggota kuil Shaolin.
Wu Song hanya bisa berjanji suatu hari dia akan mengunjungi biara untuk minta maaf.
Wu Song sangat bersyukur cuma di minta menemaninya saja, bukan di suruh menghajar rombongan yang sedang berduka cita itu.
Bila itu permintaannya, dengan sangat terpaksa Wu Song bakal memenuhi permintaannya.
Setelah rombongan itu lewat Wu Song dan Lu Ping memasuki kota Nan Yang yang terlihat sepi dan mencekam.
Jalan-jalan terlihat sepi toko-toko banyak yang tutup, bila secara kebetulan bertemu seseorang.
Orang tersebut akan menatap mereka dengan curiga dan ketakutan.
Wu Song membawa kereta kudanya menuju sebuah restoran yang merangkap penginapan.
Saat kereta Wu Song tiba di depan Restoran segera menghampiri Wu Song dan bertanya dengan sopan,
"Tuan anda ingin mencari makan atau penginapan."
Wu Song tersenyum dan menjawab,
"Aku ingin keduanya, Pelayan itu mengangguk dan berkata,
"Kalau begitu biar saya mengantarkan tuan ke dalam, kereta dan kudanya nanti akan saya suruh orang mengurusnya."
Wu Song mengangguk lalu turun dari kereta membuka sedikit tirai penutup kereta,
"Sayang kita sudah sampai di restoran, ayo kita makan dan menginap di sini malam ini."
Lu Ping tersenyum manis, dan mengangguk kemudian keluar dari kereta memberikan tangannya yang halus dan lembut kepada Wu Song yang sedang melongo melihat kecantikan istrinya.
__ADS_1
Lu Ping tertawa kecil melihat tingkah laku suaminya yang masih tetap sama seperti dulu.
Lu Ping merangkul leher suaminya Kemudian melompat turun dari kereta, Wu Song Kembali tersadar saat Lu Ping merangkul leher belakangnya.
Wu Song pun cepat menyambut tubuh Lu Ping dan menurunkannya, mereka berdua kemudian bergandengan tangan memasuki restoran.
Sedangkan pelayan memanggil seorang anak kecil berusia 12 tahun untuk merawat kereta dan kuda Wu Song.
Lalu dia cepat-cepat berjalan didepan menjadi penunjuk jalan bagi Wu Song dan Lu Ping, sambil menjelaskan menu-menu masakan di restoran mereka.
Selain itu juga menjelaskan fasilitas penginapan kepada Wu Song dan Lu Ping.
Restoran itu cukup besar dan mewah tapi terlihat begitu sepi, Wu Song dan Lu Ping menjadi heran.
Setelah duduk Wu Song memesan beberapa macam masakan kesukaan istrinya sedangkan Lu Ping memilih menu kesukaan suaminya.
Kedua nya saling pandang kemudian sama-sama tersenyum mesra.
Pelayan setelah menerima pesanan menu masakan segera berlalu dari sana.
Karena Restoran sepi pemilik restoran yang tidak punya kesibukan datang menghampiri Wu Song dan Lu Ping.
"Tuan dan Nyonya kelihatannya baru pertama kali ya datang ke kota ini.?" tanya pemilik restoran sambil memberi hormat.
"Paman silahkan duduk, nama ku Wu Song dan ini istri ku Lu Ping, kami memang pertama kali datang ke sini."
"Kami sedikit heran kota yang begini besar kenapa begitu sepi, ada apa sebenarnya?"
ucap Wu Song sambil menatap paman pemilik restoran yang biasa di panggil.paman Peng.
Paman Peng menghela nafas panjang dan berkata,
"Sebenarnya kota kami dulu sangatlah ramai dan hidup, sejak 2 bulan yang lalu terjadi sesuatu dirumah hartawan Ong."
"Sejak saat itu kota kami tidak pernah tenang setiap hari ada saja orang yang meninggal perlahan-lahan kota kami pun menjadi seperti inii.." ujar paman Peng memberi penjelasan dan terlihat sedikit gelisah dan takut-takut saat bercerita.
Wu Song menatap heran dan penasaran kemudian bertanya,
"Apa yang sebenarnya terjadi pada hartawan Ong?"
Paman Peng menghela nafas panjang setelah melihat sekeliling restoran yang sepi
__ADS_1
Dia pun sambil termenung seperti sedang mengingat-ingat peristiwa yang terjadi pada saat itu lalu mulai bercerita,
"Dua bulan lalu hartawan Peng mengadakan pesta pernikahan buat putra tunggalnya.
Pesta sangat ramai dan di hadiri oleh pejabat maupun kenalan-kenalan dari dunia persilatan."
"Bahkan saat itu restoran dan penginapan ku sampai penuh, tapi siapa sangka pesta yang begitu meriah akhirnya berubah menjadi sebuah bencana.."
"Yang sampai saat ini seluruh kota Nan Yang ikut tertimpa efek dari peristiwa itu."
"Saat itu pesta berlangsung dengan sangat meriah, saat sepasang pengantin akan mengadakan prosesi upacara sembahyang."
Dari kerumunan tamu yang sedang menyaksikan acara tersebut, muncul seorang gadis cantik berpakaian merah berteriak,
"Ong Su Kiat kamu hebat ya ? setelah menipu cinta ku kini kamu menikahi gadis lain dan meninggalkan ku tanpa tanggungjawab."
"Ong Su Kiat adalah nama dari putra tunggal hartawan Ong yang saat ini sedang menjadi pengantin pria." ucap Paman Peng menjelaskan.
"Ong Su Kiat Kemudian maju menghadapi gadis tersebut dan meminta maaf, serta memberi penjelasan serta membujuk gadis itu agar pulang dan tidak membuat keributan di hari pentingnya ini."
"Tapi gadis itu tidak menerima nya, dia mencabut pedangnya dan berusaha menyerang pengantin wanita.
Ong Su Kiat mencoba melerai, tapi gadis baju merah itu menendang dada Ong Su Kiat hingga terpental menjauhi si pengantin wanita.
Pengantin Wanita juga bukan orang lemah dia adalah cucu ketua Bu Tong Pai, sehingga dia berusaha mempertahankan diri dari serangan gadis baju merah.
Maka terjadilah perkelahian yang sengit diantara kedua wanita tersebut, tapi perlahan-lahan cucu ketua Bu Tong Pai mulai terdesak.
Karena dia tidak memegang senjata sedangkan gadis itu memegang senjata, ketua Bu Tong Pai yang melihat kondisi ini melemparkan sebatang pedang kepada cucunya.
Kini pertandingan pun mulai berimbang, perlahan-lahan cucu ketua Bu Tong Pai mulai bisa mendesak baju gadis merah itu yang hanya bisa main mundur.
Berusaha memutar pedangnya mempertahankan diri, tapi karena dia bukan tandingan gadis Bu Tong Pai yang bernama San San.
Akhirnya pedangnya terlepas dari pegangannya, dada dan pahanya terkena tendangan sehingga dia jatuh terduduk di lantai.
Ong Su Kiat meneriaki San san calon istrinya agar tidak meneruskan serangan nya lagi.
San San menurut dan berdiri diam menatap tajam gadis baju merah itu.
Gadis baju merah itu sambil menangis berlari meninggalkan tempat pesta pernikahan setelah memungut pedangnya.
__ADS_1
Maka pesta pun kembali di lanjutkan kembali dengan meriah.