LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
MENGATASI KEKACAUAN ISTANA


__ADS_3

Saat serangan Bai Lun tiba, Wu Song menggunakan Wu Ying 72 Pian Pu, menghilang dari posisinya..


Kemudian muncul dibelakang Bai Lun menendang belakang kaki dan menotok siku tangan nya yang memegang golok.


Sehingga Bai Lun jatuh berlutut dan goloknya terlepas dari pegangannya.


Wu Song menyusulnya dengan sebuah totokan di tengkuk yang membuat nya tidak bisa bergerak lagi.


"Katakan di mana kamu menyimpan stempel kekuasaan militer mu ?"


ucap Wu Song dingin.


Bai Lun menjengek dingin


"kamu pikir semudah itu aku akan menyerahkannya."


"Bunuhlah aku kalau berani, kamu akan menjadi buronan seumur hidup."


Wu Song tertawa dingin, dan berkata.


"Kamu pikir aku tidak berani ? membunuh mu hanya mengotori tangan ku."


Wu Song melempar sebatang pedang dihadapan Bai Lun dan berkata,


"Menurut mu dengan pedang ini aku masih tidak bisa membunuh mu ?"


Bai Lun tentu mengenali Pedang tersebut.


Seluruh tubuhnya dipenuhi keringat dingin dan gemetaran.


Pedang itu adalah pedang pembuka Dinasti Jin.


Itu adalah pedang pusaka Shi Ma Yi, kaisar pendahulu sebelum Shi Ma Hui.


Bahkan dengan pedang itu, Wu Song bisa memenggal Shi Ma Hui, tanpa di persalahkan.


Apalagi cuma Bai Lun yang cuma seorang abdi negara.


Wu Song menoleh menatap keempat selir Bai Lun sambil tersenyum lembut berkata,


"Apakah di antara kalian ada yang bisa membantu ku mengambilkan stempel itu. ?"


Ucapan Wu Song yang disertai senyum menawannya, membuat ke 4 selir Bai Lun saling dorong berlomba pergi mengambil stempel kekuasaan Bai Lun.


Untuk diserahkan kepada Wu Song, tentu saja Bai Lun sangat kesal melihat tingkah ke 4 istrinya, yang genit dan tidak tahu malu itu.


Mereka seakan-akan berlomba, berusaha mencari perhatian dari Wu Song.


Tapi karena takut dengan Wu Song dia terpaksa menelan semuanya.


Tidak lama kemudian keempat selir keluar dari ruangan dalam membawa sebuah bungkusan berwarna kuning.

__ADS_1


Sambil tersenyum genit mereka menyerahkan kepada Wu Song.


Wu Song langsung menyimpannya kedalam gelangnya. dan berkata.


"Terimakasih.."


Lalu dia mencekal kerah baju Bai Lun menetengnya meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kebelakang sama sekali.


Wu Song terbang menuju istana, sampai didepan istana, disana sudah sangat ramai terlihat hampir 3/4 dari seluruh pejabat hadir di depan halaman istana.


Mereka menunggu Shi Ma Yan memimpin mereka masuk menghadap Kaisar.


Shi Ma Yan terlihat hadir di antara mereka.


Tapi dia masih menunggu kedatangan Wu Song, bila tidak ada Wu Song yang membawa Titah dari kakeknya.


Menerobos istana adalah pelanggaran berat yang bisa di hukum mati, dengan tuduhan memberontak.


Begitu melihat kehadiran Wu Song, Shi Ma Yan tersenyum lega.


Keributan yang terjadi di depan halaman istana ini, bukan tidak di ketahui Shi Ma Hui.


Hanya saja dia tidak berani mengambil tindakan sebelum semuanya jelas.


Dia hanya duduk diam diatas kursi kebesaran, sambil memijit- mijit dahinya sendiri.


Sambil menunggu mereka masuk menyampaikan apa yang mereka kehendaki dari nya.


Wu Song berjalan paling depan, diikuti oleh Shi Ma Yan dan seluruh pejabat dan menteri istana.


Para pasukan pengawal dan penjaga istana tidak berani bergerak menghalangi langkah Wu Song, karena mereka kini berada di bawah komando Jendral Kam.


Wu Song tidak memberi hormat dengan. berlutut didepan kaisar Shi Ma Hui, dia berdiri di hadapan Shi Ma Hui dengan santai.


Kasim Wei yang berdiri di samping kaisar, langsung menunjuk Wu Song dan berkata,


"Lancang kamu !!....besar sekali nyali mu ?! bertemu Baginda tidak berlutut memberi hormat...!"


Wu Song tidak perduli dengan bentakan Kasim Wei, dia mengeluarkan sebatang pedang dari gelangnya.


Kemudian melemparnya ke tengah ruangan, di depan hadapan kaisar.


Pedang yang masih di dalam sarung, tapi karena di lempar dengan tenaga sakti.


Pedang tersebut dengan mudah menancap diatas lantai yang keras sampai ganggang pedang bergoyang-goyang.


Melihat pedang tersebut Kasim Wei langsung terdiam, wajahnya pucat tubuhnya gemetaran.


Sama persis dengan reaksi Bai Lun saat melihat pedang tersebut.


Jangankan Kasim Wei bahkan, kaisar Shi Ma Hui terdiam wajahnya menunjukkan kekagetan.

__ADS_1


Wu Song tidak berhenti sampai di sana, dia kembali mengeluarkan sebuah gulungan kain kuning.


Merentangkan nya dan berkata,


"Semua nya dengarkan titah dari Yang Mulia ayahanda kaisar Shi Ma Yi."


Mendengar kalimat pembuka itu, semua orang langsung menjatuhkan diri berlutut, termasuk kaisar Shi Ma Hui tanpa terkecuali.


Dan semuanya mengucapkan salam panjang umur kepada Shi Ma Yi.


Setelah suasana kembali hening Wu Song baru melanjutkan pembacaan titah.


"Pangeran Mahkota Shi Ma Yan, dengarkan titah."


"Mulai saat ini juga, anda diangkat sebagai kaisar ke tiga menggantikan kaisar Shi Ma Hui ayah mu."


Shi Ma Yan mengucapkan terimakasih dan melakukan penghormatan kepada surat titah yang dipegang Wu Song sambil berkata,


"Hamba Shi Ma Yan menerima titah, yang mulia kakek, semoga beliau di karuniai umur panjang sampai 10.000 tahun.


"Shi Ma Hui dengarkan titah, mulai hari ini anda di pensiunkan dari jabatan kaisar, serahkan semua wewenang mu kepada Shi Ma Yan putra mu, tanpa boleh terjadi kesalahan dengan alasan apapun ."


"Hamba Shi Ma Hui menerima titah Yang mulia Ayahanda Kaisar, semoga beliau di karuniai umur panjang.


"Selir Bai mengacaukan istana dan membahayakan kerajaan, untuk itu di jatuhi hukuman mati bersama Kedua saudara dan ayah kandung nya."


Kaisar Shi Ma Hui terkejut mendengar keputusan tersebut, tapi dia tidak berdaya menolaknya.


Sehingga dia hanya terlihat termenung dengan tatapan kosong, tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, seakan ingin mengucapkan sesuatu.


Tapi tidak ada suara yang keluar, sepasang matanya basah oleh airmata.


Wu Song tidak memperdulikannya, ini adalah urusan keluarga mereka, dia menyerahkan gulungan titah kepada Shi Ma Yan.


Kemudian menarik kembali pedang pusaka dan menyimpannya.


Tanpa banyak bicara lagi dia, meninggalkan ruangan sidang istana, bila bukan karena tidak enak hati dengan Shi Ma Ling.


Dia juga tidak mau membantu Shi Ma Yi mengurus urusan keluarga mereka yang rumit.


Sebelum Wu Song benar pergi terlihat Shi Ma Yan mengejar Wu Song dan berkata,


"Kakak Song tunggu..!!"


Wu Song yang beberapa hari ini terus memikirkan kedua istrinya yang sedang mengandung, sudah tidak sabar ingin pulang ke lembah.


Tapi dia terpaksa menahan langkah kaki nya, akibat panggilan dari Shi Ma Yan.


"Kakak Song mohon jangan pergi dulu, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan."


"Saat ini kekacauan dan ancaman ada di mana-mana, aku mohon Sudi kiranya kakak Song mengulurkan tangan membantu ku."

__ADS_1


"Terutama ancaman dari Shi Ma Ong dan Xie Bun Houw, serta negara Liao dan kerajaan Goguryeo."


__ADS_2