
Sebagian prajurit yang memilih melompat ke air menghindari panah, kini berusaha naik kembali keatas perahu.
Perahu menjadi oleng bahkan ada beberapa yang terbalik, membuat prajurit diatas perahu tersebut jatuh kedalam air.
Kini semua berteriak panik dan berusaha menggapai perahu lain.
Beberapa dari mereka mulai diserang dan di tarik buaya.
Melihat situasi ini Putri Kim memberi perintah agar perahu mundur menjauhi dermaga, dan menyebar mencari tempat pendaratan lain.
Pasukan Bun Houw terus memanah saat ada perahu yang coba merapat ke pinggir.
Tapi karena jumlah musuh sangat banyak, akhirnya mulai banyak yang berhasil merapat kepinggir dari sisi yang tidak terjaga.
Setelah berhasil mendarat mereka mulai menyerang pasukan Bun Houw, melihat situasi ini.
Bun Houw memutuskan menarik kembali seluruh pasukannya, tidak mau bertempur keras lawan keras dengan pasukan gogoryeo.
Mereka semua mundur ke dalam benteng kota bertahan di sana.
Bun Houw tahu pasukan Goguryeo ini cuma nunggu waktu saja, sebelum menyerah.
Yang jelas saat ini mereka tidak punya bekal makanan maupun air minum bersih.
Satu-satunya sumber mata air bersih telah di beri obat bius oleh Bun Houw, tentu sumber air ini tidak mengalir ke kota Xiang Ping.
Kota Xiang Ping memiliki sumber mata air lainnya yang terletak di dalam kota.
Pasukan Goguryeo yang berhasil mendarat masih 25.000 orang.
Putri Kim yang menyadari mereka tidak memiliki perbekalan, karena perbekalan mereka telah tenggelam bersama kapal besar mereka.
Putri Kim memerintahkan seluruh pasukannya secepatnya menahlukkan Xiang Ping.
Tapi Cuaca yang turun salju memberi ide Bun Houw, agar menyiram Pasukan Goguryeo dengan air.
Sehingga mereka sebagian membeku sebagian lagi menggigil kedinginan.
Tembok kota yang terkena air juga diselimuti es, membuat tembok kota menjadi licin sulit di daki.
Pasukan pertahanan kota cukup berkonsentrasi menjaga gerbang kota, dan menembakkan panah dan menyiram air kearah pasukan Goguryeo.
Melihat kondisi ini Putri Kim menarik kembali Pasukan nya, untuk beristirahat.
Sambil memikirkan cara lain, untuk menahlukkan Xiang Ping.
Saat beristirahat mereka minum dari sumber air yang di taruh obat bius oleh Bun Houw.
Tidak butuh waktu lama mereka semua tumbang pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Hanya Putri Kim dan keempat jendral nya yang belum minum air tersebut jadi mereka tidak sampai jatuh tertidur.
Tapi suara hiruk pikuk Pasukan Bun Houw yang mengepung mereka, membuatnya sangat terkejut.
Saat mereka berlima keluar dari tenda mereka, Putri Kim dan ke empat jenderalnya melihat.
Pasukan mereka yang pingsan sedang di ikat oleh pasukan Bun Houw.
Sedangkan mereka di hadang oleh Bun Houw Alung Yue Fei dan kelima komandannya.
Bun Houw sambil tersenyum berkata,
"Aku tidak akan mengambil kesempatan mengeroyok kalian, kita akan bertanding satu lawan satu."
"Yang menang boleh pergi dari sini, kalau kalian berlima menang aku akan membebaskan kalian semua beserta Pasukan kaian."
"Bagaimana...?"
Putri Kim melihat sekeliling kemudian berkata dengan agak kaku karena tidak biasa berbahasa daratan tengah,
"Apa aku masih punya pilihan lain.?"
Bun Houw tersenyum dan menggeleng kan kepalanya sambil berkata,
"Silahkan pilih lawan tanding mu."
Putri Kim yang cerdik dapat menebak, bahwa Bun Houw adalah pemimpin nya.
Dia melihat Alung dan Yue Fei berada di sisi Bun Houw tentu kedua orang ini tangan kanan dan kirinya.
Sedangkan ke 5 orang yang berdiri di belakang Bun Houw kelihatannya pangkat mereka lah yang paling rendah.
Putri Kim menunjuk ke arah 5 orang komandan Bun Houw sambil berkata,
"Kami akan melawan mereka berlima."
Bun Houw mengangguk dan melangkah mundur di ikuti Alung dan Yue Fei.
Maka kini mulai berhadapan 5 lawan 5,
Putri Kim dan ke empat jenderalnya mencabut pedang mereka.
Sedangkan ke 5 komandan Bun Houw memalangkan tombak mereka dengan gaya yang sama.
Putri Kim tiba-tiba menyadari sesuatu,
dia berkata dalam bahasa Goguryeo, kepada ke empat jenderalnya.
Mereka mengangguk kemudian mundur ke belakang mengikuti Putri Kim, hanya tersisa satu jenderalnya saja.
__ADS_1
Kelima komandan Bun Houw 4 lainnya terpaksa mundur, mereka tadi mau menggunakan formasi 5 unsur untuk mengepung ke 5 musuh mereka.
Kini gagal karena yang maju cuma satu, tidak mungkin mereka maju berlima mengeroyoknya.
Bun Houw dalam hati berpikir gadis ini sungguh cerdik, dan berbahaya.
Putri Kim tersenyum puas, tadi dia tiba-tiba tersadar melihat gerakan kelima komandan Bun Houw yang gerakannya sama dan kompak.
Dia langsung curiga mereka berlima menguasai formasi tertentu, jadi dia harus membuat mereka bertanding terpisah.
Sehingga peluang menang lebih besar.
Saat putri Kim larut dalam pikirannya, antara Jendral Goguryeo dan komandan Bun Houw, sudah terlibat saling serang dengan seru.
Setelah pertarungan berjalan beberapa puluh jurus, mulai terlihat Jendral Goguryeo kuwalahan.
Dan main mundur, beberapa kali kakinya di kait membuatnya jatuh bergulingan untuk menghindari tusukan tombak komandan bawahan Bun Houw.
Tapi dengan cerdik setelah menghindari tusukan tombak, dia berguling naik keatas tombak.
Menuju ganggang tombak yang dipegang komandan pasukan Bun Houw, sambil menebaskan pedangnya kearah leher komandan tersebut.
Komandan itu cukup sigap dia menendang Tombaknya mementalkan tubuh jendral itu menjauh darinya, sehingga ujung pedang tertarik mundur menjauhi lehernya.
Kemudian dia membalasnya dengan puluhan tusukan tombak keseluruh tubuh bagian depan jendral itu.
Jendral itu menendang tanah kemudian tubuhnya bersalto beberapa kali kebelakang, menghindar tusukan yang dilancarkan komandan Bun Houw.
Komandan Bun Houw terus menjaga jaraknya dari Jendral itu, agar pedangnya tidak bisa bergerak bebas menyerang dirinya.
Sedangkan tombaknya dengan dahsyat menusuk semua titik mematikan ditubuh jendral itu.
Jendral itu menjadi sibuk menangkis dan main mundur, semakin dia terus mundur dia akan semakin terdesak karena hanya bisa bertahan.
Dalam satu kesempatan sebuah tusukan kearah leher di barengi dengan sapuan ujung tombak kearah kaki jendral itu, membuatnya terjungkal.
Kemudian Jendral itu bergulingan di bawah tusukan mata tombak, yang bergerak dengan cepat mengejar nya.
Di saat terdesak hebat tiba-tiba Pedang yang dipegang Jendral itu dilemparkan melesat menusuk dada komandan Bun Houw.
Komandan Bun Houw terpaksa menangkisnya sambil melompat mundur.
Kini Si jendral itu menarik kembali pedangnya yang terikat rantai.
Ternyata pedangnya tersambung oleh sebuah tali rantai sehingga pedangnya bisa terbang mengincar musuh kemudian di tarik kembali.
Pertarungan kembali di lanjutkan dengan seru dan imbang, belum terlihat siapa yang akan menang.
Dalam satu kesempatan saat pedang di lontarkan komandan Bun Houw memutar-mutar tombaknya .
__ADS_1
Sehingga pedang dan rantai kini membelit di ganggang tombak, lalu dia menariknya sehingga tubuh jendral itu ikut terbawa.