LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM

LEGENDA PENDEKAR SULING HITAM
HUA THIAN BERJANJI AKAN MENYEMPURNAKAN ILMU WU SONG,


__ADS_3

Sementara Hua Ci di bawa kakek luarnya ke perguruan langit di Himalaya.


Hua Ci sangat berbakat dalam ilmu pengobatan, setelah menguasai ilmu bela diri dan pengobatan, Hua Ci berkelana menolong orang.


Setelah menikah Hua Ci membawa istrinya tinggal di Lembah Selaksa Obat yang indah dan nyaman.


Keturunan Hua Ci yang paling terkenal adalah Hua To, yang tewas di tangan CAO CAO. Karena di kira CAO CAO ingin membunuhnya.


Padahal Hua To bermaksud baik, ingin melakukan operasi mengangkat tumor di otak CAO CAO.


Tapi CAO CAO yang terlahir penuh kecurigaan malah salah paham dengan niat baik Hua To dan menghukum mati dirinya.


Akhirnya CAO CAO sendiri mati karena penyakit tumor otak tersebut.


Wu Song sudah mendengar semua usaha Hua Thian ingin meninggalkan tempat ini berakhir sia-sia, tapi Wu Song tidak menyerah begitu saja.


Setelah perut kenyang kondisi tubuhnya pulih kembali, bahkan luka yang di dapatkan dalam pertempuran dengan Ouwyang Mo, secara ajaib telah sembuh.


Wu Song juga merasakan kekuatan nya bertambah dengan pesat.


Karena suntuk tidak berhasil mencari jalan keluar dari tempat ini.


Wu Song kemudian melatih ilmu-ilmu yang di milikinya.


Mencoba menyempurnakan ilmu tersebut satu persatu.


Saat Wu Song sedang asyik berlatih ilmu warisan Ling Bao Thian Cun.


Tiba-tiba Hua Thian muncul mencengkram bahunya, sekuat apapun Wu Song meronta tetap tidak dapat melepaskan diri.


Bahkan dalam waktu singkat dia kehilangan semua kekuatannya.


Wu Song sempat mengerahkan Xi Xing Ta Fa, Tapi sia-sia Hua Thian dengan mudah menotok jalan darahnya untuk menghentikan arus sedotan nya.


Padahal Wu Song sudah melakukan tehnik memindahkan jalan darah, tapi percuma saja Hua Thian dapat menebak dengan tepat di mana letak jalan darah yang dia pindahkan.


Semua ilmu yang Wu Song keluarkan seperti permainan anak kecil, di mata Hua Thian.


Wu Song akhirnya menyerah pasrah.


Hua Thian kemudian menatap Wu Song dengan serius dan bertanya,


"Anak muda jawab dengan jujur, siapa yang mengajari mu Im Yang Sen Kung, Seruling pencabut Sukma, Feng Yun Wen Hua, dan Wu Ying 72 Pian Pu.?"


Wu Song menceritakan dengan jujur dari mana dia peroleh ke 4 ilmu ini, kemudian dari dalam cincin mengeluarkan sebuah bungkusan kain kuning, yang berisi ke 4 kitab itu.


Wu Song yang cerdik melihat reaksi Hua Thian dia dapat menebak pemilik kitab ini Ling Bao Thian Cun, kemungkinan adalah kakak seperguruan Hua Thian yang bernama Ling Bao yang pernah dia ceritakan.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Wu Song dan melihat ke4 kitab itu, Hua Thian melepaskan cengkraman nya dari Wu Song dan berkata,


"Maaf aku terlalu terbawa emosi."


Hua Thian bergumam,


"Bagaimana mungkin manusia bejad itu bisa menjadi dewa, sungguh tidak masuk akal."


Wu Song di dalam hati menertawakan Hua Thian, jangankan dewa bahkan raja para dewa sekalipun bisa berbuat hal memalukan.


Seperti yang pernah Wu Song dengar dari cerita ibu Xue Yen, tentang kaisar langit dan gurunya Lu Sun.


Wu Song meninggalkan Hua Thian dan ke4 kitabnya.


Lalu pergi kelaut menggunakan Xi Xing Ta Fa menangkap beberapa ekor ikan, kemudian membakar ikan tersebut.


Wangi aroma ikan bakar akhirnya membuyarkan lamunan Hua Thian.


Dia berjalan menghampiri Wu Song mengembalikan ke 4 kitab tersebut ke Wu Song.


Tapi kain kuning itu dia ambil dan simpan.


Wu Song tidak paham, tapi dia tidak mau bertanya.


Itu bukan urusan dia, kalau Hua Thian mau bercerita tentu dia siap mendengar.


Wu Song menawarkan Hua Thian ikut menikmati ikan bakar yang dibuatnya.


Tak lama kemudian Se Se datang membawa nasi putih, yang dia masak menggunakan beras cadangan yang di simpan Wu Song di dalam cincinnya.


Tadi sebelum pergi berlatih Wu Song sempat menyerahkan sekarung beras ke Se Se, untuk dia masak selama beberapa Minggu.


Hua Thian tentu sangat gembira sudah begitu lama, bahkan dia hampir lupa dengan makanan yang namanya nasi ini.


Hua Thian sampai berlinang airmata memakan nasi putih buatan Se Se, dengan hati-hati dan pelan-pelan.


Wu Song dan Se Se hanya tersenyum melihat tingkah laku Hua Thian.


Setelah perut terisi kenyang, Hua Thian pun berkata,


"Terimakasih atas makanan yang sangat luar biasa ini."


"Tapi aku Hua Thian tidak akan makan gratis dari kalian."


"Aku tadi ada melihat Song Er berlatih, saya melihat Song Er latihannya jauh dari sempurna."


"Mulai hari ini aku akan membantu Song Er menyempurnakan ke 4 macam ilmu andalan perguruan langit kami."

__ADS_1


"Selain itu aku juga akan melatih Song Er agar memiliki tubuh abadi dan kekuatan ke abadian seperti saya."


"Sedangkan Se Se aku akan mengajari mu Ilmu awet muda, sehingga kamu selamanya akan tetap terlihat seperti saat ini.


Tidak akan pernah berubah meski termakan usia."


"Juga kamu akan hidup abadi menemani suami mu ini, kalau aku tidak salah tebak kalian berdua suami istri kan?"


"Kalian berdua jauh lebih beruntung dariku datang ketempat ini bisa berdua."


"Kalau pun kalian kelak tidak bisa keluar dari tempat ini.


Setidaknya kalian berdua bisa hidup bersama dengan anak-anak kalian."


"Se Se aku anjurkan pada mu lahirlah anak sebanyak mungkin agar tempat ini lebih ramai."


Ucap Hua Thian sambil tertawa.


Se Se wajah nya menjadi merah, sambil tersenyum malu-malu dia melirik kearah Wu Song.


Wu Song menanggapi nya dengan nyegir kuda, karena dia benar-benar tidak mau ada hal seperti itu terjadi.


Dia sangat berharap secepatnya bisa tinggalkan neraka ini, agar bisa menemui


Lu Ping istri tercinta nya.


Dia tidak berani membayangkan kesedihan


Lu Ping saat ini, bila mengetahui dirinya tidak bisa menemani dan menyayangi Lu Ping lagi.


Berpikir sampai sini saja, Wu Song merasa hatinya sangat perih dan tidak berani melanjutkan berpikir lagi.


Lebih baik dia konsentrasi memikirkan bagaimana cara keluar dari tempat ini.


Selama belum bisa keluar, dia akan memanfaatkan waktunya sebaik mungkin. Untuk menyempurnakan semua ilmu miliknya di bawah petunjuk Hua Thian.


Bagaimana keadaan Lu Ping pasca gempa terjadi.


Lu Ping secepatnya berlari ke kamar pengantin Wu Song, tapi di sana Lu Ping hanya menemukan mangkuk piring bekas makan Wu Song dan Se Se.


Sebagian jatuh berserakan di lantai akibat dilanda gempa.


Lu Ping yang sibuk mencari ke sana-kemari akhirnya bertemu Tabib Hua dan Cucunya.


Dari informasi tabib Hua yang menduga Wu Song dan Se Se bertamasya didekat danau.


Lu Ping segera terbang menuju arah danau, sesuai arah yang ditunjuk oleh tabib Hua.

__ADS_1


__ADS_2