
Sejak mendapatkan laporan dari mata-mata yang dia sebarkan di Shouchun dua Minggu yang lalu.
Diam-diam Shi Ma Liang sudah mengungsikan seluruh penduduk kota Pu Yang ke kota Chen Liu untuk sementara waktu.
Kini di kota Pu Yang hanya di tempati sepenuhnya oleh pasukan bentukannya sendiri, Yang diberi nama Pasukan Macan Hitam.
Di atas tembok kota selain terlihat di penuhi oleh Pasukan macan Hitam, juga terlihat busur-busur berukuran raksasa lengkap dengan anak panahnya yang seperti tombak.
Juga di lengkapi dengan water Canon yang terbuat dari batang bambu.
Pintu gerbang tertutup rapat, tidak ada yang diijinkan untuk keluar masuk kota Pu Yang.
Alung dan Istrinya kini telah tiba di gerbang kota Pu Yang bersama 30.000 Pasukan Rajawali Merah.
Alung menganggukkan kepala Kearah istrinya, istrinya pun mengerti dan langsung memimpin 10.000 Pasukan menuju Dermaga Dun Qiu.
Untuk mengambil alih dermaga tersebut, yang pertahanan nya tentu lebih mudah di tahlukan ketimbang benteng Kota Pu Yang yang tinggi dan tebal.
Alung pun memberi kode agar seluruh pasukan nya bersiap untuk mulai bergerak.
Maka terompet dimulai nya serangan pun di tiup dengan keras.
Seluruh pasukan Rajawali Merah yang di dahului oleh Alung berlarian dengan ringan mulai melompat keatas tembok benteng yang memiliki ketinggian 10 meter.
Bukan hal sulit bagi mereka untuk melompat keatas tembok benteng, tapi yang menjadi kendala, mereka di hujani Panah berukuran raksasa.
Yang memiliki daya tembak yang 10 kali lipat lebih kuat dari panah biasa.
Untuk menghindari serangan panah ini, ada yang menangkis ada yang menghindar.
Tapi semua gerakan ini membuat serangan mereka tertunda dan terhambat, sebagian besar gagal melompat keatas tembok.
Tidak cukup sampai di situ, Pasukan bentukan Shi Ma Liang juga menembakkan air kearah Pasukan Rajawali Merah.
Saat ini sedang musim dingin, air yang mengenai pakaian Pasukan Rajawali Merah ataupun jubah mereka, akan segera berubah menjadi lapisan es.
Yang membuat mereka kedinginan, untungnya Pasukan Rajawali Merah bukan Pasukan biasa, mereka memiliki Im Yang Sen Kung untuk melindungi tubuh mereka, serta memiliki Wu Ying Sui Sang Piau sebagai dasar kegesitan mereka.
__ADS_1
Jadi serangan ini tidak berpengaruh banyak, tapi cukup efektif untuk menghentikan pergerakan untuk melompat keatas benteng.
Batang-batang bambu yang berada di atas tembok, ini sengaja dibuat sebagai water Canon yang airnya di pompa secara manual dari tempat rahasia di pinggir sungai kuning.
Yang terus tersambung sampai kedalam benteng, melalui aliran batang bambu yang tersambung di bawah tanah.
Alung dan sebagian Pasukan yang berhasil mendarat mencoba merusak sebagian dari peralatan pertahanan di atas tembok kota.
Tapi pergerakan Alung yang dengan gesit dan kuat terus membantai pasukan penjaga di atas kota akhirnya tertahan oleh Raja muda Shi Ma Liang sendiri.
Alung dan Shi Ma Liang mulai terlibat dalam adu serangan yang menimbulkan angin pukulan yang menderu-deru dengan dahsyat.
Meski Alung tertahan tapi para komandan pasukan dan Pasukan Rajawali Merah terus bergerak membantai pasukan Shi Ma Liang seperti membabat rumput.
Meski Pasukan tersebut sangat terdidik dan jauh lebih kuat dari pasukan biasa, tapi menghadapi pasukan Bun Houw mereka masih kalah kelas.
Tanpa mengalami banyak kesulitan mereka satu persatu di bantai oleh pasukan Rajawali Merah.
Tapi ada satu hal yang merepotkan Pasukan Rajawali Merah, pergerakan pasukan tersebut sangat teratur, baik menyerang maupun bertahan mereka selalu melakukannya dengan beramai-ramai.
Semangat dan daya juang Pasukan Shi Ma Liang juga sangat tinggi, setiap dari mereka akan berjuang sampai titik darah penghabisan, baru mereka tumbang.
Keadaan ini di luar prediksi Bun Houw maupun Alung, karena kekuatan dan jumlah asli Pasukan didikan Shi Ma Liang sangat di rahasiakan olehnya.
Sehingga tidak ada mata-mata yang disebarkan di Pu Yang mengetahui perihal kekuatan rahasia Pasukan ini.
Pasukan Alung yang gagal melompat akan kembali mengulanginya sampai berhasil.
Berkat Alung dan pasukannya yang berhasil mendarat duluan, dan merusak sebagian peralatan tempur diatas tembok kota.
Pasukan Alung yang lainnya akhirnya berhasil mendarat semua diatas tembok dengan sempurna.
Melalui sisi tembok yang telah berhasil di amankan oleh Alung dan Pasukan nya yang berhasil mendarat duluan di atas tembok.
Sementara Pasukan Rajawali Merah dan pasukan Macan Hitam sedang larut dalam pertempuran mereka.
Ditempat lain terlihat Alung dan Shi Ma Liang bertarung sengit, tanpa ada yang berani membantu ataupun ikut mencampurinya.
__ADS_1
Alung sudah memainkan 18 Tapak Penahluk Naga, tapi musuhnya selalu berhasil melindungi diri dari serangan Alung lewat Ilmu Lonceng emas.
Serangan Alung selalu terpental saat membentur Sebuah Cahaya keemasan yang berbentuk Lonceng Mas Raksasa yang
melindungi tubuh Shi Ma Liang dengan sempurna.
Alung kemudian merubah pola serangannya dengan semburan api abadi yang keluar dari tapaknya membakar lonceng emas tersebut.
Shi Ma Liang terlihat mulai kepanasan, bajunya dan wajahnya mulai di basahi oleh keringat.
Alung terus menambah kekuatan semburan api abadinya, Lonceng emas kini berubah menjadi lonceng yang mengeluarkan cahaya kemerahan.
Asap tipis mengelilingi tubuh Shi Ma Liang, asap tipis tersebut berasal dari pakaian dan seluruh tubuh Shi Ma Liang yang tadinya basah oleh keringat.
Sekarang saking panasnya, seluruh air di tubuh Shi Ma Liang berubah menjadi uap tipis yang menguap di udara.
Kini kulit ditubuh Shi Ma Liang mulai pecah-pecah melepuh karena mengalami suhu panas yang sangat ekstrim.
Alung tiba-tiba mengganti semburan api abadi, menjadi semburan tenaga Es abadi.
Lonceng emas yang tadinya berwarna merah menyala, kini tiba-tiba mengalami perubahan suhu yang ekstrim, dari panas ke dingin.
Perisai pelindung yang dibentuk oleh Shi Ma Liang akhirnya retak-retak seperti kulit cangkang telur.
Tak lama kemudian pecah hancur berkeping-keping, tubuh Shi Ma Liang terpental membentur salah satu tembok menara pengawas.
Tembok di belakang tubuh Shi Ma Liang, Han ur berantakan, Shi Ma Liang terlihat berlutut dengan kaki sebelah.
Dari mulutnya memuntahkan beberapa teguk darah segar.
Tanpa membuang waktu Alung melancarkan serangan Cakar tengkorak putih, untuk mencengkram batok kepala Shi Ma Liang.
Di saat kepepet Shi Ma Liang duduk bersila kemudian merangkapkan kedua telapak tangan didepan dada dan di dorong keatas menyambut serangan cakar tulang putih milik Alung.
Shi Ma Liang mendorong sepasang telapak tangannya keatas sambil berteriak,
"Kilatan Cahaya Buddha...!"
__ADS_1
Alung terkejut segera memutar cakarnya dengan perubahan yang sangat cepat dan banyak.