
Ouw Yang Mo yang terbiasa hidup sebagai raja kecil di daerah Padang gurun membuat sikapnya menjadi angkuh.
Dia mengangguk santai sambil melambaikan tangannya dan berkata,
"Tidak masalah, ada yang mau di sampaikan segera sampaikan, dan terimakasih atas obat-obatan yang pernah kamu berikan pada ponakan ku."
Si Ma Ong sambil tersenyum ramah berkata,
"Tidak usah terlalu di pikirkan itu cuma masalah kecil saja, anda bersedia datang kesini kami pun sudah sangat gembira."
Sementara itu Koai Lau Jen terlihat mengerutkan alisnya melihat kesombongan Ouw Yang Mo, hanya saja tidak ada kode dari Shi Ma Ong dia pun diam saja.
Cuaca diluar yang mulai gelap karena awan hitam bergulung-gulung yang berkumpul di langit.
Tak lama kemudian hujan pun turun dengan lebat, seorang pria berwajah tampan sambil merangkul seorang wanita cantik yang kelihatannya sedang hamil, mendarat ringan di halaman kuil.
Sang pria terlihat melindungi kepala istrinya dengan kedua telapak tangannya menghindari tetesan hujan mengenai kepala istrinya.
Mereka berdua tertawa-tawa dengan gembira dan mesra.
Lalu mereka berlari kecil memasuki kuil tersebut untuk menumpang berteduh dari hujani lebat yang turun dengan sangat deras.
Tapi begitu memasuki kuil kedua pria dan wanita tersebut tertegun melihat situasi di dalam kuil yang begitu ramai.
Apalagi diantara mereka banyak yang di kenal oleh sang pria, terutama pria berusia 45 tahunan yang berpakaian mewah sampai matipun Wu Song tak pernah bisa melupakan wajah tersebut.
Dia lah biang kerok yang menyebabkan istri pertama mengalami kesulitan melahirkan, sehingga meninggal.
Tapi selain merasa marah, pria tersebut juga merasa cemas di dalam hatinya, karena melihat begitu banyak tokoh sakti hadir dalam ruangan tersebut.
Kelihatannya mereka semua adalah satu rombongan dengan pangeran tersebut.
Pria dan wanita tersebut adalah Wu Song dan Lu Ping yang baru kembali dari pegunungan Himalaya.
Saat tiba di Chang An keburu di sambut hujan sebelum mereka sempat mencari penginapan ataupun restoran untuk beristirahat.
Wu Song hatinya semakin cemas saat melihat kehadiran Ouw Yang Mo yang sedang duduk santai di sana.
Selain itu juga ada beberapa petinggi Xu San dan Shaolin ikut hadir di sana, serta seorang kakek aneh yang kelihatannya bukan lawan yy mudah.
Yang membuat Wu Song tidak habis pikir, kenapa ada beberapa petinggi aliran putih dan perguruan besar hadir di tempat sepi ini.
__ADS_1
Apa yang sedang mereka rencanakan dan akan lakukan ? pikir Wu Song dalam hati di penuhi tanda tanya besar.
Tapi Wu Song pura-pura bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Sebisa mungkin Wu Song ingin menghindari bentrokan yang bisa membawa resiko besar buat Lu Ping.
Sementara itu Shi Ma Ong sendiri sangat terkejut, secara kebetulan sekali dia bisa bertemu dengan musuh yang sangat di bencinya ditempat ini.
Shi Ma Ong semakin terkejut saat melihat wajah Lu Ping, dia sampai berdiri terpana tidak tahu harus berkata apa.
Wajah Lu Ping menginginkan kepadanya dengan wajah Ceng Ceng tunangan nya yang telah lama meninggal.
Meski selir kesayangannya yang dirumah juga mirip dengan Ceng Ceng tapi tidak lah Sampai semirip wanita yang berdiri di hadapannya sekarang.
Lu Ping yang ditatap seperti itu merasa risih, dia pun mengerutkan alisnya menahan amarah.
Dan mundur kebelakang suaminya menghindari tatapan yang sangat tidak nyaman tersebut.
Sementara Ouw Yang Mo segera menegakkan punggung nya dan berdiri menatap Wu Song penuh kebencian, begitu juga Ouw Yang Kok dia juga bersikap waspada dan membentangkan kipas baja di depan dadanya.
Beberapa senior Xu San dan Biksu Hong Sin wajah nya sedikit pucat melihat kehadiran Wu Song di tempat tak terduga ini.
"Maaf mengganggu ketenangan kalian, biar kami berteduh di luar saja."
Wu Song sambil merangkul Lu Ping berbalik badan hendak berjalan keluar dari dalam kuil.
Dari belakang Wu Song terdengar suara teriakan,
"Tunggu...!! masalah di antara kita tempo hari belum selesai.!!"
Yang berteriak adalah Ouw Yang Mo, yang tidak ingin melepaskan kesempatan untuk membalas dendam kepada Wu Song.
Wu Song berbisik pada Lu Ping
"jaga kandungan sebisa mungkin jauhi tempat ini, tidak perlu mengkhawatirkan ku."
Lu Ping sadar kehadiran nya justru lebih membahayakan Wu Song.
Yang harus membagi konsentrasi menjaganya, dia sendiri dalam kondisi mengandung begini, tidak bisa banyak membantu.
Wu Song perlahan-lahan membalikkan badannya menghadang di depan pintu dengan seruling ditangan.
__ADS_1
Hawa yang lembut tapi penuh tekanan menyelimuti seluruh tubuh Wu Song.
Orang-orang yang berada di hadapannya merasa ada hawa yang menekan pergerakan mereka menjadi berat.
Juga nafas mereka terasa sesak, mereka semua harus mengerahkan tenaga sakti mereka untuk menolak hawa yang dipancarkan dari tubuh Wu Song.
Di saat mereka semua sedang sibuk itulah,
Lu Ping melesat terbang ke udara mengaktifkan Zirah perang Raja Naga Laut Utara.
Terbang secepat mungkin meninggalkan tempat tersebut, terdengar teriakan Shi Ma Ong,
'Jsngan biarkan wanita itu kabur..! cepat tangkap dia..!!"
Tapi sudah terlambat Lu Ping sudah pergi menghilang, lagipula tidak ada yang akan bisa keluar dari pintu depan tanpa melewati Wu Song yang posisinya menghadang di sana.
Lu Ping terbang tanpa memperdulikan guyuran hujan lebat yang membasahi wajah rambut dan pakaiannya.
Hanya dalam waktu sekejap Lu Ping sudah berhasil menjauhi tempat tersebut.
Kini Lu Ping sedang memperhatikan kebawah, di mana letak hotel dan restoran yang bisa dia gunakan untuk berteduh sementara sambil menunggu Wu Song.
Lu Ping tidak butuh waktu lama, dia melihat sebuah restoran besar yang di belakang nya, memiliki halaman luas dan banyak bangunan kamar yang didirikan berderet-deret di halaman belakang tersebut.
Lu Ping langsung memutuskan mendarat ringan di depan halaman depan Restoran yang mana jalanan terlihat sepi.
Lu Ping mendarat ringan di depan Restoran, lalu berlari sambil memegangi perut bagian bawah nya memasuki Restoran mewah tersebut.
Yang ternyata adalah Restoran Rejeki Datang, yang sebelumnya pernah di gunakan oleh Pai Yi Lau Jen, Xu San Pai Lung dan Biksu Hong Ti.
Lu Ping baru memasuki Restoran mewah tersebut, seorang pelayan dengan sigap maju memberikan sebuah handuk bersih kepada Lu Ping dan berkata,
"Nyonya hujani sedang lebat-lebatnya diluar, kenapa nyonya bisa berada di luar rumah sendirian saat hujan lebat begini ?"
Pelayan tersebut menatap Lu Ping yang basah kuyup dengan kasihan.
Lu Ping segera menggunakan handuk tersebut mengelap rambut dan wajahnya yang basah.
Di dalam Restoran banyak tamu yang menatapnya dengan heran.
Diantaranya ada seorang pria dan dua orang wanita cantik ikut menatap kearah Lu Ping dengan mata terbelalak tak percaya.
__ADS_1