
Bun Houw setelah membaca surat dari Ying Ying dengan hati-hati dia melipat surat tersebut dan menyimpannya kedalam saku baju di dadanya.
Bun Houw menengadah menahan runtuhnya airmata yang mengembang di pelupuk matanya.
Hati Bun Houw hancur dan berdarah, dia tahu Ying Ying pergi karena tidak mau menjadi bebannya dan melihat nya bersusah hati.
Bun Houw sangat menyesali ketidakberdayaannya dalam memilih antara Budi kesetiaan dan cinta.
Bun Houw juga sangat merasa kehilangan dengan perginya Ying Ying, Bun Houw merasa orang yang paling mencintainya dan dia cintai juga paling mengerti tentang dirinya.
Telah pergi meninggalkan nya, kedepannya dia tidak akan pernah bisa menemukan wanita kedua yang bisa seperti Ying Ying.
Mungkin seumur hidup dia tidak akan pernah bisa menemukan Ying Ying lagi.
Bun Houw seperti ingin berteriak sekuat tenaga melepaskan beban penyesalan dan kesedihan yang menghimpit hatinya.
Tapi Bun Houw tidak bisa melakukannya, dia menahan semua duka di dalam hati.
Setelah menghela nafas berulang kali, Bun Houw akhirnya keluar dari kamar, berjalan dengan lesu meninggalkan kediaman barunya menuju kediaman Pangeran Si Ma Ong.
Bun Houw membiarkan angin yang menerpa wajah nya menghapus air mata yang mengembang di matanya tadi sampai kering.
Bun Houw memang berbeda dengan Wu Song dan Lu Fan yang lebih bisa mengungkapkan kesedihan yang mereka rasakan.
Bun Houw berbeda dia lebih suka menelannya seorang diri, mungkin ini karena penderitaan sejak kecil sampai dewasa telah mendidik karakternya.
Menjadi orang yang lebih bisa menyimpan duka dihatinya.
Bun Houw di sambut dengan baik oleh Si Ma Ong, melihat ekspresi Bun Houw yang lesu dan kurang bersemangat.
Si Ma Ong maju merangkul pundak Bun Houw dan pura-pura bertanya,
"Adik kenapa kamu terlihat begitu kurang semangat, apa yang terjadi,? jangan bilang ini semua karena ucapan kakak tempo hari."
"Kalau itu yang terjadi kakak sungguh akan sangat menyesal dan merasa bersalah pada mu."
Si Ma Ong sudah mengetahui apa yang terjadi dengan hubungan Bun Houw dan Yi Yi wanita yang dia cintai dari pelayan Bun Houw
Si Ma Ong tidak bodoh, semua pelayan yang dia berikan kepada Bun Houw, beberapa adalah orang kepercayaannya.
Apapun kejadian yang terjadi d tempat Bun Houw dia sudah mendapatkan laporannya.
__ADS_1
Bun Houw menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Yang Mulia tidak perlu khawatir dan menyesali diri, semua adalah tanggung jawab saya."
"Sebagai pria sejati hubungan antara pria dan wanita adalah no 2 karir dan masa depan adalah no 1."
Pangeran Si Ma Ong tertawa senang dan menepuk pundak Bun Houw sambil berkata,
"Kamu punya pikiran seperti itu, hati kakak menjadi tenang, kakak semakin kagum pada pandangan hidup mu."
"Kamu adalah tipe orang sukses yang memiliki kecerahan karir dan masa tak terbatas."
Bun Houw di luar terlihat tenang tapi di hatinya sedang menangis, semua kata-katanya barusan hanya untuk menipu perasaannya sendiri.
"Adik aku semakin salut pada mu kamu adalah pria sejati sanggup mengangkat dan sanggup melepaskan nya." ucap Si Ma Ong memuji.
"Di dunia ini tidak banyak orang yang seperti dirimu, dan semua yang mirip dengan mu adalah orang sukses." ucap Si Ma Ong menambahkan.
Si Ma Ong sambil menepuk pundak Bun Houw kembali berkata dengan lebih serius,
"Adik ketahuilah karaktermu mengingatkan aku dengan kakek ku Si Ma Yi dan beberapa orang besar dalam sejarah seperti Han Wang Liu Pang, Chin shi Wang Ying Zheng."
"Mereka semua adalah orang yang bisa melepaskan hubungan pria dan wanita, demi karir." Ucap Si Ma Ong menjelaskan untuk menaikkan semangat Bun Houw.
"Terimakasih yang Mulia sudah memandang tinggi diri ku bisa mengabdi padamu Bun Houw sudah sangat beruntung."
"Bun Houw mana berani membandingkan diri Bun Houw dengan mereka, bisa menjadi seperti Guan Yun Chang pun Bun Houw sudah sangat puas." ucap Bun Houw tulus.
Si Ma Ong mengangguk dan berkata,
"Kamu pasti bisa adik, bahkan kakak yakin kamu akan melebihinya.
"Sekarang agar pengorbanan mu dan kekasih mu tidak sia-sia, kita harus cepat menemui bibi ku." ucap Si Ma Ong penuh semangat.
Bun Houw mengangguk dan berkata,
"Semua mengikuti arahan dari Yang Mulia."
Si Ma Ong langsung menyiapkan kereta, mereka berdua langsung menuju kediaman keluarga Si Ma Yi.
Sampai di sana tanpa kesulitan Si Ma Ong dan Bun Houw masuk kedalam kediaman yang sangat besar itu.
__ADS_1
Mereka langsung menuju ke kediaman putri Si Ma Yen, sampai di sana Si Ma Ong meminta pengawal putri Si Ma Yen menyampaikan kepada Si Ma Yen, bahwa dia dari Bun Houw datang berkunjung.
Si Ma Yen yang duduk di tepi kolam sedang memberi makan ikan di kolam ikan hias sambil termenung.
Sangat terkejut saat salah seorang pengawalnya datang dari memanggilnya.
Sehingga lamunannya menjadi buyar.
Si Ma Yen sangat marah dan ingin memaki pengawalnya, tapi saat pengawal itu menyampaikan Si Ma Ong datang bersama Bun Houw.
Mendengar nama Bun Houw, Si Ma Yen tidak jadi marah dan memuji pengawal tersebut.
Kemudian sambil tertawa bahagia dia berlari pergi menjumpai Bun Houw.
Setelah Si Ma Yen tiba, Si Ma Ong hanya berbasa-basi sejenak kemudian pamit meninggalkan Bun Houw untuk berbicara berdua dengan Si Ma Yen.
Si Ma Yen meminta pelayan menyiapkan makan siang dan di antar ke taman.
Dia langsung dengan senang hati mengajak Bun Houw ke taman menuju kolam ikan hias tempat dia biasa menghabiskan waktu bila sedang kesepian.
Tiba-tiba di pinggir kolam setelah berbasa-basi sejenak.
Bun Houw menceritakan semua kesulitan Si Ma Ong dan meminta bantuan Si Ma Yen.
Juga mengatakan alasan yang kuat buat Si Ma Yen membantunya, serta meminta Si Ma Yen mencari dukungan dari Putri Nan Yang.
Sesuai skenario yang sudah di atur oleh Si Ma Ong.
Tentu saja Si Ma Yen sangat senang mendengar permintaan Bun Houw, tapi dia juga tahu Bun Houw punya kekasih.
Si Ma Yen dengan hati-hati bertanya,
"Bagaimana dengan kakak Yi Yi bila dia mengetahui hal ini?"
Bun Houw tersenyum pahit dan berkata,
"Kamu tenang saja, Yi Yi sudah menyetujuinya."
Si Ma Yen masih ragu-ragu dia kembali bertanya untuk mendapatkan kepastian,
"Bagaimana bila ayah ku meminta mu segera menikahi ku?"
__ADS_1
Setelah mengucapkan nya, Si Ma Yen tertunduk malu, meski dia sangat menginginkan Bun Houw menjadi suaminya.
Tapi sebagai seorang wanita tetap saja dia merasa sungkan dan malu mengucapkan soal pernikahan lebih duluan kepada pria.