
Risha dan Kenzie akhirnya tiba dirumah setelah melewati perjalanan yang begitu panjang dari rumah sakit karena Risha selalu minta berhenti setiap ada pedagang yang menarik minatnya.
"Akhirnya sampai. Tolong keluarkan kursi roda Risha" Pinta Kenzie pada pengawal
"Baik, tuan muda" Pengawal pun menurutinya dan langsung menyiapkan kursi roda di depan pintu mobil mereka.
"Ayo turun!" Ujar Kenzie ketika dia akan membantu Risha pindah ke kursi roda
"Siapa bilang aku mau naik kursi roda?" Tanya Risha dengan nada bicara yang datar. Kenzie mengernyitkan dahi bingung dengan tanggapan Risha, sikap waspadanya seketika muncul
"Kamu harus menggendongku lagi ke dalam" Risha tersenyum lembut dengan kedua alis yang diangkat bersamaan
"Kamu harus bertanggung jawab karena tadi membuat aku jatuh dari kursi roda" Risha kembali menekan Kenzie namun dengan senyum yang sangat manis
"Haah ... baiklah" Lagi-lagi Kenzie menuruti keinginan Risha meskipun dia merasa keberatan. Dia hanya bisa menghela napas panjang karena sikap Risha
"Sha, kenapa Kenzie menggendongmu? Bukannya kakimu sudah lebih baik? Kamu juga sudah bisa menggunakan tongkat, kan?" Tania bertanya karena melihat putrinya digendong oleh Kenzie
"Apa benar yang dikatakan ibumu?" Kenzie menanti jawaban Risha dengan memicigkan mata dihadapannya setelah menurunkannya ke atas sofa
Perlahan Risha bergeser menjauhi Kenzie dan tersenyum canggung padanya
"Ehm... itu benar. Dokter bilang aku tidak perlu lagi menggunakan kursi roda. Hanya perlu beradaptasi dengan tongkat untuk beberapa waktu sebelum kakiku benar-benar pulih saja" Risha menjawab dengan nada bicara yang cepat dengan kedua tangan menutupi pipinya karena takut Kenzie akan mencubit pipinya.
"Jadi kamu membohongiku? Awas kamu ya!" Kenzie merasa kesal karena telah dikerjai oleh Risha habis-habisan.
__ADS_1
"Mami! Kakek buyut! Nenek buyut! Tolong aku...!" Teriak Risha meminta bantuan dari Tania, Yudha dan Gina
"Hah, Jangan mimpi! Tidak ada siapapun yang akan menolongmu!" Teriak Kenzie sambil berjalan mendekati Risha dan menggelitiknya
"Ampun...! Ampuni aku, Zie! Hentikan! Aku tidak tahan lagi!" Teriak Risha yang menahan geli karena dikelitik Kenzie
"Kalian ini sama saja seperti Diaz dan Cheva. Sudah besar juga tetap saja bertingkah seperti anak kecil" Ujar Tania yang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Kenzie dan Risha.
***
Kenzo dan Rendra sudah tiba di negara F, mereka langsung menuju rumah Kenzo begitu sampai dibandara.
"Kamu tinggal dirumah seperti ini Zo?" Tanya Rendra yang terkejut dengan rumah Kenzo yang jauh sangat kecil jika dibandingkan dengan rumah keluarga Kusuma ataupun rumah yang dimiliki Cheva dan Lian
"Jika kamu tidak ingin tinggal disini, pergi saja cari rumah lain yang lebih besar!" Kenzo bicara dengan sikap yang acuh tak acuh
"Kamu bisa gunakan kamar yang disebelah sana!" Rendra menoleh pada ruangan yang ditunjuk oleh Kenzo. Sebuah kamar yang berukuran sedang dan berada dilantai 2. Kedua kamar Kenzo memang berada di lantai 2. Lantai 1 adalah ruang tamu dan dapur juga 1 kamar mandi. Sedangkan lantai 2 berisi 2 kamar, ruang keluarga yang berada di tengah-tengah dan 1 lagi ruangan yang Kenzo gunakan untuk ruang kerja atau menyimpan buku-buku miliknya.
"Baiklah, terimakasih. O iya, aku sudah hubungi pihak bank untuk masalah terakhir kali itu, jadi mereka masih menunda persetujuan pinjaman tersebut" Rendra menjelaskan mengenai apa diminta Kenzo untuk dikerjakan olehnya perihal pabrik tas milik pak Rudi
"Bagus, nanti kita akan berkunjung ke pabrik itu. Kita lihat keputusan apa yang akan dia ambil"
"Oke" Rendra menjawab dengan sikap yang sangat santai kemudian beranjak pergi menuju kamarnya
Kenzo mengambil ponsenya untuk menghubungi Cheva
__ADS_1
"Halo, mami. Aku sudah sampai dirumah" Kenzo menghabiskan beberapa waktu untuk mendengarkan ocehan Cheva dan larangan apa saja yang harus dia hindari. Dia hanya mendengarkan dengan patuh tanpa banyak komentar. Karena jika dia menjawab atau menyela Cheva, maka ocehan maminya itu akan semakin panjang dan tidak akan ada habisnya
"Ya mami, aku mengerti. Ya, lain kali aku akan kunjungi kakek dan nenek. Aku tidak janji kapan itu. Baik mami. Sudah dulu ya mih, aku dan Rendra akan keluar mencari makan" Kenzo berusaha mengakhiri panggilan teleponnya dengan Cheva
"Ya sudah. Jaga kesehatanmu. Dan cepat selesaikan kuliahmu. Jangan sampai kuliahmu tertunda hingga membutuhkan waktu lama. Mami sudah lelah harus mengelola banyak perusahaan" Ujar Cheva dengan nada mengeluh
"Aku tidak percaya itu! Mami bilang lelah tapi mami dan papi tetap saja membuka usaha baru, balum lagi kakek, nenek, om Diaz dan juga om Radit, kalian selalu mengembangkan perusahaan baru tapi tenaga pekerja dikeluarga kita kurang. Aku tidak mengerti bagaimana otak kalian bekerja dengan banyak perusahaan seperti itu!" Kenzo menanggapi keluhan Cheva dengan sikap yang tenang dan sedikit menyindir
"Itu karena kita tetap harus membuka peluang usaha dan mami yakin kalau kalian juga akan bisa memegang lebih dari 1 perusahaan seperti kami" Cheva menjawab dengan senyum manis dan nada bicara yang santai
"Hah, sudahlah. Tidak akan selesai jika kita terus membahas masalah bisnis. Sampai jumpa mami! Lain kali aku hubungi lagi" Kenzo mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Cheva
Tanpa sengaja Rendra mendengar percakapan Kenzo dan Cheva
"Kalian membuka perusahaan baru lagi? Kali ini dibidang apa?" Tanya Rendra dengan rasa penasaran yang tinggi
"Kamu salah dengar. Kami tidak membuka perusahaan baru untuk saat ini. Hanya saja aku bingung kenapa keluargaku sangat senang membuka perusahaan baru" Jawab Kenzo dengan sikapnya yang acuh tak acuh
"Bukannya itu bagus? Keluarga Kusuma dikenal sebagai keluarga pebisnis dengan harta berlimpah. Mungkin harta kalian tidak akan pernah habis sampai kapanpun dan entah bagaimana keluarga kalian juga memiliki otak bisnis yang tidak ada habisnya" Rendra menggelengkan kepala mengingat perusahaan yang dimiliki keluarga Kusuma
"Itu karena kami berasal dari keluarga pebisnis. Dan kami sangat jenius untuk bisa tahu mengenai peluang usaha. Kamu juga tahu sendiri IQ kami diatas rata-rata, jadi apa yang kami lakukan penuh perhitungan dan peluang gagal itu sangat tipis" Kenzo bicara dengan penuh rasa bangga
"Cih, aku benci dengan sikapmu yang seperti ini. Bagaimana mungkin kamu bisa sangat yakin saat memuji diri sendiri?" Rendra berdecih kesal dengan sikap Kenzo
"Bukan memuji diri sendiri, tapi itu memang kenyataan yang tidak mungkin terelakkan lagi" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
__ADS_1
"Ya ya ya, entah aku terbilang beruntung atau malah buntung jadi satu-satunya teman dekatmu. Mungkin jika kamu bicara pada orang lain seperti itu mereka bisa langsung melemparmu ketengah lautan" Rendra bicara dengan nada yang malas
"Jangan khawatir, bahkan ikan pun akan mengantri untuk berfoto denganku"