Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Ancaman Pencabutan Beasiswa Kenzo


__ADS_3

Arumi kembali  kerumahnya dalam kondisi marah


Brak!!


"Aaah! Panji brengs*k! Kurang ajar! Tidak tahu terimakasih!"


Golombreng …


Arumi langsung masuk ke kamarnya. Dia membanting pintu dengan keras dan menghancurkan semua barang yang ada di kamarnya sambil berteriak mencaci maki Panji


Tok tok tok


"Arumi! Arumi! Ada apa, sayang? Apa kamu baik-baik saja?" Pak Tegar yang mendengar suara keributan dari kamar Arumi langsung berlari menuju kamarnya untuk melihat kondisi putrinya


"Papa masuk ya?"


Ceklek


Tanpa menunggu izin dari sang putri, Pak Tegar langsung masuk ke kamar Arumi. Dilihatnya semua berserakan di lantai. Banyak pecahan kaca dari botol parfum, vas bunga, kosmetik, semuanya hancur. Selimut dan bantal pun terihat berantakan. Arumi duduk dilantai samping tempat tidur dengan derai air mata sambil memeluk kedua lututnya


"Hiks ... hiks... kenapa kamu begitu jahat terhadapku, Panji? Apa kurangnya aku untukmu? Kita sudah lama saling mengenal, tapi kenapa kamu malah lebih memilih bersama anak kecil yang bahkan belum lulus kuliah?" Arumi bicara sendiri sambil menangis


"Arumi, sayang" Pak Tegar mendekatinya dengan hati-hati


"Papa" Arumi berbalik dan memeluk sang ayah


"Panji … tadi aku pergi ke kampusnya lagi untuk bicara dengannya, tapi dia tetap ingin pertunangan kami berakhir. Dia lebih memilih mahasiswi itu daripada aku pah" Arumi bercerita dipelukan sang ayah sambil tersedu-sedu


"Rumi, bukankah kamu sendiri juga tahu kalau Panji memang tidak pernah mencintaimu? Hanya kamu sendiri yang menginginkan hubungan ini. Meskipun kalian sampai menikah, hubungan ini tidak akan berjalan mulus. Ini hanya akan menyakiti kalian berdua saja" Dengan sangat lembut, pak Tegar memberikan nasehat pada putrinya sambil mendekapnya erat degan sebelah tangan mengusap kepala Arumi


"Aku tidak peduli. Kami sudah lama dekat dan baik papa maupun orang tua Panji telah setuju menjodohkan kami. Dia harus ingat kalau keluarganya berhutang budi pada kita, terutama Panji. Dia bisa kuliah dengan gelar ganda itu adalah karena papa. Jika papa tidak mengenalkannya pada teman papa, maka dia tidak mungkin bisa mendapatkan beasiswa dikampus bergengsi" Arumi masih bersikeras dengan apa yang dia katakan. Dia sama sekali tidak ingin menyerah untuk mendapatkan Panji

__ADS_1


"Papa hanya mengenalkannya saja. Panji itu cerdas dan dia bisa melalui tes pengajuan beasiswa degan mudah. Papa sama sekali tidak ikut campur untuk itu" Pak Tegar masih berusaha keras untuk menyadarkan putrinya agar melepaskan obsesinya terhadap Panji


"Terserah. Pokoknya papa harus bantu aku untuk mendapatkan Panji lagi. Jika tidak, maka ... aku akan bunuh diri!" Pak Tegar terdiam mendengar apa yang dikatakan sang putri


"Baiklah, papa akan coba bicara lagi dengan Panji dan meyakinkannya agar tidak membatalkan pertunangan kalian. Tapi papa tidak akan memaksanya, papa hanya akan bicara dengannya saja. Keputusannya tetap ada pada Panji, mengerti?" Pak Tegar mengalah setelah Arumi mengatakan kalau dia akan bunuh diri jika tidak menikah dengan panji


"Aku mengerti, pah. Terimakasih" Arumi pun kembali tersenyum setelah mendengar apa yang dijanjikan sang ayah


***


Risha dan Panji sedang bersama diperpustakaan setelah keributan di parkiran tadi


"Bukannya pak Panji harus mengunjungi seminar ya? Aku tidak papa pak. Jadi anda bisa pergi untuk seminar" Risha bicara dengan sopan pada Panji yang sedang membaca buku dengannya


"Tidak papa. Aku bukan pembicara hari ini, jadi tidak masalah kalau aku tidak datang. Lagipula kamu ditampar Arumi itu karena kesalahanku. Aku benar-benat minta maaf" Panji terlihat menyesal dengan apa yang telah dilakukan Arumi pada Risha


"Kenapa bapak yang minta maaf pada saya? Yang menampar saya kan Arumi, bukan pak Panji. Jadi bapak tidak perlu merasa bersalah pada saya" Ujar Risha dengan senyum lembut


"Tetap saja itu semua karena saya. Jika saya tidak membatalkan pertunangan kami, dia tidak akan menyakitimu karena mengira kita memiliki hubungan khusu" Lagi-lagi Panji menundukkan kepala dengan wajah penuh penyesalan


"Ah maaf maaf, saya tidak bermaksud ikut campur atau ingin tahu dengan urusan pribadi bapak. Jadi pak Panji tidak perlu menjawabnya" Risha terlihat canggung saat dia menyadari kalau dia terlalu ingin tahu dengan kehidupan pribadi Panji


"Tidak papa. Aku dan Arumi dijodohkan oleh orang tua kami. Lebih tepatnya ayah Risha yang ingin kami bertunangan. Karena keluargaku berhutang budi pada ayah Arumi, orang tuaku tidak bisa menolak perjodohan ini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa lelah dengan perjodohan kami yang tidak sehat seperti ini. Arumi sangat possesif setelah aku lulus kuliah dan memilih jadi dosen. Dia selalu ingin aku masuk ke perusahaan dan jadi pebisnis" Panji menjelaskan dengan wajah sedih, sedikit senyum yang dia tunjukkan justru terlihat sangat ketir. Arisha menatap Panji lekat, dari wajahnya terlihat kalau dia ikut sedih setelah mendengar cerita dari Panji


"Saya tidak tahu harus mengatakan ini atau tidak, tapi bukankah pernikahan yang dipaksakan seperti itu hanya akan menyakiti kedua belah pihak ya?" Risha terlihat ragu-ragu saat dia mengatakan pendapatnya pada Panji


"Ya, kamu benar. Karena itu saya ingin mengakhiri pertunangan saya, tapi kamu lihat sendiri kan bagaimana hasilnya? Arumi malah membuat keributan dan melampiaskannya padamu"


"Aku tidak papa. Lagipula, tadi itu hanya kebetulan saja dia berhasil menamparku. Jika aku tidak sedang berbincang dengan Kenzie, maka aku pasti bisa menahan tamparannya" Arisha tersenyum dan berusaha menenangkan Panji kalau itu semua bukan salahnya


"Ya, aku percaya itu" Panji tersenyum lembut menanggapi Risha

__ADS_1


***


Kenzo sedang berada dikampus dan menunggu kelas terakhirnya hari ini. Dia merasa heran dengan tatapan semua orang terhadapnya


"Kenapa semua menatapku dengan tatapan seperti itu? Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Pikir Kenzo melihat semua orang menatapnya. Diapun memeriksa penampilannya sendiri


"Sepatu benar, celana panjang juga tidak ada yang robek, baju dan jaketku juga tidak ada yang salah. Lalu apa yang jadi masalah? Apa... badanku bau?" Kenzo semakin kebingungan dengan penampilannya, diapun mencium badannya sendiri


"Tidak bau juga. Lalu kenapa?" Disaat Kenzo sedang kebingungan tiba-tiba seseorang datang menghampirinya


"Kenzo, kamu dipanggil ke ruang rektor" Ujarnya yang menambah kebingungan Kenzo


"Rektor? Baik. terimakasih" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang tenang dan dingin. Diapun melangkahkan kaki menuju ruang rektor.


Tok tok tok


"Masuk!" Kenzo langsung masuk setelah mendapatkan izin


"Bapak memanggil saya?" Tanya Kenzo dengan sopan dan tenang


"Ya, kemarilah" Dia mendekat seperti yang diinstruksikan "Silahkan duduk!"


"Terimakasih" Jawab Kenzo lagi yang kini mulai penasaran dengan apa alasan pamanggilannya


"Begini, saya ingin menanyakan sesuatu. Apa pekerjaan orang tuamu?" Kenzo mengernyitkan dahi bingung setelah mendengar pertanyaan rektor


"Ibu saya wanita kantoran sedangkan ayah saya hanya pelukis biasa saja. Ada apa pak?" Kenzo berusaha menghilangkan rasa penasarannya


"Begini, ada yang membuat pengajuan pembatalan beasiswa milikmu" Ujar Rektor yang membuat Kenzo semakin penasaran


"Pembatalan beasiswa? Kenapa? Apa alasan beasiswa saya dicabut?" Tanya Kenzo heran

__ADS_1


"Katanya kamu berbohong. Kamu mengatakan kalau kamu dari keluarga tidak mampu yang ingin melanjutkan kuliah, tapi sebenarnya kamu adalah anak dari seorang konglomerat"


"Apa?"


__ADS_2