Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sadarnya Safira


__ADS_3

Kenzo masih menemani Safira yang belum sadarkan diri juga setelah mengalami hipotermia karena jatuh kelaut. Dia tidak beranjak dari sisinya meski hanya sekejap saja.


"Kak Kenzo, sebaiknya kakak istirahat dulu. Biar saya yang temani kak Fira" Tiara yang langsung kerumah sakit setelah mendengar Safira ditemukan tidak tega melihat Kenzo yang terlihat sangat kelelahan.


"Tidak papa, aku baik-baik saja. Kamu bisa pergi membelikanku kopi jika tidak keberatan" Ujar Kenzo dengan sikapnya yang tenang


"Apa kakak juga ingin makan sesuatu? Kak Kenzo pasti belum makan apapun kan?"


"Aku tidak ingin makan. Cukup belikan aku kopi saja"


"Hmn... baiklah" Tiara tidak ingin lagi mengganggu Kenzo yang sedang khawatir pada Safira. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan Safira


Kenzo yang masih khawatir karena Fira belum sadar terus saja menatap wajah Fira sambil menggenggam sebelah tangannya.


"Sampai kapan kamu akan memejamkan matamu itu? Kamu tidak merindukan pacarmu yang sangat tampan ini, hah?" Kenzo bertanya dengan lembut disertai senyum tipis yang memukau


"Kamu tidak tahu kan kalau aku langsung datang kemari setelah mendengar kalau kamu hilang? Aku bahkan mencarimu semalaman diluar pada cuaca dingin tepi pantai" Kenzo terus saja mengajak Fira bicara dengan senyum ketir diwajahnya


"Apa kamu sangat mengkhawatirkan aku?" Kenzo yang sebelumnya bicara dengan mata terpejam dan menempelkan pipinya pada tangan Safira langsung terkejut dan membuka matanya serta berdiri mendekatkan wajahnya pada Safira


"Kamu sudah sadar? Syukurlah ..." Kenzo tersenyum lega melihat sang kekasih telah sadar dan membuka matanya


"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Apa kamu sangat mengkhawatirkan aku?" Tanya Safira dengan senyum menggoda


"Menurutmu? Apa itu masih perlu ditanyakan lagi?" Kenzo memicingkan mata bertanya pada Safira yang tersenyum dengan wajah yang masih pucat


"Kak Safira! Kakak sudah bangun? Syukurlah. Kakak membuat kami takut. Aku pikir aku akan kehilangan bos yang baik hati dan selalu melindungiku.. hiks... hiks... hiks... " Tiara yang baru saja kembali setelah membeli kopi untuk Kenzo langsung memeluk Safira begitu melihat Kenzo sedang berbincang dengannya


"Kamu itu sebenarnya senang atau sedih?" Tanya Safira yang menggoda Tiara


"Tentu saja aku senang! Mana mungkin aku bersedih melihat kak Safira kembali membuka mata setelah semalaman terombang-ambing dilautan lepas?" Tiara menjawab sambil mengusap air mata yang mengalir dipipinya


"Kalau kamu bahagia, kenapa kamu menitikan air mata? Itu tidak masuk akal sama sekali" Safira masih saja menggoda Tiara yang sudah dia anggap seperti adik sendiri


"Kakak..." Tiara merengek manja pada Safira yang terus saja menggodanya


"Sudah, hentikan. Tiara, sebaiknya kamu panggilkan dokter. Sepertinya dia harus diperiksa otaknya. Aku khawatir jika dia mengalami kerusakan" Ujar Kenzo dengan sikap yang tenang


"Hahaha... ya, aku mengerti" Tiara tertawa mendengar permintaan Kenzo

__ADS_1


"Kamu pikir otakku akan rusak karena kamasukan air, hah?" Jawab Safira dengan bibir mengerucut kesal lalu memalingkan wajah dari Kenzo. Kenzo hanya tersenyum melihat Safira yang kesal


***


Risha sedang menyusun proposal yang akan diajukannya untuk produk baru perisahaan, namun dia terlihat tidak fokus karena memikirkan Kenzo


"Apa Safira sudah ditemukan? Kasihan Kenzo. Apa aku hubungi dia saja ya?" Pikir Risha sambil memutar-mutar ballpoinnya


"Heh, kamu mau kerja atau melamun? Dari tadi kuperhatikan kamu hanya melamum saja" Nura yang sejak tadi memperhatikan Risha dengan sengaja memukul meja dan mengejutkannya


"Kurasa bukan urusanmu. Toh aku tetap menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu" Risha menjawab dengan sikap yang tenang


"Sebaiknya kalian pergi saja. Tidak usah menggangguku" Risha bicara tanpa menatap Nura dan juga Elisa


"Apa katamu? kamu berani mengatakan itu pada kami? Kami ini seniormu!" Nura berteriak kesal pada Risha karena berani menjawab ucapannya


"Tidak peduli. Aku tidak suka dengan senioritas. Aku lebih peduli pada sikap atasan dan bawahan yang normal" Jawab Risha dengan acuh tak acuh


"Seperti kamu punya hubungan yang normal saja dengan pak Rendra" Nura bicara dengan nada mencibir. Elisa dan Kia hanya memperhatikan saja dan tidak ikut berdebat dengan Risha


"Apa yang tidak normal? Pak Rendra laki-laki dan aku perempuan. Dimana yang salah?" Risha menjawab dengan senyum tipis dibibirnya


"Kamu!"


"Aku lelah hanya dengan meladenimu. Sebaiknya aku pulang saja. Lagipula ini memang sudah waktunya pulang kerja" Ujar Risha sambil mulai mengemasi barangnya dan beranjak pergi meninggalkan Nura, Elisa dan Kia yang memang sengaja belum pulang untuk menunggu Risha


"Bu Kia, saya pulang duluan" Ujar Risha yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Kia


"Hati-hati dijalan" Ujar Elisa sambil melambaikan sebelah tangannya


"Kalian yakin akan melakukan hal itu?" Kia sedikit ragu dengan rencana Nura yang cukup membahayakan


"Kenapa? Bu Kia tidak berani? Tenang saja, tidak akan ada yang tahu kalau kita yang merencanakannya" Nura bicara dengan senyum mencibir sambil menatap punggung Risha yang semakin menjauh


"Dia sudah pergi. Ayo kita pergi juga dan lihat pertunjukan bagus!" Elisa mengajak dengan senyum diwajahnya


"Ayo!" Nura dan Kia pun akhirnya mengikuti Elisa keluar dari kantor


Karena jarak apartemen Risha tidak terlalu jauh, dia berangkat dan pulang dengan berjalan kaki. Kecuali saat dia harus makan bersama Rendra, dia akan diantarkan pulang olehnya.

__ADS_1


"Hai, cantik. Mau kami antarkan pulang?" Beberapa pria menghalangi jalan Risha


"Tidak baik jika seorang gadis cantik berjalan seorang diri. Hahaha"


Mereka mengikuti langkah Risha dari belakang dan terus menggodanya


"Berhenti menggangguku!" Risha menjawab dengan sikap yang dingin tanpa menoleh sedikitpun


"Jangan terlalu sombong begitu. Cantik-catik kok sombong?"


"Hiat!"


Bruk


Ah


Risha melempar salah satu pemuda itu ketika dia menyentuh pundak Risha


"Owh, rupanya kamu bisa beladiri? Tapi kamu tidak mungkin bisa melawan kami!"


Hiyat!


Bag bug bag bug


Mereka pun berkelahi. Risha sendiri melawan 3 pemuda brandal itu. Tidak ada rasa takut sedikitpun darinya. Meskipun sesekali Risha terkena pukulannya, tapi dia tidak menyerah


"Jadi dia bisa berkelahi?" Elisa, Nura dan Kia tampak terkejut melihat Risha sangat pandai beladiri


"Oh jago juga kamu ya? Tapi kamu tidak bisa membiarkanmu lolos begitu saja!"


Salah satu pemuda yang merasa kalah oleh Risha mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan bersiap melawan Risha lagi


"Ow, jadi kamu ingin pakai senjata? Ah payah! Ini tidak adil namanya, apalagi aku seorang gadis. Agar pertarungan ini adil, aku juga akan gunakan senjata. Kalian tidak boleh menyesal karena aku tidak pernah tanggung-tanggung jika sudah bermain"


Risha tersenyum mencibir mereka bertiga kemudian meraih tasnya yang tergeletak tidak jauh darinya. Diapun mengeluarkan senaja api miliknya dan mengarahkan pada pemuda yang memegang pisau


"Kenapa wajah kalian pucat begitu?" Tanya Risha dengan senyum manis ketika melihat para pemuda itu panik. Nura, Elisa dan Kia yang sebelumnya tersenyum pun kinu terkejut setelah melihat Risha mengeluarkan pistol


"Cih, i-itu … pasti hanya pistol mainan kan?" Tanya salah satu pemuda tak percaya pada Risha

__ADS_1


"Owh, kalian meragukanku?"


Dor!"


__ADS_2