
Kenzo langsung menoleh mendengar suara seseorang di belakangnya
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Kenzo dengan sikap yang dingin
"Apa begini caramu menyambut seniormu sekaligus teman lamamu?" Ujar Rendra dengan sikap yang tenang dan senyum tipis
"Senior sepertimu tidak pantas disambut dengan baik. Dan … sejak kapan aku berteman denganmu?" Kenzo tetap menanggapi dengan dingin
"Aku sedang sibuk. Cari tempat dudukmu sendiri!" Ujar Kenzo dengan sikap acuh tak acuhnya
"Haah, baiklah. Aku akan sabar menunggu sampai kamu tidak sibuk. Rasanya aku ingin dilayani langsung oleh pangeran dari kutub selatan" Kenzo langsung menatap tajam pada Rendra
"Ya, ya. Aku duduk sekarang!" Rendra langsung berbalik dan duduk di salah satu sudut sambil menunggu Kenzo yang masih sibuk melayani tamu lain.
Sekarang, selain Kenzo, Rendra menjadi pusat perhatian lain di restoran karena wajahnya yang tampan. Kulit putih, tubuh tinggi dengan hidung mancung, dan bibir tipis yang berwarna merah. Rambutnya yang sedikit kecoklatan sangat cocok dengan kulit putihnya.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya restoran mulai sepi dan Kenzo bisa duduk bersama dengan Rendra. Siapapun yang melihat mereka berdua tentu saja akan terpesona.
"Zo, bagaimana bisa kamu menjadi waitress dengan sikapmu yang dingin itu? Para pelanggan restoran tidak lari karena pelayanan restoran yang tidak ramah sama sekali?" Rendra bertanya dengan sikapnya yang tenang sambil menggoda Kenzo
"Justru sebaliknya, banyak pelanggan yang datang kesini karena ingin melihatku bekerja. Jadi tidak ada yang protes atau apapun karena sikapku. Itu jadi daya tarikku tersendiri untuk mereka" Kenzo menjawab dengan sikapnya yang tenang dan acuh tak acuh
"Cuih, rasanya aku ingin muntah mendengar sikap nasrismu itu. Bahkan kamu mengatakannya tanpa ada rasa malu sama sekali" Rendra mencibir Kenzo yang memuji diri sendiri dengan bangga
"Jangan banyak bicara! Untuk apa kamu kesini? Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku disini? Seingatku … kamu sama sekali tidak bisa melacak apapun"
"Wah, kamu meremehkanku. Aku punya banyak cara untuk menemukan mu. Banyak orang yang bisa aku kerahkan untuk mencari sebuah informasi tentangmu" Jawab Rendra dengan sikap yang tenang dan sombong
"Ya, tentu saja tuan muda Rendra Adelio Dirga, aku percaya dengan kekuasaan yang dimiliki keluargamu" Ujar Kenzo mengejek Rendra dengan sikap dingin
"Huh, menyebalkan! Aku sudah bilang padamu agar kamu memberiku pekerjaan. Bukan hanya jadi orang yang kamu hubungi saat membutuhkan sesuatu saja" Rendra bicara dengan sikap yang sinis
"Kamu lihat sendiri kalau aku hanya seorang waitress disini. Kenapa tidak pergi ke keluargamu saja? Kamu ingin jadi pelayan kafe juga?" Tanya Kenzo yang membuat Rendra menatap tajam kearahnya
"Hei, Zo. Aku ini seorang sarjana akuntansi luar negeri dengan nilai cumlaude. Harusnya kamu bangga padaku karena aku ingin bekerja dengamu" Ujar Rendra dengan sikap yang sombong
"Jangan sombong kamu. Tidak lama lagi aku juga akan mendapatkan gelarku. Bahkan kamu tahu sendiri kalau aku mengambil dua jurusan berbeda sekaligus. Manajemen bisnis dan ilmu teknologi, jadi aku bisa melebihimu" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang
__ADS_1
"Aku tahu itu, tapi ..."
Drrt drrt drrt
"Sebentar. Kenzie menghubungiku" Saat Rendra sedang bicara tiba-tiba Kenzie menghubungi Kenzo. Kenzo pun langsung menerima telepon karena sejak tadi Kenzie sudah berkali-kali menghubunginya
"Halo, Zie. Ada apa?" Sapa Kenzo dengan sikap yang tenang
"Zo, Risha berada dirumah sakit. Tadi dia tertabrak mobil"
"Apa?!" Kenzo sangat terkejut saar mendengar kalau Risha mengalami kecelakaan
"Bagaimana kondisinya sekarang?!" Tanya Kenzo dengan panik
"Aku belum tahu. Dokter baru saja membawanya ke ruang UGD" Jelas Kenzie yang terdengar masih panik
"Zo, Risha akan baik-baik saja kan? Tidak akan terjadi sesuatu padanya kan?" Kenzie bertanya pada Kenzo untuk menenangkan hatinya
"Kamu tenang saja. Risha itu bukan gadis sembarangan. Dia bagian dari keluarga kita, jadi dia pasti kuat dan tidak akan terjadi apa-apa padanya. Aku akan pulang sekarang!"
"Eh, ada apa Zo? Kamu mau kemana?" Rendra bertanya pada Kenzo yang tiba-tiba berdiri dan terlihat panik
"Permisi pak. Saya mau izin pulang dan mengambil cuti beberapa hari" Ujar Kenzo pada manajernya dengan wajah panik
"Ada apa Zo? Kenapa tiba-tiba mengambil cuti?" Tanya sang manajer yang bingung sekaligus penasaran
"Saudaraku mengalami kecelakaan. Aku harus pulang sekarang juga!" Jawab Kenzo yang berusaha bersikap tenang namun tetap saja terlihat panik
"Berapa lama?" Tanya manajernya lagi untuk memastikan
"Saya tidak tahu. Yang jelas saya harus tahu dulu bagaimana kondisi saudara saya" Jawab Kenzo yang semakin panik karena manajernya mengulur waktu
"Kenzo yang menjadi penarik pelanggan disini. Jika dia cuti lama pelanggan restoran bisa saja berkurang" Pikir manajer Kenzo sebelum memberi izin
"Kamu itu karyawan baru, bagaimana mungkin langsung mengambil cuti untuk waktu yang lama?" Ujar manajernya berusaha menahan Kenzo
"Saya hanya karyawan freelance, jika memang anda tidak memberikan saya izin, maka saya bisa berhenti sekarang juga" Kenzo menegaskan kalau dia memang harus pulang
__ADS_1
"Baiklah, aku memberimu izin. Tapi jangan terlalu lama. Setelah urusanmu selesai, kamu harus segera kembali" Ujar Manajer yang menyerah pada Kenzo
"Saya mengerti. Terimakasih" Kenzo langsung beranjak pergi menuju lokernya untuk mengambil semua barangnya dan berganti seragam.
"Aku ikut denganmu!" Rendra berjalan mengikuti Kenzo begitu dia melihatnya berjalan keluar dari restoran
"Bukankah kamu baru saja tiba? Aku mau langsung berangkat kebandara sekarang juga!" Jawab Kenzo sambil berlalu meninggalkan restoran
"Apa masalahnya? Aku juga belum pernah bertemu dengan keluargamu walaupun kita sudah kenal lama. Jadi sekalian saja bertemu sekarang" Rendra menjawab dengan acuh tak acuh sambil terus mengikuti Kenzo dari belakang
"Kamu urus saja masalah pabrik tas dengan bank itu!"
"Biarkan mereka bernapas sebentar. Tidak perlu buru-buru" Kenzo masih berusaha menahan Rendra agar tidak ikut namun Rendra tetap bersikeras untuk ikut dengannya
"Hah, sudahlah. Terserah padamu saja. Pesankan tiket sekarang juga!" Kenzo pun mengalah dengan sikap keras kepalanya Rendra
"Siap bos!" Jawab Rendra sambil tersenyum puas. Mereka pun bergegas kebandara menggunakan motor Kenzo
***
Tania dan Dhefin langsung bergegas kerumah sakit setelah Kenzie menghubunginya. Yudha dan Gina hanya menunggu dirumah karena kini mereka sudah terlalu tua untuk pergi kemana-mana
"Kenzie! Dimana Risha? Bagaimana keadaannya?" Tania langsung memanggil Kenzie begitu dia melihatnya sedang berjalan kesana kemari di depan ruang UGD
"Dia masih ditangani dokter, tante. Aku belum tahu bagaimana kondisinya" Kenzie menjawab dengan sikap tenang tapi raut wajahnya yang panik
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?" Tania bertanya dengan panik
"Risha tertabrak mobil saat kami hendak menyebrang jalan di depan kampus. Kami sudah hati-hati tapi tidak tahu kalau tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah kami" Kenzie menerangkan dengan raut wajah sedih penuh sesal. Tania melihat Kenzie yang sangat sedih
"Ya sudah kita doakan saja semoga Risha baik-baik saja. Sebaiknya kamu temui dokter juga" Ujar Tania setelah melihat tangan Kenzie juga mengeluarkan darah
"Aku tidak papa tante" Jawan Kenzie dengan kepala tertunduk
"Apanya yang tidak papa? Kamu tidak sadar kalau tanganmu juga berdarah?" Kenzie langsung melihat tangannya sendiri
"Oh iya, aku tidak menyadarinya. Kalau begitu aku temui dokter sebentar setelah itu aku akan kembali lagi kesini" Ujar Kenzie dengan raut wajah murung
__ADS_1
"Iya" Jawab Tania sambil menganggukkan kepala dengan sedikit senyum dibibirnya