Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Perdebatan Kenzo Dan Kenzie


__ADS_3

"Apa Risha sudah makan siang? Dia masih tidak membalas pesanku" Rendra kembali bimbang karena Risha masih mengabaikannya


"Lebih baik aku tunggu dia saja" Rendra pun turun dan menunggu di depan ruangan Risha


"Pak Rendra? Apa yang anda lakukan diisini? Apa ada sesuatu yang anda butuhkan dari bagian keuangan?" Salah satu staf bertanya karena bingung setelah  melihat Rendra berdiri di dekat ruangannya, Jadi dia mengira kalau Rendra memiliki urusan dengan bagian keuangan


"Tidak, aku hanya lewat saja. Apa semua karyawan sudah keluar untuk makan siang?" Rendra berusaha mencari alasan agar bisa menanyakan Risha


"Belum pak. Ada beberapa yang masih di dalam" Jawab staf itu dengan sopan


"Owh, ya sudah" Rendra tidak bertanya lagi dan langsung pergi dari sana


"Aneh sekali. Tumben pak Rendra diam disini? Apa ada sesuatu ya?" Pikir staf iu melihat kepergian Rendra


Risha sebenarnya melihat Rendra, namun dia masih ingin tahu sejauh mana Rendra akan berusaha mengejarnya


"Maaf Ren, aku masih ingin tahu sejauh mana kamu akan berusaha meminta maafku. Tapi itu tidak akan lama" Gumam Risha yang juga melihat kepergian Rendra


***


Ditempat lain, Kenzie sedang memeriksa hasil produksi. Hari ini dia memantau langsung proses produksinya karena akan ada pengiriman barang sore nanti.


"Apa semua berjalan lancar?" Tanya Kenzie pada salah satu pengawas produksi


"Ya pak. Semua berjalan lancar. Hasil produksi hari ini akan menutupi pengiriman selanjutnya, jadi kami harus bisa menyelesaikannya secepat mungkin" Pengawas menjelaskan dengan sopan


"Baguslah kalau begitu. Kuharap tidak ada masalah sampai semuanya selesai. Meisya, apa semua sudah di cek?" Kini Kenzie beralih pada Meisya yang berdiri didekatnya


"Sudah pak. Barang yang reject hanya sedikit, kemungkinan tidak akan ada hambatan untuk pengiriman berikutnya" Meisya menjelaskan dengan sikap yang tenang


"Baik. Lanjutkan pekerjaan kalian"


"Baik pak" Meisya dan staf satuya menjawab dengan serempak. Setelah itu Kenzie beranjak pergi meninggalkan ruang produksi dan kembali keruangannya dengan tumpukan dokumen yang harus dia diperiksa diatas meja kerjanya.


"Kenapa badanku rasanya tidak enak ya?" Kenzie menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya perlahan


Tok tok tok


"Masuk!" Meisya langsung masuk setelah Kenzie memberikam izin padanya


"Permisi pak. Saya membawa laporan yang harus anda periksa. Ini akan diteruskan ke bagian gudang" Meisya berjalan mendekati Kenzie. Dia memicingkan mata melihat wajah Kenzie yang pucat dan tetap tersenyum meskipun kini senyumnya terlihat tidak menawan sama sekali


"Pak, apa anda baik-baik saja?" Tanya Meisya dengan wajah khawatir


"Aku tidak papa. Berikan dokumennya padaku" Kenzie mengulurkan sebelah tangan untuk meminta dokumen yang ada ditangan Meisya, Tapi meisya malah mengangkatnya lagi agar tidak diambil Kenzie


"Tidak akan. Saya harus memeriksa anda dulu" Meisya mengelilingi meja Kenzie dan berdiri disampingnya kemudian memegang dahinya dengan lembut dan hati-hati

__ADS_1


"Anda demam. Apa pak Kenzie tidak merasa aneh dengan tubuh anda? Bagaimana mungkin tidak sadar kalau diri sendiri sedang demam?" Meisya menggerutu pada Kenzie yang tidak sadar kalau dia sedang sakit


"Saya memang merasa kalau agak tidak enak badan, tapi saya tidak tahu kalau saya sampai demam. Haah ... mungkin karena saya kelelahan saja. Sebentar lagi pasti baik-baik saja" Kenzie menjawab dengan nada bicara yang lemah


"Kalau begitu, anda harus istirahat dulu. Anda bisa tidur sebentar disofa" Pinta Meisya dengan nada memaksa


"Apa sekarang kamu sedang berperan jadi pacar yang perhatian?" Kenzie menggoda Meisya dengan senyum lembut meskipun wajahnya terlihat pucat


"Anda terlihat benar-benar tidak sehat, bagaimana bisa bercanda disituasi seperti ini ya?" Meisya bicara dengan sikap yang dingin karena Kenzie malah menggodanya padahal dia sedang tidak enak badan


Drrt drrt drrt


"Kenapa dia malah mengganggu disaat yang tidak tepat?" Gumam Kenzie melihat nama yang tertulis di layar ponselnya


"Halo"


Kenzie langsung menyapa begitu menerima teleponnya


"Halo Zie, apa kamu sengaja membuat mami dan papi kemari agar kamu bisa bebas disana, hah?" Kenzo langsung mengatakan maksudnya menghubungi Kenzie dengan nada bicara yang dingin


"Sepertinya kamu tidak berhasil membuat mami dan papi pulang ya? Berapa lama mereka akan tinggal disana?" Kenzie menjawab dengan senyum lembut dibibirnya


Kenzo mengernyitkan dahinya mendengar suara Kenzie yang sedikit berbeda


"Apa kamu baik-baik saja?"


Kenzie tersenyum mendengar perhatian Kenzo yang tidak biasa.


Kenzie menjawab sambil menoleh pada Meisya yang ada disebelahnya


"Sepertinya dia bisa merawatmu dengan baik ya?" Kenzo yang sebelumnya bicara dengan nada serius kini kembali bersikap tenang


"Kurasa begitu"


Meisya memicingkan mata mendengar percakapan Kenzie dan Kenzo


"Apa kalian memang selalu bicara seperti itu di depan orangnya langsung?" Tanya Meisya dengan tatapan aneh pada Kenzie. Namun Kenzie mengabaikannya dan tetap bicara pada Kenzo


"Kamu tidak ingin mengenalkannya padaku?" Tanya Kenzo dengan sikap yang tenang


"Kamu juga tidak mengenalkan Safira padaku" Zie tidak ingin kalah dari Kenzo dan kembali membalikkan ucapannya


"Bagaimana kalau kita lakukan sekarang? Dia sedang berada disampingku. Tapi kamu tidak boleh terpesona padanya"


"Posesif sekali. Tidak perlu khawatir, karena aku sudah punya bidadariku sendiri" Jawab Kenzie dengan senyum menggoda Meisya


"Terimakasih atas pujiannya. Kalau begitu, cepat ganti ke panggilan video" Kenzo dan Kenzie pun kini beralih pada panggilan video call. Mereka langsung mengarahkan kamera pada Meisya dan Safira

__ADS_1


"Apa kamu sudah lihat bidadariku?" Tanya Kenzie dengan senyum manis


"Ya, lumayan. Bagaimana dengan bidadariku?" Kenzo pun bertanya dengan sikapnya yang acuh tak acuh


"Zo, kamu ingin memuji orang atau mengajak berkelahi? Meisya sangat cantik begini kamu bilang lumayan? Ah kepalaku" Kenzie bicara dengan nada yang kesal, kemudian dia memegang kepalanya karena terasa berat saat digerakkan


"Maaf Zie, bagiku tidak ada yang lebih cantik selain pacarku" Kenzo dan Kenzie terus memuji pasangannya masing-masing. Mereka mengabaikan Meisya dan Safira yang pipinya memerah karena terus saja dibanggakan


"Kamu buta ya Zo? Meskipun Meisya bukan etis seperti pacarmu, tapi kecantikannya juga tidak kalah dari para artis terkenal" Kenzie tak ingin kalah dan terus memuji Meisya


"Aku tidak meragukannya, hanya saja kalau Safira sudah jelas diketahui oleh semua orang. Oh tidak, apa mulai sekarang aku kurung dia dirumah saja agar tidak ada yang melihat kecantikannya?" Kenzo bicara dengan senyum tipis yang bangga


"Hei, kalian berdua! Apa yang kalian perdebatkan? Zo, Safira sedang sakit, kamu harus memperhatikannya bukannya berdebat dengan Zie masalah siapa yang paling cantik. Dan kamu Zie, kami harus bekerja, untuk apa kamu berdebat dengan Kenzo?"Cheva merebut ponsel Kenzo dan akhirnya memarahi mereka berdua


"Mami, tidak perlu berteriak seperti itu. Tanoa bertetiak saja mami sudah menyeramkan. Kalau mami berteriak seperti … nanti Meisya dan Safira akan ketakutan" Kenzie menanggapi Cheva dengan senyum yang lembut dan nada bicara yang sedikit menggoda Cheva


"Memangnya mami semenyeramkan itu? Sudah Zie, kembali bekerja sama. Kalau tidak, kamu akan mami pindahkan ke kantor pusat agar mami bisa mengawasimu langsung" Cheva mengancam Kenzie dengan jabatannya


"Ampun mih. Sudah cukup aku harus menghadapi mami dirumah. Aku tidak ingin menghadapi mami lagi dikantor. Sampai jumpa mami" Kenzie mengalah dan berhenti menggoda Cheva


"Tunggu!" Cheva menahan Kenzie sebelum dia menutup teleponnya


"Ada apa lagi mami?" Tanya Kenzie dengan nada malas


"Kamu sakit Zie? Kenapa wajahmu pucat?" Cheva mengernyitkan dahinya melihat wajah pucat Kenzie


"Aku tidak papa mih. Mungkin hanya kelelahan saja. Hari ini mungkin aku akan mencari penginapan disekitar sini. Rasanya aku tidak bisa menyetir jauh saat pulang kerja" Ujar Kenzie dengan nada lemah


"Baiklah. Mami tidak mau kamu terlalu memaksakan diri saat bekerja"


"Bukannya mami yang memaksanya bekerja?" Kenzo kembali menyela Cheva dengan sikap yang datar


"Diam kamu Zo! Kamu juga akan masuk ke perusahaan papimu" Ujar Cheva menegaskan


"Kenapa jadi aku yang kena. Kan ku bilang nanti setelah aku menyelesaikan kekurangan software milikku"


"Itu sudah hampir selesai Zo. Kamu bisa langsung masuk perusahaan papi menggantikan om Sam" Kenzie memberitahu Cheva kalau pekerjaan Kenzo akan segera selesai


"Zo sebaiknya kamu istirahat saja. Jangan banyak bicara!" Balas Kenzo dengan sikap dingin


"Baiklah Zie. Sampai jumpa. Kabari kami jika terjadi sesuatu"


"Tenang saja mih. Disana ada Meisya" Meisya kembali terkejut mendengar namanya disebut oleh Kenzo


"Benarkah? baiklah mami bisa tenang karena ada yang menemanimu"


"Zo, kamu sama sekali tidak ingin kalah dariku ya?"

__ADS_1


"Zie, tidak ada yang bisa mengalahkanku. Sampai jumpa" Kenzo langsung menutup panggilan video callnya


"Pak Kenzie … ? Apa anda sangat sehat sampai bergosip dihadapan saya langsung?"


__ADS_2