Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kegalauan Rendra


__ADS_3

Safira tersenyum melihat perdebatan Lian dan juga Kenzo. Meskipun keduanya terlihat bersikap dingin satu sama lain, tapi mereka juga terlihat sangat dekat. Perlahan dia menitikan air mata.


"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit? Atau ada yang terasa tidak nyaman?" Kenzo bertanya dengan sikap yang lembut dan terlihat khawatir saat melihat Safira menitikan air mata


"Tidak papa. Aku hanya senang melihat kalian"


Kenzo mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Safira


"Maksudmu, kamu senang melihat aku berdebat dengan papi?" Kenzo dengan sengaja menggoda Safira


"Tidak, bukan itu. Maksudku, aku senang melihat hubunganmu dan orang tuamu yang terlihat sangat baik" Safira terlihat panik saat Kenzo dengan sengaja menggodanya


Cheva mendekati Safira dan memeluknya dengan lembut


"Kamu tidak perlu bersedih. Tante tahu kalau orang tua kamu sudah tidak ada, tapi kan sekarang kamu punya kami. Jadi tidak perlu bersedih lagi. Kamu bisa anggap kami seperti orang tuamu sendiri"


"Terimakasih tante"


Safira pun membalas pelukan Cheva dengan lembut. Tiara yang sudah lama mengikuti Safira tersenyum disela derai air mata yang tanpa sadar mengalir dikedua pipinya


Cheva melerai pelukannya dengan Safira dan bertanya pada Kenzo


"Zo, kapan safira keluar dari rumah sakit?"


"Ehm … katanya hari ini bisa pulang, mungkin nanti sore, tapi dokter harus memeriksanya lagi sebelum pulang nanti" Kenzo menjelaskan pada Cheva dengan rinci


"Tapi, apa kamu tidak memberitahu kakek dan nenek Safira?" Cheva bertanya setelah dia tidak melihat kakek dan nenek Safira


"Aku yang meminta mereka untuk tidak memberitahu kakek dan nenek. Mereka sudah tua, aku tidak ingin mereka khawatir dengan kesehatanku nantinya" Safira menjawab dengan raut wajah sedih


"Kalau begitu mami akan disini menemani Safira"


"Tidak. Kalian sudah bertemu dengan Safira jadi mami dan papi langsung pulang saja" Kenzo langsung menjawab dengan tegas


"Eeh tidak bisa. Mami masih ingin disini. Kamu tidak bisa melarang mami" Cheva pun bersikeras dengan keinginannya


"Tapi kan mih, mami dan papi harus mengurus kantor. Kalian tidak bisa meninggalkan kantor terlalu lama" Kenzo berusaha mencari alasan agar Cheva dan Lian pulang


"Kami punya asisten, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan masalah perusahaan" Cheva menjawab dengan senyum manis penuh kebanggaan


"Sudahlah menyerah saja. Kamu tidak bisa mengusir kami begitu saja" Lian pun kembali membuka suara dengan sikapnya yang dingin


"Haah... kalian ini memang benar-benar" Kenzo menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala karena Lian dan Cheva bersikeras tetap tinggal dan menemani Safira


Safira dan Tiara hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan keluarga ini

__ADS_1


***


Hari ini Risha masih mengacuhkan Rendra. Meskipun Rendra sudah mengirim pesan sejak kemarin namun Risha sama sekali tidak membalasnya


"Sampai kapan kamu akan marah padaku Sha? Aku benar-benar minta maaf padamu"


Tulis Rendra dalam pesannya


"Dia mengabaikanku lagi, haah" Gumam Rendra setelah pesannya tidak dibalas lagi oleh Risha


Tok tok tok


"Masuk!"


Alan masuk keruangan Rendra setelah mendapatkan izin darinya


"Permisi pak. Ini dokumen yang harus anda tanda tangani" Ujar Alan sambil meletakkan beberapa map berisi dokumen yang berbeda pada Rendra


"Taruh saja disitu!" Rendra bicara tanpa menatap Alan dia terus memandang ke luar jendela


"Maaf pak, dokumen yang tadi pagi saya serahkan ke bapak, apa sudah diperiksa? Kalau sudah, saya akan konfirmasi ke bagian produksi" Tanya Alan dengan sopan dan tenang


"Dokumen mana? Memangnya kamu memberikan dokumen penting padaku?" Rendra kembali bertanya pada Alan mengenai dokumen yang dia maksud


"Jadi anda belum memeriksanya pak?"


"Ini dokumennya pak. Anda tidak memeriksa semua ini pak? Apa anda sakit? Atau anda sedang memiliki masalah?"


Alan terus bertanya pada Rendra karena merasa heran. Selama ikut dengan Rendra dia tidak pernah melihat atasannya itu membiarkan pekerjaannya menumpuk


Sesaat Rendra terdiam sebelum memberitahu Alan


"Lan, bagaimana cara minta maaf pada seorang gadis?" Rendra menyangga dagunya dengan kedua punggung tangan


Alan sangat terkejut dengan pertanyaan Rendra


"Hah? Caranya minta maaf pak? Kalau untuk itu … saya juga minta maaf pak, saya tidak pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi kalau saya lihat kebiasaan orang lain, biasanya ada yang memberikan hadiah atau mungkin memberikan bunga"


Alan menjelaskan apa yang dia tahu karena dia juga tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Selama ini dia hanya bekerja saja untuk membantu ekonomi keluarganya


"Hadiah? Bunga?" Gumam Rendra seraya memikirkan apa yang disarankan Alan


"Kira-kira hadiah apa ya Lan?" Rendra kembali bertanya pada Alan


"Saya juga tidak tahu pak"

__ADS_1


Jawab Alan sambil menggaruk keningnya dengan jari telunjuk memikirkan pertanyaan Rendra


"Lan tolong belikan coklat dan boneka ya!" Pinta Rendra setelah mengingat kalau Risha senang dengan coklat


"Baik pak" Alan pun hendak beranjak meninggalkan ruangan Rendra. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia mengingat sesuatu


"Oh iya. Maaf pak saya kemari mau mengambil dokumen yang tadi saya katakan" Kata Alan setelah dia mengingat pekerjaan mendesaknya


"Dokumen yang mana? Berikan padaku" Pinta Rendra dengan tenang


"Ehm … yang ini pak" Alan pun memberikan dokumennya setelah dia mencari diantara tumpukan dokumen Rendra


"Kemarikan" Rendra meraih dokumennya dan membacanya dengan cepat, lalu menandatanganinya


"Anda tidak membacanya dengan teliti pak? Ini dokumen yang anda minta untuk dikerjakan dalam waktu 1 hari" Ujar Alan memastikan hasil kerjanya


"Kamu ingin aku puji?" Tanya Rendra dengan sikap yang dingin


"Tidak pak. Saya tidak bermaksud begitu" Jawab Alan dengan panik


"Aku percaya kalau kamu tidak akan mengecewakanku" Rendra kembali menanggapi dengan sikap yang tenang


"Kalau begitu saya permisi pak"


"Hemn … jangan lupa belikan coklat dan boneka"


"Baik pak" Kini Alan benar-benar pergi dari ruangan Rendra


"Bisa gawat kalau pak Rendra dan Risha bertengkar lebih lama. Perusahaan ini bisa kacau karena pak Rendra sama sekali tidak ingin bekerja. Pak Rendra ini apa sangat bodoh ya? Dia pandai dalam bisnis dan menyelesaikan masalah diperusahaan, tapi dia tidak bisa menyelesaikan masalah dengan Risha. Aku yang tidak pernah pacaran saja tahu kalau pak Rendra menyukai Risha"


Gumam Alan dengan geleng-geleng kepala


Rendra yang masih bingung kembali mengirim pesan pada Risha


"Sha, bagaimana kalau pulang kerja nanti kita makan malam? Aku akan menunggumu ditempat parkir"


Rendra terus menatap ponselnya dengan cemas


"Apa dia benar-benar tidak ingin membalas pesanku? Bagaimana aku harus membujuknya?" Rendra memegangi kepalanya dengan kedua tangan karena frustasi


"Eh, tapi tunggu. Kenapa aku begitu takut kalau Risha marah ya? Kita berdua kan tidak punya hubungan apa-apa? Apa ada yang salah denganku? Ah mungkin ini karena aku merasa bersalah atas perkataanku kemarin? Tapi bagaimana jika Risha Benar-benar marah dan tidak ingin memaafkanku? Apa yang harus aku jelaskan pada Kenzo? Ah itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah minta maaf dulu pada Risha. Ya minta maaf"


Rendra pun kebingungan sendiri dengan apa yang terjadi padanya. Dia tidak mengerti alasan yang membuat dia gelisah karena Risha marah


Disatu sisi Risha membaca pesan Rendra

__ADS_1


"Makan malam untuk membujukku? Kamu pikir aku akan mudah dirayu hanya dengan makan malam? Tidak akan semudah itu. Aku ingin lihat bagaimana sikapmu jika aku mengabaikanmu. Jangan hanya aku yang mengejarmu. Kamu juga harus berusaha membujukku agar emosiku sedikit mereda"


Risha bicara pada dirinya sendiri dan mengeluh tentang apa yang dilakukan dirinya untuk Rendra, dia juga menunjukkan seringai licik saat memikirkan Rendra


__ADS_2