
Risha dan Rendra sudah mulai mempersiapkan pernikahan mereka, meskipun sampai saat ini mereka belum memberitahu keluarga Risha secara langsung mengenai rencana pernikahan mereka. Setelah pulang kerja, Rendra datang keperusahaan Risha dan pergi bersamanya.
“Kita mau kemana?” tanya Risha saat dia dan Rendra berjalan meninggalkan kantor Sanjaya.
“Bertemu dengan desainer pakaian pengantin” Rendra menjawab dengan sangat lembut dan senyum yang manis.
“Apa kamu sudah menentukan desainernya juga? Cepat sekali” Risha menatap Rendra dengan tatapan curiga.
“Tentu saja sudah. Kan waktunya tidak lama lagi". Mereka berdua pun berjalan sambil berbincang dengan senyum bahagia diwajah mereka.
Tak jauh dibelakang mereka, Diaz memperhatikan putrinya dan juga sang kekasih yang tertawa bersama sambil berjalan beriringan meninggalkan kantor. Dia menatap pasangan itu dengan sorot mata yang terlihat kesal.
“Apa yang dia lakukan disini? Kenapa sekarang ini dia sering muncul dikantor?”. gumam Diaz yang memandang Risha dan Rendra dengan tatapan sinis.
“Mereka itu pasangan kekasih, apalagi sekarang mereka sudah bertunangan. Sangat wajar jika Rendra datang dan mengunjungi Risha” Roni menanggapi dengan sikapnya yang tenang sambil mamandangi Risha dan Rendra yang semakin menjauh.
“Apanya yang wajar? Mereka itu baru sekedar tunangan, bukan suami istri, jadi tidak perlu sering bertemu” Diaz menanggapi Roni dengan sikap yang sinis.
“Kamu seperti tidak pernah muda. Mungkin karena kamu tidak pernah merasakan bagaimana cinta yang dihalangi orang tua”. Roni terus menghakimi Diaz dengan sikapnya yang tenang.
“Apa maksudnya itu? Aku memang tidak pernah ditentang oleh keluarga Tania, tapi bukan berarti jalan yang kami lalui untuk bersama juga mudah”
“Apanya yang sulit? Kamu hanya harus memenjarakan paman dan bibinya saja. Kamu tidak perlu berusaha keras menaklukan ayah mertuamu. Dan meskipun dulu Tania sakit, tapi kalian bukan orang tidak mampu yang harus berjuang keras untuk mendapatkan perawatan medis”
“Kamu juga tidak merasakan hal itu! Kamu menikah dengan orang sederhana yang tidak tahu kekuasaan”
“Karena itu memang lingkunganku. Aku tidak perlu mencari gadis kaya hanya karena aku asisten pribadimu. Itu sangat merepotkan”
“Lama-lama kamu ini sangat cerewet dan tidak sopan pada atasanmu ya!”
“Kamu juga tidak sopan pada asisten yang lebih tua darimu. Aku ini seniormu saat dikampus. Harusnya kamu menghormatiku sedikit saja”
__ADS_1
“Haah … ini tidak benar. Lebih baik kita pergi sekarang sebelum terjadi pertumpahan darah” Diaz dan Roni yang baru saja berdebat pun akhirnya memutuskan untuk berhenti dan kembali melanjutkan langkah kaki mereka untuk meninggalkan kantor.
***
Sementara itu, Rendra dan Risha telah tiba dibutik salah satu desainer ternama yang akan merancang pakaian untuk pernikahan mereka.
“Selamat sore. Suatu kehormatan untuk saya karena dikunjungi oleh pria tampan yang merupakan pengusaha muda ternama di negara ini. Calon mempelai wanitanya juga sangat cantik. Desain seperti apa yang kalian inginkan untuk pernikahan kalian?”. Karena Rendra telah membuat janji sebelumnya, jadi desainernya sendiri yang menyambut kedatangan Rendra dan Risha ketika mereka tiba dibutik.
“Kami belum memutuskan desain seperti apa yang akan dipakai nanti. Apa kami bisa melihat gambar desain yang anda miliki untuk dijadikan referensi?” tanya Rendra yang menanggapi dengan sikap yang tenang.
“Tentu saja. Silahkan duduk dulu". Desainer itupun beranjak pergi meninggalkan Rendra dan Risha untuk mengambil gambar rancangan miliknya, dan membiarkan pasangan muda itu duduk menunggunya.
Tak lama dia kembali dengan sebuah buku yang cukup tebal ditangannya
"Ini adalah beberapa contoh desain yang kami miliki, tapi jika anda punya keinginan sendiri … kami bisa membuatnya sesuai dengan keinginan anda” ujar desainer wanita itu dengan senyum yang ramah.
“Apa kamu memiliki pemikiran sendiri untuk gaunmu, sayang?” Rendra bertanya dengan lembut pada Risha yang duduk disebelahnya sambil melihat buku desain rancangan dari butik itu.
“Tapi aku ingin kamu mengenakan sesuatu yang terlihat mewah. Kurasa … itu akan cocok denganmu” Rendra mengungkapkan keinginannya dengan senyum yang lembut.
“Tapi, sayang. Aku tidak suka dengan sesuatu yang sangat mewah. Aku lebih suka dengan sesuatu yang sederhana tapi tetap elegan” Risha dan Rendra pun berdebat mengenai gaun yang akan dikenakan Risha nantinya.
“Maaf sebelumnya. Kami memiliki beberapa desain gaun yang telah jadi. Jika anda mau ... nona bisa mencobanya untuk menentukan pilihan gaun yang glamor atau yang sederhana” desainer cantik itu menyela dengan senyum yang lembut dan juga ramah.
Rendra dan Risha saling menatap satu sama lain ketika desainer itu memberikan jalan keluar atas perdebatan mereka.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan mencoba beberapa gaun saja". Risha pun mengangguk setuju dengan saran dari sang desainer.
"Silahkan sebelah sini" Risha pun beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti desainer itu untuk mencoba beberapa gaun pengantin. Sementara Rendra menunggu dengan buku desain gaun dan jas ditangannya.
"Bagaimana?" tak berapa lama Risha keluar dengan salah satu gaun yang simpel dan riasan yang sederhana. Rendra terpana melihat calon istrinya mengenakan balutan gaun pengantin putih tanpa lengan. Hanya saja gaun itu menunjukkan bagian tulang selangka Risha hingga pundak. Rendra yang sebelumnya terpana, kini memasang wajah tidak suka
__ADS_1
"Cantik, tapi ... bisakah kamu coba yang lain?" ujar Rendra dengan sikap yang tenang.
"Oh, baiklah" Risha pun kembali ke belakang dan memilih gaun lainnya. Rendra juga kembali fokus dengan contoh desain baju ditangannya.
"Bagaimana dengan model seperti ini?" tanya Risha lagi yang sudah kembali dengan gaun baru. Kali ini dia menggunakan gaun yang tertutup dengan lengan 3/4, namun ada selendang disebelah bahunya yang membuatnya terlihat mewah.
Rendra memperhatikan Risha dari ujung rambut sampai ujung kaki karena dirasa tidak sesuai, diapun kembali menggelengkan kepala.
"Bisakah ganti model lain saja?" tanya Rendra lagi dengan suara lembut.
Risha menunduk memperhatikan gaun yang dia kenakan.
"Baiklah" jawabnya dengan nada yang malas kemudian kembali berbalik kebelakang.
"Sebenarnya desain gaun seperti apa yang aku inginkan untuk dikenakan oleh Risha? Mau mengenakan gaun apapun dia tetap saja cantik. tapi entah kenapa ada sesuatu yang selalu terasa kurang". Rendra berpikir keras mengenai apa yang dia rasakan tentang gaun yang dikenakan Risha.
"Kalau sekarang ini ... bagaimana?" tanya Risha lagi dengan ragu-ragu karena khawatir kalau Rendra juga akan menentang gaun yang dia kenakan kali ini.
Rendra kembali terpana menatap Risha. Dia memperhatikannya dari ujung rambut sampai keujung kaki. Risha terlihat sangat cantik dengan gaun model lonceng dengan bagian belakang yang panjang, lengannya pendek dan bagian dekat lehernya mengenakan furing sehingga menutupi bagian diatas dada dan juga tulang selangka Risha namun tidak terlalu rapat. bagian kepalanya menggunakan penutup kepala dengan mahkota diatasnya. Tangan Risha pun mengenakan sarung tangan putih panjang yang tipis sampai dibawah siku.
Risha terdiam memperhatikan Rendra yang tak berkedip menatapnya.
"Ren! Kenapa kamu diam saja? Bagaimana dengan model seperti ini?" tanya Risha lagi yang membuat Rendra tersadar dari lamunannya.
"Bagus. Cantik. Kamu sangat cantik memakai gaun seperti ini. Kurasa tidak ada pengantin lain secantik kamu". Rendra bicara dengan sorot mata berbinar penuh kekaguman.
"Gombal. Kalau begitu, aku mau model seperti ini. Hanya saja dirubah bagian dadanya menggunakan furing transparan dan hanya terlihat ada sedikit tali saja". Risha pun mengutarakan keinginannya tentang gaun yang akan dia kenakan nanti.
Rendra pun ikut tersenyum karena masalah gaun sudah teratasi.
"Masalah gaun sudah selesai. Sekarang, aku harus memikirkan cara memberitahu keluarga Risha mengenai rencana pernikahan ini dan membujuk om Diaz agar memberikan izinnya"
__ADS_1