Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Rendra Dan Kenzo Seperti Anak Kecil


__ADS_3

"Bagaimana kamu bisa ada disini?" Kenzo bertanya pada Safira sambil menggenggam tangannya dengan lembut. Mereka duduk disalah satu kursi yang ada ditaman. Tidak banyak orang disana, jadi mereka bisa tenang.


"Om dan tante yang memkasaku untuk ikut kemari, mereka mengantarku kesini sebelum mereka pulang, katanya ada masalah kantor yang harus mereka selesakan sendiri"


"Mami dan papi yang mengantarmu kemari?" Kenzo sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Safira


"Kenapa ekspresimu seperi itu? memangnya sangat aneh kalau mereka mengantarku?" Safira tersenyum dengan bingung melihat ekspresi Kenzo.


"Bukan itu yang aneh. Justru aku merasa aneh karena mereka langsung pergi tanpa membuat keributan terlebih dahulu. Biasanya mami suka membuat keributan sebelum dia pergi" Kenzo menjelaskan dengan eekpresi wajah datar mengenai kedua orang tuanya.


"Aku yang melarang mereka turun. Jika mereka ikut masuk denganku, maka sudah pasti rumah sakit akan heboh, dan mereka juga akan jadi trending topik untuk hari ini karena datang bersama seorang artis" Safira bicara dengan senyum manja dan menyombongkan diri sendiri


"Yah, itu akan sangat merepotkan, terlebih lagi untukku dan Kenzie, karena orang-orang juga akan mencari tahu identitas kami sebagai anak dari keturunan keluarga kusuma" Kenzo pun tidak ingin kalah dan ikut menyombongkan diri


"Ya, aku bisa membayangkan bagaimana repotnya kalian menghadapi media. Tapi kenapa kamu tidak menghindari media saat bersamaku. Bukannya mereka juga akan mencari tahu identitas dari pacar artis terkenal sepertiku?"


"Itu tidak sulit. Mereka hanya akan menemukan informasiku sebagai programer muda handal dan tampan, itu saja. Tidak akan ada yang tahu identitasku sebagai bagian dari keluarga Kusuma. Dan mungkin … kalaupun mereka mencari identitas Kenzie, itu hanya akan ditemukan sebagai manajer perusahaan cabang Kusuma" Kenzo menjawab dengan tenang dan acuh tak acuh


"Hemn ... bisa dimengerti. Sebagai programer, kalian pasti menutup semua akses mengenai informasi pribadi kalian berdua. Iya kan?


"Pandai. Tidak hanya itu, bahkan mami, papi dan om Diaz juga menutup semua akses yang bisa mengarah pada kami. Mereka juga pandai dalam bidang IT"


Safira menganggukan kepala berkali-kali mendengar penjelasan Kenzo


"Jadi kalian belajar mengenai bidang IT dari orang tua kalian?"


"Bahkan dari kakek bi dan nenek Ji juga. Untuk beladiri, kami diajari oleh kakek Ed pelatihan militer. Uh masa kecil kami tidak semudah anak biasa pada umumnya. Belajar mengenai bisnis, teknologi komputer dan militer dari kecil sungguh menghabiskan waktu bermain" Kenzo mengeluh dengan raut wajah sedih


"Kasiaaaann. Pasti kamu tumbuh dengan masa kecil kurang bahagia, sehingga membuatmu menjadi minim ekspresi" Safira menggoda Kenzo dengan senyum yang manis


***


Risha dan Rendra dengan cepat mengikuti Kenzo yang berlari ke arah taman, namun mereka tidak langsung menemukannya.


"Kemana dia pergi? Bukannya tadi kearah sini?"


Sambil mendorong kursi roda, Risha menoleh kesana kemari. Begitu pun dengan Rendra, dia berusaha mencari keberadaan sahabat es yang katanya akan berubah jadi satria baja hitam.


"Aku juga tidak tahu, tapi aku yakin kalau mereka berdua benar-benar ke arah sini. Sebenarnya siapa orang itu? Bagaimana dia bisa membuat Kenzo yang tidak mudah bergerak seperti gunung es, secara mengejutkan bergerak dan membawanya lari dari kerumunan orang?"


Rendra masih bingung dengan apa yang dilakukan Kenzo secara tiba-tiba. Kenzo yang selalu mengabaikan orang lain tiba-tiba berlari pada kerumunan orang dan membawa seorang gadis pergi bersamanya.

__ADS_1


"Oh itu dia!" Rendra langsung menoleh melihat arah tangan Risha yang menunjuk ke satu tempat duduk.


"Haish rupanya dia disana" Risha pun mendorong kursi roda Rendra ke arah Kenzo berada


"Jadi satria baja hitam kita hanya membawa gadis cantik pergi ke taman saja?" Rendra bicara dengan nada menggoda Kenzo.


Safira dan Kenzo langsung menoleh bersamaan ketika mendengar suara Rendra


"Halo, aku Safira, senang bertemu dengan kalian" Rendra dan Risha sangat terkejut hingga mata mereka terbelalak begitu melihat Safira yang menyapa mereka lebih dulu dengan senyum yang lembut.


"Sa-Safira? Jadi itu kamu? Pantas saja Kenzo langsung berlari ke arahmu" Risha terbata tak percaya ketika melihat Safira langsung dari dekat.


"Memang dia biasanya seperti apa? Apa tidak pernah berlari ketika ada wanita cantik?" Safira bertanya sambil menatap Kenzo dengan tatapan penasaran dan curiga.


"Kalau berlari menjauh sih iya. Biasanya dia ... seperti hidup di dunia ini seorang diri. Orang lain yang ada disampingnya bisa dibilang seperti tak terlihat" Rendra bicara dengan sikap acuh tak acuh tanpa memperdulikan Kenzo yang menatap tajam kearahnya.


"Hei, jangan sembarangan bicara!" Kenzo menatap Rendra dengan sorot mata yang tajam, yang rasanya bisa menusuk masuk  ke tubuhnya


"Apa yang salah? Apa yang aku katakan itu benar. Kamu selalu mengabaikan orang lain dan menganggap tidak ada orang disampingmu. Hanya beberapa orang saja yang bisa berhubungan denganmu. Itu sangat membuatku khawatir karena takut kamu kesepian" Rendra menggunakan tangannya seakan sedang mengusap air matanya sendiri.


Risha dan Safira terlihat terkejut dan bingung dengan apa yang terjadi antara Rendra dan Kenzo. Safira langsung menoleh pada Risha dengan dahi berkerut.


"Entahlah, aku jarang melihat merkea ketika sedang bersama. Tapi aku juga tidak menyangka kalau candaan mereka ketika berdua seperti ini" Risha menjawab dengan cara yang sama. Dia tidak mengeluarkan suara dan menjawab dengan menggerakan bibir juga mengangkat bahu secara bersamaan.


"Mereka bertengkar seperti anak kecil. Sangat menggemaskan"


***


Baru 2 hari Fredi menjadi direktur sementara Dirga Electronik. Perusahaan itu sudah sangat kacau sekarang. Sejak kemarin, kantor menjadi tempat berkumpul geng motor dan kekacauan itu membuat harga saham mereka jelas anjlok. Alan selalu melaporkan apa yang terjadi pada Kenzo. Dan hari ini Kenzo memintanya melaporkan langsung pada Bastian.


Tuut tuut tuut


"Halo" Tak berapa lama terdengar suara Bastian dari ujung telepon. Nada bicaranya tenang namun dia juga terdengar lemah.


"Halo pak, saya Alan. Saya ingin melaporkan kondiri perusahaan selama pak Fredi yang memeang kendali" Alan menjelaskan dengan tenang. Tentu Bastian sudah bisa menebak apa  yang akan dilaporkan oleh Alan


"Ya, Alan. Ada apa. Apa kondisi Dirga electronik sangat kacau?" Bastian bertanya dengan tangan memeijat pelipisnya karena merasa sakit kepala secara tiba-tiba.


"Ya, harga saham Dirga Electronik turun drastis. Banyak vendor yang datang ke perusahaan mengeluh karena disini sangat berisik dan tidak. bisa membahas masalah pekerjaan dengan benar.


"Bagaimana dengan Fredi, apa kamu sudah menegurnya?"

__ADS_1


"Saya sudah mengatakan langsung padanya tapi pak Fredi tidak ingin mendengar apa yang saya katakan" Alan kembali menjelaskan apa yang terjadi pada Fredi


"Baiklah, aku akan kesana sekarang" Ujar Bastian yang tidak memiliki cara lain


"Baik pak terimakasih" Bastian langsung menutup telepon dari Alan tanpa memberikan tanggapan lagi.


"Bukannya membantu, dia malah menambah masalah untukku. Bagaimana kondisi Rendra ya? Apa aku harus kerumah sakit? Ehm … Sebaiknya aku pergi kesana untuk memastikan keadaannya"


Bastian pun bergegas dari kantornya menuju rumah sakit sebelum dia pergi ke kantir Rendra.


Beberapa saat kemudian, dia tiba dirumah sakit dengan membawa pascel buah ditangannya. Bastkan tengah berdiri didepan pintu kamar Rendra, dia terlihat ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Akhirnya dia membulatkan tekad untuk masuk


Tok tok tok


Bastian mengetuk pintu sebelum dia masuk. Didalam terlihat Risha yang berdiri di samping Rendra yang sedang duduk dengan bersandar pada bantal dipunggungnya. Sedangkan Kenzo sedang duduk di sofa ditemani Safira. Bastian terkejut sesaat melihat Safira disana, matanya terbelalak namun dia kembali bersikap seperti biasa lagi.


"Maaf mengganggu kalian, aku kemari untuk melihat kondisi Rendra. Bagaimana keadaanmu?" Bastian berkata sambil berjalan mendekati Rendra


"Aku sudah lebih baik. Seperti yang kamu lihat" Rendra pun menjawab dengan sikap yang tenang.


"Aku membawa beberapa buah untukmu" Ujar Bastian lagi sambil menunjukkan parcel yang dia pegang


"Terimakasih, tidak perlu repot" Rendra hanya menjawab seadanya, membuat suasana kamar terasa sangat canggung


"Untuk apa kamu kemari? Harusnya kamu mengawasi perusahaan kan? Apa kamu sangat senggang sampai bisa jauh-jauh mengantarkan parcel kesini?" Kenzo bicara dengan dengan sinis pada Bastian


"Aku hanya ingin melihat kondisinya" Ujar Bastian dengan raut wajah tenang


"Tidak perlu sok perhatian. Rendra memiliki kami. Dia tidak butuh kakak yang tidak becus sepertimu" Kenzo berkata dengan sinis dan soroy mata yang tajam. Lalu dia berdiri dan berjalan mendekati Bastian


"Dengar, kesempatanmu untuk jadi kakak yang baik telah habis. Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Rendra lagi" Kata Kenzo dengan mata penuh kebencian


"Itu bukan salahku. Aku sama sekali tidak tahu kalau Rendra jatuh dan sekarang Rendra sudah baik-baik saja" Bastian berusaha membela diri


"Baik-baik saja? Bagaimana kalau aku membuatmu merasakan hal yang sama dan mengatakan kalau aku tidak sengaja? Pergilah, aku tidak ingin melihatmu. Kamu tidak pantas jadi seorang kakak"


"Rendra sudah besar. Untuk apa kamu ikut campur dalam urusannya? Dia bisa mengambil sendiri keputusan yang baik menurutnya"


Kenzo kembali menatap Bastian dengan tajam


"Aku sudah lama bersamanya. Dia sudah jadi bagian dari keluargaku, jadi tidak akan aku biarkan dia mengambil keputusan yang salah"

__ADS_1


__ADS_2