Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keberangkatan Kenzo


__ADS_3

Hari ini Kenzo akan berangkat ke negara F. Dia tidak mengizinkan banyak orang mengantarnya ke bandara, jadi hanya Risha dan Kenzie saja yang mengantarnya


"Zo, kamu benar-benar akan meninggalkan aku sendiri?" Kenzie bertanya dengan wajah sedih. Dia terlihat sangat tidak rela untuk terpisah jauh dengan Kenzo


"Zie, jangan seperti perempuan begitu. Kita hanya terpisah jarak saja. Kita masih bisa berkomunikasi nantinya. Lagipula jika ada sesuatu kamu tetap bisa minta bantuanku. Aku juga pasti akan kembali nanti" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuhnya


"Zo, kamu harus selalu memberi kami kabar. Saat kamu sudah dapat tempat tinggal dan pekerjaan. Hubungi kami, ya?" Risha menyela Zo dan Zie yang sedang


"Sha, kenapa kamu ikut-ikutan seperti anak ini? Aku tidak akan melupakan kalian. Aku tetap saudara kalian. Dan jika kalian butuh aku, maka aku akan langsung datang membantu kalian" Zo dengan senyum tipisnya menenangkan Kenzie dan Risha


"Aku hanya khawatir kamu akan kesepian disana" Jawab Risha dengan bibir mengerucut


"Tenanglah. Aku akan baik-baik saja disana" Kenzo bicara dengan senyum tipis sambil mengusap kepala Risha


"Lagipula disana ada kakek dan nenek kita. Jika memerlukan sesuatu maka aku. bisa hubungi mereka"


"Kamu benar. Disana ada kakek Ed dan nenek Ji. Ada kakek Bii dan nenek Mili juga" Risha membenarkan ucapan Kenzo


"Pesawatku sebentar lagi berangkat, jadi aku harus pergi sekarang. Jaga diri kalian baik-baik. Ingat hubungi aku jika kalian membutuhkan bantuan" Kenzo memeluk Kenzie dan Risha secara bergantian


"Kamu juga. Jaga kesehatanmu dan jangan terlalu fokus pada game sampai lupa makan!"


"Ya, aku mengerti. Sampai jumpa" Kenzo mulai beranjak pergi meninggalkan Risha dan Kenzie yang masih terus menatap kepergiannya hingga dia semakin menjauh


"Ayo Zie, kita pergi!" Ajak Risha sambil menepuk pundak Kenzie


"Ya, ayo" Kenzie mengikuti Risha meskipun sesekali dia menoleh kebelakang


***


Ditempat lain, Panji sedang bicara dengan orang tuanya

__ADS_1


"Pah, mah ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian" Panji terlihat ragu-ragu saat dia hendak bicara dengan kedua orang tuanya


"Ada apa? Kenapa kamu kelihatan serius sekali?" Sang ayah bertanya dengan sikap yang tenang


"Mengenai perjodohanku. Bisakah kalian mempertimbangkannya lagi?" ayah dan ibu Panji saling menoleh satu sama lain begitu mendengar keinginan putranya


"Kenapa? Apa ada yang salah dengan hubungan kalian?" Ibu Panji bertanya dengan wajah bingung


"Mah, aku masih ingin fokus dengan karirku. Aku suka mengajar sedangkan Arumi tidak ingin aku mengajar. Dia ingin aku berkarir di kantor. Aku tidak suka itu" Panji mencurahkan keinginannya pada kedua orangtuanya


"Tapi nak, kami sudah menjodohkan kalian sejak kecil dan lagi pak Tegar sudah banyak membantu keluarga kita" Ibu Panji berusaha memberikan pengertian pada putranya


"Mah, aku tidak menyangkal kalau kami dijodohkan. Tapi pernikahan itu bukan hanya perkara dijodohkan saja, kami juga akan hidup bersama nantinya. Aku ingin membina rumah tangga sekali seumur hidup. Jika pernikahan ini dipaksakan, maka kami berdua tidak akan bahagia" Panji pun berusaha memberikan penjelasan pada orang tuanya


"Nak, papa mengerti. Tapi papa tidak bisa melawan pak Tegar, dia ingin perjodohan ini dilaksanakan dan kita berhutang budi padanya. Papa percaya kalau semakin kalian terbiasa tinggal bersama, maka rasa cinta itu perlahan akan tumbuh diantara kalian berdua"


Panji menundukkan kepala dengan wajah sedih mendengar ucapan sang ayah


"Sudahlah pah mah, nanti kita bicarakan lagi, sekarang aku harus pergi" Panji yang tidak menemukan titik terang, memutuskan pergi meninggalkan orang tuanya dan kembali ke kampus


"Apa iya pada akhirnya aku harus bersedia menikah dengan Arumi? Bagaimana kami bisa cocok sedangkan sekarang saja kami lebih sering berdebat" Panji kembali terdiam sambil duduk di motor miliknya. Dia memikirkan bagaimana hubungannya dengan Arumi bisa berkembang sebelum dia pergi


"Sudahlah. Ini tidak akan ada habisnya jika aku terus memikirkannya. Lebih baik aku kekampus dan menyusun makalah baruku untuk membantu para mahasiswa" Panji langsung menyalakan motornya dan pergi ke kampus


***


Kenzie dan Risha langsung ke kampus setelah mengantar Kenzo ke bandara. Kenzie masih tetap saja murung meskipun mereka berdua sudah tiba dikampus


"Zie, sudahlah. Kenapa kamu murung begitu? Kamu tidak cocok jika diam sajabdengan wajah dingin dan dan serius begitu. Aku sudah terbiasa melihatmu yang ceria dengan senyum ramah diwajahmu" Risha berusaha menggoda Kenzie agar dia tidak lagi bersedih


"Apa maksudmu? Wajahku dan Kenzo itu sama, jadi tidak mungkin jika dia cocok dengan wajah dingin sedangkan aku tidak"Kenzie menjawab dengan sikap yang sinis

__ADS_1


"Kalian tidak sama. Kenzo itu terlihat dingin dan berwibawa, tapi kamu terlihat ramahan bijaksana. Jadi tidak mungkin kalau kalian berdua itu sama"


"Sudahlah Sha, aku sedang tidak ingin bercanda. Aku ingin sendirian sekarang"


"Ya ampun Kenzie … kamu ditinggalkan kenzo seperti ditinggal pacar saja" Goda Risha dengan senyum ceria


"Ya kalau kamu mau sendirian saja, silahkan karena aku juga mau pergi ke perpustakaan. Ada bahan makalah yang harus aku cari disana. Daaah" Risha langsung pergi meninggalkan Kenzie tanpa menunggu tanggapan darinya


"Pada akhirnya dia benar-benar meninggalkan aku sendiri" Gumam Kenzie sambil menatap punggung Risha yang semakin menjauh


"Sebenarnya apa yang ingin aku lakukan ya? Kenzo ingin hidup bebas tanpa ada status keluarga. Lalu aku? Sebenarnya apa tujuan hidupku? Aku sendiri hanya mengikuti arus tanpa tahu tujuan yang ingin aku capai" Kenzie merenungkan apa yang ingin dia capai sambil menatap kosong lantai dibawahnya


***


Risha sedang membaca buku diperpustakaan. Dia terlihat sangat serius sampai tidak menyadari ada seseorang yang berdiri dihadapannya


"Sepertinya kamu sangat suka dengan manajemen akuntansi?" Pandangannya teralihkan dari buku dan menatap wajah pria itu


"Oh, pak Panji. Tentu saja aku tertarik, karena ini salah satu mata pelajaran dari jurusanku" Risha menjawab dengan senyum tipis dibibirnya kemudian kembali menatap buku ditangannya


"Kenapa kamu memilih jusuran bisnis? Apa kamu ingin masuk dunia kantor?" Panji duduk dikursi sebelah Risha dan bertanya padanya


"Hmn … meskipun aku masuk jurusan lain pun tetap saja aku akan terjun kedunia perkantoran" Risha menjawab dengan tenang dan senyum tipis


"Kenapa? Apa karena gaji kantoran sangat tinggi, jadi kamu memilih masuk dunia perkantoran?" Panji terus bertanya karena penasaran dan juga rasa ingin tahunya mengenai para gadis yang menganggap kantor memiliki status sosial yang tinggi


"Tentu saja bukan. Aku masuk dunia perkantoran karena ini memang jiwaku dan sepertinya sudah mengalir dalam darahku" Risha tersenyum ceria, matanya berbinar bahagia menunjukkan kalau dia memang sangat menyukai dunia kantor.


Panji terus menatapnya, dia terpana dengan kecantikan Risha dan juga sikapnya yang tenang dan elegan


"Dia terlihat sangat mempesona saat mengatakan keinginannya. Tidak, tidak. Ingat Panji, ada Arumi yang harus kamu pikirkan"

__ADS_1


__ADS_2