Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Malam Pertama Kenzo Dan Safira


__ADS_3

Pesta makan malam keluarga Kusuma berakhir dengan lancar. Kini semua telah kembali kerumah Jingga kecuali Kenzo dan Safira. Mereka berdua akan menghabiskan malam pertama mereka dihotel. Kakek nenek Safira pun langsung pulang kerumah mereka setelah acaranya selesai.


"Zo, kami pulang dulu. Kalian bisa menghabiskan waktu bersama dihotel ini. Tidak perlu khawatir karena kami meminta agar privasi kalian dijaga" Lian bicara pada Kenzo dengan sikapnya yang selalu tenang


"Terimakasih pih. Papi mengerti dengan apa yang aku inginkan"


"Tentu saja. Kalau begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa. Sekali lagi selamat atas pernikahan kalian. Papi berharap kalian selalu bahagia" Lian kembali bicara sebelum dia benar-benar meninggalkan hotel dan masuk ke dalam mobil.


Perlahan semua berbalik dan menaiki mobil masing-masing. Kenzo dan Safira melambaikan tangan melepas kepergian keluarga mereka dan menyambut malam pertama mereka dihotel mewah ini


"Sayang, mereka sudah pergi sekarang hanya tinggal kita berdua. Kurasa tidak perlu menunda-nunda lagi"


"Aaah" Safira sangat terkejut ketika Kenzo langsung mengangkatnya begitu saja dan membawanya seperti seorang putri raja


"Zo, turunkan aku! Semua orang memperhatikan kita" Safira merengek pada Kenzo dan meminta dia menurunkannya karena para karyawan hotel memperhatikan mereka


"Biarkan saja mereka melihat kita. Toh mereka tidak bisa menyebarkan beritanya kemana-mana karena mereka telah berjanji pada keluarga Kusuma. Jika mereka melanggar janji, maka hotel ini pasti akan rugi dan tentu mereka juga akan terkena dampaknya" Kenzo menjelaskan apa yang telah disepakati pihak hotel dengan keluarga Kusuma sebelumnya


"Benarkah begitu? Tapi tetap saja aku malu dilihat oleh banyak orang" Ujar Safira lagi dengan nada yang manja dan wajah dibenamkan dalam dekapan Kenzo


"Tidak perlu malu. Kamu cukup pegangan yang erat padaku agar tidak jatuh, itu saja!" Kenzo tetap tidak menurunkan Safira dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar sweet room yang disiapkan untuk mereka.


Tak lama pasangan pengantin baru itu tiba dikamar mereka


"Tolong buka pintunya. Aku tidak bisa membukanya sendiri" Ujar Kenzo yang masih menggendong Safira


"Kenapa tidak kamu turunkan aku dan buka pintunya sendiri?" Safira bertanya dengan sikap acuh tak acuh agar Zo menurunkannya

__ADS_1


"Aku tidak ingin melepaskanmu begitu saja" Jawab Kenzo yang tidak peduli ucapan Safira


"Dasar menyebalkan!" Akhirnya Safira pun membuka pintunya sendiri dan masuk ke kamar hotel dengan masih digendong Kenzo


"Waaw ... sepertinya semua disiapkan dengan teliti?" Safira menatap ke sekeliling ruangan dan melihat kalau kamar ini di dekorasi khusus untuk mereka. Cahaya kamar hanya diterangi oleh lilin. Bunga segar tampak menghiasi setiap sudut kamar. Kelopak bunga dibentuk hati juga menghiasi tempat tidur mereka


"Tentu saja. Kamar ini dipesan khusus untuk malam pengantin kita, pasti akan dipersiapkan dengan sedemikian rupa oleh mereka" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan bangga karena telah mempersiapkan ini sebelumnya


"Mandilah dulu, tubuhmu pasti terasa lengket setelah seharian mengenakan gaun pengantin yang besar ini kan" Kenzo meletakkan Safira diatas tempat tidur dan memintanya membersihkan diri terlebih dahulu


"Tapi .... kamu ..." Ujar Safira dengan ragu karena Kenzo ada diruangan yang sama dengannya


"Apa? Kamu tidak bisa mengusirku keluar karena sekarang aku ini adalah suamimu" jawab Kenzo dengan puas


"Tapi ..."


Karena tidak ada tanggapan, Kenzo melanjutkan apa yang dia katakan. Pertama dia membantu Safira melepaskan semua perhiasan yang dia kenakan, lalu dia melepaskan tudung penutup kepalanya, setelah itu perlahan Kenzo membuka sleting gaun pengantin Safira, dan melepaskannya


Safira tersipu malu karena apa yang Kenzo lakukan, namun saat ini mereka adalah suami istri dan tidak salah bagi mereka untuk melihat bentuk tubuh masing-masing.


Sambil melepaskan gaun pengantinnya, perlahan Kenzo mengecup punggung Safira. Tubuh Safira seakan terkena sengatan listrik, Setelah itu Kenzo mulai mengecup bibir mungil Safira. Mereka berdua pun mulai tenggelam dalam indahnya cinta dan malam pertama mereka.


Ditemani cahaya lilin yang tersedia dikamar, dihiasi bunga-bunga yang ditata sedemikian rupa, mereka mulai mabuk dalam lautan kehangatan satu sama lain. Tanpa disadari, perlahan mereka mulai menyatukan jiwa dan raga mereka yang kini telah terikat kuat. Menembus dinding dan penghalang yang ada diantara mereka. Menghancurkan tembok besar yang yang selalu menjadi pembatas diantara mereka.


Malam berlalu dengan kehangatan cinta yang mereka bangun bersama. Deru napas menggebu sepanjang malam kebersamaan mereka. Kini pekatnya malam perlahan mulai berganti dengan cahaya matahari pagi yang menyelinap disela-sela tirai yang menutup jendela kamar mereka.


Safira bangun lebih dulu dan tersadar kalau dia berada dalam dekapan hangat Kenzo hanya dengan mengenakan selimut yang mereka gunakan bersama. Dia membuka mata dan menatap wajah tampan pria yang baru saja menjadi suaminya itu. Dia terus menatap wajah tampannya yang masih belum tersadar dari tidur lelapnya.

__ADS_1


"Aku seperti sedang mimpi melihat wajah tampan ini yang seperti lukisan nyata. Rasanya aku harus berusaha keras menguatkan jantungku agar tidak terkena serangan jantung karena melihat wajah tampannya setiap pagi"


Safira bicara dengan suara pelan sambil menatap wajah Kenzo. Dia juga mengusap pipinya perlahan menikmati mulusnya pipi Kenzo


"Sekarang lukisan ini bisa kamu pandangi kapan saja. Bahkan selain bebas dipandang, kamu juga bisa menyentuh lukisan ini sesukamu"


"Ah! Ka-kamu sudah bangun?" Fira sangat terkejut ketika Kenzo yang masih memejamkan mata menanggapi apa yang dia katakan


"Selamat pagi. Aku baru saja bangun karena mendengar suaramu yang seksi" Bisik Kenzo dengan nada menggoda menekankan suara ******* Safira sepanjang malam mereka


"Kenapa kamu membohongiku dengan menutup mata? Kamu kan bisa langsung membuka matamu, jadi aku tahu kalau kamu sudah bangun!" Safira bicara dengan ragu. Wajahnya memerah karena malu dengan apa yang baru saja dia lakukan pada Kenzo


"Kenapa kamu harus malu? Kamu hanya harus melihatku saja seperti tadi, atau kamu mau berolahraga pagi denganku?" Kenzo kembali menggoda Safira dengan kedua alis diangkat bersamaan disertai senyum yang mengiringi ucapannya


"Berolahraga? Pagi-pagi begini? Apa harus lari sepagi ini?" Safira bertanya dengan nada menggerutu manja. Dia terlihat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang Kenzo maksud


"Kenapa harus joging? Cukup lakukan olagraga ringan disini tanpa harus turun dari tempat tidur" Wajah Safira kembali memerah mendengar apa yang dkatakan Kenzo padanya


"Kamu ingin membunuhku secara perlahan? Kita sudah melakukannya sepanjang malam, bahkan hampir sampai pagi. Sekarang kamu ingin malakukannya lagi? kenapa staminamu sangat kuat sekali?" Safira bicara dengan raut wajah kesal karena permintaan Kenzo


"Yaaa mau bagaimana lagi. Selama ini aku selalu menahan hasratku karena tidak ingin memaksamu melakukannya sebelum kita menjadi suami istri yang sah. Jadi ketika kita sudah menjadi suami istri ... aku tidak bisa mengendalikan hasrat dalam diriku lagi. Aku harap kamu bisa mengerti" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang. Dia bicara dengan santai seolah itu bukanlah apa-apa


"Tidak mau! Uuch" Safira merasakan nyeri dipinggangnya ketika dia hendak bangun dari tempat tidur


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?" Kenzo terlihat panik saat melihat Safira meringis kesakitan


"Diam! Ini semua gara-gara kamu! Sekarang aku merasa sakit disekujur tubuhku. Tulangku seperti remuk" Safira mengeluh dengan nada meringis

__ADS_1


"Owh kalau begitu hari ini kamu ditempat tidur saja. Tidak usah melakukan apapun. Aku yang akan melayanimu"


__ADS_2