
Hari ini adalah hari pertama Risha masuk ke perusahaan Sanjaya. Diaz tidak menempatkannya sebagai direktur, melainkan sebagai wakil direktur.
"Selamat pagi semuanya. Hari ini kita kedatangan staf baru yang akan menjabat sebagai wakil direktur keuangan perusahaan ini menggantikan wakil direktur sebelumnya yang telah pensiun. Silahkan bu Risha"
Diaz memperkenalkan putrinya di depan semua petinggi perusahaan. Namun diantara semuanya sama sekali tidak ada yang menyadari kalau mereka berdua adalah ayah dan anak.
"Terimakasih pak Diaz. Selamat pagi semuanya, saha harap bisa bekerja sama dengan semuanya yang ada disini. Saya memang belum memiliki banyak pengalaman, tapi saya akan bekerja sebaik mungkin untuk perusahaan ini"
"Selamat bergabung bu Risha"
"Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik"
Semua orang menyambut Risha dengan senyum yang ramah. Tapi tetap saja selalu ada satu atau dua orang yang tidak bisa menerimanya karena rasa iri ataupun merasa terkalahkan olehh Risha.
"Cih ... hanya gadis muda"
"Muda dan cantik memang senjata paling berguna untuk mendapatkan kekuasaan dan harta. Kita tidak tahu bagaimana kemampuan dia sebenarnya"
"Kamu benar. Dia bahkan tidak memiliki pengalaman bekerja sebelumnya, bagaimana dia bisa menjabat sebagai wakil direntur?
"Mungkin dia menggunakan tubuhnya juga sebagai alat untuk tawar menawar"
Beberapa orang berbisik menjelekkan Risha. Mereka menatap Risha dengan tatapan mencibir. Meksipun mereka tersenyum, namun hati mereka berkata lain
"Baiklah. Sekarang kalian bisa kembali ke pekerjaan kalian masing-masing. Risha, Daniel, pak Anton dan Mike bisa ikut keruanganku sebentar. Ada yang ingin aku bahas dengan kalian semua"
"Baik pak"
Risha, Anton, Mike dan Daniel pun mengikuti Diaz menuju ruangannya.
__ADS_1
"Silahkan duduk. Saya meminta kalian kemari untuk membahas masalah karyawan disini. Saya dengar kalau akan ada pengurangan karyawan. Sebenarnya apa yang terjadi? Karena gosip itu sekarang banyak karyawan yang mulai risau dengan nasib mereka kedepannya"
Diaz bicara dengan sikap yang tenang dan berwibawa. Pandangannya menyapu pada 3 orang pria dihadapannya karena Risha baru masuk kerja dan dia tidak tahu apa-apa.
"Begini pak. Sekarang kita memiliki lebih banyak karyawan dewasa daripada karyawan muda. Dan itu akan berpengaruh pada kinerja mereka. Mengingat mereka lebih cepat merasa lelah dan juga banyak keluhan. Kami memiliki rencana untuk menawarkan pensiun dini dan mengganti dengan karyawan muda"
Diaz dan Risha saling terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel. Dia adalah manajer HRD
"Maaf pak. Bukannya karyawan disini rata-rata baru berusia pertengahan 30an? Bukankah itu masih angka yang produktif?" Risha menanggapi Daniel dengan sikap yang tenang
"Memang benar, tapi usia menjelang 40 itu, mereka sudah mulai banyak mengeluh" Daniel bersikeras untuk tetap mengganti karyawan berusia hampir 40 tahun
"Kita ini merupakan rumah produksi, karyawan kita juga hanya sekedar membantu dalam proses syuting saja. Kita tidak membutuhkan tenaga ekstra seperti perusahaan konstruksi atau apapun itu. Lagipula jika anda ingin memberikan pensiun dini, sudah pasti akan ada banyak pengangguran nantinya. Apa anda sudah memikirkan pekerjaan cadangan untuk mereka? Pak Diaz, bukannya nyonya Gina juga dulu mengambil alih perusahaan ini dari tuan Sanjaya setelah beliau menikah? Saat itu usia tuan sanjaya juga tidak muda lagi dan banyak karyawan beliau juga yang berusia lanjut. Jika memang usia menjelang 40an banyak yang dikeluhkan, nyonya Gina mencoba menjadi model sat usia segitu, tuan Yudha juga merajai dunia bisnis di usia segitu. Jadi usia menjelang 40an itu masih masa produktif. Kita masih bisa menggunakan tenaga mereka"
Risha bersikeras dengan keputusannya untuk tetap mempertahankan karyawannya sampai mereka mencapai usia pensiun.
"Itu berbeda dengan sekarang" Daniel tetap menyela perkataan Risha
Risha terlihat tenang dan anggun, dia menatap Daniel dengan tatapan sinis dan nada bicaranya terdengar sedikit mencibir.
"Apa maksud anda?! Saya sama sekali tidak punya rencana apapun. Saya hanya mengutarakan pendapat saya saja!" Daniel yang merasa tersudut langsung meninggikan suara dan membentak Risha, meskipun kini dia terlihat panik dan sedikit salah tingkah.
"Sudah-sudah. Kita hentikan pembahasan ini. Kita masih memerlukan karyawan yang sekarang. Mereka sudah memiliki banyak pengalaman, mereka juga masih masa produktif. Jika kita memberlakukan peraturan untuk pensiun dini, maka kita juga harus mengajarkan semua hal pada yang baru karena mereka tidak berpengalaman, jadi sebaiknya jangan lakukan itu" Dias menengahi dengan sikap yang tenang
"Baik pak" Daniel pun mau tidak mau menyetujui perkataan Diaz. Namun tanpa ada yang menyadari, Daniel menatap Risha dengan tatapan yang sinis dan penuh amarah. Tangannya juga mengepal keras menahan amarah.
"Kalian bisa kembali ke ruang kerja kalian masing-masing. Bu Risha tetaplah disini. Masih ada yang ingin saya bicarakan dengan anda"
"Baik pak"
__ADS_1
Diaz mempersilahkan semua kembali keruangan mereka kecuali Risha
"Kalau begitu kami permisi pak"
"Ya, silahkan" Diaz menanggapi disertai anggukan kepala
"Apa yang ingin papi bicarakan denganku?" Risha bertanya dengan nada manja ketika yang lain sudah keluar dari ruang kerjanya
"Jangan terlalu keras. Kamu masih harus mempelajari banyak hal" Diaz menasehati dengan sikap yang tenang
"Papi, kenapa papi masih memelihara orang seperti mereka? Jelas-jelas mereka berani memandang rendah papi, jika tidak begitu mana mungkin mereka berani mengambil keuntungan untuk diri sendiri"Risha mengeluh dengan nada kesal setelah melihat karyawan Diaz yang bersikap seenaknya.
"Karena manurut papi mereka tidak merugikan papi. Papi tahu kalau mereka menggunakan uang pada setiap orang yang akan melamar bekerja disini. Toh itu bisa dianggap sebagai uang jasa atas usaha mereka menyiapkan pekerja baru"
Diaz menanggapi dengan enteng perkataan Risha. Memang selama ini dia sudah dengar kalau ada beberapa orang yang mengharuskan calon pelamar untuk memberikan uang terlebih dahulu jika ingin bekerja. Tapi karena tidak memiliki bukti langsung dan tidak merasa dirugikan, jadi Diaz membiarkan semua itu begitu saja. Namun saat mereka mengusulkan untuk mengganti karyawan lama dengan karyawan baru yang lebih muda, itu terasa berlebihan. Mereka hanya mementingkan keuntungan mereka sendiri tanpa memikirkan nasib dari pekerja yang akan diberhentikan.
"Lalu bagaimana dengan calon karyawan yang kompeten tetapi tidak memiliki uang? Apa mereka juga akan diterima? Atau kita akan kehilangan orang-orang seperti mereka dan hanya mengumpulkan karyawan malas yang hanya memikirkan uang saja" Risha bicara dengan nada sinis sekarang
"Hmn... benar juga ya. Kita jadi kehilangan para pekerja potensial dan hanya mempertahankan karyawan yang memenuhi syarat terbaru yaitu uang" Diaz berpikir sejenak mengenai apa yang dikatakan putri cantiknya .
"Kalau begitu kamu bisa mengawasi mereka dan mencari tahu apa yang akan mereka lakukan. Usahakan untuk menghilangkan pungutan seperti itu dan biarkan calon pekerja baru kita berkompetisi secara adil untuk dapat masuk ke perusahaan ini" Pinta Diaz setelah mempertimbangkan apa yang dikatakan putrinya
"Baik pak. Saya akan mengawasi mereka dengan baik" Risha menanggapi dengan penuh percaya diri
"Ya, kuharap kamu bisa melakukannya dengan baik dan memperkuat posisimu diantara mereka. Dari sini papi tidak bisa membantumu lebih banyak, jika itu terjadi maka kamu sendiri yang akan merasa direpotkan dengan gosip tidak jelas yang akan beredar nantinya"
"Baik papi. Aku mengerti. Aku tidak akan mengganggu papi saat dikantor. Kita akan bersikap layaknya atasan dan bawahan saja" Risha menanggapi Diaz dengan sikap yang tegas
"Baiklah, kembali ke meja kerjamu. Dan, kamu harus barhati-hati dalam bertindak. Pasti ada banyak orang yang iri padamu karena posisimu" Diaz memperingatkan Risha sebelum dia pergi
__ADS_1
"Hmn... sampai jumpa papi" Risha menanggapinya dengan anggukan kepala disertai senyum yang manis sambil berlalu pergi dari ruangan Diaz
"Sepertinya jalanmu disini tidak akan mudah" Gumam Diaz menatap kepergian Risha