
"Bukti?"
Kini semua orang terlihat bingung setelah mendengar apa yang dikatakan Risha. Bahkan ekspresi wajah Daniel pun seketika berubah pucat dan panik setelah mendengar kalau Risha punya bukti.
"Memangnya bukti apa yang anda miliki?" Daniel bertanya dengan sedikit ragu
"Bukannya disetiap ruangan petinggi perusahaan itu selalu dipasang CCTV ya, aku yakin kalau diruang bapak juga pasti ada. Mungkin benar yang bapak pikirkan setelah bapak merapikan kembali semua barang dan semua laci dimeja saya yang bapak berantakan, saya tidak akan sadar kalau bapak masuk keruangan saya, tapi bapak melewatkan satu hal yang membuat saya curiga"
Risha bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis. Tidak terlihat sama sekali ada kemarahan dari wajahya.
Dari ekspresi wajah pak Daniel, terlihat sekali kalau dia sangat penasaran dengan hal apa yang membuat Risha menyadari kalau seseorang telah menyelinap kekantornya.
"Anda tidak menutup rapat kembali pintu kantor saya. Saya tidak suka membiarkan pintu ruangan saya dalam keadaan terbuka, sekertaris saya juga tahu hal itu jadi meskipun dia masuk keruangan saya, dia akan tetap menutup pintu kantor saya dengan rapat. Mungkin jika anda menutup rapat kembali pintu kantor saya, saya tidak akan curiga sampai harus mengecek CCTV, tapi meskipun saya tidak memiliki rekaman CCTV, saya tetap memiliki bukti lain yang bisa menjamin kalau proposal itu adalah milik saya. Benar kan pak Rendra?" Risha bicara sambil tersenyum dengan sikapnya yang tenang. Setelah itu dia bertanya pada Rendra untuk memperkuat pernyataannya
"Tentu saja, karena saya yang membantu bu Risha menyusun proposal itu dan memperbaiki beberapa bagian sebelum diajukan" Rendra pun bekerja sama dengan baik dan memperkuat perkataan Risha
"Brak!
Bagaimana bisa anda meminta bantuan orang lain? Ini tidak adil namanya!" Daniel berteriak dengan kesal sambil memukul meja setelah tahu kalau Rendra membantu Risha
"Kenapa tidak adil? Tidak ada peraturan yang dibuat saat kita melakukan perjanjian itu, jadi sah-sah saja kalau saya minta bantuan padanya" Risha menjawab dengan sikap acuh tak acuh dan senyum percaya diri
"Kamu curang! Sekarang kamu meminta bantuan dari selingkuhanmu untuk menyelesaikan taruhan kita ini" Pak Daniel yang kesal karena kekalahannya, berteriak pada Risha
"Selingkuhan?" Diaz, Risha dan Rendra seketika merasa bingung. Mereka serempak mengulang kata 'selingkuhan' setelah Daniel bicara
__ADS_1
"Apa maksudmu selingkuhan?" Diaz yang sejak tadi diam saja kini terlihat penasaran karena dia hanya tahu kalau Risha pacaran dengan Rendra
"Bapak tidak usah lagi menutupi hubungan bapak dengan bu Risha. Memang bapak rela hanya dimanfaatkan oleh bu Risha untuk jabatan dan sekarang dia terang-terangan membawa pemuda yang tidak jelas asal usulnya ini kehadapan bapak" Daniel yang telah terpojok kini malah semakin mempermalukan dirinya sendiri
"Siapa yang kamu bilang pemuda tidak jelas? Aku?" Rendra menanggapi Daniel dengan sikap yang tenang. Dari belakangnya Alan dan Billy saling menatap satu sama lain melihat tingkah Daniel begitupun dengan peserta rapat yang lain.
"Tentu saja. Kamu berani sekali mendekati bu Risha padahal satu kantor ini sudah tahu kalau bu Risha dekat dengan pak Diaz. Jelas kamu bukan apa-apa baginya!" Daniel bersikap semakin gila, dan itu membuat Risha semakin kesal dan Diaz juga sudah mengepalkan tangannya
"Hah, lucu sekali. Kamu tidak tahu siapa aku?" Rendra tersenyum mencibir Daniel sebelum dia kembali memperkenalkan dirinya
"Aku, Rendra Adelio Dirga, direkur utama Dirga Elektronik. Kamu masih bilang aku pemuda tidak jelas?" Rendra bicara dengan sikap yang dingin dan tegas. Meskipun dia menggunakan kursi roda, namun dia tetap terlihat berwibawa
"Apa?! Dirga Elektronik?!" Gumam Daniel yang sangat terkejut sampai dia membatu dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi pada Rendra. Setelah Dirga Elektronik di pegang oleh Rendra, produk mereka semakin dikenal dipasaran dan harga sahamnya selalu stabil. Perusahaan Rendra selalu diincar oleh para investor maupun para pelamar, karena termasuk perusahaan bonafit
"Itu ..."
"Sejak kapan gosip itu menyebar? Kamu tahu siapa itu Risha?" Diaz memotong ucapan Daniel sebelum dia selesai bicara
"Sepertinya itu menyebar setelah kita makan siang direstoran waktu itu" Risha menjawab dengan sikap yang tenang
"Makan siang?" Diaz kembali menatap Risha dengan tatapan heran
"Ya, itu saat anda memaksa untuk makan siang dengan saya, tepat satu hari setelah saya pindah kemari. Jika saya tahu akan ada gosip seperti ini, lebih baik tidak usah pindah dan tetap bekerja di perusahaan Rendra saja" Risha mengeluh dengan nada yang manja agar Diaz membelanya
"Kalau begitu terserah kamu mau melakukan apa padanya. Kamu bebas melakukan itu. Mau kamu tembak kepalanya juga tidak papa" Diaz bicara dengan sikap yang tenang dan tanpa ada keraguan sedikitpun
__ADS_1
"Tunggu pak. Apa maksudnya itu? Kenapa anda membiarkan dia menghukum saya? Harusnya dia yang anda hukum karena berselingkuh dari anda!" Daniel masih tidak mengerti situasinya dan tetap meminta Risha yang dihukum karena mengkhianatinya
"Kamu masih tidak mengerti ya kalau itu hanya omong kosong belaka? Sejak kapan saya bersedia mengkhianati istri saya demi gadis lain? Apa kamu tidak pernah lihat seberapa cantiknya Tania Radifa Chana? Dimataku, dia adalah gadis tercantik didunia ini. Dan kamu tahu siapa itu Risha? Dia adalah Arisha Nedzara Kusuma, putriku"
Bruk!
Semua orang terkejut mendengar apa yang dikatakan Diaz. Bahkan Daniel sampai terjatuh dari kursinya karena terkejut. Dia lalu menoleh pada Risha duduk tenang dengan senyum manis dibibirnya dan tangan yang dilipat di dada
"Bagaimana pak Daniel? Apa anda masih yakin kalau saya ini selingkuhan papi saya sendri dan mendapatkan jabatan ini karena naik ke atas ranjang papi?" Risha membungkukan tubuhnya dan bicara pada pak Daniel yang terduduk dilantai dengan senyum tipis namun matanya menatap dengan tajam dan dingin
"Tidak tidak. Saya salah menilai anda. Saya akui saya salah" Daniel menjawab dengan panik sambil menggelengkan kepala dengan cepat
"Eh tidak, anda tidak salah karena saya memang menggunakan koneksi dari nama keluarga Kusuma untuk dapat jabatan ini, eh tidak lebih dari ini. Saya calon penerus perusahaan Sanjaya. Menurut anda ini salah siapa? Apa salah saya karena saya cantik? Atau salah saya karena memiliki nama Kusuma yang jadi nama belakang saya? Atau anda yang bodoh karena berani membuat gosip yang tidak-tidak. Bahkan anda menggosipkan atasan sendiri" Risha yang sejak tadi tenang kini terlihat kesal dan dingin. Tidak ada senyum maupun keramahan diwajah cantiknya. Semua orang yang hadir disana pun cukup terkejut dengan sikap Risha saat ini
"I-ini salah saya. Tolong ampuni saya!" Kini Daniel bersujud dihadapan Risha untuk memohon padanya. Bahkan dia memegang kedua kaki Risha
"Ekhem ekhem ... sayang menjauhlah darisana. Itu kotor!" Rendra bicara dengan sikapnya yang dingin
"Ekhem ... ini kantor. Bukan tempat untuk masalah pribadi!" Diaz menyela Rendra dengan sikap yang sama dinginnya
"Ups maaf. Karena kecantikannya sama saja saat dikantor dan diluar kantor, saya jadi tidak bisa membedakan mana masalah kantor dan mana masalah pribadi" Rendra kembali Diaz dengan sikap yang tenang
Kini raut wajah semua orang yang awalnya tegang karena masalah Daniel, berubah menjadi bingung karena perdebatan kecil Diaz dan Rendra. Bahkan Risha pun ikut bingung karena sang ayah dan sang kekasih
"Sejak kapan mereka berdua seperti ini?"
__ADS_1