
Diaz terus memantau pergerakan dari perusahaan Surendra. Tentu dia tahu apa saja yang telah mereka upayakan untuk bisa memproduksi film baru
"Kasian sekali asistennya. Dia harus menjadi bonekanya Adnan karena hanya dia yang bisa diandalkan. Kenapa dia tidak jadi bosnya saja ya? Karena semua urusan dikerjakan olehnya"
Dia sedang menerima laporan dari Roni, mengenai setiap pergerakan yang dilakukan oleh Zul
"Dia tidak tahu apapun mengenai kematian Galen dan Rey. Dia hanya tahu mereka kecelakaan dan Adnan menggantikannya untuk menjaga perusahaan Surendra. Mungkin jika tahu, dia bisa berbalk menyerang mereka, karena yang aku tahu dia cukup dekat dengan Galen dan Rey meskipun kita baru mendengar namanya sekarang"
Roni bicara dengan santai, dia tidak terlalu dekat dengan Diaz, karena sejak awal mereka tidak berteman. Mereka hanya berhubungan sebagai asisten dan bos saja. Namun dia cukup tahu pergerakan apa yang mungkin Diaz lakukan
"Kamu benar juga. Kenapa kita tidak membuka matanya saja agar dia tahu apa yang telah Adnan lakukan pada Galen dan Rey? Aku hanya merasa kasihan karena dia harus bekerja keras melawan kita padahal yang dia bela adalah orang yang membuat dia sengsara. Jika saja Galen dan Rey masih ada, maka dia tidak perlu bekerja keras menjadi asisten Adnan yang bodoh itu" Diaz bicara dengan sedikit senyum menghiasi wajahnya yang tampan
"Kamu ingin menjadikan dia sisten juga?" Tanya Roni dengan wajah datar
"Kamu cemburu?" Diaz langsung menatap Roni dengan sorot mata penuh selidik
"Kurasa hubungan kita tidak sedekat itu sampai aku harus cemburu" Roni membalas dengan sikapnya yang datar
"Oh, ku kira karena sudah lama kamu ikut denganku jadi kamu tidak ingin memiliki saingan dalam pekerjaan"
"Mungkin jika ada asisten lain, aku bisa lebih santai dalam pekerjaan?"
"Jangan mimpi. Pekerjaanmu tidak akan berkurang sama sekali meskipun aku punya asisten lain"
"Terimakasih atas hiburannya"
***
Cheva sedang duduk di kafe dengan seorang pemuda di hadapannya
"Apa kamu temannya Pras?" Cheva dengan sikap yang anggun dan elegan bertanya pada pemuda dihadapannya. Dia adalah Dodi, salah satu temannya Pras
__ADS_1
"Benar. Saya satu fakultas dengannya. Anda ini siapa?" Tanya Dodi yang tidak mengenal Cheva. Dia menatap Cheva dengan raut wajah bingung dan kedua tangannya terus memegangi gelas kopi di depannya
"Aku Cheva. Aku hanya ingin tahu orang seperti apa dia?" Cheva terlihat sangat tenang sambil mengesap kopi ditangannya dia terlihat seperti model sebuah minuman
"Ehm ... dia anak yang baik dan disegani banyak orang dikampus" Cheva memicingkan mata curiga dengan apa yang dikatakan pemuda dihadapannya
"Baik? Baik seperti apa yang kamu maksud? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"
"Ehm... aku tidak tahu, aku tidak terlalu dekat dengannya. Sebaiknya anda tanya saja pada teman yang lain" pemuda itu terlihat salah tingkah saat Cheva menanyakan tentang sifat Pras
"Aku hanya ingin membantunya saja. Ku dengar orang tuanya bermasalah. Mungkin aku bisa membantu mendisiplinkannya. Tapi jika aku tidak tahu sifat aslinya maka aku juga tidak akan bisa melakukan apapun untuk membantunya"
Cheva bicara dengan acuh tak acuh seakan dia tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan
"Dia itu... dari luar mungkin terlihat baik, tapi aku pernah melihatnya mengikuti balap liar dengan temannya. Kalau anda mencarinya dimalam hari, anda juga bisa melihatnya di klub malam. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan orang tuanya"
Akhirnya Dodi menjelaskan pada Cheva mengenai Pras meskipun telihat dia sedikit ragu-ragu
"Di ujung jalan dekat bukit. Disana hampir selalu diadakan balapan liar setiap akhir pekan"
"Jadi begitu. Terimakasih, aku pasti akan membantunya agar dia kembali jadi anak baik" Cheva bicara dengan senyum di bibirnya
"Ya, semoga saja itu bisa membantu karena Pras yang dulu saya kenal memang anak baik. Hanya saja akhir-akhir ini dia jadi sedikit berubah" Ujar Dodi lagi dengan penuh harap
"Sejak kapan dia mulai berubah?" Cheva memicingkan mata curiga
"Sejak kakeknya meninggal. Sejak saat itu sikapnya mulai berubah. Dia jadi suka bermain dengan anak-anak kampus yang liar"
"Baiklah. Terimkasih karena kamu sudah memberitahuku. Makanan dan minumannya biar aku bayar. Aku pergi dulu. Sampai jumpa"
Cheva mengulurkan tangan memanggil pelayan kemudian mengeluarkan uang dari tasnya dan diletakkan di atas meja untuk membayar tagihannya. Setelah itu dia langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa menunggu jawaban dari Dodi lagi. Cheva mengenakan kacamata hitamnya kemudian melangkah keluar kafe dengan elegan dan berwibawa
__ADS_1
"Halo hubby, aku akan pulang larut ya? Malam ini aku ingin kembali memaju adrenalin dengan mobil sportku. Sudah lama aku tidak melakukannya" Cheva menghubungi Lian setelah keluar dari kafe untuk memberitahukan padanya kalau dia akan pulang larut malam
"My princess, apa yang akan kamu lakukan?" Terdengar suara panik dan juga khawatir dari Lian
"Tidak ada, sayang. Aku hanya ingin melaju dengan mobilku saja" Cheva menjawab dengan sikap manjanya
"Maksudmu, kamu ingin balapan? Sudah lama kamu tidak melakukan itu, jadi jangan berani macam-macam!" Lian benar-benar panik saat ini. Dia langsung betanjak dari tempat duduknya dan meninggalkan galeri
"Ayolah hubby, aku ingin bersenang-senang. Malam ini saja. Aku janji tidak akan ada lain waktu" Cheva berusaha membujuk Lian dengan nada yang manja dan menggoda
"Dimana kamu sekarang? Aku akan langsung kesana" suara Lian terdengar dingin dan menyeramkan saat ini
"Aku masih di jalan, mungkin malam ini aku akan pergi ke ujung jalan dekat bukit. Disana selalu ramai anak muda yang berkumpul dan terkadang melakukan balap Liar dengan taruhan besar. Aku ingin kembali merasakan suasana riuh itu, terlebih aku mencari mangsa buruanku disana. Akan lebih baik jika aku berhasil memburunya kali ini"
Nada bicara Cheva sangat tenang. Senyum manis pun tak hilang dari wajahnya namun aura yang dipancarkannya berbeda. Dia terlihat menyeramkan
"Hmn ... kalau begitu aku akan ikut denganmu"
"Hah? Apa?" Cheva terkejut mendengar ucapan Lian "Untuk apa kak Lian ikut denganku?" Cheva kini terlihat sangat bingung dengan Lian
"Bukannya aku sudah bilang kalau kamu harus melibatkan aku dalam usahamu? Jadi jika kamu tidak bisa membuang sampah itu setelah dibersihkan, maka aku yang akan membuangnya untukmu"
Meskipun nada bicara Lian tidak lembut namun kata-kata yang digunakan membuat Cheva tersentuh
"Aah kak Lian, kamu manis sekali. Ya sudah nanti ketemu di dekat bukit"
"Baiklah. Sampai jumpa nanti"
"Ya sampai jumpa"
Cheva merona mendengar ucapan Lian. Dia tidak tahu kalau dibalik niat baik Lian ada ketakutan yang besar dan niat terselubung
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan dia pergi sendiri. Disana kebanyakan anak muda. Cheva masih terlihat muda seperti remaja, tidak menutup kemungkinan kalau nanti ada yang tertarik padanya"