
Rendra akhirnya ikut kerumah Kenzo meskipun dia harus memaksanya terlebih dahulu.
"Kenapa kamu tidak pulang kerumahmu? Sepertinya sudah 4 tahun kan kamu tidak bertemu dengan mereka?" Kenzo dan Rendra saat ini sedang berbincang di balkon kamar Kenzo sambil menikmati heningnya malam ditemani secangkir minuman hangat
"Aku tidak ingin pulang. Biarkan saja, toh ada kakak yang bisa mengendalikan kondisi di rumah" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang sambil menatap cangkir ditangannya
"Sampai kapan kamu akan lari dari mereka? Apa 4 tahun masih belum cukup untuk melupakan semuanya?" Kenzo bertanya dengan sikap yang tenang. Mereka sama-sama sedang dalam mode serius kali ini
"Rasanya aku belum bisa bertemu dengan mereka. Haah, nanti ketika tiba saatnya juga mereka pasti menemukanku, iya kan?" Rendra menjawab dengan senyum tipis yang terihat dipaksakan
"Itu terserah padamu. Kamu bukan lagi anak remaja yang labil, kamu sudah pasti bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Mereka juga tidak pernah berniat jahat padamu, kan?" Kenzo bertanya dengan sikapnya yang datar
"Tidak berniat jahat? Lalu kejadian 5 tahun lalu itu apa? Jika kamu tidak ada disana, maka aku sudah terpanggang dan jadi abu" Ujar Rendra dengan sikap yang dingin
"Bukankah itu hanya kecelakaan? Bukan kamu juga yang jadi targetnya. Lagipula pelakunya sudah ditangkap dan sudah dihukum kan? Apa nyawanya masih belum cukup untuk membayar semua yang dia lakukan?"
Rendra terdiam mendengar apa yang dikatakan Kenzo
"Zo, jika kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rendra dengan raut wajah sedih
"Bukannya kamu sudah tahu bagaimana aku? Menurutmu apa yang akan aku lakukan? Aku juga sudah membantumu menemukan pelakunya dan membalaskan dendammu. Mata dibayar mata. Apa itu masih belum cukup?" Kenzo tersenyum tipis dan bicara dengan sikapnya yang dingin. Senyumnya memancarkan aura yang membuat orang lain merinding
"Ya, dia sudah membayar semuanya. Hanya saja aku masih belum bisa menerima kematian ibuku yang disebabkan oleh mereka. Rasanya tidak adil karena ibuku yang harus menderita" Rendra menundukkan kepala dengan raut wajah sedih
"Kamu tidak ingin mengambil apa yang seharusnya jadi hakmu? Kakakmu juga bukan orang jahat yang akan mengambil sesuatu yang bukan haknya" Kenzo kembali bersikap acuk tak acuh dengan senyum tipis dibibirnya
"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu membahas mengenai mereka ya? Apa mereka menghubungimu?" Rendra menatap Kenzo dengan tatapan penuh curiga. Kenzo hanya mengangkat kedua bahunya lalu mengesap minuman yang ada ditangannya
"Hah, sudah kuduga" Ujar Rendra dengan senyum tipis mencibir
Kenzo tidak menanggapi lagi dan berbalik kekamarnya meraih laptop miliknya
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rendra yang penasaran
__ADS_1
"Sedikit melacak CCTV yang kita lihat tadi" Jawab Kenzo dengan sikap yang tenang dan tangan yang mulai menari diatas keyboard laptop
"Apa Kenzie dan Risha sama menyeramkannya sepertimu?" Rendra bertanya dengan nada mencibir
"Tentu saja tidak sehandal aku" Jawab Kenzo penuh keyakinan
"Cih, sepertinya aku sudah terbiasa dengan sifatmu yang narsis itu"
***
Dinegara F pak Rudi sedang resah menunggu telepeon dari pihak bank
"Surya, apa tadi siang pihak bank menghubungimu?" Tanya pak Rudi yang sedang menghubungi Surya
"Tidak ada pak. Jika mereka menghubungi saya, maka saya pasti sudah memberitahu bapak" Jawab Surya dari seberang telepon
"Ya, kamu benar juga. Baiklah, selamat malam"
"Selamat malam pak" Pak Rudi dan Surya pun mengakhiri panggilan telepon mereka
"Ya, ada yang menyabotase bahan pembuatan tas kita. Semuanya bahan yang mahal dan hanya bisa diimpor dari luar negeri. Papa mengalami kerugian besar dan pabrik sudah beberapa hari tidak bisa produksi. Karena itu papa mengajukan pinjaman ke bank dengan menjaminkan semua aset kita, tapi entah kenapa pihak bank menunda pengajuan papa dan mengatakan butuh waktu untuk mempertimbangkan pengajuan papa itu" Ilana mendengarkan cerita sang ayah yang dari wajahnya terlihat sangat sedih
"Aneh, kenapa bank malah menunda pengajuan pinjaman papa? Bukannya selama ini bank selalu menyetujui langsung mengenai pinjaman perusahaan?" Ilana terlihat bingung dengan apa yang sedang di alami sang ayah
"Tapi Lana, Kemarin papa dapat telepon misterius, dia bilang dia ingin kamu menemui psikiater dan memeriksa kejiwaan mu. Apa kamu memiiki musuh?" Tanya sang ayah dengan wajah bingung. Ilana pun terlihat bingung dengan apa yang dikatakan sang ayah
"Aku tidak punya musuh sama sekali. Memangnya kenapa aku harus periksa kejiwaan? Aneh sekali" Ilana tersenyum mencibir apa yang dikatakan sang ayah
"Papa juga tidak tahu, tapi jika kamu tidak ingin pergi ke psikiater maka pengajuan papa tidak akan disetujui" Ilana terdiam mendengar apa yang dikatakan pak Rudi
"Jangan-jangan, bahan baku yang dirusak itu karena ada yang membernciku?" Ujar Ilana yang membuat sang ayah terkejut
"Maksudnya ... ada yang membencimu dan ingin menjatuhkan bisnis papa?" Ujar pak Rudi yang mulai berpikir
__ADS_1
"Mungkin pah. Tapi siapa yang bisa melakukan itu?" Ilana dan pak Rudi sama-sama memikirkan siapa sebenarnya yang membenci mereka
***
Keesokan harinya Kenzie sedang bersiap pergi kekampus untuk kembali mencari petunjuk menganai siapa pelaku penabrakan Risha
Tok tok tok
"Zo! Apa kalian sudah bangun?!" Teriak Kenzie di depan kamar Kenzo
Ceklek
"Kamu pikir aku sama sepertimu yang selalu bangun siang hari?" Kenzo membuka pintu dan menanggapi Kenzie dengan nada bicaranya yang dingin
"Oh, ku kira kamu belum bangun. Bukannya kita akan pergi ke kampusku untuk mencari petunjuk mengenai pelaku penabrak Risha?" Tanya Kenzie sambil mengikuti Kenzo yang berjalan masuk kekamarnya
"Tidak perlu pergi kekampusmu" Kenzie mengernyitkan dahi mendengar ucapan Kenzo
"Eh, Tidak perlu? Lalu bagaimana kita tahu pelaku yang menabrak Risha?" Kenzie kembali bertanya dengan raut wajah bingung
"Aku sudah tahu pelakunya. kita pergi ke tempatnya saja dan melihat bagaimana pelakunya" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang
"Sebenarnya apa yang sudah kamu dapatkan? Apa yang kamu lakukan dengan laptopmu semalaman?" Kini Rendra yang terlihat penasaran dengan jawaban Kenzo
"Bukan apa-apa. Hanya meretas CCTV dilokasi dan melihat secara detil rincian kejadiannya. Setelah itu cukup meretas komputer lain untuk tahu siapa pemilik mobil saja" Kenzo menjelaskan dengan sikapnya yang tenang seakan itu bukan masalah yang sulit.
Kenzie dan Rendra saling menatap satu sama lain mendengar penjelasan Kenzo
"Disaat seperti ini aku merasa kita bukan saudara kembar. Bagaimana bisa kamu melakukan itu dengan mudah, sedangkan aku hanya bisa mempelajari dasar dari bagian IT saja" Kenzie bicara dengan nada mencibir
"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya? Aku mempelajari IT sejak kecil. Kamu dan Risha lebih tertarik dengan manajemen bisnis dan hanya mempelajari sedikit mengenai ilmu komputer" Kenzo menanggapi dengan sikap yang dingin
"Wah, kamu benar-benar menyeramkan Zo. Dengan kemampuanmu meretas itu, kamu. bisa melakukan apa saja. Bahkan mungkin kamu bisa merampok bank" Rendra menggelengkan kepala mencibir Kenzo
__ADS_1
"Bukan hanya merampok bank. Aku juga bisa menghancurkan perusahaan besar hanya dalam sehari" Kenzo mengiyakan apa yang dikatakan Rendra