
Astria kembali ke kamar pras setelag dia menanyaka mengenai biaya rumah sakit Pras karena sebentar lagi putranya boleh meninggalkan rumah sakit
"Pras, apa kamu mau makan? Mama sudah membawakan makanan untukmu. Pras?" Astria memasuki ruang rawat Pras sambil memperhatikan makanan yang dia bawa dalam kantong. Betapa terkejutnya Astria saat mendapati kamar yang ditempati Pras kosong. Dia langsung berbalik dan keluar dari kamar untuk mencari suster
"Suster, apa kamu tahu dimana pasien kamar itu?" Tanya Astria pada seorang suster sambil menunjuk kamar putranya. Dan kebetulan suster yang dia tanya adalah suster yang sebelumbya membantu Pras
'Oh, pasien tadi mengatakan ingin jalan-jalan dengan kursi roda. Katanya dia akan pergi ke taman untuk mencari udara segar" Jawab suster dengan sikap yang ramah dan sopan
"Terimakasih" Dengan langkah kaki yang cepat dan pikiran yang dipenuhi kekhawatiran yang tinggi akan anaknya, Astrid berlari menuju taman
"Pras?! Pras?!" Dia berteriak menoleh kesana kemari. Mencari disetiap susut taman rumah sakit. Kursi panjang, ayunan yang besar dan bahkan pohon rindang tang tertanam disana, namun dia sama sekali tidak menemukan putranya
"Pras kamu dimana?!"Astris terus berterial dengan putus asa mencari pras. Air mata mulai mengalir membasahi wajahnya. Napasnya terrngah-engah dengan wajah pucat
"Pras kamu dimana?" Disaat dia mulai putus asa, terdengar suara teriakan dari sudut lain
'Aaaaakkk!!"
Bruk
Aaaahhh
orang-orang mulai berteriak lalu berkerumun disatu titik untuk memastikan apa yang baru saja terjatuh dari atap gedung rumah sakit yang sangat tinggi. Astris yang penasaran pun mulai mendekati kerumunan. DIa menyela diantara orang-orang yang mulai berkerumun membuat lingkaran disana.
Linangan darah membuat sebuah genangan diantara tubuh seorang pemuda tanpa kaki yang masih mengenakan seragam pasien rumah sakit ini
"P-pras? Ti-tidak!! Pras!!!!! huuu uuu uuu" Tangis Astria semakin pecah melihat pemuda degan lumuran darah disekujur tubuhnya itu. DIa menangis histeris sambil bersujud di hadapan tubuh Pras yang kini tidak lagi bergerak dengan mata yang telah terpejam
"Pras! Tolong lakukan sesuatu! Tolong anakku!" Astris berteriak agar seseorang menolong putranya. Tak lama datang dokter dan beberapa perawat
"Maaf nyonya, tapi nyawanya tidak bisa lagi diselamatkan" Dokter mengatakannya kepada Astria dengan raut wajah penuh penyesalan setelah dia memeriksa denyut nadinnya
"Tidak! Dokter pasti bohong kan? Itu tidak mungkin kan? Pras ...!!! huuu uuu uuu"
"Kami akan memindahkannya kekamar mayat untuk dibersihkan" para perawat pun langsung membawa tubuh Pras kekamar mayat meninggalkan Astria yang masih terduduk dengan air mata yang tak hentinya mengalir
"Aku harus menghubungi suamiku" Dengan tangan yang gemetar, Astria meraih ponsel didalam tasnya dan menghubungi suaminya
Tuut tuut tuut
"Halo mah"
"Hiks hiks" Astria hanya menangis tanpa mengatakan apa-apa meskipun teleponnya telah tersambung dengan sang suami
__ADS_1
"Mah! Katakan ada apa?! Kenapa kamu menangis?!" Tanya ayah Pras dengan nada yang sangat panik dan khawatir
"Pah ... anak kita pah ... Pras kita ..." Astria berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Pras disela isak tangisnya meskipun suaranya bergetar dan terbata-bata
"Ada apa dengan pras? kenapa dengan pras kita?! cepat katakan?!" Dia semakin panik karena sang istri terus saja menangis tanpa mengatakan hal yang jelas
"Pras kita telah mninggal .... Hu uu uu "
"Apa katamu?! Janga bercanda! Dia baik-baik saja dan akan segera keluar dari rumah sakit. Bagaimana mungkin dia meninggal?!" Ayah Pras sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari sang istri
"Dia ... dia ... dia melompat dari atap gedung rumah sakit"
Ayah Pras membatu, dia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya dari mulut sang istri
"Pras meninggal? Itu ... mustahil" tubuhnya terasa lemas, tangannya yang tadi memegang ponsel seakan tidak memiliki tenaga lagi untuk menggenggamnya hingga perlahan ponselnya pun jatuh ke lantai
"Pah.. papa ...." Panggilan telepon mereka pun berakhir karena suami Astria tidak kuasa mendengar sesuatu tentang anaknya
***
Sementara itu Adnan masih mencari pinjaman kesana kesini untuk membayar tagihan bank yang beberapa hari lagi akan jatuh tempo
"Pak Budi, tolong bantu saya. Hanya anda yang bisa membantu saya" Adnan memohon pada salah satu rekan bisnisnya untuk meminjamkan uang padanya
"Apa anda tidak bisa mencarikan saya pinjaman ke rekan anda?" Adnan masih berusaha mendapatkan bantuan dari pak Budi
"Saya benar-benar tidak bisa membantu anda pak. Maafkan saya. Tut tut tut"
"Pak Budi?! Pak Budi?" Berkali-kali Adnan memanggil pak Budi namun teleponnya telah dimatikan oleh pak Budi
"Aku harus mencari bantuan kemana lagi?"
Disaat Adnan sedang kebingungan ponselnya kembali berdering
Drrt drrt
Dilihatnya layar ponselnya tertulis nama Astria
"Mau apa lagi dia?"
"Halo, ada apa lagi? Aku sudah bilang akan mencari jalan lain untuk mendapatkan uangnya" Adnan langsung bicara sebelum Astria mengatakan sesuatu
"Hiks... hiks... kak" Astria hanya menangis menanggapi Adnan
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis? Ada apa?" Adnan kini terlihat bingung karena Astria langsung menangis sesenggukan begitu dia menghubunginya
"Pras... "
"Ada apa dengan Pras?" Adnan semakin bingung karena Astria hanya bicara setengah-setengah
"Pras sudah meninggal.. hiks... hiks... hiks"
"Apa katamu?!" Adnan sangat terkejut hingga dia berteriak dan langsung berdiri dengan kedua mata membelalak
"Pras sudah meninggal... hiks... hiks... hiks... " Astria kembali mengatakannya pada Adnan sambil menangis
"Jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!" Adnan bicara dengan senyum tipisnya
"Aku … sama sekali tidak bercanda hiks… hiks… Tidak mungkin aku bercanda masalah ini!" Ujar Astria meyakinkan
"Aku akan kerumah sakit sekarang!" Adnan langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas pergi kerumah sakit
***
Jenazah Pras sudah selesai dibersihkan dan kini sudah siap untuk dibawa pulang sebelum di kebumikan. Astria dan sang suami terus menangis sambil menatap jenazah putranya yang pucat dengan perban mengikat bagian kepala
"Pras, kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu mengambil jalan seperti ini? Kita bisa menghadapi ini bersama dan kamu juga masih bisa melanjutkan hidup meskipun tanpa kaki. Ada kami, orang tuamu yang akan selalu mendampingimu. Tidak masalah jika kamu cacat asalkan kami bisa selalu bersama denganmu" Ayah Pras bicara pada jenazah putranya mengenai apa yang harusnya Pras lakukan
"Pah, sekarang Pras sudah tidak ada. Bagaimana aku bisa hidup tanpa dia...? hiks... hiks..." Astria terus menangis dalam pelukan sang suami
"Sudahlah, mah. Kita tidak bisa melakukan apapun lagi. Kita doakan saja agar Pras mendapatkan ketenangan" Astria menganggukkan kepala dalam dekapan suaminya
Pras sudah dibawa pulang sesaat setelah Andan datang. Kabar kematiannya pun sudah menyebar dikalangan pebisnis hingga sampai ke telinga keluarga Kusuma
"Apa kamu sudah dengar kalau Pras meninggal?" Diaz bertanya pada Cheva melalui panggilan telepon
"Benarkah? Ternyata pikirannya sangat sempit. Ku kira dia tidak akan melakukan hal bodoh" Cheva bicara dengan seringai tipis diwajah cantiknya
"Apa maksudmu? Orang tuanya saja bodoh, tentu saja anaknya juga akan mewarisi pikiran bodohnya" Diaz membenarkan dengan sikap santai
"Kakak benar. Itu tidak bisa dipungkiri. Apa kita akan datang kesana?" Tanya Cheva dengan sikap yang tenang
"Tentu saja. Kita harus menunjukkan rasa bela sungkawa kita"
"Maksud kakak … duka cita atau suka cita?" Cheva memicingkan mata dengan senyum tipis saat bertanya
"Entahlah, itu hanya beda tipis"
__ADS_1