
Risha dan Mariana sangat terkejut mendengar suara seorang pemuda dibelakang mereka. Mereka berbalik dan menatap pemuda itu dengan mata membelalak.
“Se-an?! Bu-bukankah kamu bilang akan pergi keluar kota untuk beberapa hari?” Seketika wajah Mariana berubah jadi pucat. Dia pun terbata-bata saat bicara pada sang kekasih.
“Aku meninggalkan sesuatu dikamarmu dan ternyata aku melihat ada tamu yang mengunjungimu. Siapa dia? Kenapa aku tidak tahu kalau kamu memiliki dia sebagai teman?”
Sean bertanya dengan senyum yang manis dan nada bicara yang lembut. Saat ini dia tidak telihat kasar atau tempramen seperti dalam video sebelumnya. Mungkin jika Risha tidak melihat secara langsung kekerasan yang dialami Mariana, dia juga tidak akan percaya kalau Sean yang melakukan kekerasan itu.
Risha bersikap santai dan berjalan mendekati pemuda itu
“Namaku Risha, aku rekan kerja Mariana dari perusahaan Sanjaya. Aku datang kesini sebagai perwakilan perusahaan, karena sudah cukup lama Mariana tidak datang ke
perusahaan kami, padahal dia memiliki film yang harusnya sebentar lagi akan dirilis” ujar Risha menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis
“Oh, aku Sean, pacarnya Mariana. Beberapa hari lalu dia mengalami sedikit kecelakaan yang mengakibatkan wajahnya memar. Sebagai
seorang artis wajah adalah aset utama, karena itu dia tidak meninggalkan rumah agar tidak ada gosip buruk yang beredar karena keadaannya seperti sekarang” Sean menjelaskan
dengan senyum yang lembut. Dia dan Risha sesekali menoleh pada Mariana yang
diam dengan kepala tertunduk. Wajahnya terlihat pucat dengan tangan yang gemetar.
“Sepertinya aku pernah melihat wajahmu?” tanya Risha dengan memicingkan mata dan wajah yang terlihat berpikir
“Benarkah? Dimana kamu melihatku?” tanya Sean lagi penasaran
“Dimana ya? Ehm ...” Risha memegang dagunya sendiri ketika dia berpikir keras mengenai Sean
“Oh, bukannya kamu pacar yang beberapa hari lalu mengatakan kalau Mariana telah selingkuh? Apa sekarang kalian telah kembali bersama?”
Risha bertanya dengan senyum ceria diwajahnya. Dia bersikap tenang dan terlihat
anggun dengan kedua tangan dilipat didada. Risha berpura-pura tidak tahu agar Sean tidak curiga atas kedatangannya.
Sean langsung menoleh pada Mariana dan menatapnya dengan tatapan sinis penuh kemarahan.
“Iya, itu hanya kesalah pahaman saja dan kami telah kembali bersama. Benar kan, sayang?” Sean kembali merubah ekspresinya, dia bertanya
pada Mariana dengan senyum lembut dibibirnya untuk memastikan perkataannya.
“I-iya. Itu hanya salah paham saja. Kami sudah kembali bersama” Mariana pun menanggapi dengan senyum meskipun senyumnya terlihat terpaksa dan kaku
“Benarkah? Kamu sangat peduli pada reputasinya, kenapa kamu
tidak melakukan klarifikasi karena sudah mencoreng namanya dengan omong kosong
__ADS_1
tentang perselingkuhan itu?” Risha kembali menanggapi dengan sikap acuh tak acuh dan senyum tipis mencibir.
“Itu karena ... karena kami sudah kembali bersama, kurasa gosip itu akan hilang dengan sendirinya” Sean menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya
“Hmn ... jadi seperti itu. Padahal dia artis papan atas dan memiliki film yang akan segera rilis, tapi kamu sama sekali tidak memiliki niat
untuk memperbaiki citra pacarmu dan membiarkan film barunya tertunda perilisannya hanya karena gosip itu. Sungguh sangat disayangkan” ujar Risha dengan sikap acuh tak acuh dan nada yang sedikit menyindir Sean
Sean tidak menanggapi ucapan Risha dan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Mariana, apa kamu akan biarkan temanmu ini berdiri disini saja? Kenapa tidak mempersilahkan dia masuk?” ujar Sean dengan senyum yang lembut sambil berjalan mendekati Mariana dan melingkarkan sebelah tangannya dipinggang sang kekasih
“Ah, maafkan ku, Bu. Eh Risha. Aku sampai lupa
mempersilahkan kamu masuk kedalam” Mariana terlihat ketakutan dan kembali gemetar saat Sean melingkarkan tangan dipinggangnya.
“Tidak papa. Aku sudah melihat keadaanmu, dan pacarmu juga ada disini untuk merawatmu. Kurasa ... aku akan kembali ke kantor saja” Risha menanggapi dengan senyum yang lembut
“Begitukah?” tanya Mariana memastikan
“Mana bisa seperti itu? Kamu ini seorang tamu. Dan Mariana, itu tidak sopan jika membiarkan temanmu pergi begitu saja” ujar Sean dengan sikap yang lembut namun nada bicaranya terdengar sedikit tegas
“Ta-tapi sepertinya Risha sedang sibuk. Dan kamu tahu sendiri kalau perusahaanku itu adalah perusahaan besar. Mereka tidak bisa sembarangan meninggalkan tempat kerjanya. Ter-lebih lagi, Risha adalah karyawan baru diperusahaan kami. Dia bisa saja mendapatkan masalah jika tidak kembali dengan cepat”
Mariana menjelaskan pada Sean dengan gugup dan wajah masih terlihat pucat
kembali ke perusahaan dan tetap berada dirumah Mariana.
Risha terdiam memikirkan apa yang direncanakan Sean padanya
“Baiklah, jika hanya sekedar minum teh saja sepertinya tidak akan ada masalah” Risha menanggapi dengan senyum yang lembut. Dia mengabaikan Mariana yang sejak tadi terus menggelengkan kepala pada Risha tanpa sepengetahuan Sean
“Bagus. Ayo Mariana, buatkan teh untuk kami” ujar Sean yang menggandengan Mariana kedalam rumahnya diikuti Risha dibelakang
“Siapa yang harus aku hubungi? Biasanya Kenzo yang selalu datang tepat waktu ketika aku mendapatkan masalah. Apa aku hubungi Kenzie saja? Tapi dia tidak terlalu cekatan dan pandai dalam memprediksi. Rendra? Dia tidak
bisa datang tepat waktu karena jauh juga. Biarkan sajalah. Rendra saja" Pikir Risha sambil melangkah masuk kedalam rumah Mariana. Diapun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Rendra
Tuut tuut tuut
Risha hanya menggenggam ponselnya tanpa mendekatkannya ke telinga, jadi dia tidak tahu apa Rendra menerima teleponnya atau tidak
“Halo” sapa Rendra begitu menerima telepon dari Risha
“Jadi kamu temannya Mariana? Kamu dari bagian apa? Apa kamu seorang model juga?” tanya Sean pada Risha
__ADS_1
Risha berusaha tetap tenang meskipun sebenarnya dia sedikit gugup
“Aku dan Mariana hanya satu perusahaan saja. Aku dari bagian promosi” Risha menanggapi dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis
“Benarkah? Aku akan lihiat Mariana dulu. Kenapa dia lama sekali mengambil minumnya?” Sean pun beranjak pergi menuju dapur dimana Mariana berada
“Apa kamu masih lama?” tanya Sean pada Mariana
“Tidak, ini akan segera selesai” Mariana menjawab dengan gugup
“Tidak perlu buru-buru. Kamu harus membuat minuman yang paling enak” ujar Sean yang kini berdiri dibelakang Mariana
“A-aku mengerti” Mariana menanggapi dengan tubuh gemetar
“Untuk apa temanmu kesini? Kamu sudah mengatakan hal yang tidak-tidak padanya kan?” bisik Sean dengan sebelah tangannya menggenggam erat tangan Mariana
“Ti-tidak. A-aku tidak mengatakan apapun padanya. Dia hanya sekedar teman diperusahaan yang menaungiku saja” Mariana menjawab sambil meringis kesakitan karena genggaman erat Sean
“Bohong! Apa yang kamu katakana padanya?!”
“Aku tidak mengatakan apapun padanya “ Mariana terus berbohong untuk melindungi Risha
“Jika aku tahu kamu berbohong, maka kamu dan juga dia akan menerima ganjarannya!”
“Ah!” Sean mengancam Mariana lalu menghempaskanya hingga dia terjatuh. Sean pun
kembali ke ruang tamu setelah bicara dengan Mariana
“Ren, apa kamu bisa mengirim seseorang kemari? Aku takut jika sesuatu terjadi” ujar Risha pada Rendra melalui telepon. Dia tidak tahu kalau Sean telah kembali dari dapur
“Apa kamu membawa senjata milikmu?” Rendra bertanya dnegan nada panik
“Aku membawanya. Justru karena itu aku ingin kamu mengirim seseorag kemari. Karena jika aku yang mengatasinya, sudah pasti dia akan
terluka karena senjata milikku”
“Noey sedang dalam perjalanan ketempatmu , jadi sebisa mungkin kamu harus mengulur waktu”
“Aku mengerti” Risha mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Rendra
“Apa yang kamu lakukan?! Kamu menghubungi polisi kan?! Kurang ajar!” Risha cukup terkejut saat Sean tiba-tiba berdiri didekatnya
"Tidak. Aku tidak menghubungi polisi. Ini hanya rekanku saja" Ujar Risha menanggapi dengan sikap tenang
"Bohong! Dasar wanita jal*ng. Kalian semua sama saja!" ujar Sean dengan sikap kesal
__ADS_1
"Jangan kamu pikir, aku akan diam saja"