
Kenzo, Kenzie dan Risha sedang melakukan video call. Mereka bukan orang yang mudah tidur, jadi video call tengah malam bukanlah hal yang aneh.
"Sha, bukannya papimu datang untuk memintamu pulang ya? Apa yang akan kamu lakukan?" Kenzie bertanya pada Risha dengan nada bicara yang lembut dan tenang.
"Aku masih ingin disini. Apalagi kondisi Rendra masih belum pulih. Setidaknya aku akan menemaninya sampai keadaannya lebih baik" Risha menjawab dengan sikap yang tenang
"Aku dengar kalian juga sudah diminta untuk memegang kendali perusahaan? Apa kalian akan langsung menerimanya?" Risha pun terlihat penasaran dengan keputusan yang akan diambil Kenzo dan Kenzie.
"Mami mengajukan promosi untuk kenaikan jabatanku langsung sebagai direktur. Tentu kalian bisa bayangkan keributan apa yang terjadi saat ini dikantorku" Kenzie mengeluh dengan apa yang telah dilakukan Cheva
"Langsung sebagai direktur? Bukannya itu malah memancing kecemburuan karyawan lain ya?" Kenzo bertanya dengan sikap yang dingin
"Tentu saja. Dan karena itu gosip aneh tentangku mulai menyebar luas dikantor" Kenzie kembali menjawab dengan malas
"Gosip aneh? Gosip aneh seperti apa?" Risha terlihat sangat penasaran dengan apa yang sedang menjadi gosip dikantor Kenzie
"Haah ... mereka bilang aku main belakang untuk bisa dapat promosi itu" Kenzie menghela napas panjang sebelum menjawab Risha
"Apa?! Main belakang?! Maksudnya seperti merayu direktur utama atau menyuap direktur utama begitu?" Tanya Risha dengan kedua alis berkerut dan hampir menyatu
"Ya ... kira-kira seperti itu" Kenzie menjawab dengan acuh tak acuh dan kedua bahu diangkat bersamaan
"Phuahahaha. Sepertinya mereka mengira kamu menggunakan wajah tampanmus sebagai senjata. Hahaha" Risha langsung terbahak membayangkan gosip yang mengatakan kalau Kenzie adalah laki-laki nakal.
"Apa mereka tidak ada yang memperhatikan wajahmu? Sepertinya wajah kita ada sedikit mirip dengan mami" Kenzo bertanya dengan heran mendengar gosip aneh mengenai saudara kembarnya dan sang ibu
"Tapi wajah kalian itu lebih mirip dengan om Lian. Jadi tidak heran jika mereka berpikiran sempit seperti itu" Risha mengeluarkan pendapatnya mengenai wajah Kenzo dan Kenzie
"Benarkah? Aku sama sekali tidak merasa seperti itu" Kenzo menjawab degan sikapnya yang acuh tak acuh
"Sudahlah, tidak akan ada habisnya membahas itu denganmu. Kita hanya akan berakhir dengan perdebatan saja" Risha tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Kenzo
"O iya. Aku dan Safira akan segera kembali ke negara F" dalam waktu dekat. Tidak ada yang bisa kami kerjakan disini" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang
"Apa begitu cepat? Kita bahkan belum lama bertemu setelah kamu pergi ke negara F setelah kecelakaanku itu. Sekarang kamu mau langsung kembali secepat itu?!" Risha bicara dengan nada yang sedikit kesal pada Kenzo
"Benar Zo. Sudah lama kita tidak berkumpul. Apa kamu tidak bisa tinggal lebih lama disini?" Kenzie pun mulai membujuk Kenzo agar tinggal lebih lama
"Apa sekarang kalian merindukanku? Atau aku yang tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan, sehingga aku salah mengerti?"
"Jangan pura-pura bodoh! Benar kami merindukanmu. Jadi tinggallah lebih lama" Kini nada bicara Risha terdengar kesal dan juga manja
__ADS_1
"Kamu juga belum mulai masuk keperusahaan papi kan? Masih jadi karyawan nenek" Kenzie dan Risha masih berusaha membujuk Kenzo
"Aku memang karyawan, tapi Safira masih memiliki beberapa pemotretan yang harus dilakukan dan kondisinya juga masih belum pulih betul, jadi masih butuh perawatan lanjutan"
"Kalau memang begitu kami tidak bisa menghalangimu lagi tapi, kita harus menghabiskan waktu sehari saja untuk bersama" Kenzie akhirnya mengalah namun dia ingin bermain bersama dulu
"Memangnya apa yang ingin kalian lakukan?" Kenzo pun bertanya dengan nada yang lemah dan dingin.
"KIta jalan-jalan. nonton, makan atau apalah itu" Kenzie menyarankan apa yang ingin dia lakukan sambil menggerakan kepala dan bahunya
"Hemn ... jika jalan-jalan sepertinya agak ... kalian taulah kondisinya Rendra saat ini" Risha sedikit ragu jika membayangkan Rendra yang harus keluar bersama mereka
"Kalau jalan-jalan juga tidak akan bisa kita nikmati karena Safira ada bersama kita" Kenzo menyela dengan sikap yang dingin
"Ah benar. Pacarmu itu seorag selebriti terkenal. Kita tidak bisa pergi ketempat umum" Risha bicara dengan nada ceria
"Sha, kamu lupa kalau Kenzo juga sudah jadi programer muda terkenal yang diincar banyak gadis? Aku pun ikut terkenal karena wajah kami sama persis"Kenzie menambahkan kalau mereka benar-benar tidak bisa pergi ketempat umum
"Kalau begitu kita makan malam bersama saja. Tapi kali ini kita harus gunakan privat room. Kita tidak bisa makan direstoran biasa" Ujar Risha menyarankan
"Jangan privat room, booking restorannya saja"
"Satu restoran saja!"
"Private room saja!"
"Satj restoran!"
"Kalian teruskan perdebatan kalian. Jika sudah selesai beritahu aku. Aku mau tidur. selamat malam" Kenzie yang kesal dengan Risha dan Kenzo langsung menutup teleponnya dan membiarkan kedua saudara itu terus berdebat
"Zo, kamu belum tidur?"Safira terbangun setelah menyadari kalau Kenzo tidak ada di sofa-bed. Dia berada diruang televisi
"Kamu bangun? Ada apa? Apa ada yang sakit?" Kenzo bertanya sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Safira agar dia duduk disebelahnya.
"Tidak. Aku terbangun dan tidak melihatmu di sofa-bed, karena itu aku mencarimu. Kenapa kamu belum tidur? ini sudah hampir jam 1 malam" Safira menyandarkan kepalanya didada bidang Kenzo.
"Aku baru selesai bicara dengan Kenzie dan Risha. Mereka ingin makan malam bersama terlebih dahulu sebelum kita kembali ke negara F" Kenzo menjelaskan dengan sikap yang tenang alasan dia belum tidur
"Kapan?" Safira langsung bangun dari sandarannya dan terlihat antusias
"Mereka belum mengatakannya, mungkin akhir pekan ini. Biarkan saja mereka yang mencari restorannya. Lagipula aku tidak tahu restoran mana yang bagus disini" Kenzo bicara dengan acuh tak acuh
__ADS_1
Safira mengangguk berkali-kali saat mendengarkan sebelum dia menjawab "Baiklah"
***
Keesokan harinya kantor Rendra dihebohkan dengan sebuah foto. Risha baru saja tiba dikantor dan merasa ada yang aneh dengan tatapan semua orang padanya.
"Kenapa mereka semua menatapku seperti itu?" Pikir Risha begitu dia masuk ke gedung kantor
"Selamat pagi" Risha pun menyapa beberapa orang di lobby yang juga baru datang
"Pagi" Mereka menjawab singkat dengan tatapan mencibir dan senyum yang terlihat dipaksakan
"Apa yang terjadi ya? tatapan mereka benar-benar membuatku merasa tidak nyaman" Risha pun melanjutkan langkah kakinya menuju ruangannya.
Dalam ruangannya pun dia mendapatkan tatapan yang sama.
"Apa yang terjadi? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Risha memberanikan diri bertanya pada rekan kerja diruangannya
"Emm ... Risha, apa ini benar kamu?" Rekan kerjanya itu menunjukkan sebuah artikel disosial media dengan judul "Karena pacar sudah lumpuh, karyawati cantik ini mencari sugar daddy sebagai cadangannya"
"Gila! Omong kosong macam apa ini?!" Tentu saja Risha kesal setelah melihat itu. Ponselnya langsung berdering dan dilihatnya itu panggilan dari sang ayah. Risha berjalan menjauh dulu dari rekan kerjanya
"Halo papi" Risha langsung menyapa sang papi
"Kamu sudah baca artikel di media sosial?" Tanya Diaz dengan nada bicara yang serius
"Sudah pih. Aku baru saja melihatnya"
"Apa kamu punya musuh?" Diaz bertanya dengan dahi berkerut
"Kenapa papi bertanya begitu padaku?" Risha pun heran dengan pertanyaan Diaz
"Tidajmk mungkin jika yang melakukan itu orang yang benci pada papi. Semua orang sudah tahu siapa papi" Diaz pun menjelaskan alasan dari dugaannya
"Benar juga. Papi tenang saja, aku akan urus masalah ini. Papi urus saja masalah kantor papi. aku yakin harga saham kita pasti terpengaruh" Risha terlihat serius kali ini
"Tidak perlu pikirkan itu. Papi bisa atasi masalah kantor. Jika kamu tidak bisa selesaikan ini, maka papi yang akan menyelesaikannya untukmu" Sorot mata Diaz langsung memancarkan aura menyeramkan
"Papi tenang saja aku akan segera selesaikan masalah ini. Kali ini aku harus membuat siapapun yang melakukan ini menyesal karena dia telah mengusik papi juga"
"Bagus"
__ADS_1