
Kenzie masih belum terbiasa dengan Kenzo yang kini berada jauh darinya dan Risha yang sibuk mengurus makalah membuat Kenzie semakin merasa kesepian.
"Membosankan sekali. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Pikir Kenzie dengan wajah murung. Dia sedang duduk ditaman kota seorang diri
"Meisya, kamu tidak boleh bersikap seperti itu! Kenapa kamu malah menindas dia? Ternyata kamu seperti itu? terlihat baik dan pendiam ternyata malah suka menindas orang yang lemah"
Kenzie menoleh setelah mendengar suara keributan. Disana terlihat ada 4 orang gadis berseragam sekolah SMA yang sepertinya sedang berselisih paham
"Apa yang aku lakukan padanya? Harusnya dia berterimakasih padaku, karena aku dia tidak menginjak bukunya sendiri" Meisya menjawab dengan sikap yang tenang meskipun saat ini dia disudutkan oleh 3 orang gadis lain
"Bagaimana bisa mendorongnya jatuh masih harus berterimakasih? Bukankah itu konyol?" Salah satu gadis itu berkata dengan nada sombong
"Meisya, kamu itu bukan siapa-siapa disini. Jadi kamu tidak usah sok, hanya sekolah dengan beasiswa saja kamu sudah sombong" Ujar gadis lainnya menimpali
"Sepertinya wajar saja jika aku sombong, karena beasiswa adalah hasil kerja kerasku. Sedangkan kalia. Kalian hanya memamerkan harta milik keluarga saja" Meisya tidak ingin kalah dengan tiga orang gadis itu, jadi dia terus melawan tanpa ada rasa takut
"Kamu!" Mereka semakin marah mendengar ucapan Meisya, namun Meisya tetap tenang
"Sudahlah, aku malas meladeni kalian. Sebaiknya kalian pergi atau aku laporkan kalian pada guru. Aku bisa bilang kalau kalian mencontek tugas akhir kali ini" Meisya mengacam dengan senyum percaya diri dan acuh tak acuh
"Dasar kutu buku miskin. Akan kami balas kamu nanti" Ujar salah satu gadis sebelum dia meninggalkan Meisya
"Aku tunggu janji kalian. Semoga saja kita tidak satu kampus lagi nanti" Jawab Meisya dengan sikap tenang namun terlihat kesal. Mereka pun pergi meninggalkan Meisya
"Haah, dasar orang kaya menyebalkan. Apa semua orang kaya seperti mereka? Tidak punya otak dan hanya mengandalkan harta. Dasar kotoran busuk!" Meisya terus menggerutu meskipun ketiga gadis itu sudah pergi jauh dan tidak terlihat lagi
"Hahaha" Perhatian Meisya teralihkan setelah mendengar suara tertawa seseorang. Dia mendekat untuk melihat siapa yang berani tertawa.
Kenzie duduk di kursi yang tidak jauh dari Meisya, hanya saja terhalang oleh sebuah pohon besar
"Siapa kamu? Sejak kapan kamu berada disini?" Meisya bertanya dengan nada yang sinis dan dahi mengernyit
"Oh, aku hanya sedang duduk saja dan tiba-tiba mendengar pertunjukan yang bagus. Kamu hebat! Tidak takut melawan orang kaya seperti mereka? Oh tidak. Maksudku kotoran busuk seperti mereka" Kenzie menjawab dengan senyum ceria dan nada bicara yang santai
__ADS_1
"Kenapa aku harus takut? Aku tidak salah. Kalau memang aku salah, maka aku tidak akan berani menatap mata mereka" Meisya menjawab dengan tenang dan acuh tak acuh
"Kamu sekolah dimana? Bukannya ini masih jam sekolah?" Tanya Kenzie mengalihkan pembicaraan
"Aku sekolah di Sekolah Delima Harapan. Apa urusanmu? Lagipula kamu tidak terlihat seperti siswa, apa kamu seorang mahasiswa? Mahasiswa kaya yang bolos kelas?" Meisya bertanya setelah melihat penampilan Kenzie dan 2 buku yang dibawa Kenzie serta laptop miliknya
"Tebakanmu benar. Aku seorang mahasiswa jurusan manajemen bisnis. Tapi kenapa nada bicaramu seperti itu? Apa aku berbuat kesalahan padamu? Sepertinya aku tidak menindasmu?" Awalnya Kenzie tersenyum ramah, namun kemudian dia menatap Meisya dengan bingung
"Sudahlah, aku harus kembali ke sekolah. Tidak ada waktu mengurusi orang kaya sepertimu!" Meisya mengabaikan Kenzie dan beranjak pergi meninggalkannya
"Kenapa dengan anak itu? Tadi sikapnya baik-baik saja, kenapa sekarang malah bersikap sinis?" Tanya Kenzie pada dirinya sendiri
***
Saat ini Kenzo sedang berada di kampus barunya. Seperti biasa saat tidak sibuk dia akan menghabiskan waktunya dengan game, laptop atau buku. Saat ini dia sedang berada di perpustakaan kampus dengan laptop dihadapannya.
"Siapa pemuda itu? Apa dia mahasiswa baru dikampus kita?"
"Sepertinya begitu. Ini pertama kali aku melihatnya"
"Dia? Apa yang dia lakukan disini? Dari sikapnya yang dingin dan diam seperti itu, sepertinya dia … Kenzo" Salah seorang mahasiswi tersenyun sinis ketika dia melihat Kenzo. Gadis itu pun berjalan mendekat ke arah Kenzo
"Rupanya kamu kuliah dikampus ini juga Kenzo Osterin?" Tangan Kenzo yang sebelumnya sedang bergerak dengan lincah diatas keyboard seketika berhenti setelah mendengar seorang gadis ternyata tahu siapa namanya. Kenzo pun mendongakan kepala dan menatap wajah gadis yang tiba-tiba berdiri dihadapannya
Kenzo menatap wajah gadis itu dengan sinis
"Apa sekarang ini adalah hari sialku, sampai aku harus bertemu denganmu setelah sekian lama, Ilana?" Ujar Kenzo dengan sikap yang dingin
"Aku senang ternyata kamu masih mengingatku. Ku kira kamu sudah melupakan aku?" Ujar Ilana lagi dengan senyum manis diwajahnya
"Tidak mungkin aku melupakan gadis sepertimu. Gadis yang membuatku dan juga saudaraku merasa seperti dibuntuti anjing pengintai" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang sambil kembali menatap layar monitor dihadapannya
"Kamu! Berani sekali mengatakan kalau aku ini anjing pengintai!" Ilana terlihat kesal setelah mendengar apa yang dikatakan Kenzo
__ADS_1
"Ilana, sepertinya kamu sudah lupa apa yang bisa aku lakukan padamu?" Kenzo bicara dengan senyum mencibir diwajahnya. Seketika raut wajah ilana yang sebelumnya tersenyum dengan sombong, kini mulai menunduk dengan wajah pucat setelah mendengar ucapan Kenzo
"Sepetinya kamu sudah ingat? Jadi sebaiknya kamu pergi sekarang juga dan jangan ganggu aku!"
"Hemp!" Ilana pun pergi meninggalkan Kenzo dengan wajah kesal
"Kenzo, dulu aku pernah tertarik padamu. Tapi sekarang aku membencimu. Seperti Kenzie dan Risha yang dijauhi teman-teman disekolah dulu, aku juga akan membuatmu dijauhi orang-orang dikampus ini" Gumam Ilana sambil menatap Kenzo dari kejauhan dengan tatapan sinis
"Ilana, kamu mengenal pemuda itu? Siapa dia?" Tanya salah seorang mahasiswi yang melihat Ilana berbincang dengan Kenzo
"Ya, dia Kenzo Osterin. Aku tidak mengenalnya langsung, tapi dulu aku satu sekolah dengan saudara kembarnya ketika di SMP" Ilana menjelaskan dengan senyum lembut
"Dia kembar?"
"Kamu satu sekolah dengan kembarannya?"
"Kalian tidak perlu berlebihan seperti itu. Sebaiknya jangan terlalu dekat dia. Dia dan saudaranya sama-sama gila dan berbahaya" Ilana memperingatkan kedua mahasiswi itu agar tidak mendekati Kenzo
"Mereka gila? Memangnya kenapa?"
"Dulu aku pernah berkunjung kerumahnya saat pulang sekolah, aku mengikuti Kenzie saat itu. Saat aku tiba dirumahnya, aku mendekati Kenzo yang sedang berlatih menembak dibelakang rumahnya. Apa kalian tahu apa yang dia lakukan padaku?" Ilana bercerita dengan sangat antusias pada kedua mahasiswi itu
"Tidak tahu" Jawab kedua mahasiswi itu serempak dengan menggelengkan kepala bersamaan
"Dia mengarahkan tembakannya ke arahku. Tembakan itu hampir saja mengenai kakiku. Dan dia juga menembak kaki penjaga yang saat itu mengizinkan aku masuk kerumahnya. Jahat sekali kan? Nah jika kalian mendekati dia bisa saja dia juga menembak kalian" Kedua mahasiswi itu saling menatap tak percaya mendengar apa yang dikatakan Ilana
"Masa sih? Itu kan bahaya! Lagipula, bagaimana bisa anak kecil bermain senjata?" Salah satu mahasiswi terlihat tak percaya
"Aku benar. Dia itu anak orang kaya yang sombong" Jawab Ilana lagi berusaha meyakinkan
"Apa? Anak ornag kaya? Tidak mungkin. Dia itu mahasiswa pindahan karena beasiswa"
"Apa?! Beasiswa?!" Kini Ilana yang terkejut mendengar perkataan rekannya
__ADS_1
"Iya, kudengar dia bisa kuliah disini karena beasiswa yang disediakan kampus"
"Tidak mungkin. Apa iya keluarga Kenzo bangkrut?" Gumam Ilana tampak tak percaya dengan ucapan temannya