Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Chapter 139 (Kalian Pikir Aku Mudah Ditindas?)


__ADS_3

Banyak orang membicarakan Kenzo setelah festival film hari itu. Mereka mempertanyakan identitas pemuda yang menemani Safira, terlebih Safira menerima penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik. Namun Kenzo memblokir semua informasi tentangnya dan kini teman kerjanya menyadari kalau Kenzo adalah pasangan Safira.


"Kenzo, tunggu!" Lagi-lagi langkah Kenzo terhenti mendengar suara panggilan mereka


"Apalagi yang mereka inginkan? Menyebalkan!" Gumam Kenzo sebelum dia membalikkan badan dan bertanya tujuan mereka memanggilnya


"Ada apa?" Tanya Kenzo sambil menatap pada salah satu orang orang yang memanggilnya dengan tatapan yang dingin


"Kamu, apa Safira itu pacarmu?" Tanya karyawan itu dengan wajah penasaran


"Memangnya kenapa kalau aku punya hubungan dengan Safira?" Tanya Kenzo dengan sikap yang dingin


"Tidak papa, aku hanya ingin memastikan saja, kamu itu pemuda yang menemani Safira atau bukan" orang itu menjawab dengan senyum yang terlihat canggung


Kenzo hanya diam menatap orang itu kemudian berbalik dan pergi dari hadapannya.


"Bagaimana dengan Safira? Dia pasti menjalani kehidupan yang sulit setelah pergi bersama denganku. Aku harus menghubunginya nanti" Gumam Kenzo sambil berjalan pergi mencari ruang kerja bagiannya


Seperti yang direncanakan sebelumnya. Kenzo langsung menghubungi Safira setelah dia tiba diruangannya


Tuut tuut tuut


Kenzo menunggu beberapa saat sampai Safira menerima telepon darinya


"Hapo, Zo?" Sapa Safira begitu dia menerima telepon Kenzo


"Ra, apa kamu sedang sibuk?" Kenzo bertanya sekedar basa basi


"Aku sedang menunggu giliranku melakukan pemotretan. Ada apa? Oh hari ini kamu mulai bekerja ya?" Terdengar suara Safira yang tenang dan ceria seperti biasanya


"Ya hari ini aku mulai bekerja. Tapi disini ada yang mengenaliku saat pergi ke festival film bersama denganmu. Kamu … apa kamu baik-baik saja? Pasti banyak gosip beredar setelah kita terlihat bersama" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang sambil duduk di salah satu kursi yang ada diruangan itu


"Tidak perlu khawatir. Aku sudah menangani hal itu. Aku mengatakan kalau untuk sekarang ini kita hanya berteman baik"


"Teman?" Tanya Kenzo lagi memastikan jawaban Safira


"Sekarang memang iya kan? Tapi … entahlah kedepannya" Safira menjawab dengan malu-malu dan berusaha memberi kode pada Kenzo

__ADS_1


"Ehm … memang kita hanya berteman saja kan? Mungkin kedepannya kita akan lebih dari itu" Kenzo menjawab dengan nada menggoda


"Lebih dari apa?" Tanya Safira lagi yang juga penasaran dengan jawaban Kenzo


"Sebagai … sahabat" Seketika raut wajah Safira yang sebelumnya penuh harap, kini langsung berubah murung. Safira tidak tahu kalau Kenzo tersenyum dengan sorot mata yang terlihat licik saat dia bicara


"Aah sudahlah. Aku harus kembali melakukan pemotretan, kamu juga harus bekerja kan?" Safira mengalihkan pembicaraan dengan nada yang terdengar kesal


"Oh, kamu selesai jam berapa? Apa masih lama?" Tanya Kenzo sebelum menutup teleponnya


"Ehm, aku juga tidak tahu. Sepertinya masih lama, karena masih harus mengambil beberapa foto ditempat yang berbeda dengan beberapa pakaian lagi" Jawab Safira dengan tenang


"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi" Kenzo dan Safira pun mengakhiri telepon mereka


"Sahabat katanya? Dasar Kenzo bodoh!" Gerutu Safira setelah teleponnya berakhir


***


Hari-hari Risha di kantor tidak kalah melelahkan daei sebelumnya, Kia terus menyulitkannya dengan tumpukan pekerjaan


"Ya, setelah ini selesai aku akan mengerjakannya" Risha menjawab dengan sopan


"Harus sekarang, karena ini penting" Ujar Kia dengan wajah sinis


"Maaf sebelumnya, jika ini laporan yang penting, kenapa tidak diberikan pada karyawan lain yang lebih pengalaman? Bu Kia selalu memberiku pekerjaan penting dan dedline. Sedangkan karyawan lain sepertinya tidak terlalu sibuk" Risha mengarah pada bu Kia sendiri, Elisa dan teman-temannya yang lebih banyak bergosip dan juga memperbaiki tampilan make up mereka.


Bu Kia ikut menoleh pada Elisa dan teman-temannya yang sedang berbincang sambil menikmati kopi hangat mereka.


"Mereka sudah selesai dengan pekerjaannya karena itu mereka minum kopi. Lagipula kopi tidak dilarang, justru itu disediakan agar karyawan tidak mengantuk" Kia menjelaskan dengan nada bicara yang sedikit tinggi


"Baiklah. Kalau begitu aku juga mau buat kopi dulu. Rasanya mengantuk lihat tumpukan pekerjaanku yang tidak selesai" Risha langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Kia menuju ke pantry


"Hei, aku belum selesai bicara! Dasar anak baru. Mentang-mentang kenal dengan pak Rendra, dia jadi bersikap seenaknya" Gerutu Kia sambil berjalan mendekati Elisa


"Kenapa bu? Anda kelihatan kesal sekali?" Tanya Elisa yang melihat Kia mendekat kearahnya


"Itu, si Risha. Aku minta dia mengerjakan laporan untuk pembuatan produk baru, dia malah bicara yang tidak-tidak. Kia yang kesal mengeluh pada Elisa dan teman-temannya

__ADS_1


"Iya, sekarang dia juga terlihat sombong. Mungkin karena dia selalu bersama dengan pak Rendra, jadi dia merasa diatas angin" Ujar salah seorang karyawan lain bernama Nura


"Bagaimana kalau kita beri pelajaran saja agar dia bisa bersikap layaknya anak baru?" Nura menyarankan pasa Elisa dan Kia


"Kalian saja yang lakukan. Aku akan memberinya pelajaran dengan memberikan pekerjaan yang sulit" Kia menjawab dengan senyum mencibir dan sorot mata yang terlihat tajam


"Kalau begitu serahkan pada kami" Nura dan Elisa pun mengangguk dengan senyum tersungging dibibir mereka. Mereka pun langsung pergi menyusul Risha


"Sha, kamu sedang apa?" Tanya Elisa mendekati Risha yang sedang menuangkan 1 sachet kopi instan


"Aku ingin membuat kopi" Nura pun mendekati Risha dan berpura-pura hendak melintas dibelakangnya. Saat Risha menuangkan air panas, Nura menyenggol siku Risha


"Aduh"


"Ah panas"


"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Karena panas, jadi aku reflek berputar. Aku tidak tahu kalau airnya akan tumpah lagi ke kakimu" Ujar Risha yang langsung berjongkok mengikuti Nura


Air yang dituangkan Risha tumpah sedikit mengenai punggung tangannya. Lalu dia berbalik dan menumpahkan air panas pada kaki Nura yang berada dibelakangnya


"Untung saja air panas ini tidak tumpah ke wajahmu" Bisik Risha dengan wajah penuh sesal namun ada sedikit senyum mencibir terukir dibibirnya


"Kamu tidak papa Ra?" Tanya Elisa pada Nura dengan raut wajah khawatir


"Sebaiknya cepat ambil kotak p3k dan langsung diobati, jika tidak itu bisa meninggalkan bekas di kaki indahmu" Risha menunjukkan wajah sedih melihat Nura


"Ya, sebaiknya kita cepat obati saja" Elisa membantu Nura yang sejak tadi berjongkok dilantai meniup kakinya yang tersiram air panas


"Sha, kamu juga harus obati tanganmu. Nanti bisa meninggalkan bekas" Elisa juga memberikan perhatian pada Risha agar dia tidak menaruh curiga


"Tentu, aku akan segera mengobatinya" Jawab Risha dengan senyum


"Tapi setelah Rendra melihat lukanya" Ujar Risha dalam hati dengan senyum dipaksakan


Elisa pun membantu memapah Nura kembali keruangan


"Kalian pikir aku mudah ditindas? Jika Rendra melihat lukanya, dia akan berpikir kalau aku tidak bisa menjaga diri. Lupakan. Biar aku obati saja. Toh meskipun diberi salep, warna merah dikulitnya tidak akan langsung hilang sampai jam makan siang. Jadi, Rendra tetap akan melihat lukanya. Bagaimana sikapnya ya? Tapi tidak mungkin dia langsung menghukum mereka" Pikir Risha dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah

__ADS_1


__ADS_2