Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kesedihan Keluarga Kusuma


__ADS_3

Vio yang terkejut langsung pingsan setelah mendengar apa yang dikatakan dokter


"Vio!" Leo langsung mendekat ke arah sang istri dan langsung memeluknya


"Tante!" Cheva pun dengan cepat mendekat pada Vio dan berdiri di sampingnya


Leo langsung berdiri lagi dan mendekati dokter setelah meletakkkan Vio dengan hati-hati


"Dokter, yang anda katakan itu tidak benar kan? Anda pasti salah diagnosa saja kan? Putriku tidak mungkin meninggal. Dia belum lama sadar dari koma dan baru saja melihat bayinya. Ini pasti bohong. Dia pasti akan baik-baik saja kan?"


Leo menarik kerah snelli dokter itu dengan kencang dan bicara dengan nada yang tinggi disertai derai air mata


"Maaf pak. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelematkannya, tapi takdir berkata lain"


Dokter hanya meminta maaf dengan raut wajah menyesal kemudian beranjak pergi meninggalkan keluarga Kusuma yang dirundung kesedihan. Semua pun kembali menitikan air mata, bahkan Gina pun seketika lemah dan kakinya tak dapat lagi berdiri hingga Yudha membantunya untuk duduk. Sedangkan Lian memegangi Cheva yang bersandar pada dinding setelah mendekati Lea.


"Lea kenapa seperti ini? Baru beberapa hari yang lalu kami harus mengantar kepergian Galen dan Rey. Sekarang kami harus kembali menerima pil pahit dengan kehilanganmu"


Leo bicara dengan sendur disertai derai air mata


Lian sudah meminta bantuan perawat untuk membantu menangani Vio. Tangis mereka kembali pecah ketika melihat Vio dibawa keluar dari ruang IGD untuk dipindahkan ke kamar jenazah


"Lea..... bangun Le, bukankah kamu bilang ingin membesarkan anak kita sama-sama? Bukankah kamu bilang tidak akan membuat anakmu jadi kaku seperti anakku? Bagaimana kamu tahu jika kamu tidak membesarkannya sendiri, huh?"


Cheva bicara pada jenazah Lea dengan derai air mata yang terus mengalir


"Lea, sayang. Bangun. Kamu baru saja melahirkan putramu, apa kamu tidak ingin melihatnya tumbuh besar?"


Leo pun bicara pada Lea dengan derai air mata sambil menatap wajah Lea dengan sendu


"Permisi pak, kami harus segera membawanya ke kamar jenazah"


Perawat menyela Leo karena akan membawa Lea ke kamar jenazah


"Suster coba periksa dia sekali lagi! Mungkin kalian salah dan Lea tidak papa. Suster! suster!"


Leo berteriak pada para suster agar tidak membawa Lea ke kamar jenazah, namun mereka tidak menggubris teriakan Leo


"Sabarlah Leo, ini sudah jadi kehendak sang pencipta. Mungkin ini yang terbaik untuk Lea, setidaknya dia tidak akan bersedih karena kehilangan Galen"


Yudha mengusap pundak Leo dan bicara dengan penuh wibawa


"Tapi bagaimana denganku pih? Bagaimana dengan Vio? Papi lihat sendiri dia seperti apa tadi. Sekarang bagaimana kami harus melalui hari tanpa Lea. Meskipun setelah dia menikah kami hidup terpisah, tapi kami bisa melihatnya kapan saja. Tapi sekarang kami tidak akan pernah bisa melihatnya lagi saat kami merindukannya"


Leo berjongkok dilantai dengan kepala tertunduk mencurahkan isi hatinya dengan derai air mata pada Yudha

__ADS_1


"Kita semua merasakan kesedihan yang sama. Lea itu juga cucuku, dia juga bagian dari keluarga Kusuma. Kami semua juga merasakan kehilangan sama sepertimu. Jadi papi mohon agar kamu bisa kuat dan tabah untuk Vio, kamu suaminya dan dia hanya bisa bergantung padamu"


Leo mulai tenang mendengar ucapan Yudha. Diapun mulai mengangkat kepala dan menatap mata Yudha


"Papi benar, Vio sedang sangat terpukul. Jika aku ikut lemah dan terpuruk, maka apa yang akan terjadi dengannya? Maafkan aku pih, aku tidak bisa melindungi keluargaku"


Leo kembali tertunduk menyesal karena tidak dapat melindungi Lea


"Kita tidak tahu kalau ini akan terjadi. Yang pasti orang yang menyebabkan ini semua harus mendapatkan hukuman yang setimpal"


Yudha bicara dengan sorot mata yang tajam. Meskipun semua murni karena kecelakaan, tapi mereka harus tetap mendapatkan hukuman yang sesuai. Jika ini bukan kecelakaan murni, maka sudah bisa dipastikan kalau kalau keluarga Kusuma akan menemukan dalang dibalik semua ini dan membalas mereka dengan setimpal


"Lian, kabari semuanya mengenai kepergian Lea. Kita akan segera membawanya pulang"


Yudha beralih pada Lian setelah bicara dengan Leo


"Baik kek"


Lian pun mulai menghubungi yang lainnya dan mengatakan kalau jenazah Lea akan dibawa pulang beserta bayinya


"Apa?! Kak Lian bohong kan? Kakak bercanda kan?"


Lian menghubungi Radit terlebih dahulu sebelum yang lainnya


"Tidak mungkin. Saat aku meninggalkan rumah sakit dia baik-baik saja. Bagaimana bisa dia... ?"


Radit terdengar tak percaya dengan air amta yang mulai mengalir membasahi wajah tampannya


"Tenanglah dulu Dit. Kami akan bersiap-siap membawanya pulang kerumah utama. Akan ku ceritakan semuanya saat dirumah nanti"


Lian bicara dengan nada bicaranya yang tenang


"Hiks... hiks.. baiklah. Aku akan langsung pulang sekarang juga"


Radit yang sedang dikantorpun bergegas setelah menutup telepon dari Lian


"Ada apa Dit? Apa sesuatu terjadi?"


Tanya Candra yang sudah memutuskan bekerja dengan Radit setelah mereka lulus kuliah


"Aku harus pulang sekarang"


Radit menjawab sambil membereskan barang miliknya


"Tenang dulu. Katakan padaku ada apa?"

__ADS_1


Candra menahan tangan Radit yang terlihat gemetar saat memasukkan dokumen pentingnya ke dalam tas


"Kakakku... dia... kak Lian bilang... "


"Tenanglah. Katakan dengan pelan"


"Kak Lian menghubungiku. Katanya... kak Lea... telah meninggal"


Radit bicara disela isak tangisnya. Dia terlihat sangat kacau saat ini.


"Aku ikut denganmu. Aku tidak bisa membiarkanmu menyetir mobil sendiri dalam keadaan seperti ini"


Candra pun bergegas pergi dari ruangan Radit untuk merapikan barangnya.


***


"Tidak mungkin. Kamu bercanda kan Lian? Ini sama sekali tidak lucu"


Diaz yang diberitahu oleh Lian tidak percaya dengan apa yang dikatakannya


"Apa menurutmu aku bercanda dengan hal seperti ini? Kami akan membawanya pulang sekarang"


Lian langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Diaz lagi


"Apa benar... apa yang dia katakan?" Diaz masih terlihat tak percaya dengan apa yang dikatakan Lian dan dia masih berdiam diri dengan tatapan kosong memikirkan ucapan Lian


***


Dirumah sakit


Vio baru sadar setelah beberapa lama


"Ah! Lea! Dimana Lea?! Aku ingin menemui Lea!"


Vio langsung berusaha bangun begitu dia membuka mata


"Sayang, tenanglah!" Leo dengan lembut berusaha menenangkan Vio


"Kak Leo... Lea kita... apa yang harus kulakukan sekarang? Kita sudah kehilangan Lea kita... hiks... hiks... hiks"


Vio kembali menangis begitu dia memikirkan Lea


"Aku tahu. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Aku juga merasakan hal yang sama. Tapi kita tidak bisa melakukan apapun. Ini sudah jadi takdir untuk anak kita. Kita harus bisa merelakannya pergi. Mungkin ini lebih baik juga untuk Lea. Jadi dia tidak akan merasa sedih karena kehilangan Galen"


Vio terdiam mendengar ucapan Leo. Bukan karena dia mengerti dengan ucapannya melainkan ia masih tak dapat menerima apa yang terjadi pada Lea

__ADS_1


__ADS_2