Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Dia Tidak Akan Menggigit Saudaranya Sendiri


__ADS_3

Sani dan suami Astria menatap heran pada Adnan. Dari wajah mereka tersirat rasa ingin tahu yang cukup tinggi


"Itu ... aku hanya takut jika Pras merasa depresi dengan apa yang terjadi padanya sehingga membuatnya kehilangan akal sehat" Adnan kembali membuat alasan dengan wajah yang terlihat pucat karena panik


"Apa kamu yakin hanya itu? Kamu tidak sedang menyembunyikan sesuatu dari kami, kan?" Sani berusaha menekan sang suami agar dia mengatakan yang sebenarnya


"Untuk apa aku berbohong? Itu sama sekali tidak ada untungnya buatku?" Adnan berusaha untuk kembali bersikap tenang agar membuat Sani dan Perta percaya


"Baiklah aku percaya padamu" Sani akhirnya mempercayai sang suami, lain halnya dengan suami Astria, Petra. Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Adnan. Petra menatap Adnan dengan sorot mata penuh kecurigaan


"Apa benar dia hanya khawatir? Kenapa sikap Adnan dan Astria terasa aneh ya?" Petra berpikir keras mengenai apa yang menurutnya aneh namun sudah pasti Adnan dan Astria tidak akan memberikan jawaban yang memuaskan untuk menghilangkan rasa penasarannya


"Aku harus mengawasi mereka berdua. Pasti mereka melakukan sesuatu dibelakang kami"


***


"Kak Diaz, kak Cheva, kak Lian, sebenarnya apa yang kalian rencanakan?! Kenapa kalian tidak memberitahuku?! Aku ini seperti orang bodoh saja yang hanya jadi patung diantara kalian bertiga! Kalian bilang akan membiarkan aku yang membalas mereka tapi kalian bergerak sendiri tanpa memberitahuku!"


Radit terus menggerutu kesal dan berteriak pada Lian, Cheva dan Diaz untuk melampiaskan amarahnya setelah pulang dari rumah sakit. Diaz, Lian dan Cheva tetap diam dengan sikap mereka yang tenang untuk menghadapi Radit yang sedang marah.


"Sudah selesai? Kami memang bermain dengan cara kami sendiri. Kak Diaz bermain dengan perusahaan mereka aku hanya ingin bermain dengan anak Pras dan sekarang kamu bisa bermain dengan anak dari Adnan. Ini data yang sudah kak Lian kumpulkan untukmu. Namanya Hasna dan Rama. Hasna gadis yang cantik tapi dia sombong. Sedangkan Rama lebih pendiam tapi dia juga suka memberontak.  Kenapa tidak kamu taklukkan saja dia?" Cheva menyarankan dengan senyumnya yang terlihat polos


"Aku tidak sudi mendekatinya. Apa tidak ada cara lain?" Radit kembali tenang dan bertanya dengan nada yang dingin


"Kamu bilang ingin menggunakan cara sendiri? Kenapa masih bertanya pada kami?" Lian bicara dengan sikapnya yang dingin dan acuh  tak acuh membuat Radit mengerucutkan bibirnya kesal


"Aku hanya minta pendapat kalian sebagai orang yang lebih tua" Jawab Radit sinis sambil memalingkan wajah dari mereka bertiga


"Apa kamu bilang?! Kami tua?! jika kami tua, kenapa kamu tidak memiliki sopan santun pada kami, hah?" Cheva terlihat marah saat Radit mengatainya tua, namun itu hanya kemarahan yang biasa diantara mereka


"Kak Cheva memang sudah tua. Kakak lupa kalau kakak sudah punya  anak remaja?"


"Kedua anakku memang sudah remaja, tapi aku masih muda!"

__ADS_1


"Haah ... mulai lagi. Lian, coba tenangkan singa betinamu" Diaz menghela napas panjang melihat perdebatan Radit dan Cheva yang sepertinya memang tidak pernah ada habisnya


"Biarkan saja. Dia tidak akan menggigit saudarnya sendiri" Lian menjawab dengan senyum tipis sambil menatap Radit dan Cheva


***


Kenzo, Kenzie dan Risha sedang jalan-jalan di mall karena mereka bosan dengan akhir pekan dirumah. Namun meskipun mereka sedang menghabiskan waktu sambil berbincang di kafe, tetap saja Kenzo sibuk dengan ponselnya


"Zo, apa kamu tidak bisa sebentar saja melepaskan ponselmu?" Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang


"Tidak bisa. Tenang saja, aku mendengarkan apa yang kalian bicarakan" Jawab Kenzo dengan sikap yang dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya


"Apa kalian tahu apa yang sedang dikerjakan oleh orang tua kita? Sepertinya ini ada sangkut pautnya dengan kematian tante Lea" Risha bertanya dengan nada bicara yang tenang dan penuh rasa ingin tahu


"Aku tidak tahu. Tapi sepertinya mami dan papi memang sedang sangat sibuk. Jika mereka mengatakan ingin bermain, itu artinya ada keluarga yang akan jatuh" Kenzie menjawab dengan sikap tenang dan senyum yang ramah


"Tidak perlu ikut campur urusan mereka. Itu hanya akan membuat kalian pusing. Urus saja masalah sekolah kalian. Toh kita baru masuk sekolah menengah pertama. Sepertinya masalah sekolah juga akan merepotkan" Kenzo bicara tanpa memalingkan wajahnya dari ponsel


"Tidak sama sekali. Siapa juga yang berani menggangguku"


"Tentu saja tidak ada yang berani mengganggumu. Pekerjaanmu hanya main game saja"


"Biarpun aku suka main game tapi nilaiku juga tidak pernah jatuh. Beda dengan kamu yang selalu bisa aku kalahkan"


"Kamu!"


Kenzie hanya diam saja karena sudah terbiasa dengan perdebatan antara Kenzo dan Risha. Mereka sama halnya seperti Cheva dan Radit


"Ah aku malas berdebat denganmu. Aku ke toilet dulu!" Risha yang kesal beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki menuju toilet


"Kamu ini tidak bisa mengalah pada Risha? Kita dibesarkan bersama tapi aku bingung karena kamu dan dia tidak pernah bisa rukun" Kenzie berusaha menasehati Kenzo agar sedikit lebih lembut pada Risha


"Justru karena dia saudaraku jadi aku bersikap baik padanya. Jika dia tidak dekat denganku mungkin aku tidak ingin bicara dengannya sama sekali" Kenzo tetap menjawab dengan tenang dan dingin

__ADS_1


"Haah... seperti itu kamu bilang baik? Lalu bagaimana kalau kamu kejam?" Lagi-lagi Kenzie menghela napas panjang dengan sikap kembarannya. Meskipun mereka kembar, jelas sekali sifat mereka sangat bertolak belakang


***


Saat Risha berjalan ke toilet dengan wajah kesal. Dia melihat ada seorang anak gadis seusianya sedang diganggu oleh dua orang pemuda di dekat toilet.


"Lepaskan! Kalian jangan macam-macam! Kalau tidak, aku akan teriak!" Gadis itu mengancam salah satu pemuda meskipun dari wajahnya terlihat kalau dia sangat ketakutan


"Hei, kami tidak ingin mengganggumu. Hanya saja pinjamkan uangmu pada kami. Nanti akan kami ganti" Ujar salah satu pemuda


"Aku tidak punya uang" Teriak anak perempuan itu yang kini terlihat akan menangis


"Tidak usah pelit-pelit. Ayo berikan kami uangnya" Pemuda itu tetap memaksa dengan menghimpit anak perempuan ke dinding


"Kalian tidak tahu malu ya? beraninya mengeroyok anak gadis. Jika ingin uang, kenapa tidak minta ke orang tua kalian saja atau kalian juga bisa mengemis dijalan!" Mereka menoleh mendengar suara di belakang mereka


"Risha?" Gadis itu memiringkan kepalanya dan melihat Risha. Rupanya dia adalah Ilana


"Risha, sebaiknya kamu pergi. Jangan bahayakan diri sendiri" Ujar Ilana memperingati Risha


"Siapa kamu?! Tidak perlu ikut campur urusan kami!" Ujar salah satu pemuda yang sejak tadi hanya memperhatikan


"Tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya tidak suka kalian bersikap kasar pada anak perempuan. Apalagi gadis itu temanku. Kalian seperti pengecut saja" Risha bicara dengan nada yang tenang


"Berani sekali kamu bilang kami pengecut!" Ujar pria itu lagi


"Hei ... jangan kasar padanya. Dia hanyalah gadis kecil. Wajahnya cantik juga, bagaimana kalau kamu saja yang berikan kami uang?" Ujar pemuda yang sejak tadi menjaga Ilana agar tidak kabur


"Aku memang punya uang, tapi siapa yang sudi memberikan uang pada brandalan seperti kalian berdua?" Risha tetap tenang dengan nada bicaranya yang sedikit manja


"Kamu ya?!"


"Hei. Berani kamu melukai saudaraku!"

__ADS_1


__ADS_2