
Keesokan paginya video pak Gustian langsung viral dan menjadi trending topik. Video itu sudah ditonton hampir 1000 kali hanya dalam waktu semalam.
Tok tok tok
Berkali kali-kali pintu kamar hotel pak Gustian di ketuk namun tidak ada jawaban
Ting nong ting nong
Bel pun berulang kali ditekan tapi tetap tidak ada jawaban
Tok tok tok
Pintu pun diketuk semakin keras
"Ya, ya sebenatar! Siapa yang pagi-pagi begini sudah mengetuk pintu keras sekali?" Gumam pak Gustian yang baru saja bangun bahkan masih mengucek matanya sendiri sambil berjalan untuk memperjelas penglihatannya
Ceklek
"Apa maksud video itu?!" Seorang wanita langsung menerobos masuk begitu pak Gustian membuka pintu
"Video apa sayang?" Tanya pak Gustian yang pura-pura tidak tahu
"LIhat Ini!"
Bugh
Sebuah ponsel dileparkan tepat pada dada pak Gustian. Disana sudah ada video pak Gustian yang diunggah oleh Kenzo semalam
"I-ini bohong, sayang. Aku sama sekali tidak melakukan ini. Tidak mungkin aku mengkhianati istriku yang cantik" Pak Gusrian bicara sambil tersenyum lembut untuk meyakinkan sang istri
"Bukti apa yang kamu miliki kalau video itu palsu?" Tanya sang istri dengan wajah yang masih kesal
"Itu … aku sama sekali tidak mengenal gadis dalam video itu. Dia seorang artis, bisa saja seseorang memanfaatkan aku untuk menjatuhkannya"
Istri pak Gustian sepertinya percaya dengan apa yang dikatakan suaminya. Dia terdiam seakan memikirkan apa yang dikatakan Gustian. Tanpa dia tahu pak Gustian tersenyum dibelakangnya
"Jadi menurutmu, ini persaingan sesama artis untuk saling menjatuhkan?" Tanya sang istri dengan sorot mata tajam dan dahi mengernyit
"Ya, sepertinya begitu" Pak Gustian mengangguk dengan cepat mengiyakan ucapan sang istri
"Siapa yang menjebak kalian?" Tanya sang istri lagi semakin penasaran
"Safira. Dia sedang bersaing dengan Yulita untuk mendapatkan sebuah peran. Aku yakin kalau dia adalah pelakunya"
__ADS_1
"Safira? artis muda berbakat yang saat ini sedang naik daun? Untuk apa dia melakukan itu padahal banyak film dan drama yang ditawarkan padanya? Dia juga menjadi incaran para sutradara untuk film yang akan mereka garap" Istri pak Gustian ingin memperjelas safira yang dumaksud
"Benar, Safira yang itu. Aku tidak tahu kenapa dia melakukan semua itu" Ujar pak Gustian membela diri
"Kalau begitu, aku harus menemuinya!" Istri Gustian pun beranjak pergi dari kamar hotel meninggalkan suaminya sendiri
***
Sementara itu di negara A
"Hai Kenzie. Kamu ada waktu tidak? Aku punya 2 tiket untuk pameran seni.. Apa kamu mau menemaniku?" Lusi berjalan mendekati Kenzie dan Risha yang sedang berbincang bersama. Dia langsung bertanya pada Kenzie setelah dia selesai mennyapanya
"Pameran seni? Pameran siapa?" Kenzie bertanya dengan ramah dan senyum tipis terlihat diwajah tampannya
"Lian, sangat sulit mendapatkan tiketnya. Kamu kenal dia kan? Dia pelukis sekaligus pebisnis terkenal dinegara ini. Aku sudah memesan tiketnya dari lama. Jadi tolong temani aku ya?" Saat Lusi sedang menjelaskan tentang Lian, Kenzie dan Risha saling menatap dan berusaha menahan senyum mereka
"Apa hanya ada 2 tiket? Aku tidak mungkin pergi tanpa Risha" Ujar Kenzie dengan wajah kecewa
"Maaf, aku hanya bisa mendapakan 2 tiket saja. Jadi tidak mungkin Risha ikut dengan kita" Lusi pun menunjukkan wajah sedih dan menyesal ketika menjawab Kenzie
"Tidak papa Zie, kalian saja yang pergi. Lagipula aku harus membahas makalah dengan pak Panji. Kami sedang menyusun makalah baru untuk persentasi nanti" Risha menjawab Kenzie dengan lembut, namun sorot matanya menatap sinis pada Lusi
"Kamu yakin tidak mau ikut dengan kami?" Risha menggelengkan kepala menanggapi Kenzie dengan bibir mengerucut. Kemudian Kenzie mendekati Risha dan berbisik padanya
"Apa kita beri dia kejutan saja disana? Kamu bisa datang dan membuat dia malu" Ujar Kenzie dengan senyum tipsi dan sorot mata yang licik
"Benar juga, tapi aku benar-benar malas pergi berdua dengannya. Ah, katakan saja kalau dia teman ayahmu" Risha sejenak berpikir kemudian mengangguk setuju
"Kalau begitu aku akan menyusulmu kesana nanti. Kamu nikmati dulu saja jalan-jalan berdua dengannya. Karena setelah aku datang, tidak akan ada lagi kesempatan untuk kalian berduaan"
Kenzie tersenyum dan mengangguk
"Kalau begitu , sampai ketemu disana"
"Dah Risha. Sampai jumpa" Ujar Lusi sambil menggandeng Kenzie. Risha melambaikan tangan pada mereka berdua
"Tolong lepaskan tanganmu. Tidak baik dilihat orang-orang" Ujar Kenzie sambil menepis pelan tangan Lusi yang menggandengnya
"Maafkan aku. Aku hanya senang karena kamu mau menemaniku melihat pameran itu" Kenzie tersenyum mendengar ucapan Lusi. Mereka pun pergi menggunakan mobil Kenzie
Tak berselang lama mereka tiba di galeri Lian. Kenzie berpura-pura seolah dia tidak tahu mengenai galeri sang ayah
"Akhirnya kita sampai. Ayo masuk!" Ajak Lusi dengan ceria
__ADS_1
"Ya, ayo!" Kenzie dan Lusi pun beranjak masuk ke dalam galeri.
Yang menerima tiket memang pekerja baru, namun Jay juga ada disana dan memantau keadaan galeri. Dia melihat Kenzie yang hari ini datang bersama seorang gadis dan terdiam menatapnya. Kenzie meletakkan jari telunjuknya dimulut sebagai kode agar Jay tidak memberitahu Lusi mengenai dia yang sebenarnya
"Zie, bagus kan? Aku sangat sulit mendapatkan tiket untuk pameran ini loh. Beruntung ada saudaraku yang mengenal Lian. Jadi bisa mendapatkan 2 tiketnya" Zie hanya tersenyum mencibir mendengar apa yang dikatakan Lusi
"Benarkah? Kamu tidak tahu kalau Risha... "
"Kenapa harus membicarakan Risha? Bisa tidak kalau sekarang kita tidak perlu membahas dia dulu? Kita nikmati dulu saja waktu kita berdua. Toh kamu sering sekali menghabiskan waktu dengannya. Jadi sekarang aku hanya ingin membahas tentang kita berdua" Lusi bersikap manja pada Kenzie dengan menggenggam tangannya dan menyadarkan kepalanya di pundak Kenzie
"Sepertinya aku melihat Risha" Ujar Kenzie pada Lusi
"Apa? Risha? Mana mungkin dia mendapatkan tiket masuk untuk pameran seni ini? Tiket pameran seni ini sangat terbatas, tidak mudah untuk mendapatkannya" Lusi terlihat bangga karena dia bisa mendapatkan tiket pameran Lian
"Itu benar Risha. Risha!" Kenzie berteriak memanggil Risha
"Hai!" Risha menanggapi Zie dengan lambaian tangan dan berjalan mendekatinya
"Bagaimana kamu bisa dapat tiket masuk kesini?" Tanya Lusi dengan nada sinis
"Karena galeri ini milik om Lian" Jawab Risha dengan sikap yang tenang
"Jangan sembarangan bicara! Seperti kamu mengenal Lian saja!" Jawab Lusi lagi
"Memang aku mengenalnya. Kenapa?" Risha pun menjawab dengan sikap yang tetap tenang
"Tidak mungkin. Lian itu tidak punya saudara disini. Jadi tidak mungkin kamu mengenalnya"
"Tapi kan keluarga istrinya ada disini. Dan kamu tidak tahu kalau om Lian dan pak Diaz itu.... berteman?" Risha berusaha menahan diri dengan sikap sombong Lusi
"Maksudmu kamu mengenal keluarga Kusuma? Itu lebih tidak mungkin lagi!" Lusi terus saja bersikap sinis dan sombong pada Risha. Kenzie hanya diam dengan menyilangkan tangan di dada memperhatikan perdebatan Lusi dan Risha
"Memang aku mengenal mereka. Bagaimana?"
"Kamu itu semakin lama semakin menyebalkan ya. Zie, bagaimana kamu bisa bertahan dengan Risha selama ini? Dia begitu sombong dan rendahan dengan mengaku-ngaku mengenal keluarga Kusuma"
Plak
Sebuah tamparan mendarat dengan keras dipipi Lusi
"Kamu berani menamparku?!" Bentak Lusi pada Risha sambil memegang pipinya yang ditampar Risha
"Kamu yang duluan, berani mengataiku Rendahan! Kamu pikir kamu ini siapa berani bicara begitu padaku?! Zie, jangan pernah berhubungan dengan gadis ini aku sama sekali tidak suka!" Ujar Risha yang kesal
__ADS_1
"Tentu saja, dia sama sekali tidak pantas berada diantara kita. Ayo pergi! Jangan buang energimu!" Zie menjawab Risha dengan senyum kemudian beranjak pergi meninggalkan Lusi
"Awas kamu Risha. Aku akan buat kamu malu!" Gumam Lusi dengan sorot mata yang tajam