
Kenzie dan Noey pergi menemui Deby pada saat jam istirahat kantor. Dia sengaja beralasan untuk makan siang bersama dengan mantan sekertarisnya itu.
"Sepertinya belum lama ini kita tidak bertemu. Apa pak Kenzie merindukan saya setelah saya berhenti dari perusahaan?" Deby bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Dia terlhat cantik dengan pakaian casual yang dia kenakan.
"Bagaimana kabarmu? Apa sudah dapat pekerjaan baru? Oh ya aku lupa kalau aku telah memasukkan mu ke dalam black list perusahaan Kusuma, jadi agak sulit untuk dapat pekerjaan dibagian perkantoran, iya kan?" Kenzie bicara dengan nada mencibir dan sikap yang tetap tenang.
Deby terdiam dengan wajah sinis setelah mendengar pertanyaan Kenzie.
"Sebenarnya ada perlu apa anda meminta saya datang kemari? Anda bukan ingin menyindir saya secara langsung, kan?" Deby terlihat kesal setelah Kenzie menyindirnya secara langsung.
"Baiklah, kita langsung saja bicara pada intinya. Apa kamu kenal dengan pak Teguh? Apa hubungan kalian berdua?"
Deby kembali terdiam mendengar pertanyaan Kenzie.
"Teguh? Bagaimana dia bisa tahu? Apa mereka sudah tahu semuanya? Tidak mungkin". Deby termenung sesaat memikirkan pertanyaan Kenzie
"Kenapa diam saja? Apa tebakanku benar? Kalian pasti memiliki hubungan yang dekat, kan?" Kenzie kembali bertanya dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin. Dia menatap Deby dengan tatapan penuh selidik.
"Ti-tidak. Saya sama sekali tidak kenal dengannya. Kenapa anda malah bertanya pada saya?" Deby pun menjawab pertanyaan Kenzie dengan gugup namun masih tetap memilih untuk menyembunyikannya.
"Apa kamu yakin? Lalu bagaimana bisa kalian saling menghubungi satu sama lain pada waktu ini?" Kenzie menunjukkan rekap panggilan yang dilakukan Teguh dan juga Deby.
"Bapak menyadap telepon saya?!" Deby sangat terkejut dan terlihat kesal setelah melihat rekapan panggilan telepon yang ditunjukkan Kenzie padanya.
"Jika aku menyadap teleponmu maka aku tidak perlu menanyakan hal-hal yang tidak penting seperti ini. Aku pasti sudah tahu jawabannya. Jadi sekarang jawab dengan jujur. Apa kalian berdua saling mengenal satu sama lain?" Kenzie menanggapi dengan sikap yang dingin dan serius.
"Jawabanku tetap sama. Aku tidak mengenalnya". Deby menjawab pertanyaan Kenzie sambil memalingkan wajahnya dan nada yang sinis.
Kenzie terus menatap Deby dengan tatapan curiga
"Benarkah? Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakan apa-apa, tidak masalah. Aku masih bisa tahu semuanya meskipun kamu tidak memberitahuku".
__ADS_1
Kenzie yang sebelumnya menatap Deby dengan tatapan curiga, kini mulai acuh tak acuh. Dia pun kembali bersikap tenang dan beranjak pergi dari hadapan Deby diikuti Noey dibelakangnya, karena percuma saja jika mereka tetap berada disana.
"Kita tidak memiliki kesempatan untuk meletakkan penyadap ini padanya. Kamu harus meminta seseorang untuk terus membuntuti dia kemanapun!".
Kenzie bicara dengan sedikit berbisik pada Noey yang kini berjalan berdampingan. Kedua pemuda itu terlihat gagah dengan setelan jas yang mereka kenakan.
"Sesuai permintaanmu sebelumnya. Sudah ada seseorang disini yang akan terus mengikuti pergerakan Deby".
Noey sedikit melirik pada seorang pemuda yang duduk tidak jauh dari Deby sambil menikmati secangkir kopi dihadapannya.
"Bagus, Ayo kita pergi. Kita juga harus bertemu dengan perusahaan pesaing kita" ujar Kenzie dengan sikap yang tenang dan senyum menyeringai.
"Baik". Mereka berdua pun berjalan keluar meninggalkan restoran.
Deby masih terus menatap punggung Kenzie yang semakin menjauh. Setelah itu dia menghubungi seseorang dalam kontak teleponnya.
Tuut tuut tuut
"Halo, nona Deby. Ada apa lagi anda menghubungi saya?" Akhirnya panggilan teleponnya tersambung dan dari ujung telepon terdengar suara seorang pria yang sedikit berat.
"Pak Teguh, akhirnya anda menerima telepon dariku" Deby bicara dengan lega seolah sebuah beban baru saja terangkat.
"Apa yang terjadi?" Teguh bertanya dengan nada bicara yang terdengar heran. Tidak seperti Deby yang sepertinya gelisah dan ketakutan, Teguh sangat tenang saat bicara dengan Deby.
"Kenapa anda membuat pengumuman seperti itu? Anda tahu kan desain itu milik perusahaan mana?!" Deby langsung bertanya dengan kesal dan panik tanpa basa-basi terlebih dahulu. Dia sama sekali tidak memperhatikan kalau saat ini sedang berada ditempat umum.
"Tenanglah. Itu adalah strategi pasar. Aku melakukan itu agar semua orang mulai penasaran dengan produk baru perusahaan kami, sehingga mereka akan menunggu sampai produk baru kami rilis".
Teguh menjelaskan maksud perusahaannya mengadakan konferensi pers mengenai rencana pengeluaran produk baru, dimana dia menggunakan desain dan rancangan milik perusahaan Kenzie.
"Tapi anda mengambil resiko terlalu besar. Anda tidak tahu bagaimana pak Kenzie. Dia itu adalah putra dari Cheva! Dan sekarang dia curiga pada kita. Seharusnya anda langsung rilis saja produk itu, dengan begitu mereka tidak akan bisa melakukan apapun!" Deby berusaha memperingatkan kalau Teguh telah melakukan kesalahan besar kali ini.
__ADS_1
"Aku tahu bagaimana Cheva itu, tapi aku tidak tahu bagaimana putranya. Dia itu masih sangat muda, jadi tidak mungkin dia berani mengambil langkah ekstrem seperti ibunya, kan? Lagipula ... jika kamu takut, kenapa kamu menjual desain itu padaku?". Teguh tetap bersikap tenang menanggapi Deby. Bahkan dia seakan tidak peduli jika Kenzie membalasnya.
"Saya ... Saya ..."
"Sudahlah, aku sudah memberikan uang sesuai dengan jumlah yang anda minta, jadi kerjasama kita sudah selesai. Sekarang nona Deby tidak perlu ikut campur lagi dengan apa yang akan aku lakukan dengan desain itu" ujar Teguh yang mulai kesal dengan kekhawatiran Deby yang berlebihan.
"Baik. Kalau begitu anda jangan salahkan saya jika terjadi sesuatu. Seperti yang anda katakan tadi, kerja sama kita telah selesai
Kita tidak memiliki hubungan apapun lagi" ujar Deby yang sudah kesal dan kini dia sudah tidak mau terlibat dengan Teguh maupun Kenzie.
"Ya, senang bekerjasama dengan anda. Selamat tinggal" Teguh langsung menutup telepon dari Deby begitu saja
"Kuharap memang aku tidak terlibat lagi dengan masalah ini. Tapi sepertinya ... itu tidak mungkin" gumam Deby yang telah meletakkan kembali ponselnya diatas meja.
Tanpa Deby sadari, pemuda suruhan Noey telah menghubungi Noey dan mengatakan semua yang dia dengar pada Noey dan juga Kenzie.
"Jadi memang dia yang melakukannya? Apa kamu sudah selidiki perusahaan itu berserta isinya? Apa ada sesuatu yang menarik?" Kenzie bicara dengan seringai tipis dibibirnya. Ada sesuatu yang berbeda dari sorot matanya.
Sementara Noey, dia terpaku mendengar kata 'sesuatu yang menarik' keluar dari mulut Kenzie.
"Apa mereka memang selalu mengibaratkan sebuah masalah dengan permainan? Kenapa dia bilang sesuatu yang menarik? Apa yang akan dia tunjukkan?" pikir Noey dengan raut wajah yang bingung.
"Ada apa denganmu? Kenapa diam saja?" Kenzie bertanya setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari asiatennya itu. Dia menatap Noey penuh tanya.
"Hal menarik seperti apa yang kamu makaud?" tanya Noey meminta penjelasan dari Kenzie.
"Ya seperti masalah atau sesuatu yang buruk mengenai perusahaan itu. Aku akan buat pemimpin perusahaan itu menyesal dengan langkah yang telah dia ambil. Ini juga akan jadi kesempatan untukku menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya".
Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam. Ada senyum tipis dibibirnya yang membentuk seringai sehingga membuat dia terlihat menyeramkan.
Noey kembali terpaku menatap Kenzie.
__ADS_1
"Sejak kapan Kenzie berubah jadi seperti ini? Apa masalah cintanya dengan Meisya membuat dia sepenuhnya menjadi seorang Kusuma yang dingin dan terlihat menyeramkan walau sedang tersenyum?"