Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Mahasiswi Baru Dikampus Kenzie Dan Risha


__ADS_3

"Aku memang dengar kalau kakek dan nenekmu dikenal sebagai pasangan penindas, tapi aku baru lihat sendiri bagaimana mereka bertindak"


Rendra dan Kenzo baru saja tiba dirumah setelah menyelesaikan masalah dengan Ilana dan ayahnya di kantor polisi. Rendra bicara sambil menyandarkan tubuhnya di sofa


"Itulah sebabnya mereka dikenal dengan sebutan pasangan penindas. Meskipun nenek Ji seorang wanita, tapi dia lebih kejam daripada kakek Bi. Mungkin saja mamiku mewarisi sifatnya. Tapi kenapa mami tidak bersikap tenang seperti nenek ya?" Kenzo bicara dengan sikap yang acuh tak acuh yang hanya ditanggapi Rendra dengan menganggkat kedua bahu


Kenzo menoleh pada Jam dinding sambil memegang ponselnya


"Sudah jam 1 malam. Aku tidak mungkin menghubungi Kenzie dan Risha. Besok lagi saja lah. Sebaiknya kita istirahat. Besok aku masih harus pergi ke kampus"


"Ya, aku juga lelah sekali menjadi umpan untuk membuat mereka berkumpul semua" Rendra bicara sambil memegangi lehernya yang terasa pegal


"A iya, ada yang ingin aku tanyakan. Kamu berencana menyelesaikan kuliahmu berapa lama? Tentu butuh perhitungan untuk bisa mencapai apa yang kamu targetkan"


"Hemn ... mungkin kurang lebih dalam waktu 1 tahun lagi. Aku tidak ingin lama-lama. 2 tahun lebih sepertinya cukup untukku menyelesaikan kuliahku" Kenzo menjawab dengan sangat tenang, seakan itu bukan masalah besar untuknya


"3 tahun untuk 2 gelar? Kasihan, otakmu pasti benar-benar bekerja keras" Rendra menggelengkan kepala sedikit heran dengan apa yang dikatakan Kenzo


"Otaknya justru akan senang karena selalu di asah. Tidak seperti otakmu yang hanya memikirkan main dan kabur dari keluargamu"


"Kenapa setiap pembicaraan kita selalu mengarah pada keluargaku ya? Aku tidak percaya jika kamu tidak mendapatkan imbalan apapun dari mereka" Rendra bicara dengan nada yang sedikit mencurigai Kenzo


"Terserah kamu saja" Kenzo menjawabnya sambil berpaling dari Rendra dan melangkah ke kamarnya


***


"Zie, apa semalam Kenzo menghubungimu?" Risha menunggu jawaban Kenzie dengan dahi mengernyit. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus


"Tidak ada. Semalam kan kita sama-sama menunggu telepon Zo sampai tengah malam"


Risha menganggukkan kepala membenarkan jawaban Kenzie


"Kamu benar juga. Kira-kira kenapa dia semalam tidak menghubungi kita ya?"


"Entahlah, aku juga tidak tahu" Jawab Kenzie sambil mengangkat kedua bahu secara bersamaan

__ADS_1


Setelah beberapa lama akhirnya mereka tiba dikampus. Kenzie membantu Risha turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan menuju kelas. Disana ada beberapa orang yang terlihat sedang berbincang dan membicarakan mahasiswi baru


"Ya, tadi aku melihatnya. Katanya dia itu seorang selebgram"


"Benar. Dia benar-benar cantik"


"Dia masuk jurusan apa ya?"


"Siapa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya dari tadi yang kita dengar itu orang yang sama?" Risha bertanya pada Kenzie sambil menoleh kesana kemari


"Mana aku tahu. Aku kan juga baru datang denganmu. Jadi aku juga tidak tahu siapa yang mereka bicarakan" Zie menjawab dengan sikapnya yang tenang


"Aku benar-benar penasaran Zie, siapa yang mereka bicarakan?" Risha merengek manja pada Kenzie


"Aku juga tidak tahu Sha. Nanti juga kita pasti tahu siapa yang mereka bicarakan. Jadi kamu tenang saja. Kita masih banyak waktu kuliah disini, bukan cuma hari ini saja" Zie terlihat kesal karena Risha bertanya sambil menggoyangkan tangan Kenzie berkali-kali


"Benar juga. Sudahlah kita ke kelas saja!"


"Risha!"


"Sstt, diam! Iya pak, ada apa?" Tanya Risha setelah dia menyenggol Kenzie agar diam


"Ini materi makalah yang terakhir kali kamu cari. Bukannya kamu sedang membuat makalah ini?" Panji memberikan sebuah buku untuk digunakan Risha sebagai referensi makalahnya


"Oh iya pak. Terimakasih, kalau begitu saya dan Kenzie ke kelas dulu" Risha menganggukkan kepala dengan senyum sebagai bentuk rasa hormat


"Apa kamu tidak bisa mengabaikan dia saja? Aku benar-benar kesal setiap kali melihatnya" Ujar Kenzie dengan nada yang sinis


"Kalau begitu kita pindah saja dari sini? Jadi tidak perlu berurusan lagi dengannya, bagaimana?" Risha menyarankan dengan senyum yang lembut


"Benar, dia dosen kita. Hah, menyebalkan!"


"Sudahlah, lebih baik kita fokus pada kuliah kita, jadi kita tidak kalah dari Kenzo. Dia bilang akan menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 3 tahun. apalagi dia ambil 2 jurusan. Ah aku kesal membayangkannya" Keluh Risha dengan nada kesal


"Kamu sendiri bukannya ambil 2 jurusan?" Ujar Kenzie dengan senyum menggoda Risha

__ADS_1


"Kamu sendiri kan tahu, aku tidak bisa membagi waktunya. Kamu juga sama saja!" Risha pun tidak ingin kalah untuk mengejek Zie


"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya. Meskipun aku dan Zo kembar, tetap saja aku selalu kalah dari dia. Entah bagaimana otak kami tidak sama seperti wajah kami" Kenzie pun ikut mengeluh seperti Risha


"Hah sifat kalian saja berbeda. Tentu saja otak kalian juga tidak mungkin sama" Risha menjawab dengan acuh tak acuh


"Siapa itu?" Seorang gadis menunjuk pada Kenzie dan Risha


"Oh, itu Kenzie dan Risha. Mereka dari jurusan manajemen bisnis. Katanya mereka itu saudara jadi tidak terpisahkan" Salah satu mahasiswi menjelaskan pada gadis itu


"Dia sangat tampan. Kamu yakin kalau mereka hanya saudara?" Tanya gadis itu pada rekannya


"Tentu aja yakin. Itu yang semua orang bilang tentang mereka. Mereka itu selalu berdua, selalu nempel seperti prangko"


"Kalau begitu prangko itu harus dipisahkan supaya aku bisa masuk diantara mereka berdua" Ujar gadis itu dengan senyum manis dan sorot mata yang memiliki arti lain


"Apa aku boleh duduk disini?" Tanya salah seorang gadis pada Kenzie


Kenzie menoleh pada gadis itu


"Silahkan saja. Kursinya kosong kan?" Jawab Kenzie dengan senyum tipis kemudian kembali menoleh pada Risha dan berbincang dengannya


"Kenalkan, nama aku Lusi, Lusiana Rheinita" Gadis itu mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Kenzie


"Kenzie Lutherin" Kenzie pun menerima uluran tangannya dan berkenalan dengannya. Namun karena Lusi mengabaikan Risha, tentu saja Kenzie tidak menghiraukannya dan kembali berbincang dengan Risha


"Jangan abaikan gadis itu. Sepertinya aku akan punya saingan baru sekarang?" Bisik Risha dengan senyum menggoda Kenzie


"Tampangnya memang cantik. Tapi dia bukan tipeku. Tentu kamu ingat kan apa yang dulu pernah kita janjikan bertiga?" Tanya Kenzie dengan dahi mengernyit


"Tentu saja aku ingat. Yang jadi pasangan kita harus saling cocok dan mengerti dengan kita bertiga, karena kita bertiga tidak akan pernah bisa terpisahkan. Tapi Zie, mungkin nanti dia akan bisa mengerti dengan hubungan kita?" Jawab Risha dengan senyum manis yang mencibir


"Semua mahasiswi dikampus ini tahu kalau kita selalu bersama. Tidak mungkin kalau dia tidak tahu kalau kita dekat. Lagipula dengan dia mengabaikanmu itu artinya dia bukan orang yang ramah" Kenzie dan Risha terus saja berbisik dan mengabaikan Lusi hingga dia merasa kesal


"Ternyata memang benar prangko ini harus dipisahkan. Tidak akan baik jika mereka berdua terlalu nempel" Pikir Lusi dengan sorot mata yang tajam

__ADS_1


__ADS_2