
"Halo, dengan keluarga pak Rian?" Polisi langsung menghubungi keluarga Rian untuk mengabarkan bagaimana kondisinya saat ini.
"Benar, saya putrinya. Ini dari mana ya?" Pricilla yang saat ini menerima telepon dari polisi.
"Kami dari kepolisian ingin memberitahukan kalau pak Rian Kuswoyo saat ini sedang berada dirumah sakit" Polisi langsung memberitahu Pricilla apa yang terjadi.
"Apa?!" Pricilla terkejut hingga dia berteriak lalu menutup mulutnya dan air mata mulai mengalir dari kedua matanya.
"Ada apa dengan papa saya? Kenapa dia bisa berada dirumah sakit?" Priscilla bertanya dengan panik pada polisi.
"Pak Rian terjatuh dari balkon sebuah restoran sore tadi. Sekarang dia dirawat dirumah sakit XX" Polisi sedikit menjelaskan mengenai apa yang terjadi pada Rian.
"Baik pak. Kalau begitu saya kesana sekarang. Terimakasih" Pricilla langsung menutup teleponnya dan menghubungi sang kakak
Tuut tuut tuut
Berkali-kali Pricilla menghubungi Fredi, namun dia tidak mengangkat teleponnya.
"Kak, angkat teleponnya" Pricilla bergumam dalam kepanikan dan isak tangisnya.
"Halo" Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya Fredi berhasil dihubungi
"Halo, kakak. Kenapa sejak tadi kakak susah sekali untuk dihubungi?" Pricilla sangat senang dan kesal begitu mendengar suara sang kakak. Dia pun bicara dengan antusias.
"Aku sedang bersama teman-temanku. Ada apa Cil? Kenapa suaramu terdengar sangat panik?" Fredi bertanya dengan sikap yang tenang karena dia tidak tahu apa yang terjadi dengan adiknya.
"Papa kak. Papa masuk rumah sakit" Kata Pricilla yang kembali menitikkan air mata
"Masuk rumah sakit? Apa yang terjadi pada papa?!" Suara Fredi pun terdengar panik saat mendengar kalau sang ayah masuk rumah sakit.
"Aku tidak tahu jelasnya bagaimana, tapi tadi polisi menghubungiku dan mengatakan kalau papa jatuh dari balkon sebuah restoran dan polisi yang membawanya kerumah sakit. Sekarag aku sedang dalam perjalanan kesana" Pricilla menjelaskan sambil duduk gelisah didalam taksi karena jalanan yang macet.
"Rumah sakit mana?"Fredi Bertanya dengan cepat
"Rumah sakit XX. Kakak cepat kesana ya. Nanti kita akan bertemu disana"
"Ya" Fredi dan Pricilla pun langsung menutup telepon mereka.
Setelah menempuh perjalanan panjang karena macet, akhirnya Priscilla tiba dirumah sakit. Dengan cepat dia belari masuk
"Permisi, pasien bernama pak Rian ada dimana ya?" Pricilla bertamya dengan panik pada bagian informasi
"Oh yang tadi dibawa kemari karena jatuh dari balkon?" Tanya suster itu memastikan
"Benar, saya putrinya. Dimana dia sekarang?" Pricilla menegaskan hubungan mereka
"Pak Rian berada diruang IGD, nona bisa langsung kesana"
__ADS_1
"Terimakasih" Pricilla langsung berlari menuju ruang IGD setelah suster memberitahu ruangannya.
"Maaf, maaf" Berkali-kali dia menabrak orang karena sangat tergesa-gesa dan panik. Kemudian, dari kejauhan terlihat ada 2 orang polisi yang sedang berjaga di depan ruang IGD
"Maaf pak, apa papa saya masih didalam?" Pricilla bertanya pada salah satu polisi
"Siapa nama ayah anda?" Polisi itu balik bertanya pada pricilla
"Rian, papa saya bernama Rian" Jawab Pricilla yang masih panik
"Ya. Pak Rian Kuswoyo masih ditangani di dalam" Polisi itu membenarkan kalau Rian ada didalam
"Bagaimana kondisi papa saya? Dan bagaimana bisa dia jatuh dari balkon?" Pricilla berusaha menghilangkan rasa penasarannya dengan bertanya pada polisi
"Kami tidak tahu bagaimana kronologi kejadiannya. Kita akan tahu semuanya setelah pak Rian sadar dan menceritakan semuanya"
"Tidaaaaakkk!!!!"
Pricilla. kedua polisi yang berjaga di depan, para suster juga pasien yang ada dirumah sakit sangat terkejut dan seketika semua menoleh kearah ruag IGD. Pricilla semakin panik mendengar teriakan sang ayah. Tak lama dokter keluar dari ruan IGD.
"Keluarga pak Rian?" Katanya mamanggill keluarga pasien
"Saya putrinya dok. Bagaimana keadaan papa saya? Kenapa dia berteriak seperti itu? Apa lukanya parah?" Pricila langsung mengajukan banyak pertanyaan dan menunggu jawaban dokter dengan wajah was was
"Saat pak Rian jatuh, tangannya kanannya tertimpa oleh tubuhnya dan membuat saraf tangannya mengalami kerusakan sangat parah, karena itu tangan kanan pak Rian ... tidak dapat digerakkan lagi"
"Apa tidak bisa lagi dipulihkan dok? Misalnya dengan terapi atau mungkin operasi?" Pricila berusaha mencari kemungkinan sang ayah sembuh.
"Maaf tidak bisa, karena yang rusak disini adalah jaringan sarafnya. Anda bisa mengurus administrasi agar kami bisa memindahkannya ke ruang rawat"
"Baik dok. Terimakasih"
Pricilla hanya bisa menundukkan kepala dengan raut wajah sedih karena sang ayah harus cacat selamanya. Dia menyadari kalau polisi masih terus berdiri dan menunggu sang ayah
"Maaf pak, apa masih ada yang harus dilakukan papa saya sampai anda berdua masih tetap berada disini?" Pricilla bertanya dengan raut wajah bingung
"Kami bertugas untuk mengawasi pak Rian agar tidak melarikan diri. Beliau telah melakukan beberapa tindak kejahatan, diantaranya penggelapan dana, pencucian uang dan beberapa kali upaya pembunuhan terhadap mendiang istri kedua pak Dirga dan juga Rendra, putranya"
Polisi menjelaskan dengan tenang apa tujuan mereka masih berada di rumah sakit.
Belum hilang rasa terkejutnya dari apa yang menimpa sang ayah, kini Pricilla kembali dikejutkan dengan penjelasan yang diberitahukan polisi mengenai kejahatan yang telah dilakukan sang ayah.
"Tidak mungkin! Papa saya tidak mungkin melakukan itu semua!" Pricilla berteriak tak percaya sambil menggelengkan kepalanya disertai derai air mata juga.
"Cilla!" Pricilla menoleh ketika mendengar suara yang familiar ditelinganya
"Kakak!" Pricilla langsung berlari dan berhambur ke pelukan sang kakak
__ADS_1
"Bagaimana keadaan papa?" Fredi bertanya pada Pricilla sambil mengusap punggung sang adik yang sedang menangis.
"Dokter bilang, tangan kanan papa tidak bisa digunakan lagi karena ada bagian sarafnya yang rusak, dan para polisi ini mengatakan … papa akan diselidiki atas beberapa kasus kejahatan" Pricilla menjelaskan disela isak tangisnya.
Fredi langsung melerai pelukan mereka dan menatap wajah Pricilla yang dipenuhi air mata.
"Diselidiki tas beberapa kasus kejahatan? Apa maksudnya?"
"Begini pak, saat kejadian jatuhnya pada Rian, kami menemukan beberapa lembar kertas yang akan menjadi bukti untuk kasus kejahatan pak Rian. Dalam lembar kertas itu berisi beberapa informasi mengenai penggelapan dana yang dilakukan pak Rian dan juga bukti pencucian uang. Ada juga draf mengenai upaya pembunuhan yang dilakukan pak Rian pada mendiang istri muda pak Dirga dan juga Rendra putranya. Disana tercatat kalau ayah anda bekerja sama dengan istri pertama pak Dirga"
Polisi menjelaskan dengan rinci mengenai tuntutan kejahatan yang dilakukan Rian.
Fredi terdiam dengan wajah bingung "Bagaimana mereka bisa tahu semua itu? Darimana mereka mendapatkan barang buntiknya. Tidak ada yang bisa jadi saksi karena semua yang terlibat telah papa bereskan"
Batin Fredi bergejolak. Dia berpikir dengan keras mengenai semua yang dikatakan polisi barusan.
"Lalu, apa yang akan dilakukan pada papa saya, pak. Papa masih sakit dan dia masih butuh pengobatan khusus"
Fredi berusaha menahan sang ayah agar tidak dibawa ke kantor polisi.
"Beliau akan jadi tahanan rumah sakit sampai sembuh. Selama itu, kami akan melakukan semua penyelidikan Jika terbukti bersalah maka semua aset akan disita. Setelah kesehatannya membaik, kami akan langsung membawanya ke rutan"
Pricilla dan Fredi saling menatap satu sama lain. Mereka tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan.
"Aset kami akan disita?!" Fredi dan Pricilla bertanya dengan bersamaan.
"Benar, jika terbukti pak Rian melakukan penggelapan dana dan pencucian uang, maka semua aset berharga akan disita.
Tak lama Rian dibawa keluar oleh beberapa suster untuk dipindahkan ke ruang rawat.
"Papa!" Fredi dan Pricilla langsung berjalan mendekati sang ayah yang tengah tertidur karena diberi obat penenang. Pricilla mengukutinya keruangan sedangkan Fredi mengurus administrasi. Polisi juga mengikuti Rian agar tidak lepas dari pantauan.
Drrt drrt drrt
ponsel Fredi beegetar dan itu panggilan dari Alan untuk memberitahu kalau besok ada rapat penting dengan dewan direksi.
"Halo. Maaf pak saya hanya ingin menginformasikan bahwa besok ada rapat penting dan anda tidak boleh terlambat untuk hadir" Alan memperingatkan Fredi untuk hadir pada rapar besok
"Baiklah, aku pasti hadir. Apa ada lagi yang harus diperhatikan?" Tanya Fredi memastikannya sebelum dia menutup teleponnya.
"Tidak ada pak. Hanya itu aja" Jawab Alan dengan sopan
"Kalau begitu sampai ketemu besok!"
"Baik pak, ingat anda tidak boleh terlambat. Selamat malam"
"Karena kalau anda terlambat pertunjukannya tidak bisa berlangsung meriah. Pak Rendra akan semakin lama dirumah sakit" Alan bicara kalimat terakhirnya setelah menutup telepon Fredi
__ADS_1