
"Alan, dimana Rendra? Kenzo bilang dia ada disini" Risha berlari dengan cepat begitu dia tiba dirumah sakit. Dia terengah-engah dan wajahnya juga terlihat sangat panik dengan keringat bercucuran.
"Pak Rendra berada di dalam. Kondisinya kritis karena luka dikepala dan dia juga kehilangan banyak darah"
Alan menjelaskan kondisi Rendra dengan sikap yang tenang.
"Risha"
Risha dan Alan menoleh ketika mendengar suara Bastian yang memanggilnya. Dia baru saja kembali dari toliet. Dengan langkah cepat Risha berjalan ke hadapan Bastian. lalu dia menarik kerah jas dengan keras
"Apa yang sebenarnya terjadi dipesta itu?! Bagaimana bisa kamu mengirimkan undangan padanya tapi kamu tidak bisa melindunginya?! Kamu sengaja ingin mencelakainya kan?! Apa kamu begitu haus akan harta ayahmu sampai kamu ingin mengorbankan nyawa orang yang kamu bilang adikmu, hah?! Apa itu masih belum cukup dengan hilangnya nyawa ibunya?!"
Risha berteriak dengan penuh kesal pada Bastian. Tatapannya menunjukkan kalau dia sangat marah pada Bastian atas apa yang terjadi pada Rendra
"Tenang dulu Sha. Aku bisa jelaskan semuanya" Perlahan Bastian melepaskan pegangan Risha dari kerahnya dan lalu dia kembali bicara
"Aku juga tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi, karena saat kejadian itu, aku sedang berbincang dengan saudaraku yang lain"
Bastian menjelaskan dengan sikap yang tenang dan kepala tertunduk karena menyesal
"Kamu tidak tahu? Kamu membawa Rendra masuk ke dalam kandang buaya tapi kamu meninggalkannya sendiri? Dan kamu dengan asyiknya berbincang dengan saudara tercintamu itu? Bastian, sebenarnya dimana otakmu?! Mereka itu saudaramu, bukan saudara Rendra, dan kamu juga tahu betul seberapa bencinya mereka pada Rendra. Tapi kamu dengan tenangnya membiarkan Rendra sendirian dipesta? Atau jangan-jangan ... ini hanya jebakan untuk Rendra? kamu sengaja membawa dia kesana kan?"
Risha menyeringai dengan sorot mata yang tajam. Nada bicaranya yang biasa tenang dan kadang tedengar sinis, kali ini terdengar dingin dan penuh ancaman. Dia terus menatap Bastian dengan tatapan curiga dan kebencian
"Tidak. Risha, aku tidak memiliki maksud seperti itu. aku membawa Rendra kesana karena memang om Rian yang mengundangnya dan saat aku bersamanya saudaraku yang lain memanggil untuk berbincang. Aku sudah bicara pada Renda. tapi dia tidak ingin ikut dan lebih memilih sendiri"
Bastian terlihat gugup dan dia berusaha meyakinkan Risha kalau memang dirinya tidak bersalah
"Dengar, Bastian. Aku tidak tahu yang kamu katakan itu benar atau tidak, tapi kamu tahu betul kalau Kenzo tidak akan membiarkan ini begitu saja. Dan jika memang benar kamu terlibat dengan kejadian ini karena masalah harta, akan kupastikan kalau kamu kehilangan semuanya. Aku tidak suka orang-orang yang haus akan kekuasaan. Bukan hal yang sulit untuk menghilangkannya dalam waktu satu hari. Kamu tahu betul seberapa berkuasanya aku"
Risha bicara dengan sangat dekat pada Bastian, nada bicara yang dingin dan sorot mata yang tajam mencerminkan karakter Risha yang kuat. Diapun berbalik pergi meninggalkan Bastian dan berjalan masuk keruang Rendra.
Alan yang sejak tadi berdiri disana hanya diam membeku melihat Risha yang sekarang ini. Selama ini dia hanya tahu Risha yang bersikap ceria dan ramah pada rekan kerjanya dan Risha yang sedikit manja dan suka mencari perhatian saat bersama dengan Rendra. Risha dengan aura membunuh yang tajam pertama kalianya dilihat oleh Alan dan juga Bastian
***
Risha berdiri tepat di depan Rendra. Air matanya mengalir ketika melihat pria yang dia cintai terbaring tak berdaya diatas ranjang rumah sakit. Kepalanya terikat perban, lehernya menggunakan penyangga, selang inpus terpasang ditangannya dan selang oksigen di hidungnya. Risha berjalan mendekati Rendra dan duduk disebelahnya. Dia menggenggam sebelah tangan Rendra dengan lembut
"Ren, aku disini. Kamu tahu, kalau kemarin adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku. Untuk pertama kalinya aku punya pacar dan itu adalah pria yang aku cintai. Hari ini pun aku lalui dengan terus tersenyum, karena memikirkan kencan pertamaku denganmu. Kamu bilang padaku kalau setelah pulang dari pesta, kamu akan menjemputku. Aku menunggumu, tapi kenapa aku malah mendengar hal yang mengejutkan? Aku malah mendapat kabar kalau kamu dilarikan kerumah sakit setelah jatuh dari balkon. Kamu tidak sengaja melompat hanya karena ingin segera menemuiku kan? Aku yakin kalau kamu tidak sebodoh itu"
__ADS_1
Risha terus bicara disela isak tangisnya. Sesekali dia tersenyum meskipun air mata juga terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"Ren kamu tahu, kalau Kenzo juga sangat marah ketika mendengar kamu jatuh dari balkon. Dia bilang kalau dia tidak akan membiarkan orang yang menyebabkan kamu jadi seperti ini. Kamu tahu kan bagaimana kalau Rendra sudah marah? Dia juga bilang kalau dia sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin besok pagi di tiba disini. Jadi Ren, sebaiknya kamu bangun sekarang sebelum Kenzo tiba, atau kamu mau mendapatkan pukulan dari Rendra karena membuatnya khawatir dan juga membuatku menangis?"
Risha terus bicara tentang banyak hal. Dia juga menceritakan mengenai Kenzo yang marah dan akan datang menjenguknya
"Kamu tidak ingin bangun? Kenapa kamu terus membuatku khawatir. hiks… hiks… hiks" Risha terus menangis dan kemudian membenamkan kepalanya disamping Rendra
***
Kenzie masih berada dirumah Meisya dan bersiap setelah selesai berlatih dengan pak Arseno
Tok tok tok
"Boleh saya masuk?" Tanya Meisya yang masih berdiri dibalik pintu
"Ya, masuklah" Kenzie mengizinkan dia masuk dengan nada bicara yang lembut
Meisya pun berjalan mendekat dan duduk diujung tempat tidur memperhatikan Kenzie yang sedang merapikan barangnya
"Pak Kenzie, apa anda akan pergi menemui saudara anda?"
"Bukankah aku sudah bilang agar kamu tidak bicara dengan formal? Kamu tidak akan terus bersikap formal pada pacarmu sendiri kan?"
Kenzie bicara dengan nada yang sedikit menggoda dan juga senyum yang manis. Alisnya diangkat bersamaan sehingga memberikan kesan nakal
"Aku tidak menyetujui hubungan ini" Bantah Meisya dengan mata menatap ke arah lain
"Aku tidak minta persetujuanmu, karena kamu juga tidak minta persetujuanku saat mengatakan aku pacarmu"
Kenzie tetap tidak ingin mengalah pada Meisya
"Bapak akan menemui Risha?" Meisya mengalihkan pembicaraan dengan kembali membahas Risha
"Aku bukan bapakmu, dan usiaku juga tidak terlalu tua sampai kamu memanggilku seperti itu. Ini juga bukan dikantor, orang lain akan berpikiran aneh jika mendengarmu terus memanggilku seperti itu"
Kenzie terus mengeluh dengan panggilan Meisya padanya
"Baiklah baiklah. Apa kak Kenzie akan menemui Risha? Sudah puas?"
__ADS_1
"Hahaha... masih terdengar kaku, tapi tidak apa perlahan akan lebih baik" Kenzie terbahak melihat reaksi Meisya
Drrt drrt drrt
"Risha? Halo Sha. Bagaimana? Apa sudah ada kabar dari Rendra?" Kenzie langsung menerima telepon dari Risha dan bertanya padanya
"Zie... Rendra … kondisinya kritis. Dia jatuh dari balkon hiks… hiks… hiks…" Risha menjelaskan disela isak tangisnya. Dia tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kondisi Rendra
"Sekarang kamu dimana? Kirimkan alamatnya padaku, aku akan langsung kesana!" Zie bicara dengan panik karena mendengar Risha yang terus menangis
"Aku dirumah sakit. Akan aku kirimkan alamatnya padamu hiks… hiks… hiks…"
"Ya sudah jaga dirimu. Aku kesana sekarang"
Kenzie pun menutup teleponnya dan kembali bersiap
"Aku harus pergi sekarang. Risha membutuhkanku" Ujar Kenzie yang telah siap pergi
"Aku ikut. Aku ingin mengenal Risha. Mungkin aku bisa memenangkannya" Meisya bicara dengaan penuh harap
"Tapi …" Kenzie terdiam sesaat memikirkan keinginan Meisya
"Baiklah. Ayo pergi" Meisya pun menganggukkan kepala dengan senyum dan mereka mulai meninggalkan kamar Kenzie
"Aku ambil tas dulu" Ujar Meisya yang langsung berlari kekamarnya
"Mau kemana kalian?" Pak Arseno bertanya dengan nada sinis ketika melihat Kenzie dan Meisya akan pergi
"Aku dan Meisya akan keluar kota. Sepupuku sedang dirumah sakit menunggu pacarnya yang mengalami kecelakaan"
Kenzie menjelaskan dengan sikap tenang
"Kenapa Meisya harus ikut?" Tanya pak Arseno yang bingung
"Karena aku akan mengenalkannya lada sepupuku ebagai pacar" Kenzie tersenyum puas dengan jawaban yang dia berikan, sebaliknya pak Arseno menekuk wajahnya karena kesal dengan jawaban Kenzie
Meisya telah kembali dari kemarnya dan langsung menarik Kenzie meninggalkan sang ayah
"Ayo kita berangkat. Sampai jumpa pah"
__ADS_1
"Hah benar-benar. Perhatian anakku sudah sepenuhnya untuk Kenzie sekarang" Pak Arseno mendengus kesal karena Meisya lebih sering menghabiskan waktu dengan Kenzie