Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Berkumpulnya Kusuma Bersaudara


__ADS_3

Kenzie sudah kembali ke ruang UGD setelah tangannya diobati dan dibalut dengan perban lalu di ikatkan ke bagian lehernya.


"Zie, apa lukanya parah?" Tanya Tania ketika Kenzie mendekat padanya


"Tidak tante. Hanya terbentur aspal saja, tidak terlalu parah. Bagaimana Risha? Apa penangannya belum selesai juga?" Kenzie masih terlihat khawatir pada Risha.


Tania menggelengkan kepala sebelum dia menjawab pertanyaan Kenzie


"Dokter masih belum keluar. Tante juga tidak tahu kenapa mereka begitu lama mengobatinya" Tania menjawab sambil menundukkan kepala sedih.


Tak lama dokter keluar bersama dengan suster dibelakangnya


"Dokter, bagaimana keadaan putri saya?" Tanya Tania yang langsung mendekati dokter dan bertanya dengan panik


"Pasien mengalami geger otak ringan dan juga patah kaki. Tapi keadaannya stabil, kita harus menunggu sampai pasien sadar untuk pemeriksaan lebih lanjutnya


"Pyuuuh ... syukurlah kalau begitu" Tania dan Kenzie menghela napas lega mendengat penjelasan dari dokter


"Apa kami sudah boleh melihatnya?" Tanya Kenzie yang masih terlihat panik


"Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat. Kalian bisa menjenguknya disana" Jelas sang dokter lagi pada Kenzie dan Tania


"Terimakasih dokter" Dokter itu menanggapi dengan sneyum manis dibibirnya


"Kalau begitu saya permisi" Ujar sang dokter sebelum pergi


"Ya, dokter. Silahkan. Sekali lagi terimakasih banyak" Ujar Tania dan dokter pun beranjak pergi meninggalkan Tania, Dhefin dan juga Kenzie


Diluar rumah sakit, Diaz baru saja tiba dengan mobil mewahnya. Tubuh tinggi, wajah tampan dengan kacamata hitamnya sungguh mencuri perhatian semua orang


"Bukankah itu Diaz? Benar, tidak salah lagi kalau itu Diaz" Pengunjung rumah sakit dan para suster membicarakan Diaz ketika mereka melihatnya datang dan masuk ke dalam rumah sakit dengan tergesa-gesa.


"Sayang!"


"Diaz!


"Bagaimana Risha?" Diaz dengan langkah cepatnya mendekati Tania begitu dia melihatanya. Diaz menariknya dalam pelukannya lalu menanyakan kondisi Risha


"Dokter bilang geger otak ringan dan patah tulang kaki. Tapi tidak ada yang serius, namun kita tetap harus melakukan pemeriksaan ulang saat dia sadar nanti" Tania menjelaskan secara rinci mengenai kondisi Risha


"Om, maafkan aku. Aku tidak bisa melindungi Risha" Kenzie mendekati Diaz dan bicara dengan kepala tertunduk

__ADS_1


"Tidak papa. Ini bukan salahmu. Apa tanganmu baik-baik saja?" Diaz bertanya pada Kenzie setelah melihat tangannya diperban


"Aku tidak papa om. Ini hanya luka kecil saja" Jawab Kenzie sambil menunduk dan melihat ke arah tangannya


"Pih, mih, kak Risha" Dhefin memberitahu Diaz dan Tania ketika melihat Risha akan dipindahkan keruang rawat


"Risha, sayang" Tania langsung mendekati Risha yang masih tak sadarkan diri


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Anda bisa menunggunya disana" Ujar suster memberitahu Diaz dan Tania


"Ayo kita kesana juga!" AJak Diaz sambil menggandeng Tania diikuti Kenzie dan Dhefin dibelakang mereka


Tak berselang lama Cheva dan Lian pun bergandengan tangan masuk kerumah sakit


"Bagaimana kondisi Risha?" Tanya Cheva dengan wajah panik


"Risha tidak papa, hanya geger otak ringan dan kakinya patah" Jawab Tania menjelaskan apa yang disampaikan dokter sebelumnya


"Lalu bagaimana dengan pelakunya? Apa sudah tertangkap?" Kini Lian yang bertanya dengan sikapnya yang datar


"Dia berhasil kabur, pih. Tapi aku sudah melaporkannya pada polisi. Mereka akan melakukan penyelidikan" Jawab Kenzie  yang kini sudah mulai tenang


"Semoga pelakunya segera tertangkap. Dia harus membayar setimpal atas perbuatannya" Ujar Cheva dengan wajah serius


"Mami, papi?" Ujar Diaz terkejut setelah melihat kedatangan mereka semua


"Bagaimana kondisi Risha? Kami langsung kemari dengan jet pribadi setelah mendengar Risha kecelakaan" Kini Ji yang menanyakan kondisi Risha


"Kondisinya tidak terlalu parah tante, hanya saja dia masih belum sadar karena pengaruh obat bius" Jawab Tania lagi menjelaskan


"Bukannya kalian sibuk? Kenapa masih bisa kemari?" Diaz terlihat bingung karena yang dia tahu orang tuanya sedang sibuk dengan perusahaan yang ada di kegara F. Begitupun dengan JI dan Ed


"Tidak mungkin kami tidak datang saat mendengar kalau cucu kami mengalami kecelakaan" Jawab biru dengan sikap yang datar


"Ya, meskipun kami tidak bisa lama. Setelah Risha sadar, kami harus kembali" Ji ikut berkomentar dengan kedatangan mereka


"Ehm ... apa kalian sadar kalau saat ini semua orang memandang kesini?" Dhefin dengan ragu-ragu memberitahu keluarganya kalau kini semua mata tertuju pada mereka semua


"Kamu benar, ini pasti akan jadi berita besar lagi karena kita semua ada disini. Untung saja mami dan papi tidak ada disini. Jika mereka datang kemari juga, maka itu akan lebih menggemparkan"


"Diaz, apa kamu juga memberitahu keluarga Vio?" Tanya Ji pada Diaz

__ADS_1


"Iya, tante. Hanya saja mereka sedang berlibur diluar negeri. Mereka ingin datang kemari tapi aku melarangnya dan sudah memberitahu kalau kondisi Risha baik-baik saja. Kalian juga tahu kan bagaimana kondisi tante Vio kalau mendengar mengenai kecelakaan? Aku takut kondisinya kembali memburuk" Diaz menjelaskan dengan hati-hati mengenai Vio


"Ya, meskipun dia sudah sembuh, tapi traumanya mengenai kecelakaan tidak bisa hilang sepenuhnya" Ji membenarkan bagaimana kondisi Vio saat ini


Perhatian mereka kembali teralih setelah seorang suster yang baru keluar dari ruang Risha mendekati mereka


"Pasien telah sadar. Tidak ada yang serius tapi saya akan memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya secara rinci"


"Terimakasih, suster" Suster itu pergi untuk menemui dokter dan Diaz serta yang lainnya masuk ke ruangan untuk melihat Risha


"Risha, kamu sudah sadar, sayang? mana yang sakit?" Tania yang masih panik langsung mendekati Risha yang sudah membuka mata dan bertanya sambil melihat keseluruh tubuhnya yang diperban dibagian kepala, tangan dan kaki.


"Mami, kepalaku pusing. Tadi aku .... Oh,Kenzie, bagaimana dengan Kenzie?" Risha meringis sambil memegangi kepalanya kemudian dia teringat pada Kenzie


"Aku baik-baik saja. Dasar bodoh, bisa-bisanya kamu malah mendorongku dan membiarkan dirimu sendiri tertabrak mobil?" Kenzie bicara dengan nada yang sinis dan juga mencibir Risha atas tindakan yang dia lakukan


"Tidak perlu khawatir. Kamu lihat kan kalau aku baik-baik saja" Risha berusaha tersenyum meskipun wajahnya masih sangat pucat


"Jadi kalian semua sudah berkumpul disini? Pantas saja aku masih mendengar bisikan perawat dan pengunjung rumah sakit kalau keluarga Kusuma sedang berkumpul disini" Kenzo mencuri perhatian semua orang diruangan Risha dengan nada bicaranya yang dingin dan acuh tak acuh. Dia datang bersama Rendra dibelakangnya


"Kamu juga datang, Zo? Sepertinya kamu langsung terbang kemari saat mendengar aku sakit ya?" Risha bertanya dengan senyum tipis dibibirnya


"Tentu saja. Mana mungkin aku tidak pulang jika mendengar saudaraku yang manja dan menyebalkan ini masuk rumah sakit?" Kenzo tersenyum tipis sambil berdiri dihadapan Risha


"Iya, padahal kalau aku yang menghubunginya dia tidak pernah mau menerima telepon dariku. Begitu mendengar Risha sakit, dia langsung pulang dan meninggalkan kuliahnya" Cheva mengeluh dengan nada yang sinis karena Kenzo tidak pernah menghubunginya


"Mami, aku sangat sibuk. Lagipula, mami baik-baik saja"


"Apa benar kamu kuliah di negara F?" Ji mendekati Kenzo dan bertanya dengan sikapnya yang tenang


"Benar kek. Aku kuliah disana" Sorot mata Ji membuat Kenzo sedikit canggung karena dia tidak pernah menghubunginya


"Kenapa tidak memberitahu kakek dan nenek? Kamu juga tidak pernah menemui kami selama disana" Kenzo terdiam mendapat tekanan dari Ji namun yang lainnya hanya tersenyum melihatnya


"Itu karena aku menyembunyikan identitasku. Jika aku menemui kalian, bisa saja identitasku terbongkar" Kenzo berusaha bersikap tenang meskipun dia khawatir kalau Ji akan menarik telinganya dengan keras


"My queen sudahlah. Nanti saja kita buat perhitungan dengannya. Sekarang biarkan mereka menyelidiki pelakunya terlebih dahulu" Ed menolong Kenzo namun sorot matanya menatap tajam pada Kenzo agar menemukan pelakunya


"Kamu benar, my Lord. Kalian harus segera menemukan pelakunya!" Ji bicara sambil menatap tajam pada Kenzo dan Kenzie


"Kalian sudah tua tapi panggilan itu masih berlaku?" Kenzo mengejek Ji dan Ed dengan sikapnya yang dingin, namun itu dibalas dengan tatapan tajam dari Ji padanya

__ADS_1


"Kami pergi sekarang! Ayo Ren" Kenzo langsung pergi dan membuat semua yang ada disana tersenyum melihatnya yang takut pada Ji


__ADS_2