
"Sheila, apa kamu sudah tahu mengenai postingan yang sedang viral tentang adikmu?" Berly sedang menghubungi Sheia untuk membahas masalah tentang adiknya
"Iya pah, aku sudah membacanya. Apa papa tahu siapa yang melakukan itu?" Sheila bertanya dengan raut wajah bingung pada sang ayah
"Papa juga tidak tahu, tapi gara-gara postingan itu, sekarang rumah kita dikeilingi para wartawan yang meminta konfirmasi atas kebenarannya. Mereka ingin tahu apa keluarga kita benar-benar ada yang gila atau tidak" Berly menjelaskan dengan tegas mengenai dampak dari postingan itu
"Papa tenang saja. Aku akan meminta orang menghapus postingan itu, karena jika dibiarkan saja ... ini juga akan berpengaruh pada harga saham perusahaan kita" Sheila bicara pada sang ayah sambil tersenyum tipis dengan tangan yang memainkan balpoin
"Papa percaya padamu. Papa harap kamu bisa membantu papa menyelesaikan masalah ini" Berly bicara dengan sikap yang tenang pada Sheila. Kali ini dia terdengar seperti ayah yang sedang memohon untuk putrinya
"Pah, sudah dulu ya. Aku memiliki pekerjaan yang harus segera diselesaikan"
"Baiklah. kalau begitu sampai jumpa. Jaga kesehatanmu"
"Baik pah. Sampai jumpa" Sheila dan Berly pun menutup panggilan telepon mereka.
"Aku harus meminta seseorang menghapus postingan itu sekarang. Hemn ... asisten pak Kenzo?"
Disaat Sheila akan meminta seseorang menghapus postingan itu. Ponselnya berdering dan itu telepon dari Pram
"Halo"
Sheila menjawab dengan nada yang lembut dan tenang
"Selamat siang bu Sheila. Saya Pram, asisten pak Kenzo" Pram menyapa dengan sopan
"Ya pak Pram. Ada perlu apa?" Sheila menanggapi Pram dengan nada yang tenang dan sombong
"Saya hanya ingin memberitahukan kalau pak Kenzo telah kembali. Jadi, apa anda masih berniat untuk melanjutkan kerjasama perusahaan kita atau tidak?" Pram langsung bertanya pada Sheila tanpa basa-basi terlebih dahulu, karena Kenzo memang memintanya seperti itu
"Oh kalau begitu saya akan datang ke perusahaan anda untuk bicara langsung dengan pak Kenzo mengenai hal ini" Sheila bicara dengan senyum lembut dibibirnya dan terdengar sangat antusias
"Baiklah bu, akan saya sampaikan langsung pada pak Kenzo perihal kedatangan bu Sheila ke perusahaan kami"
"Ya terimakasih. Sampai jumpa" Sheila langsung menutup teleponnya setelah selesai bicara
"Bagus. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Aku akan bernegosiasi masalah kerjasama dan juga masalah Kenzie. Aku harus bisa menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin" Sheila menyeringai dengan sorot mata yang tajam ketika dia telah menutup telepon dari Pram
"Yuni, kita bersiap untuk pergi ke perusahaan Anggara sekarang juga. Kita harus mendapatkan kerjasama yang sangat menguntungkan itu" Sheila bicara pada asistennya melalui telepon kantor. Dia terdengar sangat percaya diri dengan apa yang akan dia dapatkan
"Baik bu"
Setelah itu Sheila dan asistennya mulai bersiap untuk pergi
***
Kenzie dan Meisya baru kembali setelah makan siang. Mereka berdua baru saja naik ke mobil untuk kembali ke kantor. Namun tiba-tiba beberapa orang menghadang mobil mereka yang baru akan menjalankan mobilnya
"Keluar kalian! Tolong ikut dengan kami dengan patuh. Agar kami tidak perlu melakukan kekerasan!" Salah satu dari mereka berbicara dengan nada mengancam. Mereka berjumlah sekitar 5 orang dengan tubuh tinggi dan kekar
__ADS_1
"Kak, apa kamu kenal mereka?" Meisya bertanya pada Kenzie dengan raut wajah bingung
"Aku juga tidak tahu. Mana mungkin aku berurusan dengan preman seperti mereka" Kenzie menjawab dengan sikap yang acuh tak acuh
"Kalau begitu mereka siapa? Pasti ada seseorang yang meminta mereka untuk menghadang kita kan?" Meisya menatap Zie dengan tatapan penasaran, namun dia tetap terlihat tenang
"Yang jelas mereka pasti kemari untuk mencariku. Jadi kamu tidak perlu keluar!" Kenzie langsung turun dari mobil dan membiarkan Meisya tetap berada didalam mobil
"Siapa kalian? Kenapa kalian menghadang mobil kami?" Kenzie bertanya dengan sikap yang tenang dan dingin
"Kami diminta membawa anda menemui bos kami" Salah satu dari mereka bicara dengan sikap serius
"Siapa bos kalian? Aku tidak akan ikut kalau kalian tidak memberitahu siapa dia" Kenzie bersikap tegas sambil bersandar pada pintu mobilnya
"Anda tidak perlu tahu siapa. Kami tidak akan melukai anda jika ikut kami dengan patuh"
Kenzie memicingkan mata menatap orang-orang didepannya dengan tatapan sinis
"Kalau begitu, aku juga tidak bisa ikut dengan kalian"
"Jika anda bersikeras maka kami terpaksa melakukan kekerasan. Bawa dia!"
2 orang maju secara bersamaan untuk membawa Kenzie. Namun dia menepisnya dan mereka mulai berkelahi
Bak buk bak buk
Satu persatu dari pria itu maju dan melawan Kenzie secara bergantian. Meisya yang sebelumnya duduk dengan tenang didalam mobil pun akhirnya turun dan membantu sang kekasih
Hiyat hiyat hiyat
"Tidak mungkin aku diam saja melihat kak Zie kesulitan" Jawab Meisya yang juga berkelahi dibelakang Kenzie
"Aku masih bisa mengatasi ini"
Jawab Zie yang masih sigap menghalau setiap serangan
"Aku juga masih bisa mengatasi ini"
"Kalian terlalu banyak bicara!" Seorang pria yang menjadi lawan Zie mengeluarkan pisau belati dan mengarahkannya pada Zie
"Kak Zie, hati-hati dibelakangmu!" Meisya mengingatkan Zie dan berhasil menepis pisau itu, namun tanpa sengaja pisau itu menggores tangan kanan Meisya
"Ah!"
"Meisya!" Sejenak Kenzie menoleh pada Meisya yang tengah merintih kesakitan sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah. Kenzie pun dengan cepat melawan para pria itu dan membuat mereka terkapar di tanah lalu berlari kearah Meisya
"Aw"
"Kita kerumah sakit sekarang!"
__ADS_1
Kenzie mengikat luka Meisya menggunakan dasinya, lalu bergegas menggendong Meisya dan membawanya ke dalam mobil
Tiin tiiiin
Dengan panik dia membunyikan klakson mobilnya agar para pria yang terkapar didepan mobilnya segera menyingkir dari hadapannya. Kenzie pun langsung melesat cepat mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit
"Tahan sebentar ya, Sya" Ujar Kenzie dengan panik. Dia mengemudikan mobilnya tanpa menggunakan rem. Sesekali dia menoleh kearah Meisya dengan wajah panik
"Tahan Sya tahan" Kenzie terus bergumam panik sambil mengendarai mobilnya
Tiin tiin tiin
Dia membunyikan klakson mobilnya dengan cepat agar tidak ada yang menghalangi jalannya.
Tak berselang lama dia pun tiba dirumah sakit terdekat
"Suster! Dokter!" Kenzie kembali berteriak karena panik saat tiba dirumah sakit. Beberapa perawat pun menghampiri Kenzie dengan membawa ranjang pasien
"Cepat tolong pacar saya. Dia sudah kehilangan banyak darah!" Ujar Kenzie dengan panik melihat Meisya yang sudah kehilangan setengah kesadarannya
"Baik pak. Kami akan berikan penanganan sekarang!" Meisya pun di dorong menuju ruang IGD untuk menerima pertolongan pertama. Kenzie yang panik mengikutinya dari belakang.
"Anda tidak bisa masuk! Harap tunggu diluar saja!" Ujar salah satu perawat yang kemudian menutup pintu IGD dan membiarkan Kenzie berdmada diluar dengan panik.
Kenzie yang panik terus berjalan kesana kemari sambil sesekali menoleh ke arah IGD. Kenzie semakin panik ketika melihat salah satu suster berlari keluar IGD
"Ada apa dengan Meisya? Semoga dia tidak papa" Gumam Kenzie yang kini duduk dengan gelisah.
Tak lama suster itu pun kembali lagi dengan beberapa kantong darah ditangannya. Kenzie kembali panik melihatnya
"Bagaimana ini? Kenapa kamu menghalangi pisau itu? Lebih baik aku yang terluka daripada kamu yang terluka" Gumam Zie dengan nada yang bergetar
Drrt drrt drrt
Kenzie melihat ponselnya dan itu telepon dari Noey
"Halo pak Kenzie ... ini sudah selesai jam makan siang dan anda memiliki janji dengan salah satu klien" Noey langsung bicara begitu Kenzie menerima telepon darinya
"Noey... aku ada dirumah sakit. Meisya terluka saat kami akan kembali ke kantor" Kenzie bicara dengan nada sedih dan gemetar
"Apa? Terluka? Apa yang terjadi?" Noey yang biasanya bersikap dingin padanya kini terdengar lembut
"Tadi ada beberapa orang yang menghadangku. Aku tidak tahu mereka suruhan siapa tapi mereka memintaku ikut dengannya" Kenzie menjelaskan pada Noey dengan nada bicara yang masih bergetar
"Dimana lokasimu dihadang?" Tanya Noey lagi dengan sikap yang kembali dingin
"Diparkiran depan restoran sushi XX" Jawab Kenzie dengan sikap tenang
"Baiklah. Aku mengerti, kabari aku jika kamu butuh sesuatu. Aku akan menghandel masalah dikantor selama kamu tidak ada"
__ADS_1
"Terimakasih Noey" Kenzie langsung menutup teleponnya setelah selesai bicara dengan Noey
"Restoran sushi XX. Aku pasti akan mendapatkan pelakunya" Gumam Noey setelah menutup telepon Kenzie