Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Berkumpul Di Kediaman Utama Kusuma


__ADS_3

"Apa kamu yang meminta bantuan dari tante Cheva?" Rendra  bertanya pada Risha setelah melihat dia tersenyum dengan ceria


"Tentu. Tante Cheva adalah senjata yang ampuh untuk melawan papi. Bahkan mami pun tidak bisa mengatasi papi sebaik tante Cheva" Risha menanggapi Rendra dengan senyum ceria diwajahnya


"Apa kalian bersenang-senang setelah mengerjai papimu?" Cheva menyela perbincangan antara Rendra dan Risha


"Tante, makasih ya sudah membantuku. Tante memang yang paaliiiing baik didunia" Risha berterimakasih sambil memeluk Cheva dengan manja


"Ya sama-sama. Tapi ada apa kamu kemari? Apa hanya untuk menemui Risha saja?" Cheva membalas pelukan Risha sambil mengusap lembut punggungnya, kemudian dia mengalihkan pandangan pada Rendra


"Saya hanya ingin menemui Risha tante. Sudah beberapa lama kami tidak bertemu semenjak Risha pulang kemari" Rendra menjawab dengan sikap yang tenang  dan mata yang terus menatap kearah Risha


"Oh iya tante. tante bilang tadi Zie sudah kembali, tapi dimana mereka? Kenapa aku tidak melihatnya?" Risha bertanya dengan kepala yang terus menengok kearah belakang Cheva untuk mencari keberadaan Kenzie dan Meisya.


"Mereka belum datang. Sepertinya masih dalam perjalanan" Cheva bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut


"Apa?! Jadi tante membohongi papi?!" Risha terkejut karena  Kenzie belum datang. Diapun lalu tersenyum karena sang papi kembali dikerjai oleh tantenya ini


"Sedikit. Pasti sebentar lagi Kenzie dan Meisya akan tiba disini"


"Tante memang yang terbaik" Risha kembali memeluk Cheva dengan senyum ceria


"Papimu itu tidak akan berhenti sampai disini saja. Jadi besok pagi, kalian harus pergi pagi-pagi sebelum dia meminta kalian melakukan hal yang macam-macam" Cheva memperigatkan Risha dan Rendra untuk meninggalkan rumah pagi-pagi


"Apa maksud tante? Memangnya papi akan minta apa?" Dahi Risha berkerut karena dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Cheva


"Aku sangar kenal dengan kakakku sendiri. Dia tidak akan menyerah, dia akan terus mengganggu kalian berdua. Jika Rendra tidak menggunakan kursi roda, sudah pasti papimu itu akan mengajaknya berduel dan juga menunggang kuda. Tapi karena itu tidak mungkin dia lakukan sekarang ... kemungkinan Rendra akan terus dikejar untuk memanah dan menembak"


Cheva bicara dengan nada yang sedikit acuh tak acuh. Dia seperti sengaja menjelekan Diaz dan berusaha menakuti Risha


"Tante, bukannya itu berlebihan?" Semua menoleh mendengar suara orang lain dari ruangan itu


"Berlebihan apanya Fin? kamu tahu sendiri bagaimana papimu itu. Dia itu selalu menuntut untuk sempurna, terlebih untuk anak gadisnya. Pasti dia akan melakukan apa saja untuk mempersulit Rendra"


Kini Cheva berdebat dengan Dhefin, adik Risha yang sudah mulai menginjak bangku kuliah

__ADS_1


"Tante, papi  memang menyebalkan, tapi papi tidak akan melakukan hal itu. Dia hanya akan bersikap sinis dan menyangkal semua yang dikatakan kak Rendra. Papi pasti akan terus menyangkal dan membuat kak Rendra selalu merasa tersudut"


Dhefin menjawab dengan sikap yang tenang dan penuh keyakinan sambil memegang buku ditangannya


"Kamu benar, pasti papimu akan mencari setiap kesalahan Rendra" Cheva menganggukan kepala perlahan tanda setuju dengan apa yang dikatakan keponakannya itu


"Ternyata semua berkumpul disini" Mereka kembali menoleh begitu mendengar suara Kenzie yang baru saja tiba bersama Meisya dan Noey yang bertemu saat dalam perjalanan menuju kemari


"Aaah Meisya, tante senang akhirnya kita bisa bertemu lagi. Tante pikir kamu tidak akan mau berkunjung kemari" Cheva langsung mendekati Meisya dan mendorong Kenzie yang ada disebelahnya


"Mami, kenapa mami sampai menyingkirkanku? Harusnya mami menyambutku terlebih dulu bukannya langsung memeluk Meisya begitu saja dan mengabaikanku" Kenzie bicara dengan sikap yang sedikit kesal


"Mami tidak menyambutmu, mami hanya menyambut gadis cantik ini saja" Cheva menanggapi Kenzie tanpa menoleh padanya dan terus bicara dengan Meisya


Billy dan Noey nampak terkejut dengan bagaimana sifat asli keluarga Kusuma yang ditakuti ini. Mereka menatap apa yang mereka lihat dengan tatapan tak percaya


"Noey, ada apa dengan wajah jelek mu itu?" Rendra bertanya dengan sikap yang tenang dan tatapan yang heran melihat sikap Noey


"Tidak ada. Aku hanya tidak menyangka kalau ternyata bu Cheva saat berada dirumah sangat jauh berbeda dengan bu Cheva yang ada diluar rumah"


"Eh, siapa kamu? Tante belum pernah melihatmu sebelumnya" Cheva bicara dengan dahi berkerut karena heran


"Ini Noey mih. Dia asisten baruku, dia juga temannya Zo dan Rendra" Zie mengenalkan Noey dengan senyum ceria


"Oh kamu temannya Zo?"


"Iya tante. Salam kenal" Noey memperkenalkan dirinya dengan sopan


"Sudahlah, nikmati waktu kalian mami mau pergi ke kemar dulu" Cheva beranjak pergi meninggalkan para anak muda dan berjalan menuju kamarnya dimana Lian sudah lebuh dulu kesana setelah Diaz pergi


"Kenapa kamu masih disini? Kamu ingin bergabung dengan kami, hah?" Risha bertanya pada Dhefin yang masih berdiri disana


"Tidak, aku pikir ada kak Zo. Ternyata dia masih belum kembali" Dhefin menjawab dengan acuh tak acuh kemudian beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya


"Dia temanmu? Kenapa aku baru melihatnya sekarang?" Risha bertanya pada Rendra dengan senyum yang lembut sambil duduk dikursi sebelah Rendra

__ADS_1


"Aku juga baru bertemu lagi dengan Noey setelah sekian lama. Terakhir aku bertemu dengannya sebelum pergi kuliah keluar negeri. Ku kira dia tidak akan muncul lagi dihadapanku. Entah bagaimana Zo bisa menemukannya"


"Ren, bukannya itu terdengar sangat jahat? Kamu sepertinya tidak ingin bertemu denganku lagi?" Noey bertanya dengan sikap yang dingin pada Rendra


"Ya bisa dikatakan seperti itu. Kamu membuang kami begitu saja setelah aku lulus sekolah. Zo bilang kalau kamu juga tidak pernah menghubunginya setelah aku diluar negeri" Rendra pun menanggapi Noey dengan sikap yang sama dinginnya


"Bukannya saat itu kalian yang mencarikan aku pekerjaan? Kalian tahu sendiri bagaimana sulitnya pekerjaanku saat itu" Noey kembali menanggapi dengan sikap yang tidak mau kalah


"Bukan berarti kamu tidak bisa memberitahu kami sama sekali tentang keadaanmu kan? Kamu bahkan tidak memberitahu kami kalau kamu diusir dari tempat tinggalmu saat itu" Kini Rendra terlihat sangat kesal pada Noey


"Darimana kamu tahu kalau aku diusir dari tempat tinggalku?" Noey memicingkan mata curiga pada Rendra


"Jangan-jangan Kenzo …" Noey menggantungkan kalimatnya dan menatap Rendra dengan tatapan curiga


"Dia datang ketempatmu tapi kamu tidak ada disana. Zo menghubungiku dan menanyakan apa kamu punya kerabat atau tidak. Kami mencarimu kesana kemari, tapi kami tidak bisa menemukanmu sama sekali saat itu. Ku kira kita tidak akan bertemu lagi" Rendra menjelaskan dengan sikap acuh tak acuh dan terlihat kesal


"Ya, maafkan aku. Saat itu memang masa tersulitku. Para preman itu mengejarku sampai ketempat kerja dan membuat keributan. Aku memutuskan untuk tidak menghubungi kalian agar kalian tidak perlu terlibat"


"Sha, kenapa situasinya terasa agak … gimana gitu" Rendra berbisik pada Risha yang ada disebelahnya


"Kamu benar. Terasa seperti berada diantara dua kekasih yang terpisah jauh sejak lama" Risha pun menjawab Kenzie dengan berbisik


"Tapi Ren, kenapa kamu bisa disini padahal Zo tidak ada? Aku tidak tahu kalau kamu dekat dengan Kenzie dan juga sepupu Zo" Noey baru menyadari kedekatan Rendra dengan Risha dan juga Kenzie


"Oh, itu karena Rendra adalah pacarku" Risha menyela dan bicara dengan senyum ceria sambil merangkul sebelah tangan Rendra dan menyandarkan kepalanya di tangan Rendra


"Apa? Kalian pacaran?!" Noey sangat terkejut dengan perkataan Risha


"Hah ternyata kamu dan Zo bisa pacaran juga. Aku pikir kalian tidak akan bisa menemukan kekasih" Noey bicara dengan senyum menggoda dan nada yang sedikit mencibir


"Jangan sembarangan bicara! Kamu pikir tidak ada gadis yang mau pada kami? Selama ini aku dan Zo hanya belum menemukan gadis yang cocok dengan kami saja!" Noey an Rendra kembali berdebat. Yang lain hanya memperhatikan mereka berdua saja


"Kak Zie, apa mereka selalu bersikap begini saat bersama ya?" Meisya berbisik pada Kenzie karena bingung melihat kedekatan Rendra dan Noey


"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena mereka bertiga sama-sama kaku makanya tidak bisa menunjukan kedekatan yang hangat. Jadi kedekatan mereka bertiga terasa seperti musuh. Jika ditambah Kenzo yang dingin disini … suasana akan terasa semakin dingin seperti kutub selatan"

__ADS_1


"Kak Zie benar. Aku selalu merasa merinding saat melihat tatapan kak Zo. Dia seperti singa yang siap menerkam mangsa. Entah bagaimana kak Safira jatuh cinta padanya"


__ADS_2