
"Suster, dimana korban yang kecelakaan dibukit memerima perawatan?" Suami Astria bertanya pada perawat yang berjaga. Dia dan sang istri baru saja tiba dirumah sakit
"Oh pasien masih berada diruang IGD" Jawab perawat dengan sopan dan ramah
"Terimakasih" Astria dan suaminya mempercepat langkah mereka menuju ruang IGD. Didepan sana terlihat seorang pemuda sedang menunggu dengan wajah panik
"Nak Dodi! Dimana Pras? Bagaimana kondisinya?" Astria langsung bertanya dengan panik begitu dia melihat teman dari putranya tengah duduk di kursi tunggu IGD
"Pras masih menjalani pemeriksaan, om, tante. Dokter yang memeriksa Pras masih ada di dalam" Dodi menjelaskan dengan hati-hati
"Huu... u.... u.... u Pras. Kenapa ini terjadi padamu!" Tangis Astria kembali pecah mengetahui Pras masih berada didalam
"Tenanglah mah. Pras masih di periksa. Kita berdoa saja agar lukanya tidak parah" Suaminya menenangkan Astria dengan memegangi pundak Astria
"Iya pah" Astria mengangguk disela isak tangisnya
Ceklek
Setelah menuggu cukup lama, akhirnya seorang dokter keluar dari ruang IGD
"Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" Astria, suaminya dan juga Dodi langsung berjalan menghampirin sang dokter dan bertanya dengan panik
"Dia sudah melewati masa kritisnya" Astria dan suaminya terlihat menghela napas lega mendengar ucapan sang dokter "Akan tetapi... "
"Tetapi apa dok?" Astria menyela melihat dokter ragu-ragu mengatakan sesuatu
"Akan tetapi kami terpaksa mengamputasi kedua kakinya untuk menyelamatkan nyawa pasien" Sambung dang dokter membuat Astria dan suaminya cukup terpukul
"Apa?! kedua kakinya diamputasi?! Pah.... " Astria langsung menoleh pada sang suami dan kembali menangis dipelukannya
"Ya, kadua kakinya mengalami luka serius karena terjepit oleh bagian mobil. Kami terpaksa melakukan tindakan amputasi karena kakinya yang hancur" Dokter menjelaskan bagaimana keadaan Pras
"Lalu, apa kami boleh melihatnya?" Tanya sang suami yang jaih lebih tenang daripada Astria
"Dia masih belum sadar. Tapi kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat agar kalian bisa melihatnya. Permisi"
"Terimkasih, dok" Dokter oun menganggukkan kepala dan kembali melangkah meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Pah, bagaimana ini? Pras kita.... hiks.. hiks.. hiks... " Astria kembali terisak meratapi nasib putranya yang kini cacat
"Sabar mah. Kita harus kuat, agar bisa menguatkan Pras" Tanpa Astria tahu, sang suami pun menitikan air matanya
***
Seperti biasa keluarga Kusuma sarapan bersama sebelum melakukan aktifitas mereka.
"Mami, papi. Sepertinya kalian berdua sangat sibuk akhir-akhir ini? Semalam juga aku tidak tahu kalian pulang jam berapa" Kenzie bertanya pada Lian dan Cheva disela mengunyah roti miliknya
"Kami pulang dini hari. Ada sesuatu yang sedang kami urus" Cheva menjawab dengan tenang
"Kak Cheva, apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu terlihat senang sekali?" Radit yang melihat Cheva sesekali tersenyum akhirnya penasaran dengan apa yang terjadi
"Tidak ada. Hanya aku mulai menikmati permainan ini" Tidak mengerti dengan ucapan Cheva, akhirnya Radit bertanya pada Lian
"Memangnya mainan apa kak Lian?"
"Selamat pagi" Belum juga mendapat jawaban dari Lian, Diaz datang bersama Tania dan Dhefin
"Eeeee lepaskan" Cheva berteriak kesal pada Diaz yang menekan pipinya
"Sebenarnya ada apa dengan kalian?" Radit semakin bingung dengan sikap Cheva, Lian dan Diaz. Mereka terlihat sangat mencurigakan.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Radit, Diaz malah berbalik ke ruang sebelah dan menyalakan televisi besar yang menampilkan berita
Breaking News
Telah terjadi kecelakaan tunggal di area sekitar bukit pada dini hari tadi. Kemungkinan korban adalah salah satu peserta balapan liar. Mengingat lokasi ini sering kali dijadikan sebagai tempat untuk melakukan balapan liar oleh para pemuda yang katanya selalu diadakan setiap akhir pekan. Kondisi korban sendiri saat ini masih dalam keadaan kritis"
"Kalian tahu siapa korban kecelakaan itu? Dia adalah Pras, putra dari Astria" Diaz mematikan kembali televisi setelah habis siaran berita. Kemudian dia kembali mendekat ke meja makan dimana semua orang memperhatikan apa yang sedang dia jelaskan
"Apa?! Anak Astria?! Astria keluarga Surendra? Dari mana kakak tahu hal itu?" Radit yang terkejut kembali bertanya pada Diaz untuk menghilangkan rasa penasarannya
"Kamu pikir aku ini akan memalingkan wajah dari keluarga itu? Tentu saja tidak akan. Kami selalu mengawasi mereka tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun" Cheva menjawab dengan menunjukkan senyum yang manis
"Mami tidak usah tersenyum seperti itu. Senyum mami terlihat menyeramkan seperti iblis" Kenzo bicara pada Cheva dengan sikapnya yang dingin
__ADS_1
"Dasar anak ini!"
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Radit lagi kepada Cheva dan Diaz
"Tentu saja sebagai mantan besan yang baik, kita harus berkunjung kerumah sakit dan melihat kondisi Pras" Diaz kembali menjawab dengan tenang dan senyum tipis
"Ini masalah orang dewasa, sebaiknya kita pergi sekarang sebelum nanti kita jadi dewasa sebelum waktunya" Kenzo mengajak Kenzi dan Risha untuk pergi dari ruang makan meninggalkan orang tua mereka membahas masalah keluarga
"Bagus jika kalian mengerti kalau ini masih belum waktunya untuk kalian tahu masalah berat seperti ini" Yudha bicara dengan tenang pada ketiga cucu buyutnya
"Kakek tenang saja. Kami bukan anak bodoh yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk" Kenzo kembali menjawab dengan nada yang dingin namun ada sedikit senyum dibibirnya
***
Cheva, Lian, Diaz dan Radit datang kerumah sakit untuk mengunjungi Pras. Dari kejauhan terlihat keluarga Surendra tengah berdiri di depan sebuah ruangan dimana Pras dirawat
"Selamat siang, pak Adnan, bu Astria. Kami kesini ingin menjenguk putra anda. Kami turut bersedih mendengar berita kecelakaan Pras" Radit menyapa Astria dan Adnan kemudian memberikan parsel buah yang dia bawa pada Astria
"Terimakasih nak Radit. Seharusnya kalian tidak perlu repot-tepot membawa bingkisan ini. Kami sudah merasa terhormat dengan kedatangan kalian semua" Ujar Astria dengan senyum tipis dan wajah yang sedih
"Tidak papa. Ini hanya bingkisan kecil saja. Bagaimana kondisi Pras?" Cheva bertanya dengan nada yang lembut dan senyum yang manis
"Dia masih belum sadar. Tapi dokter mengatakan kalah masa kritisnya sudah lewat" Astria menjelaskan kondisi Pras dengan wajah sedih
"Syukurlah, tapi kami dengar kalau kedia kakinya Pras ..." Cheva menggantungkan kalimatnya merasa ragu
"Iya, Pras harus kehilangan kedua kakinya. Tapi kami akan mengupayakan yang terbaik untuknya. Kami bersyukur karena dia masih hidup" Astria kembaki tertunduk dengan air mata yang kembali menetes
"Aku turut prihatin mendengarnya" Cheva mendekati Astria dan merangkulnya untuk menunjukkan rasa simpatinya. Namun dia juga membisikkan sesuatu ditelinga Astria
"Kamu beruntung karena anakmu hanya kehilangan kakinya, tapi ini bukan apa-apa. Kami akan membuat kalian kehilangan semuanya untuk membayar apa yang kalian lakukan pada saudaraku" Ucapan Cheva membuat Astria langsung melepaskan pelukan Cheva.
Terlihat senyum manis dibibir Cheva, namun Astria justru membelalak heran melihat Cheva tersenyum dengan kedua alis terangkat
"Apa maksudmu?!" Pertanyaan Astria membuat suami dan yang lainnya heran karena mereka tidak mendengar apa yang dikatakan Cheva
"Ini baru permulaan. Permainan kami baru saja dimulai sekarang"
__ADS_1