Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Keluarga Kusuma Tidak Pernah Menjilat Ludahnya Sendiri


__ADS_3

Julian, Ciara dan pak Deren memantung dengan mulut ternganga setelah mendengar ucapan Risha. Tubuh pak Deren langsung lemas seketika dan terduduk dilantai.


“Papa! Apa kamu baik-baik saja?” Julian dan Ciara terlihat panik saat pak Deren tersungkur lemas.


“Ini semua salahmu! Bagaimana bisa kamu menyinggung seorang keturunan Kusuma?! Dasar anak tidak berguna! Selama ini hanya bisa senang-senang dengan pacarmu yang boros ini. Sekarang kamu juga membuatku


kehilangan bisnisku. Sebenarnya apa yang bisa kamu lakukan selain membuat masalah, hah?!” Emosi pak Deren meluap pada Julian yang berjongkok dihadapannya. Dia terus berteriak dan memarahi putranya.


“Maaf, Pah. Aku tidak tahu kalau masalahnya akan jadi seperti ini” ujar Julian dengan kepala tertunduk penuh penyesalan


“Ayo kita pergi dari sini sayang! Aku tidak ingin melihat drama keluarga yang lebih mendalam lagi” Risha dengan sikap yang tenang mengajak Rendra untuk meninggalkan mall. Dia langsung melingkarkan tangannya disekitar siku Rendra.


“Tentu. Ayo langsung pergi kerestoran! Ini sudah terlambat untuk waktu makan malam kita”. Rendra pun bicara dengan sikap yang tenang dan lembut pada Risha sambil menatap sang kekasih penuh cinta.


“Tunggu!”. Risha dan Rendra yang baru saja hendak pergi dan langsung berbalik. Mereka menatap dingin pada Julian yang berlutut dihadapannya.


“Tolong. Bisakah kamu membatalkan keputusanmu tadi? Aku mohon padamu. Sekarang aku berlutut dihadapanmu”. Julian memohon dengan kepala tertunduk pada Risha. Dia terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan pada Risha.


“Oh, kamu menyesal ya?”. Risha menanggapi dengan senyum tipis kemudian menundukkan tubuhnya dan mendekatkan mulutnya pada telinga Julian.


“Tapi aku sama sekali tidak menyesal dengan keputusan yang telah aku ambil. Dan keluarga Kusuma tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Jadi, mau tidak mau kamu harus menerima nasi yang sudah menjadi bubur ini” bisik Risha dengan seringai tipis dibibirnya.


“Ayo, sayang. Kita pergi dari sini!” Risha dan Rendra pun melenggang pergi dan meninggalkan Julian, Ciara dan juga pak Deren yang masih berada disana. Mereka berjalan melewati kerumunan orang yang meyaksikan semua yang dilakukan Risha. Mereka juga mulai berbisik begitu Risha meninggalkan kerumunan itu.


"Dasar perempuan iblis mau lari kemana kamu?!". Julian yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Risha langsung berdiridan hendak memukulnya dari belakang. Namun Risha dengan cepat menyadari apa yang dilakukan Julian dan menyerangnya lebih dulu


Dor!


"Aaah!!".


"Julian!"


Mall yang sebelumnya hening langsung gempar dengan teriakan banyak orang setelah Risha menembak kaki Julian. Namun tembakan itu hanya menggores betisnya saja.

__ADS_1


"Ini hasil perbuatan mu sendiri. Jika ingin mengajukan gugatan silahkan saja. Aku akan menunggu dengan senang hati karena ini adalah bentuk pembelaan diri" Risha menanggapi dengan sikap tenang dan langsung berbalik meninggalkan kerumunan.


"Ambulance! Cepat panggilkan ambulance!" Pak Deren dan Ciara berteriak dengan panik meminta bantuan namun semua orang hanya diam dan saling berbisik.


"Ciara! Cepat panggil ambulance!"


"Baik, Om!"


“Jadi dia penerus perusahaan Sanjaya? Itu artinya dia adalah putri dari Diaz? Ternyata mereka benar-benar menyembunyikan identitas sampai mereka dewasa ya?”


“Ya dan aku dengar kalau dia menjadi direktur di perusahaan Sanjaya dan telah berhasil memproduksi film yang bagus dengan keuntungan besar. Padahal sebelumnya film itu sangat mustahil untuk dilakukan”


“Kamu benar. Aku dengar itu juga. Dia berhasil memproduksi film yang dibintangi oleh Mariana meskipun banyak orang menentangnya dan meminta Mariana untuk digantikan. Dia tetap bersikeras tidak menggantinya padahal saat itu Mariana


terlibat skandal yang cukup panas tentang hubungan asmaranya, tapi dia berhasil


membalikkan keadaan dan memanfaatkan simpati publik terhadap Mariana. Berkat itu dia berhasil mendapatkan kepercayaan dari semua pemegang saham”


“Benar. Dia memang pantas terjun didunia perfilman. Aku yakin kalau perusahaan Sanjaya dapat tetap berkembang saat dia menggantikan pak Diaz”


Semua orang terus menatap Risha dan Rendra yag berjalan semakin menjauh tanpa menghiraukan apa yang dibicarakan orang-orang itu.


“Apa perasaanmu sudah lebih baik?” Rendra bertanya pada Risha yang terus saja tersenyum selama mereka berjalan.


“Apa maksidmu?” Risha bertanya dengan raut wajah bingung saat menatap Rendra.


“Kamu membuat masalah karena moodmu sedang tidak baik kan?”. Rendra menatap Risha penuh selidik saat dia bicara. Dia teringat jelas kalau sebelumnya Risha sangat tidak bersemangat dan sekarang Risha malah tersenyum sendiri dengan tas baru yang ada ditangannya.


“Ya, ini sedikit menghibur karena aku bisa meluapkan kekesalanku. Sayangnya ini terlalu mudah untuk diatasi” Risha menanggapi dengan sikap acuh tak acuh  dengan senyum yang terus terlihat dari bibirnya.


“Aku senang jika kamu merasa lebih baik. Sekarang kita pergi makan” Risha mengangguk setuju dengan senyum bahagia dibibirnya.


***

__ADS_1


Meisya masih terus termenung setelah kejadian saat kedatangan Kenzie. DIa tidak


pernah menunjukkan senyumnya sama sekali. Bahkan dia juga tidak terlalu banyak bicara pada siapapun.


“Pah, aku sudah memutuskan akan melanjutkan sekolah keluar negeri” Suasana dimeja makan langsung hening setelah Meisya mengatakan apa yang sudah dia rencanakan.


Pak Arseno langsung terdiam menatap sang putri. Bahkan sesendok nasi yang hendak dia makan, tidak jadi dimasukkan kemulutnya dan malah diletakkan kembali ke atas piring.


“Apa?! Luar negeri? Kenapa tidak disini saja? Banyak universitar bagus juga di Negara ini, kenapa malah memilih luar negeri?”. Pak


Arseno yang terkejut menanggapi Meisya dengan sikap yang bingung. Dia bersikap


seakan tidak tahu dengan apa yang terjadi pada putrinya.


“Aku hanya ingin mencari suasana baru saja. Kurasa disini sama sekali tidak meyenangkan. Dan aku tidak bisa bernapas maupun bergerak saat berada disini”. Meisya menanggapi pertanyaan sang ayah dengan sikap yang tenang.


“Apa ini semua gara-gara Kenzie?”. Pak Arseno berusaha memastikan alasan Meisya mengambil keputusan mendadak itu, namun dia sama sekali tidak menanggapi sang ayah dan tetap menikmati makanannya. Pak Arseno pun menundukkan wajahnya karena tak mendapat jawaban dari Meisya.


“Aku sudah selesai. Aku akan kembali kekamrku lebih dulu, Pah” Meisya meletakkan sendok dan garpunya, lalu membersihkan sisa makanan yang menempel dimulutnya. Setelah itu dia langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan untuk kembali ke kamarnya. Meisya terlihat tidak bersemangat, langkah kakinya pun terlihat seperti berat.


“Har, apakah yang aku lakukan salah? Aku hanya ingin Meisya bahagia, itu saja”. Pak Arseno bertanya pada Har sambil menatap punggung Meisya yang semakin menjauh.


“Saya mengerti, Tuan. Tapi anda tidak bisa membiarkan seorang anak memilih antara keluarga dan juga gadis yang dicintainya. Tentu saja pak Kenzie akan lebih memilih keluarga yang sudah merawat dan membesarkannya”. Har menjawab pertanyaan Arseno dengan sikap yang tenang.


“Jika dia memang mencintai Meisya, dia pasti rela berkorban dan melakukan apapun untuk bisa bersama dengan orang yang dicintainya” Arseno masih teguh dengan pemikiran negatifnya.


“Maaf, Tuan. Bagamana kalau sebaliknya? Pak Kenzie meminta non Meisya untuk meninggalkan anda dan hidup bersamanya? Jika saya boleh mengeluarkan pendapat, pak Kenzie sudah baik hati pada anda. Anda tahu sendiri kalau keluarga Kusuma selalu membalas orang-orang yang telah menyinggung mereka. Pak Kenzie bisa dengan mudah menghancurkan pak Teguh dan usahanya. Itu berarti … bukan hal sulit untuk menjatuhkan usaha anda. Pak Kenzie dan keluarganya selalu punya cara untuk membuat lawan mereka menyesal, tapi pak Kenzie tidak melakukan itu pada anda. Saya rasa itu karena dia mencintai nona Meisya, jadi dia tidak ingin menyakiti orang yang dicintainya”


Arseno terdiam merenungkan apa yang dikatakan Har.


“Apa memang dia seperti itu? Dia bisa melakukan apapun yang dia inginkan karena kekuasaan dan juga otak cerdas yang dia miliki. Kamu benar. Dia bisa dengan mudah merebut Meisya dariku jika dia menginginkannya. Aku harus menemuinya dan meminta dia menahan Meisya agar tetap disini. Aku akan lakukan apapun untuk meminta maaf padanya. Bahkan kalau perlu, aku akan berlutut dihadapannya”.


Pak Arseno pun mengambil keputusan untuk menemui Kenzie dan memintanya kembali

__ADS_1


bersama dengan Meisya agar putrinya itu tidak meninggalkannya dan pergi keluar negeri.


__ADS_2