Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Tidak Akan Ada Hari Dimana Mereka Bisa Merasa Tenang


__ADS_3

Drrt drrrt drrt


"Siapa yang menelepon malam-malam begini?" Astria perlahan membuka mata setelah mendengar ponselnya berdering. Dia melihat jam terlebih dahulu sebelum mengangkat teleponnya. Saat ini tepat pukul 2 pagi


"Halo, siapa ini?' Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, Astria menanyakan siapa yang menghubunginya, karena dia memang tidak melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya terlebih dahulu


"Halo, tante. Ini Dodi. temannya Pras. Pras mengalami kecelakaan. Dia baru saja dibawa kerumah sakit terdekat"


"Apa?! Pras kecelakaan?!" Astria yang terkejut langsung tersadar dan seketika dia duduk dengan tergesa


"Di-dimana dia sekarang?" Sambung Astria dengan air mata yang kini telah mengalir


"Dia sudah dibawa kerumah sakit. Akan saya kirimkan alamatnya" Jawab Dodi yang mulai bergerak dengan mobilnya mengikuti ambulance


"Iya. Terimakasih ya" Astria pun langsung menutup telepon dan membangunkan suaminya


"Pah, pah bangun. Anak kita pah" Astria yang panik menggoyangkan tubuh suaminya dengan keras agar dia bangun


"Ada apa mah? Eh, kenapa kamu menangis? Apa yang terjadi?" Suami Astria sedang tidur pulas disebelahnya, bahkan saking pulasnya dia sampai tidak mendengar saat Astria terkejut karena telepon masuk langsung bangun dan melihat sang istri telah berderai air mata


"Pras pah, Pras!" Astria berusaha bicara disela isak tangisnya, namun dia tidak dapat mengatakan apa yang terjadi pada putranya seakan itu mengganjal di ujung lidahnya


"Pras kenapa? Coba kamu tenang dulu dan katakan pelan-pelan!" Suami Astria bicara dengan pelan berusaha menenangkan sang istri


"Pras, dia ... dia kecelakaan" Tangis Astria kembali pecah saat mengatakan apa yang terjadi pada putra semata wayangnya


"Apa?! Pras kecelakaan?! Dimana dia sekarang?" Suami Astria pun sangat terkejut begitu mendengar kabar  mengenai putranya


"Dia, dia baru saja dibawa kerumah sakit"


"Kita kesana sekarang!" Tanpa pikir panjang suami Astria langsung beranjak dari tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi kerumah sakit. Astria pun langsung bersiap dan mengikuti sang suami


Ceklek


Astria dan suaminya mulai melangkah keluar kamar dengan tergesa-gesa


"Mau pergi kemana kalian malam-malam begini?" Adnan yang sedang duduk di ruang keluarga karena tidak bisa tidur bertanya pada Astria dan suaminya yang terlihat panik


"Kami akan kerumah sakit kak.. Pras mengalami kecelakaan" Jawab Astria dengan nada yang sedih dan wajah yang masih meninggalkan sisa air mata

__ADS_1


"Apa? Pras kecelakaan? Bagaimana kondisinya?" Adnan cukup terkejut mendengar keponakannya kecelakaan


"Kami belum tahu. Tadi temannya hanya mengabari kalau Pras kecelakaan dan sekarang dibawa kerumah sakit" Suami Astria pun menjelakan dengan wajah panik


"Kami  pergi dulu kak. Kami harus segera tahu bagaimana kondisinya" Sambung suaminya yang kini menggenggam tangan sang istri untuk menguatkannya


"Baiklah. Kalian hati-hati dan nanti kabari kami, aku akan bersiap dan menyusul kalian pergi kesana"


"Baik, kak. Kami pergi dulu!" Astria menjawab sambil berlalu meninggalkan Adnan. Adnan pun beranjak dari tempat  duduknnya dan kembali ke kamar untuk memberitahu istrinya perihal kecelakaan Pras


Drap drap drap


Dia melangkah dengan langkah kaki yang cepat menuju kamar pribadinya


"Mah, mah bangun!" Adnan dengan lembut menggoyangkan tubuh sang istri untuk membangunkannya


"Ada apa pah?" Tanya Sani sambil mengusap matanya yang belum terbuka dengan benar


"Pras kecelakaan"


"Apa?!" Sani langsung duduk karena terkejut mendengar kabar kecelakaan Pras


"Iya, Pras kecelakaan. Astri dan suaminya baru saja pergi kerumah sakit. Kita juga harus pergi kesana sekarang!" Ujar Adnan yang memberi tahu sang istri sambil berganti pakaian


***


Cheva dan Lian baru saja kembali ke kediaman Kusuma. Saat ini waktu menunjukkan pukul 4 pagi dan kebetulan Yudha sedang terbangun dan pergi ke dapur.


"Dari mana saja kalian? Lihat jam berapa sekarang ini? Kalian seperti anak muda saja menghabiskan waktu di malam minggu yang panjang" Yudha bicara dengan sikap yang tenang namun menyindir Cheva


"Kami memang masih muda, tidak seperti kakek" Cheva menjawab dengan nada bicaranya yang manja


"Kamu sudah punya 2 anak remaja, dari mana itu dikatakan masih muda?" Yudha mengernyitkan dahi bertanya pada Cheva dengan senyum tipis dibibirnya


"Kakek juga sudah punya cucu buyut, tidak sepatutnya belum tidur di jam segini?" Cheva tidak ingin kalah dan terus berdebat dengan Yudha


Eaaaa eeaaaa eeeaaaa


Perdebatan mereka terhenti ketika terdengar suara Lathan yang menangis

__ADS_1


"Tuh kan Lathan jadi bangun. Ini semua karena kakek, huh" Cheva mengerucutkan bibir dan bicara dengan sinis kemudian berjalan dengan cepat menuju kamar Lathan


"Kenapa jadi kakek? Memang suara kakek sekeras apa?!" Yudha yang kini suarannya tidak selantang dulu tidak ingin disalahkan oleh Cheva yang kini telah pergi menuju kamar Lathan


"Lian, sebenarnya kalian dari mana?" Karena tidak mendapatkan jawaban dari Cheva, kini Yudha beralih bertanya pada Lian


"Kami habis dari bukit. Ada balapan liar disana setiap akhir pekan" Lian menjawab dengan sikapnya yang tenang


"Balapan Liar? kalian ikut balapan? Atau lagi-lagi Cheva yang ikut balapan? Dari dulu dia selalu saja kebut-kebutan di jalan" Yudha terkejut sampai kedua bola matanya hampir keluar, namun dia tetap bersikap tenang meski terdengar khawatir


"Tenanglah kakek. Kami pergi kesana memiliki tujuan tertentu"


"Tujuan tertentu? Apa maksudmu?" Yudha memicingkan mata menatap Lian dengan bingung


"Pras, anak semata wayang Astria, dia mengalami kecelakaan"


Yudha terdiam mendengar ucapan Lian. Dia memicingkan mata curiga pada Lian


"Kenapa kakek menatapku seperti itu? Apa ada sesuatu diwajahku?" Lian pun mengernyitkan dahi melihat tatapan Yudha. Kemudian dia bertanya sambil memegangi sebelah papinya


"Apa ini perbuatan kalian?" Dengan sorot mata yang tajam dan nada bicara yang tegas, Yudha bertanya pada Lian


"Kenapa harus perbuatan kami? Dia kecelakaan karena balapan liar. Dan lagi itu salahnya sendiri karena berniat bermain curang" Lian menjawab dengan senyum mencibir


"Lalu bagaimana kondisinya?"


"Aku tidak tahu, karena kami langsung pergi setelah melihat mobilnya menabrak pohon. Kurasa cukup serius, mengingat kecepatannya sangat tinggi sampai mobil bagian depannya ringsek" Lian menjawab dengan sikapnya yang acuh tak acuh


"Ya sudah. Cari tahu mengenai ini besok! Kakek mau tahu bagaimana keadaannya. Dan lagi kalian harus mengunjungi rumah sakit sendiri dan tunjukkan rasa empati kalian" Pinta Yudha dengan sikap yang tenang


"Tentu kek. Aku akan memastikan bagaimana kondisi mereka besok. Termasuk dengan kondisi mental mereka" Lian tersenyum sinis dengan nada bicara yang mengejek


"Haah, kakek semakin yakin kalau ini bagian dari rencana kalian" Yudha tersenyum mengatakan apa yang dia pikirkan


"Ini bukan rencana kami kek, tapi ini hanya salah satu bagian dari rencana kami karena mereka berani mengusik kita. Bukannya kakek sendiri yang bilang kalau kita harus adil? Jadi kami berniat melakukan hal yang sama sebelum mereka kehilangan semuanya. Perusahaan mereka sudah ada di genggaman tangan kita, sekarang mereka akan mulai mengalami hidup seperti di neraka. Tidak akan ada hari dimana mereka bisa merasa tenang"


Yudha menyunggingkan senyum tipis pada Lian


"Haaah.. rupanya kamu memang memiliki darah Kusuma meskipun hanya menantu keluarga Kusuma. Kamu dan Cheva sama saja"

__ADS_1


"Tentu saja kek. Kami kan selalu saling melengkapi"


"Terserah, kakek mau kembali tidur"Yudha mengabaikan Lian dan kembali kekamarnya


__ADS_2