Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Penyesalan Sean


__ADS_3

Noey baru saja selesai dengan makan siangnya bersama dengan Mariana. Dia hendak kembali lagi ke kantornya.


"Terimakasih atas makan siang yang lezat ini" ujar Noey ketika akan pamit pergi


“Tidak perlu sungkan seperti itu. Aku yang seharusnya berterimakasih pada Pak Noey karena sudah membantuku” Mariana terlhat ragu-ragu dan canggung saat dia menanggapi ucapan Noey


“Pak Noey?” tanya Noey dengan memicingkan mata dan menatap heran pada Mariana kemudian dia tersenyum lembut padanya


“Cukup panggil aku Noey saja”


Mariana menganggukkan kepala disertai senyum yang lembut


“Oh, baiklah. Terimakasih karena kamu sudah membantuku, Noey” Mariana pun memanggil Noey dengan santai.


“Tidak masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu”.


“Ya, hati-hati dalam perjalanan anda. Sampai jumpa”


“Sampai jumpa” Mariana pun mengangguk dan melambaikan sebelah tangannya pada Noey


“Aku harus menyelesaikan urusanku dikantor polisi terlebih dahulu sebelum kembali ke kantor. Dia pasti sudah menerima pengobatan dan ditempatkan didalam sel tahanan. Aku tidak akan membuat pria yang ringan tangan pada wanita itu lepas begitu saja” Gumam Noey saat dia berjalan menuju mobil dan hendak meninggalkan rumah Mariana.


Noey pun mulai mengendarai mobilnya dan meninggalkan rumah Mariana. Dia berkendara dengan kecepatan tinggi karena tidak ingin menunda waktu lebih banyak lagi untuk Sean.


Hingga tak butuh waktu lama untuknya sampain kekantor polisi.


“Permisi. Aku ingin bertemu dengan tahanan bernama Sean yang baru hari ini kemari” ujar Noey pada petugas yang berjaga.


“Oh silahkan. Kebetulan tahanan beranama Sean sudah dibawa ke sel setelah menerima pengobatan atas luka tembak yang dia miliki. Dia juga menerima pengobatan atas luka memar yang baru saja dia terima karena berkelahi


dengan rekan satu selnya” ujar petugas menjelaskan


“Tunggu Pak. Dia berkelahi dengan rekan satu selnya? Kenapa?” Noey mengernyitkan dahi heran dengan apa yang dikatakan polisi padanya


“Ya, dia berkelahi sesaat setelah dia dimasukkan kedalam sel tahanan. Kami tidak tahu apa yang jadi masalahnya hingga dia dikeroyok olehn tahanan lama disini” Petugas kembali menggelengkan kepala  setelah menjelaskan keadaannya pada Noey

__ADS_1


“Boleh saya melihatnya. Saya tidak membutuhkan waktu lama”


“Tentu, silahkan kesebelah sini” petugas pun berdiri dan menunjukkan jalan untuk Noey menemui Sean


Mereka menyusuri Lorong yang melintasi beberapa ruang sel tahanan


“Itu dia!” Polisi menunjuk pada pemuda yang sedang terduduk disalahatu sudut sambil memegangi lutut dan kepala yang dibenamkan dikaki


"Sean, ada kunjungan untukmu” ujar petugas itu


membertahu Sean


Sean mengangkat kepalanya dan menatap Noey. Dia terkejut saat melihat Noey yang kini tersenyum tipis setelah melihat wajahnya yang babak belur


“Saya akan meninggalkan anda. Anda memiliki waktu 15 menit”. Petugas memberitahu Noey sebelum dia meninggalkannya bersama Sean


“Baik pak. Terimakasih” Noey tersenyum tipis saat bicara pada polisi.


“U-untuk apa kamu kemari?! Belum puas kamu dan teman-temanmu melakukan ini padaku?!” Sean bertanya dengan gugup dan gemetar karena melihat Noey berdiri dihadapannya.


“Dasar kalian tidak punya perasaan! Bisa bisanya kamu melakukan ini padaku! Aku tidak bersalah pada kalian tapi kalian sama sekali tidak membiarkan aku tenang!" Sean terus saja berteriak saat dia bicara pada Noey


"Untuk apa aku punya perasaan padamu? Apa kamu punya perasaan saat kamu memukul Mariana? Apa kamu pikir itu mudah dihadapi oleh seorang wanita dengan popularitas sebagai seorang selebriti? Kamu memukulnya, mencemarkan nama baiknya. Kamu tidak membiarkan dia hidup tenang dengan pria yang dibilang kekasihnya. Apa kamu pikir kamu pantas dibilang sebagai kekasihnya?!"


Noey bicara dengan sikap yang tenang dan dingin pada Sean. Tatapannya terlihat sangat tajam penuh dengan kebencian


"A-aku … aku tidak bermaksud seperti itu. Aku mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya. Aku hanya ingin mempertahankan dia disisiku" Sean menggelengkan kepala, tatapannya terlihat kalau dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Noey. Nada bicaranya terdengar kalau dia ragu dengan apa yang sudah dia dengar


"Cinta? Apa cinta harus menyakiti orang lain? Apa cinta yang kamu maksud itu harus membuatnya terluka fisik dan mental? Apa cinta yang kamu katakan itu harus membuat dia menderita? Lebih baik kamu tidak mencintainya. Lebih baik kamu menjauh darinya dan membiarkan dia bahagia. Aku akan membuatmu menderita jika kamu kambali mendekatinya!" Noey terlihat sangat marah saat dia bicara pada Sean. Diapun kembali menenangkan diri saat akan pergi dari hadapan Sean.


"Kali ini aku tidak akan melakukan apapun, karena sepertinya seseorang tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang" Noey tersenyum dan melirik rekan satu sel Sean yang menatapnya dengan tatapan seperti pemburu. Mereka terlihat seperti siap memangsa Sean kapan saja.


Sean pun menyadari tatapan Noey. Dia pun melirik pada beberapa pria yang berdiri di sudut sel


"Kumohon lepaskan aku. Jangan biarkan aku disini, jangan biarkan mereka kembali memukulku. Tolong keluarkan aku dari sini" Sean memohon pada Noey. Dia terlihat ketakutan dengan linangan air mata yang telah menggenang dipelupuk matanya

__ADS_1


"Kenapa aku harus menolongmu? Aku tidak punya urusan denganmu, dan yang melaporkanmu juga bukan aku. Jadi apa alasanku harus menolongmu?" Noey mengernyitkan dahi saat dia bertanya pada Sean. Dia terlihat tenang dengan nada bicara mencibir


"Aku mohon padamu, jangan tinggalkan aku! Biarkan aku kaluar dari sini!" Sean terlihat panik ketika dia melihat Noey akan pergi meninggalkannya


"Dengarkan aku! Aku kemari untuk membuatmu menyesal dengan apa yang telah kamu lakukan, tapi sepertinya aku terlambat. Kamu akan tetap membayar semuanya dari sekarang. Tidak hanya hukuman penjara tapi juga pukulan dalam penjara akan selalu kamu terima" Noey tersenyum kemudian berbalik meninggalkan Sean yang tak percaya dengan apa yang dia katakan


"Jangan pergi! Ampuni aku! Kenapa kalian melakukan ini padaku?!" Teriak Sean pada Noey, namun Noey terus berjalan tanpa menoleh pada Sean


***


Risha sudah kembali ke kantor setelah dari kantor polisi. Dia langsung duduk di kursi kerjanya dan bersandar dengan mata terpejam. Tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara ponselnya.


Drrt drrt drrt


Risha membuka matanya dan meraih ponsel yang tergeletak diatas mejanya. Tertulis dilayar ponsel nama 'Rendra'


"Halo" Sapa Risha dengan suara terdengar lemah


"Sha, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?" Terdengar suara Rendra yang panik dari seberang telepon


"Ren, badanku rasanya lemas. Rasanya aku ingin tidur" ujar Risha yang kembali memejamkan mata saat bicara dengan Rendra.


"Apa yang terjadi denganmu?! Kenapa suaramu terdengar lemah?! Risha! Risha!" Rendra semakin panik ketika Risha tidak lagi menanggapi ucapannya. Dia langsung menutup telepon dan beranjak dari kursi kerjanya


"Alan, aku akan pergi ketempat Risha. Kamu handel dulu semua pekerjaanku!" Ujar Rendra yang langsung pergi tanpa menunggu tanggapan Alan


"Apa yang terjadi? Kenapa pak Rendra selalu menyusahkanku dan membuatku harus lembur saat dia sedang pacaran? Apa sebaiknya aku juga punya pacar?" ujar Alan yang bicara sendiri sambil menatap punggung Rendra yang semakin menjauh


---------------------------


Halo reader semua. Maaf ya beberapa hari ini slow up.


Dihari yang fitri ini aku mau minta maaf secara pribadi ke kalian semua. Maaf kalau ada tulisan atau komentarku yang membuat kalian sakit hati atau merasa tersinggung. Aku hanya ibu rumah tangga yang suka berimajinasi. Dan semoga kedepannya bisa menulis cerita yang menghibur kalian. Sekali lagi mohon maaf lahir dan batin


Taqaballahu minna waminkum

__ADS_1


Selamat hari raya idul firti semua


__ADS_2