Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Sepertinya Dia Menyukai Kenzie


__ADS_3

Kenzie, Meisya, Noey, Safira dan Risha bermain dengan gembira diatas tumpukan salju. Sedangkan Rendra dan Billy menunggu di sebuah kafe dekat wahana bermain sampai mereka selesai


"Safira, bagaimana kalau kita berlomba main ski?" Risha bertanya dengan senyum ceria di wajahnya


"Baik, aku setuju" Meksipun ada banyak orang disana, tidak ada yang mendekati Safira karena dia menggunakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya. Dia juga menggunakan syal dan penutup kepala sebagai pelengkap agar tidak dingin sehingga dia bisa bersenang-senang sepuasnya


"Ayo kita mulai!" Risha sangat bersemangat saat dia akan bermain dengan Safira


"Kalau begitu aku akan jadi wasit diantara kalian berdua" Noey ikut bergabung dengan Risha dan Safira karena tidak ingin jadi obat nyamuk diantara Kenzie dan Meisya


"Ya, kamu harus jadi wasit yang adil" Safira pun menanggapi Noey dengan sikap tenang dan tanpa rasa canggung


"Tentu. Kita mulai sekarang 3 2 1 go!" Safira dan Risha pun mulai dengan permainan mereka setelah Noey selesai memberikan aba-aba.. Meskipun mereka sedang bertanding tapi mereka terlihat bahagia dengan senyum ceria


"Fira, ternyata kamu pandai bermain ski!" Risha bicara dengan sedikit berteriak pada Safira yang berada sedikit dibelakangnya


"Aku juga tidak tahu. Mungkin aku memang berbakat atau mungkin juga aku sudah biasa memainkan ini. Aku tidak tahu pasti!" Safira pun menjawab dengan senyum ceria


"Hahaha ... yang penting kamu bisa bermain dan kita bisa bersenang-senang" Risha bermain tanpa memperhatikan didepannya


"Risha, awas!" Safira berteriak ketika Risha akan menabrak seseorang


Risha yang terus menoleh pada Safira pun berbalik dan menoleh kearah depannya


"Eh? Awaaaaasss!! Aaaahhh"


"Aaaahhh" Pemuda yang berada di depan Risha pun terkejut karena melihat Risha yang meluncur tepat ke arahnya


Namun sebelum sesuatu terjadi Risha langsung merubah arah kakinya untuk menghindari pria itu


"Aaaahhh!!!"


Bruk!


"Risha!" Safira berteriak ketika melihat Risha terjatuh. Diapun segera berhenti main ski dan berlari ke arah Risha

__ADS_1


"Apa kamu terluka?" Tanya Safira pada Risha yang terduduk di atas tumpukan salju dengan merintih sambil memegangi sebelah tangannya


"Sepertinya tanganku terkilir" Risha menjawab dengan wajah meringis kesakitan


"Hei nona, apa kamu tidak bisa bermain? Bagaimana bisa kamu berniat mencelakai orang? Dengan bermain seperti itu kamu bisa mencelakai orang lain. Tahu tidak?!" Pria itu sama sekali tidak minta maaf ataupun menanyakan bagaimana keadaan Risha. Dia justru memaki Risha dengan nada yang sinis dan sombong


"Apa kamu gila?! Kamu bahkan tidak bertanya bagaimana kondisinya, dan sekarang kamu justru menyalahkan dia?" Safira berdiri dan mendekati pria itu dengan wajah penuh kemarahan


"Nona ... itu salahnya karena dia bermain tanpa memperhatikan keselamatannya. Harusnya dia bisa berhati-hati dengan keadaan disekitarnya" Pria itu sama sekali tidak memiliki rasa penyesalan ataupun simpati. Dia terus saja menyalahkan Risha atas apa yang terjadi padanya


"Hei pak, ini wahana untuk bermain ski, seharusnya anda yang berhati-hati dan memperhatikan sekitar sebelum melintas seenaknya di sekitar arena. Anda tidak sadar kalau tindakan anda itu sudah membuat orang lain celaka? Jika saudara saya tidak merubah arah kakinya dan mengorbankan keselamatannya sendiri, maka pasti anda yang sudah terluka karena tertabrak oleh kami"


Safira bicara dengan sikap yang tenang dan anggun namun terlihat jelas kalau dia kesal. Dia tidak takut sama sekali meskipun harus berdebat dengan pria yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dan besar darinya


"Pak? Nona, aku ini masih muda dan gagah. Aku juga tampan dan kaya, bagaimana bisa kamu memanggilku pak?"


Safira mengernyitkan dahinya ketika pria itu terlihat marah dan kesal saat dia memanggilnya dengan sebutan pak. Dia bahkan sangat percaya diri saat mengatakan kalau dia tampan dan muda


"Tampan? Apa dia tidak memiliki cermin dirumahnya? Dia bahkan tidak memiliki setengah dari ketampanan Kenzo. Bahkan aku merasa malu jika harus membandingkan mereka berdua" Safira bekata dalam hati dan menatap pria itu dengan tatapan mencibir ketika mendengarkan perkataannya


"Haaah ... sudahlah, aku tidak memiliki banyak waktu untuk berdebat denganmu. Sebaiknya kamu bertanggung jawab atas kejadian ini. Bawa kami kerumah sakit terdekat disini. Saudaraku harus memeriksakan kondisi tangannya" Safira kembali bersikap tenang setelah dia menarik napas panjang dan berusaha mengakhiri perdebatan tak berujung ini


"Apa?!" Fira merasa tak habis pikir dengan pria didepannya. Dia bicara dengan sangat tenang bahkan cenderung angkuh


"Sha! Apa kamu terluka?!" Kenzie langsung berlari mendekati Risha begitu Noey memberitahu padanya apa yang terjadi pada Risha. Dia langsung memperhatikan Risha dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk memeriksa apa dia terluka atau tidak


"Aw" Risha meringis ketika Kenzie menyentuh pergelangan tangannya


"Bagaimana ini bisa terjadi?" Kenzie bertanya dengan nada yang lembut namun terlihat serius dan juga khawatir


"Itu ... aku tidak sengaja melintas di depan mereka"


"Hah?!" Safira dan Risha menatap tak percaya pada pria yang sejak tadi berdebat dengan Safira, kini terlihat pipinya memerah dengan sorot mata berbinar saat melihat Kenzie. Mereka berdua terkejut melihat reaksi pria itu yang berbeda ketika berhadapan dengan Kenzie


"Kita pergi kerumah sakit sekarang!" Ujar Kenzie yang kini khawatir pada Risha dan mengabaikan pria itu

__ADS_1


"Biar aku antar kalian. Aku tahu rumah sakit yang berada tidak jauh dari sini" Pria itu bicara dengan sikap yang tenang pada Kenzie. Sorot matanya pun terlihat lembut, berbeda dengan sorot matanya pada Safira


"Bukannya tadi kamu sama sekali tidak ingin membantu kami? Kenapa sekarang sikapmu berubah?" Safira bertanya dengan sikap yang sinis dan mata mendelik curiga


"Aku hanya ... tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja. Mau bagaimanapun itu terjadi karena dia berusaha menghindariku"


"Ini gila" Risha dan Safia saling menatap satu sama lain melihat tingkah dari pria itu


"Sudahlah. Noey, beritahu Rendra kalau kita akan kerumah sakit. Ayo sayang" Kenzie memapah Risha dan meminta Meisya mengikutinya. Safira pun berjalan dengan Meisya dibelakang Kenzie. Sedangkan pria itu, dia terlihat kesal dan menatap Meisya dengan penuh kebencian ketika Kenzie memanggilnya sayang


Drrt drrt drrt


Ponsel Safira berdering saat mereka berjalan untuk meninggalkan arena bermain


"Halo, sayang" Safira langsung menyapa saat dia menerima telepon dari Kenzo


"Halo, kalian dimana? Aku akan menyusul kalian kesana sekarang" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang saat dia bertanya pada Safira


"Kami sedang dalam perjalanan kerumah sakit. Tadi aku ..."


"Apa?! Rumah sakit?! Apa kamu merasa sakit? Bagian mana yang sakit? Apa bagian kepala atau yang lain?!' Kenzo yang panik langsung menyela perkataan Safira sebelum dia selesai dengan perkataannya


"Dengarkan aku dulu. Tadi aku dan Risha mengalami sedikit insiden saat bermain ski, tangan Risha terluka, sepertinya pergelangan tangannya terkilir" Safira menjelaskan pada Kenzo yang terjadi secara singkat sebelum dia semakin khawatir pada kesehatannya


"Oh, kalau begitu nyalakan GPS mu. Aku akan menyusul kalian kesana" Ujar Kenzo yang kembali tenang


"Baiklah, hati-hati dalam perjalananmu"


"Ya, sampai jumpa" Safira dan Kenzo pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka


"Apa kak Zo akan menyusul kerumah sakit?" Meisya bertanya dengan sikap yang tenang sambil mengkuti Kenzie dibelakangnya


"Ya, dia sedang dalam perjalanan. Sya, sepertinya kamu harus berhati-hati pada pria itu" Safira sedikit mengingatkan Meisya agar berhati-hati pada pria yang ikut dengan mereka saat ini


"Hati-hati padanya? Memangnya kenapa? Apa tadi terjadi sesuatu?" Meisya yang tidak memperhatikan pun terlihat bingung setelah mendengar apa yang dikatakan Safira

__ADS_1


"Lihatlah tatapannya pada Kenzie. Sepertinya dia menyukai Kenzie"


"Apa?!"


__ADS_2