
Deby sangat terkejut dengan sikap yang ditunjukan Kenzie padanya dan juga dengan apa yang baru saja didengar langsung olehnya.
“Si-siapa dia?” tanya Deby yang penasaran dengan gadis yang menjadi pasangan Kenzie
“Kenapa kamu harus tahu? Sepertinya ini masalah pribadiku dan tidak ada sangkut pautnya denganmu” Kenzie memicingkan mata dengan tatapan sinis dan nada bicara yang dingin saat dia bicara pada Deby.
“Apa gadis waktu itu? Gadis yang makan siang dengan pak Kenzie?” pikir Deby setelah mengingat Meisya yang bertemu dengannya saat makan siang direstoran.
“Saya hanya ingin tahu. Apa dia bisa menguntungkan untuk anda atau mungkin saja dia bisa menjatuhkan anda” ujar Deby dengan sikap yang tenang meskipun tangannya kini mengepal.
“Deby, pasanganku adalah untuk menemani disampingku, bukan untuk mencari peruntungan ataupun keuntungan. Aku sama sekali tidak membutuhkan itu karena aku bisa mendapatkan sendiri apa yang aku inginkan” Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.
“Tidak pak. Tidak seperti itu. Saya hanya ...” Deby berusaha menjelaskan pada Kenzie namun dia dengan cepat memotong perkataannya sebelum selesai.
“Deby, selama ini aku menghormatimu karena kamu telah melaksanakan pekerjaanmu dengan sangat baik. Aku hanya menganggap kamu sebagai sekertarisku saja, tidak lebih dari itu” Deby menundukkan kepala untuk menyembunyikan linangan air mata yang telah menggenang dipelupuk matanya saat Kenzie menyela ucapannya.
“Apa yang anda maksud pacar anda ... adalah gadis dari bagian produksi yang waktu itu?” Deby kembali memberanikan diri bertanya pada Kenzie untuk memastikan siapa gadis yang menjadi pacarnya meskipun kini air matanya sudah mulai menetes membasahi kedua pipinya.
“Iya, dia adalah pacarku” Jawab Kenzie dengan sikap yang tenang dan ekspresi yang datar
“Bukankah jabatan saya lebih baik darinya? Saya ini sekertaris anda, sedangkan gadis itu hanya karyawan biasa yang tidak memiliki jabatan apapun di bagian produksi!” Deby bicara disela linangan air matanya. Dia terlihat kesal dan mencurahkan emosinya pada Kenzie.
“Sudah ku bilang, aku punya penilaian sendiri untuk itu. Lagipula aku bersamanya karena aku mencintainya, bukan karena aku membutuhkan
sesuatu darinya” Kenzie terus menyanggah setiap ucapan Deby dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin. Sesekali dia terlihat menggerakkan dagunya karena kesal pada sikap sekertarisnya itu.
“Tetap saja dengan posisi anda sekarang, anda tidak pantas bersanding dengan gadis biasa seperti dia! Apa kata kolega anda nanti?!". Deby
masih bersikeras dengan pendapatnya mengenai gadis yang akan jadi pendamping Kenzie.
“Deby, kamu sudah terlalu melampaui batas. Kamu pikir, kamu itu pantas dibandingkan dengan meisya?". ujar Kenzie dengan sikap yang dingin dan tidak bisa lagi menyembunyikan kekesalannya.
__ADS_1
“Saya tidak bermaksud seperti itu, tapi tetap saja gadis yang menjadi pasangan anda akan selalu jadi perbincangan dikalangan bisnis
nantinya” ujar Deby yang kembali menanggapi Kenzie dengan sikap yang lebih tenang.
“Kalau begitu anggap saja dia sebagai cinderella dalam dunia nyata” jawab Kenzie dengan sikap acuh tak acuhnya.
“Begini saja, Pak. Bagaimana kalau Bapak ajak dia nanti untuk makan malam bersama dengan perwakilan dari perusahaan Estin? Toh makan malamnya diadakan di restoran, jadi anda bisa membawa siapa saja yang anda inginkan” Deby bicara dengan sikap yang sombong dan senyum mencibir sambil menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya. Dari senyumnya terlihat kalau dia merencanakan sesuatu untuk makan malam nanti.
“Sejak kapan Deby berani bersikap seperti ini padaku? Sepertinya selama ini dia baik-baik saja. Apa memang aku yang salah menilai ya?” pikir Kenzie yang menatap Deby dengan tatapan
sinis dan juga heran.
“Tentu saja! Jangan salahkan aku jika kamu merasa malu saat direstoran nanti, karena bukan aku yang memulai semuanya” ujar Kenzie dengan sikap yang dingin
“Baik, pak. Kalau begitu saya permisi dulu”
“Hmn ...” Kenzie hanya menganggukkan kepala menanggapi Deby yang kini mulai beranjak pergi dari ruangannya
“Haah ... bisa-bisanya dia berpikir seperti itu. Dia pikir dia siapa berani melakukan tawar menawar denganku?” Gerutu Kenzie sambil menghela napas panjang setelah Deby keluar dari ruangannya.
“Apa yang terjadi? Kenapa Deby keluar dengan raut wajah kesal seperti itu?” tanya Noey yang berjalan medekat kearah Kenzie dengan sesekali menoleh kearah pintu.
“Dia bilang ingin jadi pendampingku dan membantu semua pekerjaanku agar aku bisa mendapatkan proyek manapun yang aku inginkan” Kenzie menjelaskan mengenai apa yang diinginkan Deby darinya dengan nada yang malas.
“Apa maksudnya?” Noey pun terheran-heran dengan apa yang dikatakan Kenzie mengenai keinginan Deby.
“Katanya dia adalah pasangan yang cocok dan menguntungkan untukku. Dia bisa membantuku mendapatkan banyak keuntungan didunia bisnis. Tentu saja itu juga akan menguntungkan untuk posisiku di perusahaan ini” Kenzie menjelaskan dengan sikap yang dingin
“Omong kosong macam apa itu?” Noey mencibir sambil mendengus kesal.
“Itulah dia. Dia memintaku untuk membawa Meisya pada rapat dengan perusahaan Estin yang akan diadakan malam ini” Kenzie kembali
__ADS_1
menjelaskan dengan sikap yang tenang pada Noey
“Kalau begitu ajak saja dan beritahu mengenai hubungan kalian berdua pada semua orang! Kurasa ini bukan masalah besar juga, lagipula keluarga kalian berdua juga sudah tahu mengenai hubungan diantara kalian yang telah terjalin selama ini” Noey menyarankan dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.
“Tentu saja aku akan membawa Meisya untuk makan malam nanti. Akan kutunjukkan pada Deby kalau Meisya adalah gadis yang memang pantas berdiri disampingku daripada siapapun” Kenzie bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.
***
Risha sedang berada dikantornya sambil berbicara dengan Rendra melalui sambungan telepon
“Apa keluargamu mengatakan sesuatu setelah aku pergi dari rumahmu waktu itu?” tanya Rendra dengan sikap yang tenang
“Apa kamu takut jika keluargaku tidak menyukaimu? Menurutmu apa yang mereka katakan?” Risha bertanya dengan sikap yang tenang dan terdengar manja sambil menatap setiap kuku tangannya yang kini mnegenakan kutek berwarna nude.
“Tentu saja tidak. Mana mungkin mereka tidak menyukaiku. Aku ini memiliki asal usul yang jelas. Memiliki pekerjaan yang tetap dan juga mapan. Terlebih lagi aku sahabat dari salah satu sepupumu, jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menyukaiku” Rendra menanggapi dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang terdengar penuh percaya diri dan angkuh.
“Tingkat percaya dirimu sudah mencapai level maksimum. Bagaimana bisa kamu memiliki sikap yang narsis begitu?” ujar Risha degan senyum manis dibibirnya.
“Tentu saja aku harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Jika tidak, mana mungkin bisa bersanding denganmu dan menjadi bagian dari
keluarga Kusuma?” ujar Rendra lagi yang tersenyum bangga dengan kedua alis diangkat bersamaan.
“Ya ya ya. Memang bagian dari keluarga kami tidak sembarangan. Jika memang kamu tidak sanggup untuk memiliki banyak musuh, sebaiknya mundur dari sekarang" Risha memperingatkan dengan nada bercanda.
Rendra yang menelepon Risha sambil membaca dokumen langsung diam dengan ekspresi dingin
"Apa kamu bercanda? Kamu pikir aku bisa keluar begitu saja setelah berhasil masuk kandang singa? Aku lebih rela terkurung didalam kandang singa seumur hidup daripada keluar dan jadi buruan kalian semua" Rendra menanggapi dengan sikap acuh tak acuh dan ekspresi wajah yang serius.
"Benarkah? Kamu sangat bernyali besar!" ujar Risha lagi dengan senyum dibibirnya
"Sayang, jika aku tidak memiliki nyali, maka aku tidak pantas bersanding denganmu"
__ADS_1
"Cih, semakin lama, kamu semakin pandai bicara" Risha mencibir sikap Rendra yang acuh tak acuh
"Jika aku tidak pandai bicara, maka aku juga tidak akan bisa merebut hatimu" Risha terdiam dengan wajah tersipu malu mendengar ucapan Rendra. Dia terus saja kalah saat berdebat dengan sang kekasih