Putra Putri Sang Penguasa 3

Putra Putri Sang Penguasa 3
Kehebohan Meisya


__ADS_3

Kenzie berakhir dengan terjebak dalam permainan catur bersama pak Arseno hingga larut malam


"Kita main sekali lagi!" Ujar Pak Arseno yang setelah sekian kalinya kalah dari Kenzie


"Maaf pak, kali ini saya menolak" Kenzie menanggapi dengan sikap yang tenang namun tegas


"Bukannya sudah saya bilang kalau kamu tidak boleh mundur di tengah permainan kita?" Pak Arseno menanggapi dengan wajah yang datar


"Tapi pak, apa anda sadar sekarang sudah jam berapa? Ini sudah hampir jam 2 malam dan kita sudah menghabiskan hampir 5 gelas kopi" Kenzie menunjuk pada jam dinding kemudian pada gelas-gelas yang terletak di atas meja


"Sejak kapan ini jadi sangat larut malam? Kamu meminta Har untuk memutar jamnya ya?"


"Eeh? Kapan saya meminta pak Har memutar jamnya? Anda tidak sadar kalau pak Har sejak tadi berubah jadi patung yang terus berdiri disamping anda?" Kenzie menoleh pada Har yang berdiri di samping pak Arseno dan pak Arseno pun menoleh pada Har


"Aku terlalu asyik bermain sampai lupa waktu. Baiklah, untuk kali ini kita sudahi sampai disini saja. Kita akan melanjutkannya lain kali"


Kenzie pun langsung meraih jas yang dia letakkan disampingnya dan mulai mengenakannya


"Kalau begitu saya langsung undur diri saja. Selamat malam" Ujar Kenzie yang bersiap untuk pergi


"Mau kemana kamu?" Tanya pak Arseno dengan sikapnya yang datar


"Saya mau mencari hotel dekat kantor untuk menginap malam ini. Jadi besok saya tidak perlu berkendara jauh untuk tiba di kantor" Kenzie menjawab dengan senyum yang ramah


"Tidak perlu. Kamu bisa tidur disini untuk malam ini"


"Tidak perlu pak. Saya menginap dihotel saja. Sepertinya itu lebih nyaman untuk saya" Kenzie berusaha menolak tawaran pak Arseno


"Ini sudah terlalu larut untukmu pergi. Har, siapkan kamar kosong untuknya!" Pak Arseno langsung memberikan perintah tanpa menunggu jawaban dari Kenzie lagi


"Baik tuan" Har pun langsung bergegas meninggalkan Kenzie dan pak Arseno


"Kalau begitu terimakasih. Maaf karena saya jadi merepotkan anda" Kenzie bicara dengan sopan dan senyum yang ramah


"Bukan masalah. Lagipula, saya yang memintamu datang kemari. Sudah sewajarnya untuk saya menyediakan tempat bermalam untukmu"


"Maaf tuan. Kamarnya sudah selesai disiapkan"


"Baiklah. Kamu antarkan dia kekamarnya"


"Baik tuan, permisi. Silakan pak Kenzie"


"Terima kasih pak. Selamat malam"

__ADS_1


"Hemn …"


Kenzie mengikuti Har setelah pak Arseno menganggukan kepala menanggapi salamnya


"Pak Kenzie, ini kamar anda. Semoga anda bisa beristirahat dengan nyaman"


"Terimakasih pak Har"


"Kalau begitu saya permisi"


"Iya"


Kenzie pun langsung masuk ke kamarnya setelah Har pergi. Dia menoleh ke sekeliling memperhatikan setiap sudut kamarnya


"Merepotkan. Jika saja aku tidak bersedia menolong Meisya, mungkin ini tidak akan terjadi. Haah ... bagaimana aku mengakhiri kesalahpahaman ini?" Kenzie menghela napas panjang sambil membaringkan badanya diatas tempat tidur


***


"Kak Lian, mami menghubungiku. Dia menanyakan mengenai Kenzo" Cheva sedang berbincang dengan Lian sambil berbaring dipelukannya yang hangat


"Apa yang mami katakan?" Lian menanggapi dengan sikapnya yang tenang dan lembut


"Kamu mau membiarkan Kenzo memegang perusahaan mami atau perusahaanmu? Sekarang semua orang sudah tahu kemampuan Kenzo sebagai programer handal. Mami ingin Kenzo mulai terjun ke perusahaan seperti Kenzie"


Lian kembali bicara dengan sikap acuh tak acuhnya.


"Mereka masih menikmati proses pembuktian mereka, jadi biarkan saja sesuai dengan apa yang mereka inginkan" Cheva menjawab dengan senyum lembut dibibirnya


"Ya sudah. Terserah padamu saja"


***


Keesokan paginya, Meisya pulang kerumahnya pagi-pagi sekali karena pak Har memberitahunya kalau Kenzie ada dirumahnya


"Papa…! Papa …!" Meisya berteriak dengan panik memanggil sang ayah


"Ada apa kamu berteriak pagi-pagi? Itu sama sekali tidak sopan" Pak Arseno menanggapi dengan sikapnya yang tenang sambil membaca koran dan menikmati kopi miliknya


"Papa apakan pak Kenzie? Tidak, maksudku kak Kenzie?" Meisya langsung duduk disamping sang ayah dan bertanya dengan nada sinis dan panik


"Memangnya papa apakan dia? Papa tidak melakukan apa-apa" Pak Arseno menanggapi dengan sikap acuh tak acuh


"Papa tidak mematahkan tulangnya kan? Atau papa minta anak buah papa membuatnya cacat? Ah atau jangan-jangan papa sudah membuang dia? Katakan padaku pah!" Meisya terlihat panik dan juga penasaran dengan apa yang dilakukan sang ayah pada Kenzie

__ADS_1


"Apa maksudnya pertanyaanmu itu? Kamu pikir papa ini mafia? Sembarangan saja kalau bicara!" Pak Arseno terlihat kesal dengan dahi mengernyit mendengar ucapan anaknya


"Lalu papa apakan dia? Sekarang dimana dia? Paman Har bilang kemarin papa memintanya datang kemari" Meisya semakin penasaran dengan apa yang dilakukan sang ayah pada Kenzie


"Papa tidak melakukan apa-apa padanya. Kami hanya bertanding semalaman" Pak Arseno menjelaskan apa adanya dengan sikap tenang


"Apa?! bertanding semalaman?! Bertanding apa? Apa dia baik-baik saja?! Kenapa sampai semalaman?! Dimana dia sekarang?!" Meisya semakin panik ketika mendengar kalau pak Arseno dan Kenzie bertanding semalaman


"Selamat pagi" Meisya langsung menoleh mendengar suara Kenzie dibelakangnya


"Pak Kenzie! Eh kak Kenzie. Apa kamu baik-baik saja?! Ada yang luka?! atau mungkin ada yang patah?! Haruskah kita kerumah sakit dan memeriksa bagian dalam tubuhmu? Siapa tahu ada luka dalam?"


Meisya langsung berjalan mendekatinya dan memeriksa hampir seluruh tubuhnya. Dia berputar memeriksa tangan, kaki, atas, bawah. Dari ujung rambut sampai ujung kaki


"Tenanglah dulu. Aku tidak papa, kamu lihat sendiri kan?" Kenzie menanggapinya dengan senyum yang ramah


"Serius? Papa, sebenarnya apa yang sudah papa lakukan?!" Meisya menoleh pada sang ayah dan bertanya dengan nada kesal


"Papa tidak melakukan apa-apa. Kenapa kamu tidak percaya? Tanya saja padanya!" Pak Arseno pun terlihat kesal karena Meisya hanya mengkhawatirkan Kenzie


"Dengarkan aku, kami hanya bermain catur. Tidak mungkin catur sampai melukai tubuhku" Kenzie memegang pundak Meisya yang sejak tadi terlihat kesal pada sang ayah membuatnya menatap kearahnya


"Papa tidak memintamu melawan anak buahnya? Atau mungkin papa mengancam kak Kenzie agar tidak mengatakannya padaku?" Meisya masih tetap terlihat khawatir


"Kak Kenzie?" Meisya tertunduk malu saat Kenzie menggodanya dengan mengulang nama panggilan yang Meisya gunakan


"Ehem ehem" Pak Arseno berdehem melihat Kenzie dan Meisya yang sangat dekat


"Cepat duduk dan sarapan!" Ujarnya dengan sikap dingin. Kenzie dan Meisya pun kembali duduk dan mulai sarapan bersama


"Papa, aku tidak mau ya sampai papa melakukan hal yang tidak-tidak pada kak Kenzie!" Meisya bicara dengan nada mengancam manja


"Jadi sekarang kamu mengancam papa?!" Meisya dan pak Arseno saling menatap tajam satu sama lain dengan tatapan sinis


"Mereka berdua terlihat seperti kucing dan anjing saja" Pikir Kenzie yang berusaha menahan tawa


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi dengan papa. Kami harus segera berangkat, jika terus berdebat dengan papa, kami bisa terlambat ke kantor" Ujar Meisya yang mengakhiri perdebatannya dengan sang ayah


"Tapi kak Kenzie … bukannya kemarin juga kamu menggunakan pakaian ini ya? Kamu tidak menyediakan baju ganti di mobilmu?" Tanya Meisya dengan mata mendelik


"Aku tidak pernah kemana-mana, jadi tidak pernah menyediakan baju cadangan. Tapi sepertinya mulai sekarang aku akan menyediakan pakaian dimobil untuk cadangan" Jawab Kenzie dengan senyum manis disertai kedua alis yang diangkat bersamaan


"Kalau begitu kita mampir ke toko terlebih dahulu. Tidak mungkin kan Kenzie mengenakan pakaian yang sama dengan kemarin" Ujar Meisya tegas

__ADS_1


"Baiklah" Kenzie pun tidak menolak karena memang dia berniat membeli setelan baru untuk ke kantor


__ADS_2