
"Halo papi" Saat ini Kenzo sedang menghubungi Lian untuk membicarakan masalah perusahaan Anggara.
"Ya, ada apa Zo?" Lian bertanya dengan nada bicaranya yang tenang
"Papi, ada apa dengan papi? Kenapa papi membiarkan manajemen perusahaan papi berantakan?" Kenzo bertanya dengan nada bicara yang sedikit heran pada Lian.
"Papi memang sudah 6 bulan terakhir tidak mengawasi perusahaan disana. Papi sedang sibuk denga galeri" Lian menjawab dengan tenang seakan-akan itu adalah masalah kecil.
"Papi hanya membuat alasan saja. Disini ada Om Pram dan cabang disana ada om Rey, kenapa papi tidak meminta mereka melaporkan semuanya secara detil? Tidak, aku yakin kalau papi pasti sudah menerima laporannya kan? Hanya saja papi membiarkan hal ini, begitu kan?"
Kenzo terdengar kesal karena Lian sama sekali tidak peduli dengan masalah dikantirnya
"Karena sekarang kamu sudah disana, maka ini akan jadi tugas pertamamu untuk menyelesaikannya. Aturlah manajemen perusahaan sesuai dengan keinginanmu" Lian menanggapi Kenzo dengan sikap yang tenang dan ada sedikit senyum tipis dibibirnya
"Jangan bilang ... papi yang merencanakan ini semua?" Kenzo bertanya dengan nada curiga dan sikap yang dingin
"Menurutmu? Kamu bukan anak bodoh yang tidak mengerti papi kan?" Lian tersenyum mencibir penuh teka teki
"Haaah ... memang susah ya punya orang tua yang memiliki IQ diatas rata-rata. Yang satu memaksa anaknya untuk melawan gosip murahan. Yang satu lagi memaksa anaknya untuk memulai perang secara internal begitu masuk ke perusahaan. Kalian berdua tidak memilki cara yang normal untuk menguji kami?" Kenzo semakin kesal dan bertanya dengan sikap yang dingin
"Kalian juga bukan anak muda yang normal, jadi kalian pasti bisa menyelesaikan ini secepatnya. Semangat!!" Terdengar suara Cheva dari belakang Lian dengan nada yang lembut dan sedikit mengejek
"Ini benar-benar rencana mami dan papi? Wah wah wah … kalian ini memang benar-benar pasangan yang kompak ya. Sudah, aku tidak ingin membahasnya lagi. Sampai jumpa" Kenzo yang kesal langsung menutup telepon mereka tanpa menunggu tanggapan lagi dari kedua orang tuanya
"Ada apa? Sepertinya kamu terlihat sangat kesal?" Safira bertanya dengan nada yang lembut
"Perusahaan Anggara sedang mengalami masalah internal. Ada penyelewengan dana yang menyebabkan kerugian perusahaan, tapi papi tidak menangani itu dan membiarkannya saja. Akibatnya banyak dewan direksi yang memperebutkan posisi sebagai Direktur Utama untuk menggantikan papi" Kenzo menjelaskan apa yang sedang terjadi di perusahaannya pada Safira
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan? Saat kamu masuk ke perusahaan dan mengambil alih posisi itu, tentu semua orang akan meragukanmu dan melakukan segala cara untuk merebut jabatan itu darimu"
Safira terlihat khawatir dan bingung dengan langkah apa yang akan dilakukan Kenzo sebagai upaya antisipasi
"Tidak perlu khawatir. Kamu tahu aku kan? Aku tidak akan begitu saja ditindas oleh orang lain. Hanya saja aku harus langsung bekerja keras begitu masuk keperusahaan" Kenzo bicara dengan sikap yang acuh tak acuhnya
__ADS_1
"Aku percaya padamu" Ujar Safira yang bicara dengan lembut
"Terimakasih. Sekarang kamu harus istirahat, besok pagi aku akan mengantarkan kamu ke bandara" Kenzo menggendong Safira dan membawanya ke tempat tidur lalu membantu memakaikan selimut
"Kamu juga harus istirahat. Jangan memikirkan perusahaan terus" Safira mengingatkan Kenzo dengan nada yang lembut
"Iya, selamat malam" Kenzo mengecup lembut kening Safira lalu beranjak pergi meninggalkan kamarnya dan kembali ke ruang tamu. Kenzo tidur di sofa sedangkan Safira dikamarnya
***
Pagi hari Kenzie bersiap menghadiri rapat yang diadakan para dewan direksi.
"Kamu pasti gugup ya?" Meisya memang sengaja datang lebih awal agar bisa menemani Kenzie sebelum dia menghadiri rapat
"Yang gugup itu siapa? Aku atau kamu?" Kenzie yang sedang membaca laporan langsung menarik Meisya hingga dia jatuh dipangkuannya
"Aku … sedikit khawatir. Bagaimana kalau mereka malah menyusahkanmu?" Meisya bertanya dengan raut wajah khawatir
"Dukungan? Dukungan seperti apa?" Meisya memicingkan mata menatap Kenzie
Kenzie tidak mengatakan apapun. Dia hanya menunjuk sebelah pipinya menggunakan jari telunjuk berkali-kali, mengisyaratkan agar Meisya mencium pipinya itu.
"Kamu ya, pagi-pagi sudah menggodaku" Meisya mengeluh dengan bibir mengerucut pada Kenzie
"Aku tidak menggoda. Aku hanya meminta dukungan darimu. Dan itu adalah bentuk dukungan yang aku inginkan darimu agar aku lebih semangat lagi" Kenzie menanggapi Meisya dengan sikap yang tenang
"Itu bukan bentuk dukungan, tapi kamu memang sengaja ingin mencari kesempatan dalam kesempatan" Meisya kembali memicingkan mata menatap Kenzie penuh curiga
"Apa salahnya meminta pacarku sendiri menciumku?" Kini Kenzie mengangkat kedua alisnya untuk menggoda Meisya
"Muach. Sudah!" Meskipun memasang wajah ditekuk tapi Meisya tetap mencium pipi Kenzie
"Sangat tidak ikhlas" Kenzie mengeluh karena Meisya menciumnya dengan cepat
__ADS_1
"Kamu juga memaksaku, bagaimana aku bisa ikhlas?" Meisya menanggapi dengan bibir mengerucut manja
"Kalau kamu tidak ingin memberiku dengan ikhlas maka aku yang akan mengambilnya sendiri. Muach" Kenzie kembali membuat alasan untuk mencium Meisya
"Dasar pencuri!" Meisya bicara dengan bibir mengerucut sambil dan mata mendelik pada Kenzie
"Terimakasih. Sekarang aku harus pergi keruang rapat. Kurasa ini sudah waktunya" Kenzie melihat jam tangannya dan membiarkan Meisya berdiri dari pangkuannya
"Semoga berhasil" Ujar Meisya dengan senyum lembut. Kenzie pun menganggukkan kepala dan merapikan dokumen yang harus dia bawa keruang rapat
"Heeumph … huuuuhh" Kenzie menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan ruangannya. Meisya pun semakin gugup ketika melihat Kenzie sudan berjalan sampai ke pintu kantornya.
Kenzie melangkahkan kaki dengan tenang dan elegan. Dia terlihat berwibawa dengan setelan jas slim fit yang dia kenakan.
"Selamat pagi semuanya" Kenzie menyapa dengan ramah ketika dia memasuki ruang rapat.
"Selamat pagi" Semua anggota dewan yang sudah duduk menunggu pun menjawab sapaan Kenzie dengan serempak
"Sepertinya semua sudah berkumpul. Jadi kita bisa mulai dengan rapat kita hari ini" Mark yang menjadi perwakilan dari dewan direksi mulai membuka rapat
"Disini kita akan mendengarkan bagaimana pendapat pak Kenzie mengenai perusahaan ini. Kami juga ingin tahu bagaimana pendapat anda mengenai para petinggi keluarga Kusuma" Ujar Mark kembali mengajukan pertanyaannya pada Kenzie
"Terimakasih. Menurut saya perusahaan Kusuma sudah memiliki pekerja yang kompeten, ditambah lagi setiap pemimpin dari keluarga Kusuma sudah dibekali dengan ilmu bisnis sejak mereka kecil, jelas itu menjadi kelebihan mereka agar bisa meneruskan perusahaan Kusuma. Tapi kita juga tidak boleh hanya mengandalkan keluarga Kusuma saja untuk bertanggung jawab atas perusahaan. Karyawan lainnya juga harus memiliki integritas sebagai pemimpin agar bisa bekerja sama" Kenzie menjelaskan apa pendapatnya
"Bagaimana anda begitu yakin, kalau orang luar bisa mengambil alih perusahaan itu? Sedangkan anda tahu sendiri kalau orang luar itu tidak bisa dipercaya. Kabanyakan orang luar hanya inginkan harta dan kekayaan. Saya tidak yakin kalau saat anda menjadi pemimpin … anda juga tidak akan tergiur dengan apa yang dimiliki oleh pemimpin perusahaan Kusuma?" Mark terus saja berusaha menyudutkan Kenzie
"Saya pasti tergiur dengan apa yang dimiliki para petinggi Kusuma, tapi saya sama sekali tidak berniat merebut apapun yang dimiliki keluarga Kusuma. Saya hanya akan bekerja sesuai dengan apa yang jadi tugas saya" Kenzie kembali menjawab dengan sikap yang tenang
"Baiklah, kami rasa cukup untuk saat ini. Kami akan mempertimbangkan jawaban anda sebelum memberikan keputusan" Mark mempersilakan Kenzie menunggu sebelum hasilnya diputuskan
"Ya, Terimakasih" Kenzie pun meninggalkan ruangan dan membiarkan para anggota dewan memutuskan hasil interview mereka
"Semoga mereka memberikan jawaban yang adil" Gumam Kenzie saat meninggalkan ruangan
__ADS_1