
"Sayang, sebenarnya kamu mau membawaku kemana? Kenapa sangat misterius sampai kamu menutup mataku?" Safira bertanya pada Kenzo yang kini membawanya dengan matanya ditutup oleh sehelai kain.
"Aku memiliki kejutan untukmu. Jadi kamu tenang saja, tidak perlu takut karena aku tidak akan mendorongmu ke jurang" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang sambil memapah Safira setelah mereka turun dari mobil
"Aku tahu kamu tidak akan mendorongku. Tapi ini kita mau kemana? Kamu sudah memintaku memakai penutup mata ini sejak tadi. Jangan buat aku penasaran" Safira masih terus bertanya pada Kenzo karena dia sama sekali tidak ingin memberitahu tujuan mereka
"Sabar dulu. Sebentar lagi kita akan sampai. Hati-hati dengan langkahmu" Kenzo menuntun Safira dengan hati-hati
"Sekarang siap-siap buka matamu. Setelah hitungan ketiga, kamu baru boleh membuka matamu. 1...2...3. Lihatlah!" Kenzo membuka kain yang menutup mata Safira dan perlahan membiarkannya melihat apa yang ada di depannya
"Waah. Bagus sekali. Ini rumah siapa Zo?" Safira menatap kagum pada rumah besar yang ada didepannya
"Mulai sekarang, ini akan jadi tempat tinggal kita. Aku membeli rumah ini sebagai hadiah pernikahan kita" Kenzo bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipis dibibirnya
"Ini rumah kita? Kamu serius?" Safira membelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan Kenzo padanya
"Aku serius. Ini akan jadi rumah kita mulai sekarang"
"Aaahhh! Terimakasih sayang" Safira langsung berhambur ke pelukan Zo karena terlalu senang dengan kejutan yang diberikan oleh sang suami
"Tunggu. Lalu bagaimana dengan rumahku dan rumah lamamu? Mau diapakan rumah itu?" Safira melepaskan pelukannya dari Kenzo setelah mengingat rumah lama mereka
"Ehm ... Biarkan saja itu menjadi aset kita. Kalau ingin ada yang merawat rumah itu, kita bisa biarkan disewa orang lain"
Safira menganggukkan kepala berkali-kali menandakan kalau dia mengerti dengan apa yang dikatakan Kenzo padanya
"Bagaimana kalau kita masuk sekarang?" Kenzo bertanya dengan lembut sambil menatap Safira penuh dengan kasih sayang
"Ayo" Safira pun kembali mengangguk setuju dan mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah baru mereka yang besar dan mewah
"Waah ini benar-benar bagus sekali. Kapan kamu membeli rumah ini?" Safira bertanya pada Kenzo sambil memperhatikan setiap sudut rumah baru mareka
"Belum lama. Mungkin saat aku mengatakan kalau aku ingin menikah denganmu" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang
__ADS_1
"Ayo kita ke lantai atas. Aku akan tunjukan kamar tidur kita"
Mereka berdua pun melangkahkan kaki menuju lantai atas untuk melihat kamar tidur mereka berdua
"Apa ini kamar kita?" Tanya Safira pada Kenzo sambil menatapnya dengan tatapan lembut dan senyum dibibir ketika mereka berada dikamar utama
"Ya, ini akan jadi kamar kita. Aku juga sudah menyiapkan ruang walk in closet untuk menyimpan pakaian dan aksesoris kita" Kenzo menjelaskan sambil meunjuk ruangan yang akan mereka pergunakan
"Baiklah, aku percaya dengan pilihanmu. Aku yakin kamu sudah mengatur semuanya dengan baik"
"Lusa kita akan pindah kemari" Ujar Kenzo dengan sikap yang tenang
"Hmn? Lusa?" Safira terkejut dan menatapnya dengan mata membelalak
"Tidak jadi. Besok saja kita pindah. Semua barang keperluan kita sudah disiapkan disini jadi tidak perlu membawa apapun. Cukup bawa barang-barang penting milikmu yang ada disana saja"
"Lalu pakaianku, apa aku harus membawanya kemari?"
"Sepertinya ini masih kurang, jadi kamu bisa membawa semua pakaianmu kemari"
Safira menoleh pada ruangan yang ditunjukkan oleh Kenzo. Disana sudah tertata beberapa pakaian, sepatu, tas dan lainnya
"Mungkin aku akan membawa bajuku, tapi untuk tas ... ini bahkan belum tentu bisa aku pakai semua. Kenapa kamu membeli barang sebanyak ini?" Safira bertanya sambil melihat-lihat beberapa pakaian dan barang lainnya yang telah disiapkan oleh Kenzo
"Aku tidak tahu baju mana yang akan kamu suka jadi aku minta dikirimkan beberapa barang dari designer terkenal. dan untuk tas aku minta dikirim tas milik brand terkenal yang memang pasti diminati para wanita"
"Padahal kita bisa membeli beberapa saja yang akan aku pakai nanti, kenapa sampai sebanyak ini? Dan sepertinya kamu minta dikirimkan setiap model dari setiap serinya ya?" Safira tersenyum saat membayangkan Kenzo meminta dikirimkan barangnya
"Kamu itu seorang selebriti, jadi penampilan pasti sangat penting untukmu. Aku hanya ingin kamu terlihat mempersona setiap saat. Kita akan membeli pakaian lagi nanti"
"Terimakasih. Aku beruntung jadi istrimu" Safira pun memeluk Kenzo dengan erat
__ADS_1
***
Kenzie dan Noey sudah kembali masuk kerja setelah beberapa hari cuti untuk menghadiri pernikahan Kenzo
"Selamat pagi pak" Deby menyapa dengan senyum ceria saat melihat Kenzie datang bersama dengan Noey
"Pagi" Dia menanggapi sekertarisnya dengan senyum lembut
"Ada beberapa kontrak dengan perusahaan lain yang belum saya tangani karena mereka ingin berdiskusi langsung dengan anda" Deby menjelaskan kontrak yang belum dia tangani saat Kenzie tidak ada
"Baiklah. Berikan itu pada Noey. Terimakasih" Zie menanggapi dengan tenang dan senyum yang lembut
"Apa urusan kalian sudah selesai? Sebenarnya kalian ada urusan apa? Deby terus bertanya saat dia berjalan mengikuti Kenzie dan Noey
"Jika urusan kamu belum selesai, maka hari ini kami tidak akan masuk kerja" Noey menanggapi Deby dengan sikap yang dingin
"Aku hanya bertanya saja" Deby pun menanggapi Noey dengan sikap acuh tak acuh
Perhatian Kenzie teralihkan saat melihat Meisya sedang berjalan tidak jauh darinya. Kenzie pun mempercepat langkahnya dan mengejar Meisya
"Kamu baru sampai?" Meisya terkejut dan langsung menoleh saat dia mendengar suara Kenzie
"Eh, benar pak. Selamat pagi" Meisya tersenyum ceria saat menyapa Zie
"Lihatlah senyumnya itu. Dia pasti sengaja mencari perhatian pak Kenzie karena sekarang jabatannya sudah tinggi. Dia pasti ingin mendapatkan perhatiannya" Deby menggerutu kesal melihat Kenzie dan Meisya
"Tidak perlu ikut campur dengan urusan orang lain. Lakukan saja apa yang jadi pekerjaanmu" Noey menanggapi dengan sikap yang dingin sambil berlalu pergi meninggalkan Deby sendiri
"Kenapa dia bersikap seperti itu? Memang apa salahnya? Toh apa yang aku katakan itu benar adanya. Gadia itu bahkan belum jadi karyawan tetap. Dia baru selesai magang sedangkan pak Kenzie adalah direktur baru diperusahaan ini. Jika tidak ingin mendapat pengakuan dari pak Kenzie, lalu apa lagi tujuannya? Sudah pasti dia hanya ingin memanfaatkan status pak Kenzie saja kan?"
Deby masih terus menggerutu meskipun kini dia hanya sendiri karena Noey sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya dan Kenzie sedang berjalan dengan Meisya disampingnya
"Ini tidak boleh dibiarkan. Aku tidak bisa kalah dari anak magang seperti dia. Jelas sekali kalau aku jauh lebih unggul darinya. Baik itu penampilan maupun status sosial. Aku seorang sekertaris dengan pendidikan tinggi. Sedangkan gadis itu hanya karyawan biasa yang bahkan belum terlihat hasil kerjanya, belum tentu dia bisa bertahan lama diperusahaan ini. Aku harus buat dia angkat kaki dari perusahaan ini dan menjauhi Pak Kenzie. Dia sama sekali tidak pantas untuknya"
Deby bicara sendiri sambil menatap Kenzie dan Meisya dari kejauhan. Matanya memancarkan kebencian dengan seringai licik terlihat dibibirnya seakan dia merencanakan sesuatu
__ADS_1