
Semua orang sangat terkejut dengan apa yang kenzo katakan
"500 juta untuk kompensasi?"
"Zo, kamu tidak salah?" Rendra bertanya untuk memastikan apa yang dilakukan Kenzo bukanlah sebuah kesalahan
"Tentu saja aku benar. Sejak kepan seorang Kenzo Osterin Anggara melakukan kesalahan hanya untuk hal sepele seperti ini? Ini hanya jumlah uang yang kecil" Kenzo menjawab dengan sikap yang tenang dan senyum yang sombong
"Kenzo - Osterin - Anggata?" Dari wajahnya yang langsung pucat, terlihat jelas kalau Rian sangat terkejut setelah mendengar Kenzo menyebutkan nama lengkapnya sendiri
"Ren, kurasa aku harus pergi. Aku akan mulai mencari dokter untuk pengobatan Safira"
"Apa? Safira sakit? Sakit apa?" Rendra terlihat penasaran dengan apa yang dialami Safira
"Nanti saja aku ceritakan. Oh iya, dimana Risha?" Setelah sekian lama barulah Kenzo sadar kalau Rendra tidak datang bersama Risha
"Kamu baru sadar sekarang? Dia sedang menemui ayahnya di kafe dekat kantorku. Apa kamu yang mengatakan sesuatu pada ayahnya?" Rendra menatap curiga pada Kenzo
"Aku? mana mungkin. Kamu pikir aku kurang kerjaan? Sudahlah, aku pergi dulu. Sampai jumpa"
"Sampai jumpa" Rendra pun melambaikan tangan pada Kenzo dan Safira yang berjalan menjauh darinya
"Urusanku juga sudah selesai disini. Bil, ayo kita kembali ke kantor"
"Baik pak" rendra meminta perawatnya untuk mendorong kursi roda dan membawanya pergi dari rumah sakit meninggalkan Rian yang menyesal dengan apa yang telah dia lakukan
***
Risha sedang pergi keluar kantor untuk menemui Diaz yang sudah menunggu disalah satu sudut kafe.
"Papiiiih... aku sangat merindukan papi" Risha langsung memeluk Diaz begitu melihat sang papi yang sedang duduk menunggunya
"Papi juga merindukanmu. Tapi jika kamu rindu pada papi, kenapa tidak pernah pulang untuk menemui papi? Kamu bahkan sangat jarang menggubungi papi" Diaz mengeluh karena Risha jarang menghubunginya
"Ayolah papi, aku sibuk. Banyak sekali pekerjaan yang harus aku kerjakan disini. Apalagi aku masuk bagian keuangan, papi bisa bayangkan sendiri bagaimana pekerjaannya kan?" Risha pun tidak ingin kalah dalam membuat alasan dan mengeluh tentang betapa sibuknya dia dikantor.
"Apa iya hanya karena pekerjaan? Bukan karena sekarang posisi papi telah digantikan oleh Rendra?" Diaz memicingkan mata dan menatap Risha dengan tatapan curiga dan senyum yang menggoda
"A-apa maksud papi? Aku sama sekali tidak seperti itu?" Risha terlihat gugup dan canggung saat Diaz menyebutkan nama Rendra. Dia menjawab sang papi sambil memalingkan wajahnya dan duduk di sebelah Diaz dengan kepala tertunduk.
__ADS_1
"Bagaimana papi bisa tahu ya? Sepertinya sicerewet Kenzie sudah memberitahu papi. Awas saja kamu Zie" Batin Risha menggerutu kesal sambil menyumpahi Zie.
Ditempat Kenzie
"Kenapa tiba-tiba telingaku terasa panas ya? Apa ada yang sedang membicarakan aku?" Gumam Kenzie sambil memegangi telinganya yang terasa panas dan berubah merah.
"Ekhme ekhem... Jadi tujuan papi datang kemari adalah ingin memintamu kembali kerumah" Diaz langsung mengatakan tujuannya datang menemui Risha.
"Pulang? Kenapa aku harus pulang? Aku masih ingin disini. Lagipula kaki Renda sedang terluka, pih, jadi aku harus menemaninya disini" Risha terlihat terkejut dan mengatakan kalau dia ingin tinggal lebih lama diperusahaan Rendra dengan nada manja untuk merayu Diaz
"Papi ingin kamu mulai terjun ke perusahaan kita"
"Hah? Aku masuk ke perusahaan Sanjaya? Kan ada papi, kenapa aku harus masuk keperusahaan sekarang?" Risha kembali bertanya dengan heran mengenai keputusan Diaz
"Ya, Kami sudah memutuskan kalau kalian bertiga sudah harus mulai mengendalikan dunia bisnis. Kami ingin kalian terjun langsung sebagai pemimpin, bukan sebagai karyawan biasa" Diaz menjelaskan maksud dari keinginan keluarga Kusuma untuk Risha, Kenzo dan Kenzie.
"Tapi pih, kenapa mendadak seperti ini? Apa terjadi sesuatu?" Risha semakin bingung dengan apa yang dikatakan Diaz.
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja, lihat usia kalian sekarang? Kalian sudah menginjak usia yang cukup untuk mulai mengendalikan perusahaan kita"
"Ehm ... apa papi bisa memberiku waktu sedikit lebih lama? Dan apa Kenzie dan Kenzo juga sudah mulai masuk ke perusahaan? Kenapa mereka tidak memberitahuku?" Risha merasa heran karena Kenzo dan Kenzie sama sekali tidak mengataan apapun mengenai perusahaan keluarga mereka.
"Karena kami bertiga dibesarkan bersama, dan kami juga dididik dengan cara yang sama. Semua yang kami lakukan selalu sama, jadi wajar saja kan jika ingin melakukannya bersama?" Risha menjawab dengan tenang dan senyum manja
Diaz tidak bisa melakukan apa apa lagi pada ketiga anak ini.
"Haaah … Kenzie sudah dipromosikan oleh Cheva untuk jadi direktur di perusahaan cabang Kusuma. Dia akan dipindahkan setelah Cheva pensiun. Kenzo akan langsung masuk ke perusahaan Anggara, tapi kemungkinan dia akan langsung mengambil alih perusahaan JB Company setelah kemampuannya di akui di perusahaan Anggara, karena nenek Ji juga bilang ingin segera pensiun. Dan kamu, kamu bisa pilih, mau masuk Sanjaya grup atau pergi ke negara F untuk masuk ke Taeson Electronik"
Diaz menjelaskan mengenai rencana pengambil alihan jabatan perusahaan
"Tidak, tidak. Aku akan mengambil alih perusahaan Sanjaya saja. Biarkan saja Dhefin yang terbang ke negara F untuk mengambil alih Taeson Electronik setelah dia lulus kuliah nanti" Risha langsung menolak ucapan Diaz dengan kedua tangan digerakkan cepat
"Bagus, berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk masuk ke Sanjaya Grup?" Tanya Diaz dengan tegas
"Papi .... apa papi tidak kasihan padaku? aku dan Rendra baru saja menjalin hubungan, papi ingin memisahkan kami begitu saja?"
Risha langsung mendekati Diaz dan bergelayut manja sambil menggandeng sebelah tangan Diaz. Disaat itu, tanpa mereka sadari ada seseorang yang memotret mereka dari kejauhan.
"Risha, aku sudah bilang kalau kamu itu ****** yang hanya bisa naik ke atas tempat tidur jika menginginkan sesuatu. Lihat saja, apalagi yang akan kamu katakan untuk membela diri nanti? Sekarang aku sudah punya bukti di tanganku" Gumam ornag itu dengan seringai liciknya.
__ADS_1
"Haah ... baiklah, tapi jangan terlalu lama. Kamu harus segera kembali kerumah. mengerti?!"
"Baik papi. Terimakasih banyak. Aku sayang sekali sama papi" Risha kembali bicara dengan nada yang manja pada Diaz. Ayah dan anak itu sangat asyik berbincang sampai tidak menyadari kedatangan Kenzo dan Safira.
"Jadi om benar-benar ada disini? Ku kira Rendra cuma bercanda dengan mengatakan kalau om sedang ada disini?" Diaz dan Risha langsung menoleh ketika mendengar suara Kenzo
Diaz memicingkan mata menatap Kenzo
"Zo, gadis mana yang kamu culik? Tapi, kenapa wajahnya terlihat familiar ya?" Diaz bicara dengan sikap yang tenang dan terlihat penasaran dengan Safira yang menggandeng tangan Kenzo di sebelahnya.
"Om, tidak baik om bicara seperti itu? Itu terkesan seperti aku ini suka membawa gadis sembarangan" Kenzo bicara dengan sikap yang dingin
"Bukannya memang seperti itu? Oh tidak, selama ini yang kamu hanya tahu main game, jadi bagaimana bisa kamu mengenal gadis cantik?" Diaz menggoda Kenzo dengan nada bicara yang tenang namun terdengar mengejek
"Om, itu tidak lucu. Ra, kenalkan, ini Om Diaz, papinya Risha" Kenzo menoleh pada Safira dan bicara dengan lembut
"Eh eh eh ... lihatlah, titisan Lian yang dingin bisa bersikap lembut pada orang lain" Diaz kembali menggoda Kenzo.
Safira tersenyum menanggapinya kemudian memperkenalkan diri
"Halo, om senang berkenalan dengan om. Nama saya Safira" Safira memperkenalkan diri dengan senyum lembut di bibirnya
"Senang juga berkenalan denganmu. Tapi om benar-benar penasaran dengan wajahmu, apa pernah bertemu sebelumnya?" Diaz bersandar pada kursi dan memegang gelas kopi disebelah ditangannya
"Papi, Safira ini artis terkenal dari negara F. Masa papi tidak tahu?" Risha mengejek Diaz karena tidak mengenal Safira
"Ah benar. Pantas saja wajahmu terlihat familiar"
"Sha, tidak heran papimu tidak mengenal Fira. Yang dia lihat di televisi dan diponsel hanya mengenai bisnis" Kenzo mencibir Diaz dengan nada bicaranya yang dingin
"Kamu benat Zo, papiku ini sangat ketinggalan zaman" Risha ikut bekerja sama dengan Kenzo mengejek sang ayah
"Jadi kalian berdua sekongkol untuk menjatuhkanku? Awas saja kalian"
"Cih, papi mengancam!"
Safira tersenyum melihat interaksi mereka
"Aku masih terkejut melihat sikap tante Cheva dan om Lian. Sekarang sikap om Diaz juga berbeda dari rumor yang beredar. Keluarga ini memang tidak bisa ditebak" Pikir Fira sambil melihat Kenzo, Risha dan Diaz
__ADS_1