
Risha sangat terpana dengan apa yang kini dia lihat dihadapannya. Sebuah meja yang terdiri dari 2 kursi yang saling berhadapan. Terletak dibagian luar restoran dengan dikelilingi oleh lilin yang menyala dibentuk hati, ada satu buket bunga mawar yang indah tergeletak diatas meja. Dihadapannya, Rendra berlutut dengan sebuah cincin ditangannya yang ditujukan untuk Risha.
“Risha, will you merry me?”. Satu kaliamat itu membuat jantung Risha berdegup dengan kencang
Deg deg deg
Risha masih terpaku dengan apa yang dia saksikan sekarang. Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap Rendra dengan tatapan haru
“Rendra ... aku ...” Risha masih terlihat bingung dan tak percaya saat ini. Rendra yang gugup berusaha untuk bersikap tenang mendengarkan
jawaban sang kekasih
“Aku tahu kalau ini terlalu mendadak untukmu, tapi aku sudah memikirkannya dengan matang. Kita sudah cukup lama menjalin hubungan. Kamu selalu ada disaat aku susah dan senang. Kamu bahkan mau menerimaku disaat aku tidak bisa berjalan dan banyak dikucilkan orang. Aku tidak ingin kehilanganmu dan melepaskan satu-satunya tempat aku bersandar”. Rendra bicara dengan sikap yang tenang dan senyum tipis. Dia terlihat sangat tulus menyayangi Risha.
Risha masih tetap diam menatap Rendra. Kali ini air matanya tampak berlinang dipelupuk matanya. Rendra menyadari kalau Risha terkejut. Akhirnya dia berusaha kembali mencairkan suasana tegang diantara mereka.
“Sampai kapan kamu akan membuat aku berlutut seperti ini?” ujar Rendra dengan senyum manis dan nada bicara yang menggoda
“Ah maafkan aku!” ujar Risha yang tersadar dari keharuannya.
“Jadi ... will you merry me?” tanya Rendra lagi memastikan jawaban sang kekasih.
“Yes, i will” Risha menjawab dengan wajah tersipu malu. Rendra pun langsung menyematkan cincin permata dijari manis Risha dan memberikan buket bunga mawar yang diletakkan diatas meja
"Terimakasih" Rendra pun langsung menarik Risha dalam pelukannya
“Waah ini ...” Kelopak bunga mawar bertebaran diatas kepala mereka begitu Rendra menarik Risha dalam pelukannya. Risha pun kembali terpesona dengan apa yang terjadi. Dia melerai pelukan diantara mereka dan menatap kelangit dimana kelopak bunga mawar itu berjatuhan.
“Kapan kamu merencanakan semua ini?” tanya Risha yang yang masih menikmati keindahan kejutan dari Rendra
“Beberapa hari yang lalu” jawab Rendra dengan sangat tenang dan menatap Risha dengan senyum yang manis.
“Itu sebabnya beberapa hari ini kamu selalu pulang pergi kemari?” tanya Risha lagi memastikan
“Tentu saja. Kamu pikir untuk apa lagi?” Rendra menjawab dengan acuh tak acuh kemudian menarik kursi untuk membantu Risha duduk
“Terimakasih. Aku senang dengan kejutan yang kamu berikan” ujar Risha sambil menyentuh cincin yang diberikan Risha disertai senyum lembut dan tatapan penuh kebahagiaan.
“Aku juga sangat senang karena kamu menerima lamaranku. Meskipun aku harus memikirkan kembali cara untuk merayu papimu agar memberikan restunya pada kita” Rendra menanggapi dengan sikap yang santai dan acuh tak acuhnya.
Hidangan makan malam pun mulai dikeluarkan karena Rendra pun sudah memesan semuanya sebelumnya. Dengan iringan alunan musik, mereka menikmati makan malam romantis mereka.
“Apa yang akan kamu lakukan dengan papi?” Risha terlihat sangat penasaran dengan apa yang telah direncanakan Rendra.
“Aku harus kembali melamarmu didepan semua anggota keluargamu. Dengan begitu akan ada banyak orang yang mendukungku dan melawan papimu” Rendra tersenyum dengan kedua alis yang diangkat bersamaan
“Jadi kamu akan menggunakan dukungan banyak orang untuk mendapatkan dukungan papi? Dia pasti akan sangat marah padamu” Risha tersenyum menggoda Rendra
__ADS_1
“Tapi dia tidak mungkin menolak lamaranku untuk putrinya kan? Karena jika dia berani menolak, akan ada banyak orang yang memarahinya” ujar Rendra dengan penuh percaya diri
“Ternyata kamu pemuda yang licik” ujar Risha dengan senyum tipisnya dan nada bicara yang sinis.
“Ya, aku belajar banyak untuk bisa seperti itu” Rendra menjawab dengan penuh rasa bangga
“Jangan bilang kalau kamu belajar dari Kenzo?” Risha menatap Rendra dengan tatapan curiga sambil menikmati makanannya.
“Siapa lagi jika bukan gunung es itu?” Rendra tersenyum mendelik menanggapi ucapan Risha
“Ternyata gunung es itu telah banyak mempengaruhi orang lain” u.jar Risha yang tersenyum sinis
“Jangan bahas dia. Kita nikmati saja waktu kita sebelum papimu memintaku untuk mengembalikanmu padanya” Rendra kembali mencium punggung tangan Risha untuk menghentikan topik mengenai Kenzo
"Sepertinya aku sudah harus mempersiapkan mental dari sekarang sebelum aku menjadi istrimu nanti"
"Ya mau bagaimanapun … itu tidak bisa dihindari"
***
Rendra mengantar Risha pulang setelah mereka selesai makan malam. Seperti yang direncanakan Rendra sebelumnya, dia tidak akan meminta restu hanya dihadapan diaz saja. Dia akan meminta restu dihadapan semua keluarga Risha agar Diaz tidak bisa menghalangi rencananya.
"Selamat malam semuanya" Risha menyapa semuanya ketika dia dan Rendra baru saja tiba dikediaman utama Kusuma.
Disana semuanya sedang berkumpul. Ada Yudha, Gina. Lian, Cheva, Diaz, Tania, juga Kenzie dan Dhefin. Mereka sedang berkumpul diruang keluarga setelah selesai makan malam.
"Iya, Mih. Anu … ada yang ingin Rendra sampaikan pada kalian semua" Risha terlihat ragu dan gugup saat dia bicara, lalu Rendra menggenggam tangannya untuk membuatnya tenang.
Semua orang terlihat bingung dan penasaran dengan apa yang akan dikatakan pasangan itu
"Duduklah dulu!" pinta Yudha dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa
Rendra dan Risha pun duduk berdampingan disalah satu kursi yang kosong
"Ada apa, Sha? Kenapa kamu terlihat gugup?" Kenzie bertanya dengan senyum yang menggoda dan ramah
"Itu …"
"Katakan saja, apa yang ingin kalian sampaikan?" Tania pun bertanya pada Risha agar mengatakan keinginannya
"Sebenarnya … kami …"
"Saya ingin melamar Risha untuk jadi istri saya" Rendra menyela Risha ketika melihat sang kekasih sangat gugup untuk mengatakan kebenarannya
"hfft! Apa?!" Diaz yang sedang minum sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Rendra sampai dia memuntahkan kembali minumannya
"Saya ingin menikahi Risha" Tegas Rendra memperjelas ucapannya
__ADS_1
"Apa maksudmu menikahi Risha?! Aku tidak mengizinkan kalian!" Diaz terlihat kesal saat Rendra meminta restunya
"Papi, kenapa papi berkata begitu?!" Risha pun terbawa emosi mendengar penolakan sang ayah
"Siapa bilang kamu boleh menikah dengannya. Kamu masih kecil. Papi tidak akan mengizinkan kalian menikah!" ujar Diaz dengan sikap kesal
Semua terlihat bingung dan menghela napas panjang melihat tanggapan Diaz
"Diaz, berapa umurmu?" tanya Lian dengan sikap yang dingin
"Kepala 4. Apa hubungannya dengan umurku?" Diaz pun menanggapi dengan sinis pertanyaan sepupu ipar sekaligus sahabatnya itu
"Lalu berapa usia putrimu?" tanya Lian lagi dengan sikap yang tetap tenang
"Pertengahan 20an!" Jawab Diaz lagi singkat
"Lalu kapan dia akan menjadi besar jika diumur segitu kamu bilang dia masih kecil?" Diaz terdiam dengan wajah kesal dan tak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi Lian.
Semua orang terlihat menahan senyum mendengar pertanyaan Lian pada Diaz. Mereka tahu meskipun Lian jarang berbicara tapi ucapannya dapat membuat orang kesal dan terpojok ketika dia mulai bicara.
"Nah, karena sudah mencapai usia dewasa …berarti tidak ada alasan untuk menolak lamaran Rendra untuk Risha" Cheva pun membuka suara dengan nada bicaranya yang ceria
"Bagaimana kak Tania, apa kamu merestui hubungan mereka berdua?" Cheva mengabaikan Diaz dan bertanya pada Tania
"Aku akan menyetujui apapun keputusan anak-anakku asalkan mereka bahagia" ujar Tania dengan senyum lembut dibibirnya.
"Mami …" Risha merasa terharu dengan apa yang dikatakan sang ibu padanya
"Aku tetap tidak setuju!" ujar Diaz lagi menyela sang istri
"Kak Diaz, sampai kapan kamu akan menahan Risha? Dia sudah waktunya untuk menikah. Kamu ingin dia jadi perawan tua yang terus sendiri tanpa pendamping?!" Cheva bicara dengan nada yang sinis dan mata menatap tajam pada Diaz.
Semua orang kini menatap Diaz dengan serius. Diaz terlihat gugup saat merasakan tatapan semua orang padanya, keringat dingin seakan mengalir deras dari keningnya.
"Terserah kalian saja. toh kalian tidak akan mendengar pendapatku!" Diaz pun mengalah dan menyetujui pernikahan Rendra dan Risha
"Nah, itu kan bagus. Artinya Kak Diaz menyayangi Risha dan ingin dia bahagia" Cheva pun bicara dengan senyum ceria dan antusias.
"Ternyata kamu sadar kalau kamu sudah tua" Lian menanggapi dengan sikap dingin dan acuh tak acuhnya
"Waah … ternyata kamu sudah dewasa, Sha" Kenzie pun tersenyum manis menanggapi kabat gembira Risha
"Terimkasih papi" ujar Risha dengan senyum bahagia dibibirnya
"Ternyata papimu memang lebih takut pada tante Cheva daripada istrinya sendiri" bisik Rendra pada Risha
"Itulah sebabnya kenapa tante Cheva dikenal sebagai pawangnya papi" Risha pun berbisik kembali pada Rendra.
__ADS_1