
Keluarga Surendra langsungĀ mendekat pada Yudha setelah acara pemakaman Lea selesai
"Tuan Yudha, kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya Lea. Kami benar-benar turut sedih dan prihatin atas kejadian ini. Padahal Galen belum lama meninggal dan Lea baru saja melahirkan. Tapi ini harus terjadi pada mereka"
Astria dengan raut wajah sedihnya bicara pada Yudha
Yudha menanggapi dengan sikapnya yang dingin
"Terimakasih atas belasungkawanya. Kami tahu ini tragis untuk Lea dan Galen. Saya juga tahu kalau anda pasti sangat sedih karena harus kehilangan Galen dan Rey. Tapi anda tenang saja. Kami akan mencari keadilan untuk mereka. Akan kami cari dalang dan penyebab semuanya sampai ke akar"
Yudha berkata dengan penuh wibawa dan tenang
Astria terdiam mendengar perkataan Yudha
"Anda tidak perlu repot. Polisi mengatakan kalau ini murni kecelakaan dan pelakunya sudah tertangkap dan ikhlas dengan semua ini" Astria berusaha tenang meskipun sebenarnya dia sangat gugup
"Sayangnya kami tidak ikhlas dan tidak percaya hal itu. Kami sudah menyelidiki semuanya dan cepat atau lambat kami akan mendapatkan jawaban pasti. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang terlibat dalam hal ini lolos begitu saja"
Nada bicara Yudha sangat tenang dan berwibawa. Dari ucapannya dia sedang memperingatkan Astria atas apa yang terjadi pada Lea.
"Sepertinya mereka sudah mencurigai sesuatu. Aku harus tetap tenang" Pikir Adnan setelah melihat sikap Yudha
"Baiklah tuan Yudha, kami tidak ingin menyita waktu anda lebih banyak lagi. Kami pamit undur diri" Adnan mengakhiri pembicaraan mereka dengan Yudha karena dia khawatir kalau Yudha akan semakin curiga
"Ya, terimakasih karena kalian sudah menyempatkan diri untuk hadir dalam pemakaman Lea" Ujar Yudha dengan senyum tipis di bibirnya
"Sama-sama. Kalau begitu kami permisi" Adnan dan keluarganya beranjak pergi setelah Yudha menganggukkan kepala
"Hati-hati dalam perjalanan kalian"
"Cih, mereka menyebalkan sekali. Harusnya mereka mendapatkan medali atas akting mereka yang memukau itu" Cheva berdecih kesal dengan nada yang sinis melihat sikap keluarga Adnan
__ADS_1
"Kenapa tidak kamu beri saja dia hadiah atas aktingnya itu. Ku kira kamu akan merobek mulutnya" Diaz menyela Cheva dengan nada senyum tipis di bibirnya
"Diaz, kamu harus bergerak lebih dulu. Produksi film terbaru dengan artis-artis yang akan dikontrak oleh perusahaan Surendra. Adakan juga pagelaran busana yang bertepatan dengan acara milik perusahaan itu. Jangan biarkan model maupun artis diperusahaan itu mendapatkan job. Dengan begitu mereka akan kesulitan untuk proses produksi dan pemasukan" Yudha mengarahkan Diaz dengan tenang
"Baik kek. Aku yakin kalau perusahaan Sanjaya bisa menggiring perusahaan Surendra ke gerbang kehancuran. Setelah itu aku serahkan pada Cheva dan Radit" Diaz menjawab dengan sikapnya yang tenang dan senyum tipis dibibirnya
"Jangan terlalu lama kak. Aku tidak ingin menunggu lama" Jawab Cheva dengan nada yang manja
"Apa yang akan papi dan tante Cheva lakukan?" Risha bertanya dengan wajah polos
"Benar. Kenapa kalian terlihat mencurigakan?" Kenzo ikut berkomentar dengan wajahnya yang datar
"Anak kecil tidak perlu tahu. Kalau sudah saatnya kalian akan mengerti sendiri" Cheva bicara dengan nada yang sinis sehingga membuat Risha dan Kenzo terlihat kesal karena tidak diberitahu
***
"Kak, bagaimana ini, sepertinya tuan Yudha curiga dengan penyebab kecelakaan mobil Galen?" Astria berbisik pada Adnan agar yang lainnya tidak mendengar apa yang sedang mereka bicarakan
"Baik, kak"
***
Beberapa hari kemudian. Vio masih berada di rumah Yudha karena Leo khawatir padanya. Dia masih tidak berselera makan dan tatapannya selalu kosong. Dia tidak mau bicara pada siapapun. Saat dia melihat bayi Lea dia akan menangis histeris memanggil nama Lea.
"Bagaimana ini pih? Vio masih seperti itu sejak kepergian Lea. Aku khawatir padanya" Leo meminta saran pada Yudha agar memberikan solusi yang harus diambil untuk Vio
"Kalian harus pulang dan biarkan Lathan disini. Kami yang akan merawatnya. Kita bisa menyewa baby sitter untuk membantu mengurus dia" Yudha menhawab dengan sikap yang tenang
"Tapi pih. bagaimana jika suatu hari nanti Lathan menanyakan perihal orang tuanya? Apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau jika dia merasa iri karena orang lain memiliki orang tua. Meskipun dia mendapatkan kasih sayang dari kita, tapi dia pasti akan menanyakan perihal orang tuanya"
Semua terdiam mendengar pertanyaan Leo. Mereka tentu memiliki kekhawatiran yang sama. Bagaimana jika kasih sayang yang mereka berikan tidak cukup untuk Lathan dan tetap membuat dia penasaran mengenai orang tua kandungnya?
__ADS_1
"Aku akan jadi ayahnya" Semua menoleh pada Radit ketika dia mengatakan akan jadi ayah Lathan
"Radit, dia keponakan mu dan kamu belum menikah. Bagaimana bisa kamu menikahi seorang gadis jika kamu sudah membawa anak kecil?" Ji bertanya pada Radit dengan nada bicaranya yang tenang
"Aku tidak masalah tante. Biarkan orang lain berpikir kalau aku pernah menikah dan sudah memiliki anak. Ketika Lathan besar nanti aku akan memberitahu yang sebenarnya padanya" Radit menjawab Ji dengan penuh keyakinan
Semua kembali terdiam dan saling menatap satu sama lain mendengar jawaban Radit
"Tapi, disini semua tahu kalau kamu belum menikah. Jika tahu kamu punya anak sebelum menikah maka itu juga akan jadi masalah nantinya" Kini Cheva yang memberikan pendapatnya
"Kalau begitu aku akan pindah dari kota ini dan membesarkan Lathan sendiri. Dengan begitu tidak akan ada masalah lagi nantinya" Radit kembali memberikan jawabannya untuk meyakinkan semua orang
"Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Ini juga menyangkut masa depanmu, Dit. Tentu kamu tahu konsekuensinya dan membesarkan anak seorang diri itu tidaklah mudah" Yudha masih berusaha memperingatkan Radit mengenai keputusan yang dia ambil
"Aku sangat yakin kek. Lagipula dia anak kak Lea, kakakku satu-satunya. Sudah sewajarnya kalau aku membesarkannya. Terlebih keadaan mama tidak memungkinkan untuk merawat Lathan"
"Apa maksudnya itu? Kami juga kakakmu dan disini kita semua bisa merawat Lathan kecil" Cheva dengan nada bicaranya yang sinis namun perhatian menyela ucapan Radit
"Kalian bukan kakak kandungku. Hanya kakak yang dibesarkan bersama saja" Jawab Radit acuh tak acuh
"Kakek tidak akan melarangmu lagi. Tapi kamu akan ditemani baby sitter yang kakek siapkan"
"Tapi Dit, papa ingin kamu tinggal di tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah kita. Apalagi kamu akan mengelola perusahaan papa sepenuhnya" Leo bicara dengan wajah penuh sesal
"Tentu pah. Tapi aku juga tidak ingin terlalu dekat. Aku akan mencari rumah yang dekat dengan kantor saja tapi lokasinya tidak di tempat yang terlalu ramai"
"Ya, kamu bebas memilih lokasi manapun. Terimakasih karena kamu mau mengorbankan masa depanmu"
"Tidak masalah pah. Dan ada hal lain yang aku inginkan. Aku ingin Lathan menggunakan nama keluarga kita. Aku tidak sudi jika dia menggunakan nama keluarga Surendra" Radit bicara dengan sorot mata yang tajam
"Tentu, karena dia akan jadi anakmu. Maka dia bisa menggunakan nama belakangmu. Mulai sekarang namanya jadi Lathan Gevaril Nugraha. Kita akan urus semuanya. Kapan kamu akan mencari rumah?"
__ADS_1
"Aku akan mencari rumah secepatnya. Tapi aku akan pindah setelah menyelesaikan masalah dengan keluarga Surendra. Aku tidak akan tenang jika mereka masih berkeliaran dengan bebas"